DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 21


__ADS_3

Memasuki kelas dengan wajah yang lesu, Laras mendudukkan bokong sintalnya dengan keras. Lalu, ia menghempaskan kepalanya diatas meja dengan kedua lengannya sebagai bantalan.


"Lo kenapa? Kok kayak lesu gitu?" Tanya Luna yang sedari tadi memperhatikan Laras mulai dari masuk kelas hingga meletakkan kepalanya diatas meja.


"Males Gue,"


"Males kenapa?"


Menegakkan kembali kepalanya, gadis cantik yang digandrungi oleh kapten basket tersebut mulai menatap Luna dan berucap...


"Males banget sama Leo! Tadi malam tiba-tiba dia datang kerumah Gue. Mana ijin lagi sama orangtua Gue buat ngajakin Gue jalan. Lagian siapa sih yang ngasih tahu Leo alamat rumah Gue." Cerocos Laras, masih dengan raut wajah yang kusut.


"Lo kencan sama Leo?" Ucap Luna memperjelas pernyataan sang sahabat.


"Iya Luna. Mana dia sok-sokan ngasih Gue eskrim coklat pula. Sejak kapan coba, Gue suka sama coklat?"


Luna terkekeh ringan mendengar penuturan Laras yang masih dengan emosi menggebu-gebu. "Gue tuh nggak suka sama Leo. Gue tahu dia playboy cap ikan tuna. Tapi kenapa dia selalu ngejar-ngejar Gue sih."


Luna mengusap pelan pundak Laras yang mulai merebahkan kepalanya kembali diatas meja. "Coba aja jalani sama Leo, barangkali kalian cocok."


Usulan Luna justru membuat Laras membulatkan matanya sembari membuka mulut dengan lebar. "Lo nggak salah? Gue pacaran sama Leo?" Pekik Laras dengan kesal, membuat seisi kelas menoleh pada gadis cantik tersebut.


"Mana mau Kak Leo sama Lo." Celetuk salah satu siswi yang berada dikelas tersebut.


"Yang ada Gue kali yang nggak mau sama Leo." Kesal Laras menatap sinis pada sang teman kelas.


"Mimpi Lo ketinggian tau Ras, kalau bisa pacaran sama Kapten Basket disekolah ini."


"Banyak bacot Lo!" Ucap Laras kemudian beranjak menggandeng tangan Luna meninggalkan kelas begitu saja. Tentu saja selepas kepergian dua gadis cantik tersebut langsung menjadi gosip hangat bagi siswi yang baru saja dimarahi oleh Laras.


"Sabar dong, jangan emosi begitu." Ucap Luna sembari terus mengikuti langkah kaki Laras kemanapun gadis itu pergi. Bagaimana tidak mengikuti, tangan Luna masih terus digenggam oleh Laras hingga mau tak mau Luna pun ikut kemanapun Laras pergi.


Belum sempat Laras membalas ucapan Luna, dihadapan mereka kini sudah berdiri Leo dengan tampang sok tampannya. Tentu sok tampan hanya bagi Laras semata.

__ADS_1


"Mau apa lagi Lo?" Ketus Laras menatap malas pada sang kakak kelas.


"Gue mau kasih Lo ini." Ucap Leo sembari memberikan sebuah coklat kepada Laras. Yang diberi coklat terkekeh sinis kemudian mengambil coklat dari tangan Leo lalu memberikannya pada Luna.


"Gue nggak suka coklat." Ucapnya tanpa rasa bersalah sama sekali. Leo yang mengetahui hal itupun hanya menghela nafas panjang.


"Maaf ya, Gue nggak tahu." Ucapnya menunduk, menatap lantai putih yang ia pijak saat ini. Luna yang melihat itu mengusap pundak Laras sembari berbisik lirih, "Hargai apa yang dikasih orang. Mau Lo suka apa enggak, itu urusan belakangan."


Laras pun mengikuti jejak Leo, menghela nafas panjang dan juga jengah. "Makasih ya coklatnya, tapi beneran Gue nggak suka Coklat. Mungkin kalau Lo mau kasih Gue sesuatu, yang lain aja deh asal jangan coklat."


Leo mengangguk sembari tersenyum senang. "Gue lakuin apapun yang Lo mau."


***


Meski kemarin sudah bercinta begitu panasnya bersama Bayu, tak lantas membuat Lula terpuaskan begitu saja.


