DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 11


__ADS_3

Beberapa hari setelah kepergian sang Ibunda, Luna dan Lula masih terus menangisi kepergiannya. Orang terkasih yang mengandung dan melahirkannya. Mengurusnya dengan penuh kasih sayang, dan juga perhatian lebih.


Jika bagi Luna tak ada lagi tempat untuk berkeluh kesah, maka berbeda bagi Lula yang memang tidak terlalu dekat dengan sang Ibunda pasca memasuki Sekolah Menengah Pertama. Bagi Luna, hanya Amara yang mengerti dirinya, hanya Amara yang membelanya, dan hanya Amara yang mau memeluknya ketika masalah yang diciptakan saudaranya terus datang.


Hari ini, setelah banyaknya air mata yang ia keluarkan untuk menangisi Ibunya, Luna bertekad untuk tidak mau dipandang lemah. Menatap Lula dengan pancaran kebencian dan juga ingin mengalahkan. Mulai hari ini, ia akan menjadi yang terbaik di Sekolah kebanggaan. Tak apa jika ia terus dipandang sebelah mata oleh sang Ayah. Ia akan mendapatkan beasiswa dan pekerjaan untuk mulai belajar menghidupi hidupnya seorang diri.


Lula meletakkan sendok dan garpunya dengan perlahan, pandangannya beralih dengan lirih ketika mendapati tatapan Luna yang begitu menyorot padanya. ''Ayah, aku berangkat dulu.'' ucapnya sembari mencium tangan punggung Handoko.


''Luna berangkat sama kamu.'' ucap Handoko tanpa menatap kedua anaknya. Lula yang melihat Handoko seperti itu tak mau membantah, ia hanya mengangguk kemudian berlalu menuju mobil yang akan ia pakai menuju sekolah.


Sedang Luna menghembus nafas sejenak, ini adalah hari pertamanya kembali memasuki Sekolah setelah kepergian Ibunya.


''Luna berangkat dulu.'' pamitnya pada sang Ayah yang masih sibuk menghabiskan nasi gorengnya. Setelah kepergian dua anaknya, Handoko mulai melepas kacamatanya dan menatap langit-langit ruang makan yang berwarna putih tersebut.


''Amara, maafkan aku.''


***


Didalam mobil hanya ada keheningan, baik Luna maupun Lula sama-sama tidak ada yang bersuara. Hingga waktu terus berjalan dan mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di gerbang utama sekolah terfavorit.


''Besok, Lo tolak permintaan Ayah buat satu mobil sama Gue lagi.'' ucap Lula sembari menuruni mobil dan berlalu meninggalkan Luna yang masih berdiri di gerbang utama.


''Luna! Akhirnya Lo udah masuk lagi!'' pekik Laras memeluk erat tubuh Luna dengan semangat. Gadis itu selalu membawa aura positif pada siapapun yang berada didekatnya. Membuat Luna kembali tersenyum dengan lirih.


''Ya ampun, mata Lo bengkak banget. Lo pasti nangis terus ya.'' Laras menangkup wajah sang sahabat dengan lembut, ia tatap kedua mata sang gadis dihadapan. ''Lo yang sabar ya Luna. Gue bakal selalu ada buat Lo.''


Luna terkekeh kecil sembari menggandeng tangan Laras untuk memasuki gerbang sekolah. ''Gue nggak apa-apa. Semua baik-baik saja.''


Tentu gadis itu berbohong, mana ada orang yang ditinggal pergi secara mendadak oleh orang terkasih bisa baik-baik saja?

__ADS_1


''Luna! Lo udah masuk?'' Suara bass yang begitu Luna rindukan kini hadir merambat hingga ke gendang telinganya. Membuat dua gadis cantik itu tersenyum dengan lembut, ''Iya,''


''Lo jangan khawatir ya, Gue siap jadi sahabat Lo. Gue siap antar jemput Lo.''


''Kak, kok Lo kenal sama Bokapnya Luna?'' sela Laras menghentikan ucapan Luna yang hampir terlontar keluar.


''Iya, Bokapnya Luna dan Bokap Gue partner bisnis, Jadi Gue sering lihat Om Handoko dikantor Bokap Gue.'' baik Luna maupun Laras mengangguk-angggukan kepalanya, menandakan bahwa mereka memahami ucapan sang pemuda.


''Kita masuk dulu ya,'' pamit Luna kepada Bara. ''Eh Luna, Lo udah pilih ekstra di sekolah kita?'' cegah Bara memegang pergelangan tangan Luna dengan lembut. Hal itu justru malah membuat Laras yang menyaksikan merasa salah tingkah sendiri.


''Iya, Gue mau ikut ekstra seni.'' jawab Luna tersenyum kecil.


''Bagus, hari ini ada jam-nya seni. Gue mau dengerin Lo nyanyi.''


''Iya, sampai jumpa nanti.'' Luna kembali tersenyum sembari melangkah meninggalkan Bara dihalaman depan. Kedua gadis itu kembali terdengar membuka obrolan ringan sembari melangkah menuju kelasnya ditingkat atas. Sedang Bara terus tersenyum menatap kepergian Luna hingga hilang dari pandangannya.


