DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 13


__ADS_3

Tepat pukul 7 malam waktu setempat, mobil Limousine yang berwarna hitam mengkilat kini sudah terparkir rapi digarasi rumah mewah nan megah. Keluarlah sosok gadis yang sudah ditunggu oleh sang Ayah sejak beberapa jam yang lalu. Maka, ketika ia baru saja membuka pintu utama, matanya langsung beradu dengan sorot tajam dari Handoko.


Pria paruh baya itu berdiri di anak tangga terbawah dengan Luna yang juga berdiri di anak tangga atas. Membuat Lula seperti deja vu dengan posisi yang sama saat ia membuat drama antara Luna dan Bara. ''Ayah?''


''Darimana kamu?'' tanya Handoko dengan tegas, pandangannya sama sekali tak beralih dari gerak-gerik Lula yang lirih berjalan menghadapnya dengan kepala tertunduk.


''Kerja kelompok Ayah.''


''Catherine sama Karina ikut ekstra seni, dan jam pulang telat dari biasanya. Jadi, Lo kerja kelompok sama siapa?'' celetuk Luna menatap rendah pada Lula dibawah sana. Gadis cantik itu menyilangkan tangan didepan dada sembari menyandarkan tubuh mungilnya dibibir tangga. Ini adalah hal yang selalu ia tunggu-tunggu, melihat anak manja versi Luna dimarahi oleh Ayahnya sendiri.


''Lula. Jangan belajar berbohong!'' tegas Handoko untuk sekali lagi,


''Maaf Ayah,'' lirih Lula, gadis itu melirik kesal kearah atas tangga dimana posisi Luna berada.


''Lalu, kemana kamu sebenarnya?''


''Ke pantai, aku rindu sama Ibu.'' kilah Lula tetap saja berbohong. Membuat Handoko menghela nafas sejenak, ia tundukkan pandangannya dengan mengulum bibirnya sendiri. Jawaban Lula yang satu ini benar-benar memporak porandakan hatinya sendiri.


''Ayah juga rindu sama Ibu. Cepatlah mandi, makan, dan istirahat.'' ucap Handoko dengan tenang. Kemudian, pria paruh baya tersebut berjalan menuju ruang kerjanya yang berada sangat jauh dari ruang utama tersebut.


''Lo nggak bakal bisa kalahin Gue dihadapan Ayah.'' ucap Lula menatap Luna dengan kesal. Gadis yang ditatap oleh Lula itu hanya tersenyum kecil sembari melangkah pergi menuju kamarnya. Tak mau berdebat lebih panjang sesama saudara yang menyebalkan untuknya. Memang benar, sampai kapanpun ia tidak akan pernah melihat Lula jatuh dihadapannya dan juga sang Ayah dengan mudahnya.


Melihat Luna yang tak berkata apapun, gadis itu semakin kesal. Sejak Ibunya meninggal, Luna begitu berubah 180 derajat menjadi lebih pendiam. Benar-benar tak mau berdebat tentang apapun dengannya.


Kemudian, Lula juga ikut beranjak meninggalkan ruangan untuk menuju kamarnya. Ia tatap dirinya sendiri dicermin yang terpasang dimeja riasnya. Wajahnya yang cantik, tubuhnya yang benar-benar body goals, membuat gadis itu nyaris sempurna. Namun, di usianya yang masih sangat belia, ia sudah melepaskan keperawanannya sendiri kepada seorang pemuda yang begitu ia kagumi beberapa saat yang lalu.


''Kak Bayu, kenapa Gue begitu tergila-gila sama Lo?'' gumam sang gadis tersenyum begitu malu menatap pantulan tubuhnya dicermin. Gadis itu meraba kembali dua bukit kembar yang sedari tadi sudah diperas-peras oleh sang kakak kelas.


Gadis cantik itu memejamkan matanya sembari mendongakkan kepalanya. Meraba seluruh tubuhnya dengan kedua tangannya sendiri. merasakan sensasi-sensasi yang ia dapatkan ketika untuk pertama kalinya ia merasakan sebuah ciuman intim dari seorang lelaki.


Sensasi yang ia dapatkan untuk pertama kalinya ketika mahkota ditubuhnya dijamah dengan lembut dan penuh kasih sayang. Bagaimana ******* indah sang pemuda begitu terdengar nyata ditelinganya saat ini, Aliran darah ditubuhnya terasa begitu mengalir dengan cepat. Listrik berkekuatan besar dengan volt tertinggi dirasa menyengat seluruh tubuhnya hingga ia merasa ingin mengejang.


''Ahhh Kak Bayu....aku tergila-gila padamu,''

__ADS_1


***


Pagi ini, seorang gadis cantik dengan rambut sebahunya yang terbang tertiup angin kini tengah turun dari sebuah mobil termewah dikota Jakarta tersebut. Kilauan warna mobil yang terkena sinar matahari langsung memancar menyilaukan mata siapapun yang melihatnya. Termasuk Leo yang sedari tadi memperhatikan sang gadis dari kejauhan.


