DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 22


__ADS_3

Pemuda tampan yang menjabat sebagai wakil ketua osis tersebut terhentak kebelakang ketika mendengar penuturan Luna yang membuatnya sangat syok. Rencananya untuk kembali merasakan bibir mungil kemerahan itu harus tertunda karena ketidaksiapannya mendengar pengakuan Luna.


"Lo? Suka sama Gue?" Ucapnya dengan terengah. Matanya membulat sempurna, tak berkedip. Sedang yang ditatap hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum malu-malu.


"Sejak kapan Luna?"


"Gue nggak tahu. Yang jelas, Gue rasa Gue tertarik sama Lo." Masih enggan memanggil kakak kelasnya dengan sebuatn "Kak." Maka ia pun juga tak mau memanggil Bayu hanya dengan sebutan nama, sama seperti saat gadis itu memanggil nama Bara.


Sedang Bayu, dia masih terdiam ditempatnya. Berhadapan dengan seorang gadis yang ia yakini hanya untuk taruhan semata, justru membuatnya sangat berdebar saat ini.


Untuk playboy seperti Bayu, mendengar pengakuan cinta dari seorang wanita tentunya bukan hal yang menakjubkan lagi untuknya. Namun saat ini, seorang gadis cantik dengan polosnya mengakui sebuah perasaan yang diyakininya adalah cinta kepada dirinya. Aliran darah terasa berbeda saat kata cinta terucap dari bibir Luna.


Luna mendongak menatap Bayu yang masih diam mematung dihadapannya. Merasa salah sudah mengakui perasaannya terlalu cepat kepada sang pemuda, maka ia pun menghela nafas panjang sembari berlalu meninggalkan Bayu tanpa ucapan apapun.


Sedang pemuda yang masih dilanda hati berdebar tersebut masih terdiam ketika mendapati Luna meninggalkannnya tanpa ucapan apapun.


"Ini salah. Gue nggak mungkin jatuh cinta sama Luna."


***


Malam ini, Lula merasa resah karena mendapati kalender yang ia lingkari sudah terlewat satu minggu lamanya. Melangkah kesana kemari sembari menggigit kuku panjangnya dengan bingung. Sesekali ia menatap kalender yang terletak diatas meja belajarnya, sesekali ia kembali kesana-kemari seperti setrika raksasa yang berjalan.


"Apa cuma telat haid aja ya?" Gumamnya terus merasa tak nyaman. Tak enak. Seperti ada yang mengganjal dihatinya.


Kemudian, ia mengambil ponsel yang ia letakkan diatas ranjangnya. Mencari sang google yang mengetahui segala keresahan yang ia alami saat ini.


Mengetik pada kolom yang tersedia dilayar ponselnya, ia kemudian menemukan beberapa artikel mengenai seorang gadis yang telat haid atau haidnya sering terlambat dari tanggal sebelumnya.


"Oh, ternyata karena hormon yang berbeda-beda ya." Gumamnya terus membaca artikel-artikel yang ia yakini benar adanya.


Pintu kamar Lula langsung terbuka lebar, membuat sang pemilik kamar terlonjak kaget. Terlebih ia tengah fokus pada artikel-artikel yang ia pelajari beberapa saat yang lalu


"Luna! Lo punya sopan santun nggak? Seenak jidat aja masuk kamar orang!" Kesal Lula kemudian melempar bantal terdekatnya kearah Luna yang masih berdiri diambang pintu kamarnya.


"Gue mau nanya sama Lo. Sebenarnya Lo ada hubungan apa sama Bayu?"

__ADS_1


Lula terhentak untuk sesaat, kemudian ia menghela nafas untuk memutar otaknya. Kemudian, ia terkekeh kecil sembari mendekap tangan didadanya.


"Lo kesambet apa tiba-tiba nanyain hubungan Gue sama Bayu?"


"Laras bilang sama Gue setiap kali Gue ikut ekstra, Lo keluar sama Bayu. Lo ada hubungan apa sama dia?" Ucap Luna yang terus terngiang ucapan Laras beberapa waktu yang lalu dikantin sekolah.


Awalnya, ia memang tak mau ikut campur urusannya kepada Bayu ataupun Lula. Namun, saat ini hatinya benar-benar sudah jatuh kepada Bayu. Maka, ia harus menjelaskan apapun yang terjadi antara Lula dan sang pujaan hati.


"Bayu suruh Gue kasih tahu semua tentang Lo. Ya karena dia suka sama Lo. Dia ajak Gue makan, buat nyogok." Ucap Lula tak mau menatap Luna. Ia lebih memilih memainkan ponselnya daripada menatap sorot mata sang kembaran.


