
Pulang kerumah dengan lusuh, Lula kembali dihadang oleh satu-satunya orangtua yang masih ia punya. Memamerkan senyum canggungnya, ia sudah bisa menebak bahwa sidang akan segera dimulai.
"Darimana?" Ucap Handoko menatap datar pada putri bungsunya. Yang ditatap hanya menunduk sembari meremat selempang tas yang ada dipundaknya.
"Pantai, kangen Ibu. Apa Luna tidak memberitahu Ayah?"
"Ke pantai? Atau pergi bersama Bayu?"
Lula mendongak, menatap Ayahnya yang semakin memicingkan mata kearahnya. Dengan dada berdebar, ia menggeleng. Memutar otak agar tak dicecar berbagai pertanyaan yang membuatnya kelimpungan sebentar lagi.
"Apa Luna mengadu yang tidak-tidak kepada Ayah?"
"Kenapa kamu selalu menyebut nama Luna? Ayah bertanya padamu Nak. Apa kamu berbohong?"
Lagi, Lula hanya bisa menggelengkan kepalanya kemudian mulai terisak. "Aku hanya kangen sama Ibu, aku kangen banget sama Ibu." Ucapnya dengan dada tersengal.
Handoko menghela nafas panjang, kemudian beranjak mendekati sang anak gadis. Ia memeluk Lula dengan mata berkaca-kaca pula. Tak jarang, didalam lubuk hatinya yang paling dalam, Ayah beranak dua tersebut juga sangat merindukan mendiang istrinya. Hingga kini, tak pernah ada niatan sang Ayah untuk mencari pengganti Amara. Tidak untuk hatinya, tidak juga untuk anak-anaknya.
"Maafkan Ayah yang tidak percaya padamu. Ayah juga merindukan Ibumu."
Semua itu, yang terjadi pada Lula saat ini masuk kedalam pandangan Luna yang berdiri dibibir tangga. Menatap sendu pada dua orang dibawah sana yang masih berpelukan, saling menguatkan satu sama lain.
Sedang dirinya? Kenapa tidak pernah diperlakukan sebegitu sayangnya oleh sang Ayah? Hanya Ibunya yang berpihak padanya. Namun itu semua, kini sudah tidak pernah ia rasakan. Kepergian Ibunya begitu membuatnya sangat terpukul.
Beralih, Luna memilih beranjak meninggalkan pemandangan menyesakkan baginya. Memasuki kamar dengan air mata yang sudah turun membasahi pipinya entah sejak kapan.
"Ibu, aku kangen sama Ibu." Isaknya mengusap sebuah foto yang terletak dimeja kecil.
"Kenapa dunia membuatku takut Bu?"
Ponsel yang berada diatas kasur Luna berdering, menghentikan tangis yang berderai akibat kehilangan seseorang yang berarti baginya.
Nomor baru tertera disana, membuat mata sang gadis memicing bingung. Keningnya ikut mengernyit dengan dalam. "Siapa ya?"
Tak kunjung menekan dial hijau pada panggilan, deringan ponsel tersebut mati pada akhirnya. Berganti dengan sebuah pesan yang ia dapatkan.
Membaca pesan melalui bar notifikasi tanpa membukanya, mata Luna membulat sempurna. Mulutnya menganga dengan lebar.
__ADS_1
"Hai cantik,"
Sekelebat bayangan bagaimana seorang pemuda dengan intim mencumbu bibirnya beberapa waktu yang lalu kembali terngiang. Kembali terekam indah di ingatannya. Hatinya bergetar hebat, begitupula tangannya.
"Bayu?" Gumamnya sembari terus menatap pesan pada bar notifikasi.
Gadis itu meraba bibirnya, memejamkan matanya. Kemudian, ia merasakan sebuah sensasi yang teramat indah, teramat menggelikan. Teramat ia senangi.
"Apa Gue jatuh cinta sama Bayu? Cuma karena ciuman?" Gumamnya, terus memegang bibir mungilnya.
"Ini siapa?" Balas Luna pada pesan itu pada akhirnya.
"Pemuda yang menciummu tadi siang."
Semakin bergetar sudah hati sang gadis membaca sebuah balasan yang teramat mendebarkan. Ia tersenyum dengan ragu, kemudian berteriak kencang dengan menutup wajahnya menggunakan bantal.
"Gila! Apa Gue suka sama Bayu? Tapi, selama ini Gue nyaman sama Bara. Gue juga suka sama senyumnya Bara. Gila! Gila! Gila!" Racaunya terus memukuli bantal dan guling secara bergantian.
Merebahkan tubuhnya diatas ranjang besar, Luna tak berniat untuk membalas pesan yang Bayu kirimkan padanya. Hatinya terlalu takut, terlalu berdebar jika terus membalas pesan tersebut.
"Apa yang harus Gue lakukan besok kalau ketemu Bayu? Ya ampun Gue malu banget!" Ucapnya dengan tertahan. Maka dengan pelan, ia hembuskan nafasnya untuk mengatur debaran hebat didalam hatinya.