Dari kejauhan, Leo dan Bayu terus menatap lekat pada ketiga anak manusia yang sudah mulai berpencar tersebut. Sejak mengenal Luna, Bara selalu menghilang bagai ditelan bumi. Jika sebelum bel masuk pertama mereka berkumpul di kantin sekolah, maka kini hanya Leo dan Bayu yang selalu hadir.


''Kayaknya Bara suka sama Luna,'' ucap Leo membuat kesimpulannya sendiri, sedang Bayu masih terus memperhatikan kemana langkah Bara menghilang. Kemudian, ia menatap Leo dengan senyum liciknya, ''Gue akan buat taruhan ini terus berjalan hingga akhir.''


''Maksud Lo? Bara udah mengundurkan diri, dan mobil sudah Lo dapat.''


''Gue bakal dekati Luna. Kita lihat saja siapa yang pada akhirnya akan mendapatkan hati Luna. Kalau Gue yang dapatin lebih dulu, Gue akan jual itu mobil. Tapi kalau Bara yang berhasil lebih dulu, mobil akan Gue kasih sama Bara.''


''Ini namanya taruhan sepihak Bay.''


''Bukankah itu lebih seru?'' Leo menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Bayu yang semena-mena. Memang seperti itu sifat sahabatnya jika memiliki keinginan. Maka, ia pergi begitu saja meninggalkan Bayu dilorong pojok sekolah yang terhubung dengan roftoop.


''Gue nggak salah dengar kan?''

__ADS_1


Bayu terkesiap melihat Lula yang sudah berdiri dibelakangnya bersama dua antek-anteknya versi Laras tersebut. Pemuda tampan itu terus menatap Lula dengan lekat, salivanya terasa tertahan ditenggorokan hingga ia sulit bernafas sejenak.


''Lo jadiin Luna taruhan? Buat apa?'' ucap Lula dengan terus mendekat pada Bayu hingga pemuda itu terpojok diujung lorong yang sepi. Setiap Lula melangkah maju, maka setiap itu juga Bayu melangkah mundur.


''Kak? Jawab!'' sentak Lula mengguncang tubuh Bayu dengan keras. Catherine dan Karina hanya terdiam sembari bersilang dada dan menatap saja, apa yang akan dilakukan sang kakak kelas tersebut.


''Lula, Lo dengar semuanya?''


''Iya, Gue dengar!''


Bayu menarik lengan Lula dan mengunci tubuh gadis itu di dinding belakang kelas. Membuat Catherine dan Karina tersentak kaget, begitu pula Lula. Namun, mereka tentu tak dapat melakukan apapun untuk membela sang sahabat.


Kedua sorot mereka bertemu dalam satu garis lurus. Membuat deburan ombak didalam dada sang gadis begitu keras menghantam. Hingga ia terbatuk sedikit karena degub jantung yang terus bertalu-talu.


''Lo mau mobil?'' tanya Bayu membuka perbincangan dengan suara yang nyaris berbisik. Kedua wajah mereka begitu dekat hingga nafas yang berhembus saling terasa diwajah masing-masing. Catherine dan Karina membalikkan badannya hingga memunggungi Bayu dan Lula. Tak mau ikut campur tentang urusan mereka.


'Lula mengangguk menjawab pertanyaan Bayu. Memang sejak lama ia menginginkan sebuah mobil untuk ia bawa ke Sekolah tanpa bersama Luna. ''Kalau Lo mau mobil, bantu Gue buat jadiin Luna pacar Gue.''


''Tapi gimana caranya?'' bertanya dengan ragu. Hatinya mencintai Bayu, namun ia juga menginginkan sebuah mobil. Dan, mengapa harus Luna?


''Itu gampang. Lo akan tahu nanti,. gimana?''


''Iya, Gue mau.'' angguk Lula dengan yakin, ia terus menatap mata bulat Bayu dengan binar kekaguman.


Maka, setelah Lula menganggukkan kepalanya, Bayu semakin mendekatkan wajahnya hingga kedua wajah itu tak berjarak sama sekali. Mengecup bibir sang gadis sembari ******* kecil, ''Lo jadi milik Gue.''


Setelah berucap, Bayu tersenyum kemudian berlalu meninggalkan Lula dan kedua sahabatnya. Gadis itu termangu, menatap kepergian Bayu dengan dada yang kembang kempis menahan deburan ombak didalam sana. Hatinya begitu bergetar ketika mendapati bibirnya dicium dan dilumat secara lembut oleh pemuda tampan di sekolah tersebut. Senyumnya sesekali mengembang dengan malu-malu, lalu ia melonjak dengan riang sembari memekik senang.


Sekali dalam hidupnya, gadis berusia 16 Tahun tersebut baru saja merasakan ciuman intim seorang lelaki. Merasakan pula bagaimana gelinya perut yang digelitiki oleh ribuan kupu-kupu didalam perut. Ciuman itu, ******* itu, begitu menggugah gairah seorang gadis untuk pertama kalinya. Hingga ia merasakan ingin dan ingin untuk sekali lagi.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2