DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 17


__ADS_3

Menghisap puntung rokok dengan mata terpejam, Bayu kemudian menyemburkan asap cerutu itu ke udara kosong. Ia tatap gadis disebelahnya yang hanya terdiam memandangnya dengan tangan yang menopang dagunya sendiri.


''Jadi, begini kehidupan asli Lo?'' Tanya Lula terus termangu menatap Bayu. Pemuda tampan yang sudah membuatnya mabuk kepayang, terbang ke langit ke tujuh dalam sekali hentakan pinggul.


''Lo baru tahu kan? Inilah Gue dengan semua hingar bingar yang menggeluti dunia Gue,'' Ucap Bayu menatap sayu pada Lula. Menegaskan pada gadis tersebut bahwa semua pandangan baik dari siapapun bukanlah hal yang benar.


Jam istirahat sudah berbunyi beberapa saat yang lalu, tanpa membiarkan sang gadis mengisi perutnya lebih dulu, ia langsung membawa gadis cantik tersebut untuk mengikutinya ke base camp ternyaman menurutnya.


Maka, ketika ia mendekati sang gadis dan langsung mengecup bibir seksi nan indah itu, keduanya langsung hanyut tak sadar tempat. Dengan cepat, Bayu tarik Lula agar berdiri dari duduknya, kemudian ia bawa sang gadis menuju tembok diujung basecamp masih dengan ******* bibir seksi yang membuatnya begitu candu tersebut.


''Ah, Kak...Jangan keras-keras,'' Desah Lula bersamaan dengan rintihannya karena remasan tangan kekar Bayu di dua gundukan di dadanya.


''Nanti pulang sekolah kerumah Gue ya,'' Ucap Bayu dengan berbisik ditelinga Lula, Tak kuasa menahan deburan ombak didalam dada, gadis itu mengangguk dengan dada yang kembang kempis.


Tepat ketika mereka berhenti bercumbu, tepat saat itu pula Leo dan Bara datang. Melihat Lula yang masih terlihat kembang kempis, Bara dan Leo saling pandang. Sudah tahu apa yang baru saja terjadi antara Bayu dan Lula.


''Jadi maksud Lo dekati Luna buat apa sih Bay? Lo ambil Lula juga?'' Ucap Bara menahan ledakan emosi didalam dadanya.


Gadis yang disebut oleh Bara hanya terdiam sembari mengatur nafasnya agar kembali terlihat normal.


Tak perduli apa yang kakak kelasnya itu katakan.


''Kenapa? Lo nggak suka Gue dekati Luna?''


''Ya buat apa? Lo dekati Lula? Lo dekati Luna? Tujuan Lo apa sih?''


''Apapun tujuan Gue, itu bukan urusan Lo.''


''Gue bakal bilang sama Luna,'' Bayu terkekeh mendengar penuturan Bara yang menurutnya sangat lucu.


''Bilang aja, Lo bakal bilang seperti apa? Bakal bilang kalau selama ini Luna cuma buat bahan taruhan? Taruhan sama siapa? Antara siapa dan siapa? Dan ketika nama Lo tersebut, apa Lo nggak takut Luna bakalan marah sama Lo?''

__ADS_1


''Gue udah nggak jadiin dia taruhan. Gue udah mundur dari taruhan ini,''


''Tetap aja Bara, Lo dekati Luna karena terpaksa, karena taruhan. Entah itu endingnya Lo jatuh cinta beneran sama dia atau enggak, yang dia tahu Lo terpaksa dekat sama dia.''


Bara terdiam memandang tajam kepada Bayu dan berganti kepada Lula. Tanpa ucapan apapun, ia langsung pergi meninggalkan ketiga manusia tersebut, dadanya begitu kembang kempis menahan emosi yang ingin sekali ia lampiaskan kepada siapapun yang ada dihadapan.


Namun ketika sorot matanya bertemu dengan sorot mata gadis yang baru saja membuatnya berdebat dengan Bayu, hatinya langsung menghangat. Senyum manis langsung terukir dibibir manisnya. Ia kemudian berjalan mendekati Luna, gadis yang sudah menambat hatinya sejak awal bertemu dan menatap sorot mata indah yang membulat.


''Lo cari siapa?'' Tanya Bara menatap Luna, gadis itu tersenyum kecil.


''Gue cari Bayu, mau minta ajarin main piano.'' Bara menghela nafas kecil, ia kemudian mengamit jemari Luna. Membawanya entah kemana, membuat desas desus para siswi terdengar mencela ditelinga Luna.


