
''Hari ini kamu satu mobil sama Luna,'' ucap Handoko disela sarapan paginya bersama kedua anaknya. Setelah kepergian sang istri, Handoko lebih memilih menyewa seorang asisten rumah tangga yang menginap agar segala yang ia butuhkan, dapat disediakan dengan cepat.
Lula mengangguk dengan kesal, ia telan nasi goreng dengan kasar. Tak memperdulikan Handoko yang menatapnya dengan heran. ''Nanti tungguin Gue selesai ekstra, jangan pulang dulu.'' ucap Luna memandang Lula dengan tatapan mengolok. Sudah berulang kali mengingatkan saudaranya tersebut agar jangan menerima tawaran untuk satu mobil lagi dengan dirinya. Namun sepertinya, kembarannya tersebut sama sekali tidak menggubris.
Tentu saja bagi Luna tidak akan digubris, bukankah apa yang Handoko ucapkan adalah sebuah perintah?
Sekali lagi, Lula hanya mengangguk pasrah. Tak mau berdebaat karena merasa takut akibat ia berbohong saat pergi bersama Bayu. Maka, menatap Luna dengan tatapan yang sangat membenci, 'Gue pastikan Lo bakalan nyesal karena udah ngelawan Gue.'
***
Jika saat tiba di sekolah Lula sudah disambut dua dayangnya dengan kehebohan yang selalu sama, maka kini Luna pun demikian. Tiba-tiba saja ia sudah diseret oleh Laras tanpa ada sapaan riang seperti biasanya. Menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa, membuat Luna hampir saja terjatuh jika tidak dicekal oleh Laras.
Namun, Laras dengan cepat kembali menarik Luna agar mengikuti langkahnya memasuki kelas dengan segera. Tak mau membiarkan Leo mendahuluinya untuk mengatakan yang sejujurnya pada gadis cantik dengan poni yang selalu sama setiap harinya tersebut.
Usai mendudukkan diri mereka masing-masing dikursi, keduanya sama-sama menghela nafas panjang dan membuangnya. Mengatur nafas dengan sedemikian rupa agar nafas kembali normal seperti sedia kala. Meski masih dengan nafas yang tersengal, Laras mulau menatap Luna dengan lekat.
''Gue mau jujur sama Lo,'' ucapnya dengan nafas memburu. Luna yang belum bisa mengatur nafasnya dengan baik hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa bersuara.
''Lo kenal Pak Irawan? Partner bisnis Ayah Lo?''
Luna menelengkan kepalanya sembari bola matanya kesana kemari. Cara berpikir yang sangat lucu bagi Laras, namun gadis itu masih membiarkan Luna mengingat siapa Irawan yang baru saja ia sebut.
''Oh, iya! Gue ingat, Gue kenal sama Om Irawan. Emangnya ada apa?''
''Gue anaknya.''
Luna terdiam untuk sesaat, matanya masih terpaku menatap sorot mata Laras yagng sama sekali tak beranjak meninggalkannya. Hanya saja, mulut gadis itu terbuka sedikit demi sedikit karena rasa syok yang terlambat.
''Apa? Jadi Lo anaknya Om Irawan?'' suara pekikan keras jelas terdengar ditelinga Luna dan Laras. Membuat dua gadis yang masih terdiam itu menoleh dengan bersamaan. Terlihat ada Lula dan dua sahabatnya tengah menatapnya tanpa berkedip.
''Hei! Lo jangan ngarang deh Ras! Mana ada anaknya Om Irawan naik angkot setiap hari.'' celetuk Lula untuk yang kesekian kalinya.
''Gue nggak nyuruh Lo buat percaya. Lagian ngapain juga Lo nguping omongan Gue sama Luna?'' ketus Laras menatap tajam kepada Lula dihadapan.
__ADS_1
''Gue punya telinga, dan telinga Gue dengar obrolan kalian.''
''Telinga Lo nggak sopan. Lo tuh nggak diajak, nggak usah nimbrung-nimbrung nggak jelas.''
''Gue nggak peduli mau telinga Gue sopan atau enggak,''
Maka, tanpa bersuara, Luna langsung menyeret tangan Laras untuk keluar dari kelas, menjauh dari saudara kembarnya yang selalu mencari kesalahan orang lain. Tak mau membiarkan Laras terus mendebatkan hal yang dirasa tidak terlalu penting untuk dibahas.
''Kenapa Lo mesti bohong Ras?'' tanya Luna sembari mereka menuruni anak tangga satu persatu menuju lantai bawah.
''Maafin Gue Luna, Gue cuma nggak mau dimanfaatin sama orang-orang lagi. Gue udah cukup trauma sejak SD sampai SMP selalu dimanfaatin cuma karena orangtua Gue orang yang berada.''
