
Hari ini adalah hari keberangkatan Luna menuju sebuah tempat yang selalu ingin ia hindari namun tidak bisa. Negara beribu kota Moskow tersebut adalah Negara yang terluas didunia. Namun, meski banyak keindahan di Negara tersebut, tetap tidak membuat Luna merasakan kenyamanan disana. Entahlah, atau mungkin hanya karena gadis itu belum menemukannya saja.
Hatinya sudah terpatri dengan Kota ini. Kota yang begitu banyak menorehkan luka dihati, hanya sedikit saja kebahagiaan didalamnya. Dan ya, gadis itu akui kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Semua kebahagiaannya sudah hilang dibawa oleh cinta pertamanya.
"Luna, kamu berangkat sekarang?" tanya Handoko sembari melangkah memasuki kamar sang anak yang tengah membereskan meja kecil disisi ranjangnya.
"Kalung? Darimana kamu dapat kalung?" kembali meluncurkan pertanyaan ketika anak gadisnya itu mengenakan sebuah kalung cantik dilehernya. Dan, baru hari ini Handoko melihat kalung itu tersampir dileher jenjang sang gadis.
Luna terkekeh sebentar, kemudian mengangguk. "Dari Bara." jawab sang gadis dengan cepat. Otaknya kembali berputar pada kejadian dimana Bara datang kerumahnya kemudian berpamitan untuk pergi dari Kota ini. Pergi jauh ketempat yang sampai sekarang, Luna pun tidak tahu dimana pemuda itu berada.
"Kapan dia beri kamu kalung?"
"Dulu, terakhir kali sebelum Bara pergi ke Amerika.''
Handoko menganggukkan kepalanya, tak mau bertanya apa-apa lagi mengenai Bara dan anak gadisnya. Biarlah itu akan disimpan rapat oleh sang gadis. Melihat gadis cantik itu sudah tidak pernah menanyakan Bara sejak 2 tahun terakhir ini membuatnya sempat yakin bahwa gadis itu sudah benar-benar sudah melupakan sang pemuda.
Namun hari ini, semua keyakinan sang Ayah itupun sirna sesaat setelah ia melihat kalung yang sang anak pakai serta penjelasan dari siapa kalung itu berasal. "Kamu yakin mau ke Rusia sekarang? Tidak ingin menghabiskan waktumu dulu disini?" tanya Handoko pada akhirnya.
Meraih koper-koper dan tas kecil milik sang gadis, kemudian menyeretnya keluar dari kamar diikuti oleh langkah tegap dari kaki mungil sang anak. "Mau sampai kapan? Toh nanti juga pasti bakal ke Rusia kan?" ucap Luna menolak dengan halus. Merasa percuma juga berlama-lama mengulur waktu. Untuk apa? Bukankah tidak ada lagi hal yang harus ia pertahankan ditempat manapun?
"Ayo, kita berangkat sekarang." ajak sang Ayah sembari membuka pintu mobil Limousine yang selalu menemani Luna mulai dari berangkat hingga pulang sekolah.
Menatap sekali lagi kearah rumah yang sudah bertahun-tahun membersamainya tumbuh dewasa, bayangan seorang wanita paruh baya dengan rambut hitam ikalnya terbayang di pelupuk mata Luna. Bayangan itu terlihat tersenyum, kemudian melambaikan tangan kearah sang gadis.
'Selamat tinggal Bu, aku akan pergi dari rumah dan Kota ini. Mencari hidup baru, serta membuka lembaran baru di Negara yang asing bagiku.' batin sang gadis tersenyum pilu.
Kemudian, bayangan Amara itu menghilang. Seiring bergantinya bayangan seorang pemuda yang duduk di sofa ruang tamu. Terlihat senyum itu terus mengembang seiring dengan tatap sang gadis yang terhalang oleh air mata.
"Sudah, lupakan semuanya. Ayo masuk," ucap sang Ayah sembari mendorong tubuh anak gadisnya memasuki mobil. Kemudian, pria paruh baya itu ikut duduk disebelah sang gadis, menutup pintu mobil, lalu menyuruh sang sopir untuk bergegas menuju sebuah Bandara yang akan mengantarkan Luna menuju Negara tetangga.