''Kita mau kemana?'' Tanya Luna ditengah hiruk pikuknya para siswi yang terheran-heran melihat tangan mungilnya di amit begitu lembut oleh sang ketua osis yang menjadi incaran para wanita..


''Gue yang bakalan ajarin Lo main piano,''


***


''Lo nggak takut persahabatan Lo sama Bara rusak cuma karena taruhan konyol Lo ini?'' Tanya Leo menatap bingung pada sahabatnya.Sedang yang ditatap hanya terkekeh dengan ringan.


''Memangnya kenapa Bara mengundurkan diri?'' Tanya Lula dengan menatap pada Bayu.


''Orangtua Bara ada dibawah orangtua Lo. Makanya dia takut kalau dia ketahuan jadiin Luna taruhan, orangtuanya terancam.''


Lula tersenyum mengerti, kepalanya terus mengangguk dengan otak yang berfikir keras.


"Kalau Lo nggak lanjutin taruhan ini, kayaknya Bara juga nggak bakal jauhin Lo. Sejak dulu, sifat Lo nggak pernah berubah." Celetuk Leo.


"Lo bela Bara?"


"Nggak ada yang Gue bela. Gue nggak suka dua-duanya."

__ADS_1


"Kayaknya, Lo tertarik kan sama Luna? Tapi Lo berdalih mengatas namakan taruhan?"


Setelah berucap, Leo berlalu meninggalkan Bayu dan juga Lula diatas rooftop tersebut. Membiarkan keduanya melakukan apapun yang mereka inginkan.


"Lo beneran suka sama Luna? Terus Gue?" Tatap Lula menatap Bayu dengan rasa gemetar dalam hati. Merasa, apa yang Leo ucapkan beberapa saat yang lalu benar adanya. Merasa takut, jika pada akhirnya ia diasingkan padahal diri sudah diserahkan.


"Lo ngomong apa? Gue nggak pernah tertarik sama Luna, atau siapapun itu. Gue udah bilang sama Lo, Gue cuma jadiin dia taruhan. Kalau Gue menang, bisa dapatin dia, Lo juga kan yang dapat mobil?"


Lula terhenyak, menundukkan pandang ketika suara tegas Bayu terdengar digendang telinganya. Mungkin, ia hanya perlu ketegasan atas keraguan hati yang sempat hadir karena ucapan Leo.


***


"Lo pintar juga main piano." Ucap Luna sembari bertepuk tangan usai Bara mempersembahkan sebuah lagu untuknya.


Sebuah iringan piano yang berhasil dimainkan oleh Bara berhasil membuat Luna tersenyum senang, merasa yakin untuk berguru langsung pada sang Ketua Osis tampan tersebut.


"Gue udah dari kecil suka piano sama gitar.* Pungkas Bara tersenyum, tersanjung atas pujian Luna beberapa saat yang lalu.


"Sekarang, giliran Lo yang main piano. Sini, duduk disamping Gue." Tepuk Bara pada kursi disisi kanannya. Luna mengangguk kemudian duduk disamping sang pemuda, menatap serius pada tuts-tuts piano yang ada dihadapan.


Sesekali menekan satu persatu, kemudian matanya beralih pada buku pemula diatas kap piano. "Ini contohnya ya?"


"Iya, Lo harus pakai buku ini biar gampang belajarnya. Kayaknya, ini pertama kalinya Lo main piano ya?"


Luna mengangguk dengan senyum kecil terbit diwajahnya, "Ayah nggak suka piano. Katanya berisik. Jadi dirumah nggak ada piano. Padahal Gue suka banget sama piano."


"Nggak apa, yang penting sekarang Lo bisa main piano di Sekolah. Tunjukan sama Om Handoko kalau Lo bisa berhasil bawain lagu pake piano."


Gadis cantik itu terpaku menatap senyum Bara, entah untuk yang kesekian kalinya ia benar-benar selalu terpaku menatap senyum teduh itu. Senyum yang menghangatkan hatinya. Membuatnya merasa aman dan selalu ingin melihat senyum itu ada untuknya.


'Apa iya Gue suka sama Bara?' Keluhnya dalam hati, terus berisik didalam hati mengenai senyum yang selalu menjadi candu untuknya.

__ADS_1


'Kalau Gue suka sama Bara, apa dia bisa suka juga sama Gue?'


BERSAMBUNG...


__ADS_2