''Gue tau gimana rasanya diposisi Lo,'' Ucap Luna dengan tersenyum hangat. Ia usap pundak Laras dengan pelan.
''Lo nggak marah sama Gue?''
''Buat apa sih Gue marah sama Lo?''
''Tapi Gue udah bohongi Lo,''
''Nama Lo siapa?'' Tanya Clara menatap Laras dengan bengis.
''Laras.''
''Gue kasih tahu ya sama Lo, Laras si anak baru yang songong.'' Luna terkesiap melihat perangai Clara yang begitu sadis kepada Laras. Ia pun masih belum mengetahui apa masalah kedua wanita disebelahnya tersebut hingga membuat Clara terlihat begitu murka dengan Laras.
''Leo itu cuma milik Gue. Jadi Lo, nggak usah keganjenan buat dekati Leo dimana pun dan kapan pun.'' ucap Laras semakin mendekat kearah Laras dan Luna.
''Tapi Gue sama Leo nggak ada hubungan apapun. Dan Gue nggak tertarik buat dekat sama Leo.'' ucap Laras penuh ketegasan dan mata yang membelalak seperti ingin keluar dari tempatnya.
''Emang Lo dekat sama Leo?'' tanya Luna mencoba menengahi.
''Gue nggak dekat sama siapapun Lun. Tadi Leo liht Gue keluar dari mobil, dan dia tahu kalau Gue bohong soal orang tua Gue. Dia ngancam mau bilang sama Lo kalau Gue bohong,''
__ADS_1
''Terus?''
''Karena Gue takut Lo marah ya Gue bawa aja Leo ke taman, minta ke dia supaya nggak bilang apapun sama Lo. Tapi dia malah nyuruh Gue buat jadi pacar dia.''
''Terus?''
''Ya nenek lampir ini nggak terima,'' berucap sembari menatap Clara dengan sinis. Begitu juga Luna, ia tatap Clara yang masih bersedekap dada dengan angkuh dihadapannya. ''Lo dengar kan? Laras nggak dekati Leo. Jadi berhenti buat salahin Laras.''
''Gue nggak percaya. Cewek gatel kayak dia mana mau ngaku kalau mau dekati laki orang,'' ucapnya tertawa sinis,
''Jangan kelewatan, dia anaknya Pak Irawan.'' ucap Luna mengingatkan siapa sosok orang tua Laras. Membuat Clara sedikit terkesiap.
''Lo pasti tahu lah siapa Pak Irawan? Lo kan udah lama disekolah ini, si paling senior.'' ucap Luna dengan tatapan yang datar tertuju pada Clara.
''Pak Irawan? Satu-satunya donatur di Sekolah kita?'' tanya teman Clara yang berambut sedikit pirang diujungnya, membuat Luna mengangguk, membenarkan ucapan sang gadis.
Tanpa ab-aba, sebuah dorongan kuat dirasa Clara hingga gadis itu terjerembab kebelakang, menubruk dua temannya yang sedari tadi ikut bersamanya. ''Leo?'' pekiknya tertahan. Ada Bayu bersama dengan Leo yang datang dan langsung mendorong tubuh Clara agar menjauh dari hadapan Laras.
''Lo itu bukan siapa-siapa Gue. Jadi berhenti buat jadiin Gue jomblo karatan karena kekangan Lo yang nggak jelas kayak gini!'' hentak Leo menatap Clara dengan tajam. Penuh ketegasan dan raut wajah yang datar.
''Kalau Lo nggak mau jadi jomblo, pacaran sama Gue. Udah Gue bilang kan sama Lo, sampai kapan pun Lo itu cuma milik Gue.'' ucap Clara dengan dada yang kembang kempis.
''Oke, kita lihat nanti. Lo yang akan pergi dengan sendiri dari hidup Gue, atau Gue yang akan buat Lo pergi dari hidup Gue.''
Luna dan Laras hanya bertatap pandang melihat keributan Leo dan Clara, keduanya pun langsung diseret oleh Leo dan Bayu menuju kantin sekolah selagi menghindari Clara.
***
Bara tersenyum kecut melihat dari kejauhan, bagaimana baiknya Luna tak menolak ketika tangannya digenggam oleh Bayu menuju kantin sekolah sesaat sebelum bel masuk berbunyi.
''Gue kira akan mudah, ternyata Gue salah.'' gumamnya menatap kepergian Luna dan Bayu, serta Leo dan Laras dengan pandangan nanar.
''Baiklah, sepertinya Gue harus berjuang dengan lebih lagi buat dapatin Luna.''
__ADS_1
BERSAMBUNG...