Sedang Luna, sedikit tersipu karena begitu besar pengorbanan Bayu untuk mendapatkannya. Meski merasa heran, mengapa sang pemuda tiba-tiba diam saat ia mengutarakan isi hatinya. Namun bukankah pengakuan Lula beberapa saat yang lalu sudah menjawab keraguannya atas isi hati sang pemuda?


"Lo suka sama Bayu?" Tanya Lula membuyarkan lamunan sang gadis.


Luna menggeleng, "Kita nggak boleh pacaran sebelum lulus sekolah. Kita baru kelas 1, nanti Ayah marah."


Lula tersenyum tipis, sangat kecut dirasa. Penuturan Luna benar-benar menohok hatinya.


***


"Luna, Lula, bagaimana sekolah kalian selama disana? Baik? Ayah rasa, Ayah terlalu sibuk akhir-akhir ini." Ucap Handoko setelah mengakhiri sarapan paginya. Ia tatap kedua anak gadisnya yang mengangguk secara bersamaan. Baik Lula maupun Luna, sama-sama tak mengeluarkan suara apapun.


"Baik kok Yah."


"Kalian nggak macam-macam kan?"


"Macam-macam bagaimana Yah?"


"Macam-macam pada siapapun. Terlebih, pada lelaki. Jangan dekat dengan siapapun sebelum kalian lulus Sekolah SMA ini. Ayah tidak mau kalian rusak. Jaga nama baik Ayah, dan nama baik kalian sendiri."


Luna dan Lula mengangguk. Jika Luna terlihat biasa saja, maka tidak dengan Lula. Apa yang baru saja diucap oleh Handoko membuatnya sedikit bergetar. Merasa takut akan hal apa yang dilakukan Handoko padanya jika terbukti ia dan Bayu sudah melanggar permintaan sang Ayah.


***


Memasuki gerbang utama sekolah, tujuan Luna kali ini tidak mencari Laras. Melainkan...

__ADS_1


"Bara!!" Teriak sang gadis sembari melambai-lambai kearah sang pemuda yang baru saja memarkir motornya. Tak peduli hingar bingar yang terjadi akibat teriakan yang ia lontarkan kepada kakak kelasnya tersebut, ia terus melangkah menuju tempat Bara berdiri menunggunya.


"Ada apa?" Tanya Bara setelah Luna sampai dihadapannya. Raut wajahnya masih datar dan dingin, memar-memar diwajahnya pun belum hilang total


Tentu saja hal itu membuat guru-guru maupun siswa dan siswi mempertanyakan permasalahan ketua osis tersebut.


"Lo...


"Mau nanyain Bayu? Belum datang. Motornya aja belum ada." Potong Bara sembari berlalu meninggalkan Luna.


Sang gadis yang bingung hanya mengikuti langkah kaki sang pemuda. Terus merayu dan meringsek agar Bara kembali seperti biasanya kepadanya.


"Bara, Gue punya coklat buat Lo." Ucap Luna sembari terus mensejajarkan langkahnya dengan Bara. Satu tangannya terulur kearah sang pemuda, memberi sebuah coklat panjang dengan bungkus keemasan.


"Pasti dari Bayu kan?"


"Bukan! Ini aku beli dijalan waktu berangkat tadi."


"Kenapa Lo kasih Gue coklat?" Bara berhenti melangkah, kemudian menatap Luna yang hanya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.


"Lo marah kan? Jadi harus dibujuk.*


"Gue marah? Kenapa Gue marah?"


"Gue nggak tahu. Tapi dari kemarin Lo diam aja, nggak ada nyamperin Gue kekelas kayak biasanya. Gue coba obati luka Lo juga nggak mau. Berarti kan Lo marah sama Gue."


"Emangnya kenapa kalau Gue marah? Lo ada rugi?"


"Enggak, Gue cuma nggak mau kehilangan sahabat. Lo dan Laras itu sahabat Gue. Dua orang yang mau menawarkan dirinya buat jadi sahabat Gue. Dulu-dulu, Gue yang selalu cari teman atau sahabat." Luna menunduk dengan mata berkaca-kaca. Membuat Bara menghela nafas panjang, kemudian menarik coklat dari tangan Luna.


"Gue terima. Gue nggak marah sama Lo." Ucapnya sembari tersenyum. Membuat sang gadis ikut tersenyum bersamanya.


"Terima kasih ya! Akhirnya Lo nggak marah lagi."


Bara tersenyum hangat sembari mengusap puncak kepala Luna dengan lembut. Senyum yang selalu membuat hati Luna luluh dan hangat, senyum yang tak ingin Luna akhiri sampai kapanpun itu.

__ADS_1


'Andai Lo tahu.'


BERSAMBUNG...


__ADS_2