"Apa yang akan kamu lakukan disana nanti Luna?" tanya sang Ayah sembari menatap kepada anak gadisnya. Yang ditatap justru mengalihkan pandang kearah jendela. Menatap jalanan ramai disekelilingnya. Jari jemarinya terus mengelus liontin berbentuk hati dilehernya.
"Mungkin ke Perusahaan Ayah." ucap sang gadis seadanya saja. Helaan nafas kembali muncul kepermukaan, menjadikan Handoko semakin menatap anak gadisnya dengan bimbang. Merasa ada yang selalu disembunyikan oleh sang anak.
"Kalau kamu belum siap ke Rusia dan mengurus perusahaan Ayah, jangan dipaksakan. Barangkali kamu masih mau bersenang-senang? Lepas dari belenggu sekolah?" tawar sang Ayah, namun anak gadisnya itu hanya menggeleng saja.
"Luna akan segera mencari Paman Hiato, lalu belajar untuk mengurus perusahan Ayah."
"Kamu tidak kuliah?"
"Bisa dipikir belakangan." pungkas sang gadis memutus perbincangan ringan mereka.
__ADS_1
"Ayah yakin tidak mencari Lula?" tanya sang gadis dengan tiba-tiba. Menatap Ayahnya yang kini ganti menghela nafas panjang.
"Ayah sudah melupakan Lula."
"Tapi dia anak Ayah."
"Kalau dia anak Ayah, harusnya dia menuruti apa yang Ayah katakan. Semua untuk kebaikannya. Tapi, dia melanggarnya. Tidak mendengarkan Ayah. Lebih menuruti Bayu ketimbang Ayah. Biarkan saja." pungkas sang Ayah yang masih saja menyimpan sakit hati tak berkesudahan tersebut.
"Kalau gitu, biar Luna yang cari Lula." putus sang gadis dengan yakin.
"Buat apa? Kamu mau mengasuh anaknya? Mau menjadi baby sitter Lula? Mengabdi pada gadis nakal itu?" cecar Handoko merasa dadanya sudah kembang kempis.
"Ayah, aku cuma mau lihat keponakanku. Dia cucu Ayah juga kan?"
"Terserah kamu saja." putus Handoko tak mau mendebat sang anak lebih jauh lagi. Merasa sia-sia jika melarang anak gadisnya untuk tidak menemui saudara kembarnya.
Setelah itu, tidak ada lagi perbincangan ringan antara anak dan ayah tersebut. Hingga tak berapa lama kemudian, sampailah mereka di Bandara terbesar di Kota tersebut.
Setelah mengeluarkan tas-tas dan koper milik sang gadis, Handoko lalu mencium kening anak gadisnya sembari mengusap pelan puncak kepala sang gadis dengan sayang. "Hati-hati ya. Kabari Ayah kalau sudah sampai disana." ucap sang Ayah.
"Iya Ayah."
"Dimana dia sekarang? Sejak 2 tahun terakhir ini aku nggak pernah tanya soal Bara.*
Handoko menghela nafas sesaat sebelum akhirnya bersuara. "Dia sudah sadar, sudah sembuh. Tapi, dia benar-benar kehilangan semua memori hidupnya yang ada di Kota ini."
Luna mengangguk dengan senyum gamang. Mengerti, sejak 2 tahun yang lalu ia sudah tahu jika Bara memang lupa ingatan. Hanya saja, waktu itu ia merasa belum yakin dengan ucapan sang Ayah.
"Dan Luna, Bara tidak ada di Amerika." ucap Handoko membuat Luna sedikit terhentak kaget. Bukankah kepergian pemuda itu untuk mengikuti Ayahnya yang mengurus perusahaan cabang di Amerika?
"Dimana dia?"
"Waktu kecelakaan itu, Helly memutuskan untuk membawa Bara ke Luar Negeri untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik untuk kesembuhannya. Dan ternyata, Helly membawa Bara ke..." Handoko menggantungkan ucapannya sesaat, menatap anak gadisnya dengan helaan nafas panjang.