***
Jika didalam kamar Luna tengah berteriak dengan kegirangan, tak berbeda pula dengan sang kembaran yang tengah tersenyum-senyum menatap pantulan dirinya di cermin kamar.
Kembali membayangkan apa yang baru saja ia lakukan bersama pemuda yang membuat Luna mabuk kepayang didalam kamarnya.
"Bayu...kenapa Gue tergila-gila sama Lo? Padahal dulu, Gue begitu tertarik sama Bara. Tapi setelah Lo.....Ah Bayu!" Ucapnya dengan pipi merah merona.
Ia ambil ponselnya, kemudian mencari sebuah video didalam galerinya. Tersenyum senang sembari terus melihat beberapa potongan adegan panas didalam video tersebut. Video yang berdurasi kan 4 menit tersebut ternyata adalah video syur dirinya bersama Bayu yang ia rekam saat untuk pertama kalinya ia bercinta dengan sang kakak kelas pujaan siswi di Sekolah.
"Lo laki banget tau Bay," Gumam Lula terus menerus melihat aksinya didalam video tersebut.
Bagaimana saat ia mendesah dan melenguh, juga saat ia terus menggeliat karena desakan-desakan Bayu yang membuatnya melayang jauh keatas awan.
"Bayu....Ah...Gue tergila-gila sama Lo." Ucap Lula dengan mata yang sayu.
__ADS_1
Namun, saat ia ingin memejamkan matanya, kembali teringat bagaimana Handoko bisa menebaknya pergi bersama Bayu. "Pasti Luna yang kasih tahu Ayah. Awas aja Lo Lun, Gue bakal bikin perhitungan sama Lo."
***
Memasuki kelas dengan raut wajah datar, Bara langsung menghampiri Luna yang terduduk santai dikursinya. Semua siswa maupun siswi mulai berdesas-desus akibat kedatangan Bara dikelasnya. Tak pernah sekalipun Bara memasuki kelas para Juniornya. Kecuali kali ini, saat ia ingin bertemu dan berbicara dengan Luna.
"Luna, Gue mau bicara sama Lo." Ucapnya kemudian langsung meraih tangan Luna dan mengajaknya pergi dari kelas tersebut.
Menaiki tangga menuju rooftop, Luna terbelalak kaget karena baru kali ini ia berada ditempat yang sangat tinggi. Bisa melihat kanan dan kiri tanpa terhalang oleh apapun. Pemandangan yang sangat indah baginya.
"Bara, Lo ngapain ajak Gue kesini?" Tanyanya menatap pada sang kakak kelas.
Pemuda yang ditatap itu langsung duduk dikursi yang selalu ada disana, "Kemarin diruang musik Lo sama Bayu bicara apa aja Lun?"
Luna terhentak mendengar pertanyaan Bara. Ingatan ketika Bayu menciumnya kembali merebak dibenaknya. Menatap sang pemuda dengan mata memicing, "Apa Lo nguping? Apa Lo ngintip?"
Bara terkekeh mendengar penuturan Luna, "Kalau Gue nguping atau ngintip, Gue nggak bakal tanya sama Lo."
Luna mengangguk kemudian ikut duduk disebelah Bara. Menatap lurus kedepan, memandang pemandangan yang indah baginya. "Kita cuma ngomongin soal lomba." Ucap Luna tak berani lagi menatap Bara.
Ia tahu, sejak ia duduk disebelah sang pemuda, ia terus ditatap lekat olehnya. Maka dari itu, tak berani ia menatap kembali pemuda disebelahnya.
"Hanya itu?" Luna mengangguk mantap. Masih tak berani menatap sang senior.
"Kalian disini? Enak banget berduaan." Ucap seseorang dibelakang Luna dan Bara.
Jika Luna langsung menundukkan pandangannya, maka Bara terus menatap kedatangan seseorang tersebut dengan tajam. "Mau apa Lo?"
"Gue? Ya mau nongkrong lah. Lo lupa ini basecamp kita sama Leo?"
"Gue duluan ya." Ucap Luna tak berani memandang kedua pemuda yang tengah bercengkrama tersebut. Ia langsung berlari menuju tangga kemudian menghilang setelah menuruninya.
Bara dan Bayu -seseorang yang baru saja datang- menatap kepergian Luna dengan raut wajah berbeda. "Lo mau tahu apa yang Gue lakuin diruang musik bersama Luna kemarin?" Ucap Bayu menatap Bara dengan senyum tipis tersungging dibibirnya.
"Gue cium bibir Luna, Gue ***** bibirnya. Dan Lo tahu? Dia nerima itu semua. Gue juga bilang sama dia, kalau Gue jatuh cinta sama dia." Ucapan Bayu membuat dada Bara kembang kempis dengan sempurna. Matanya menatap tajam kearah Bayu dengan raut wajah yang merah padam.
Maka, beranjaklah Bara mendekati Bayu kemudian memberikan pukulan telak diwajah Bayu dengan emosi membara. "Brengsek Lo!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...