Siang ini, ia langsung menemui sang pemuda dikantin sekolah kemudian membawanya kehalaman belakang sekolah yang tergolong sepi. Tak pernah dijaman para siswa maupun siswi.


"Lo ngapain ajak Gue kesini?" Tanya Bayu melihat kesekelilingnya. Tanpa berucap apapun, Lula langsung menempelkan bibirnya pada bibir Bayu, membuat sang pemuda membulatkan matanya.


Sang gadis langsung memeluk erat tubuh Bayu, tak mau melepasnya barang sedetik saja. "Gue kangen sama Lo Kak!" Ucap Lula penuh ketegasan.


Mengusap punggung tegap sang gadis, Bayu kemudian melepaskan pelukan tersebut. "Lo kangen sama Gue? Apa kangen sama adegan kita diatas ranjang?" Kedipnya pada Lula, menggoda sang gadis hingga gadis dihadapannya tersebut bersemu merah.


"Kangen semuanya." Ucap Lula dengan menunduk. Tak mampu melihat sorot mata tajam Bayu yang terasa menghujani hatinya setiap ia menatap sang pemuda.


"Ngapain kalian?" Pekik seorang gadis menatap kearah Lula dan Bayu secara bergantian.


Baik Lula maupun Bayu kini hanya terdiam menatap Luna yang memicingkan mata kearahnya, sembari terus berjalan dengan pelan kearah mereka berdua.


Bayu tersenyum tipis kemudian beranjak menghampiri Luna, "Gue lagi nyariin Lo makanya tanya sama Lula. Tapi ternyata, dia juga nggak tahu Lo dimana."


"Kenapa sampai dibelakang sekolah?"

__ADS_1


Merangkul pundak sang gadis yang kembarannya tengah menatap tajam kearahnya, Bayu kemudian berucap, "Ya kan ketemunya sama Lula disini."


"Lo kemarin ngapain ngadu sama Ayah kalau Gue keluar sama Bayu?" Ucap Lula mengalihkan topik pembicaraan Luna dan Bayu.


Merasa dongkol melihat keakraban sang pujaan dengan sang kembaran, apalagi melihat tangan kekar Bayu yang selalu membuatnya mendesah nikmat itu kini tengah merangkul gadis lain. Benar-benar menguras emosinya. Namun, bukankah itu adalah tujuan utamanya dengan Bayu? Agar ia bisa segera mendapatkan mobil impiannya.


"Lagian, Lo tahu darimana kalau Gue keluar sama Bayu? Lo cuma nebak aja kan? Bukannya Gue udah bilang kalau Gue ke pantai!" Hentak Lula menekankan kata-katanya pada Luna.


Yang dicecar justru terdiam tanpa kata, menatap dengan bingung. "Kalau ucapan Gue nggak bener, ngapain marah? Ngapain takut?"


"Lo ngarang cerita sama Ayah! Mau buat Ayah benci sama Gue?"


"Gue nggak tertarik buat bikin Ayah benci sama Lo. Mana ada? Lo kan anak kesayangan Ayah!'


Bayu mengibaskan tangannya di udara, memberi kode agar Lula tak membalas ucapan Luna. Kedua saudara kembar itu tidak boleh bertengkar dihadapannya.


"Kalian itu saudara, kenapa nggak akur?" Ucap Bayu dengan lembut.


Namun, tanpa kata-kata Lula justru pergi meninggalkan Bayu dan Luna ditempat sepi tersebut. Membuat Bayu tersenyum tipis dengan bahagia.


Kemudian, ia tatap Luna dengan sorot mata yang lembut, yang tentunya akan membuai Luna dan kembali masuk dalam jebakannya.


Jika beberapa saat yang lalu Bayu justru menolak Lula, maka kini ia malah memulainya dengan Luna. Merasa gemas melihat bibir alami kemerahan tersebut yang terus melambai-lambai ingin dinikmati.


Mendekatkan wajahnya kearah sang gadis sembari berkata...


"Gue cinta sama Lo."


Tiga katabyang sukses membuat Luna terdiam ditempat. Selama ia hidup 16 Tahun lamanya, tidak pernah mendengarkan penuturan sebegitu mesranya dari seorang lelaki. Apalagi, dibarengi dengan kecupan hangat dibibirnya seperti yang Bayu lakukan saat ini.


Maka, Luna memejamkan matanya dengan dada yang berdebar hebat. Nafasnya mulai memburu tanpa bisa ia cegah.


"Gue juga cinta sama Lo."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2