"Kemana Ayah?" desak Luna merasa penasaran luar biasa. Meski tidak akan bertemu dengan sang pemuda, namun mengetahui keberadaannya sudah menjadi penenang hati bukan?
"Dia di Rusia. Dan sekarang, dia menetap di Rusia."
***
Selama perjalanan menuju Rusia, hati Luna benar-benar tidak tenang. Pasalnya, setelah ia mengetahui sebuah kebenaran tentang keberadaan pemuda yang ia cintai, hasrat untuk mencari dimana letak presisi sang pemuda yang sudah ia kubur dalam-dalam kini kembali mencuat dipermukaan.
__ADS_1
Terus menerus menatap kearah luar jendela pesawat. Seharusnya, ia tertidur seperti penumpang lainnya. Menikmati pemandangan, atau mengistirahatkan tubuhnya dengan rileksasi musik. Tapi, gadis cantik itu tidak sama sekali.
Matanya terus terbuka lebar sembari menatap awan-awan disebelahnya. Kakinya terus bergoyang menandakan bahwa dirinya sangat-sangat gelisah. Ditambah, gadis itu selalu menggigit kuku-kuku panjang di jari-jarinya.
"Ada apa Nak? Kamu gelisah?"
Menoleh, gadis cantik berponi seperti mangkuk itu mendapati seorang wanita paruh baya yang terus menatapnya dengan sorot khawatir. Merasa, Ibu disebelahnya ini sangatlah mirip dengan Ibu sang gadis yang sudah tiada.
"Katakan Nak, ada apa? Anggap saja aku adalah Ibumu. Kau sendirian?"
Mengangguk kecil, Luna merasa ragu saat ingin berucap. Namun, melihat raut wajah penuh kasih sayang dari wanita disebelahnya ini membuat hatinya sedikit menghangat. "Ya, aku sendiri Bu. Ayahku menetap di Indonesia dan aku akan melanjutkan perusahaannya yang ada di Rusia."
"Kau masih muda, apa kau tidak kuliah?'
" Aku melanjutkan kuliah di Rusia Bu, aku akan membagi waktuku nantinya."
"Jadi, apa yang membuatmu terlihat gelisah?'' tanya sang wanita kembali pada inti permasalahan.
" Bu, apa Kau percaya cinta sejati?" tanya sang gadis dengan tiba-tiba.
Meski dengan kening mengernyit, namun wanita itu tetap tertawa renyah. "Apa Kau tengah menunggu cinta sejatimu?"
Luna menunduk, sedikit menghela nafas kemudian berucap. "Bu, aku mencintai seseorang yang sudah melupakanku. Selama 2 Tahun lamanya tanpa mengetahui dimana dia sekarang dan bagaimana kabarnya."
"Seseorang yang sudah melupakanmu? Bagaimana kalau dia sudah menikah Nak?"
"Bu, dia hanya berbeda 2 Tahun dari usiaku. Aku yakin dia belum menikah, dia kecelakaan dan dia lupa ingatan Bu."
"Apa Ibu percaya cinta sejati?"
Mendengar penuturan Luna, wanita paruh baya itu menghela nafas panjang. "Nak, dulu Ibu juga terpisah dengan suami Ibu. Selama 5 Tahun lamanya karena ada suatu kejadian dimasa lalu. Setelah Ibu bertekad untuk melupakannya, mengubur semua kenangannya, mengubur semua cinta, suami Ibu tiba-tiba datang melamar. Tanpa pembicaraan apapun sebelumya. Saat itu Ibu masih berusia 25 Tahun, dan suami Ibu itu melamar Ibu saat usianya sudah 30 Tahun.'' cerita sang Ibu mengenang masa-masa mudanya.
"Jadi, jika Kau bertanya tentang cinta sejati. Tentu saja Ibu mempercayainya." pungkas wanita paruh baya itu tersenyum ramah.
"Kamu percaya?" tanyanya kemudian kepada gadis cantik disebelahnya yang hanya diam mematung.
"Entahlah Bu." ucap sang gadis dengan sendu, merasa serba salah.
"Mungkin memang seharusnya aku mempercayai apa yang namanya cinta sejati."
BERSAMBUNG...
__ADS_1