''Laras?'' gumam pemuda itu sembari terus memperhatikan gadis yang biasa ia lihat selalu menaiki angkot saat berangkat ataupun pulang sekolah.


''Jadi dia anak orang kaya?''


''Tapi kenapa dia selalu naik angkot?''


Usai bermonolog dengan dirinya sendiri, Leo kembali menghidupkan motornya kemudian melajukannya kearah gerbang utama. Ia langsung bersilang tatap dengan Laras yang terlihat sangat kaget melihat kehadirannya. Gadis itu berhenti melangkah untuk se3saat, berfikir apakah pemuda tampan yang sangat congkak itu melihatnya turun dari mobil mewah atau tidak.


Kemudian, pemuda itu melaju kearah parkiran sepeda motor lalu berjalan menghampiri sang gadis yang masih terdiam di gerbang utama.


''Lo bohong ya?'' cetusnya langsung tanpa berbasa-basi.


''Bohong apa sih Kak?''


''Lo sebenarnya orang kaya kan?'' Laras membulatkan matanya mendengar ucapan Leo, ia langsung menutup mulut kakak kelasnya tersebut kemudian menyeret sang pemuda kearah taman dibelakang sekolah.


''Gue lihat Lo tadi keluar dari mobil.''


Laras menghembuskan nafasnya dengan kesal, menatap Leo dengan kesal pula. ''Lo jangan bilang Luna ya Kak,'' pinta sang gadis menatap memelas kepada Leo. Mau berkilah pun sudah tidak bisa, ia sudah tertangkap basah oleh mata Leo.


''Memangnya kenapa? Dia juga kaya.''


''Gue tuh cari teman karena dia mau nerima Gue apa adanya. Gue nggak mau dimanfaatin kayak dulu disekolah SMP sama SD. Gue trauma,''


''Tapi kalau Lo bohongi Luna, dia bakalan marah sama Lo.''


''Ya nanti Gue bakalan jujur kok sama Luna,''


''Biar Gue aja yang bilang ke dia.'' ucap Leo menggoda sang gadis dengan memainkan alisnya.

__ADS_1


''Enggak boleh! Udah Lo tuh fokus aja sana sama basket dan fans-fans fanatik Lo. Gue nggak mau Lo ikut campur urusan Gue,''


''Oke, Gue nggak akan kasih tahu Luna. Tapi ada syaratnya,''


''Apa? Kenapa jadi syarat-syaratan sih?'' kesal sang gadis, ia kemudian mendekap tangan didepan dada.


''Lo harus jadi pacar Gue,'' pungkas Leo menatap Laras dengan lekat tanpa berkedip. Sedang yang ditatap semakin kesal dengan membuka mulutnya sedikit. Mengambil nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar.


''Kalau Lo nggak mau, Gue bakal bilang ke Luna kalau Lo bohongi dia. Dan kalau dia tahu dari orang lain, pasti bakalan lebih marah sih.'' ucap Leo dengan santai, ia tak lagi menatap Laras. Kini memasukkan kedua tangannya disaku celana seragamnya dengan gaya coolnya.


''Leo, Lo ngapain disini sama Laras?'' Leo dan Laras sama-sama menoleh ketika suara seorang gadis menyapa gendang telinga mereka berdua. Terlihat, Clara sedang menatap mereka dengan intens dan penuh curiga. Raut wajahnya sama sekali tidak bersahabat ketika menatap Laras.


''Gue lagi jadiin Laras pacar Gue.'' ucap Leo tak memperdulikan mata Laras dan Clara yang sudah membulat hampir keluar karena mendengar penuturannya yang begitu santai tanpa beban sama sekali.


''Kalian pacaran? Sejak kapan?'' ucap Clara hampir saja berteriak, ia langsung berdiri diantara Leo dan juga Laras yang masih diam mematung.


''Lo? Sejak kapan Lo dekati Leo?'' tuding Clara tepat dihadapan mata Laras, wajah gadis galak itu menatapnya dengan dekat seperti ingin menamatkan wajah Laras dengan seksama. Hal itu jelas membuat Laras memundurkan langkahnya agar wajahnya itu menjauh dari hadapan sang kakak kelas.


''Gue nggak dekati Leo kok,'' sangkal Laras mengatakan yang sejujurnya.


''Kalau Lo nggak dekati Leo, mana mungkin dia jadi pacar Lo?''


''Ya mana Gue tahu, tanya sendiri sana sama Leo.'' Laras langsung berlari meninggalkan Clara dan Leo ditaman tersebut. Ia harus pergi dari sekapan Leo, merasa beruntung karena Clara datang tepat waktu.


'Untung aja nenek lampir itu datang,' batinnya mengelus dada dengan pelan. Ia berlari menuju kelas untuk mencari sahabatnya.


Sedang Leo, kini berganti ditodong oleh Clara dengan tatapan tajamnya. ''Sejak kapan Lo jadian sama tuh anak?''


''Kenapa sih? Masalah buat Lo?'' tegas Leo merasa tak suka dengan sikap Clara padanya yang terlalu ikut campur.


''Gue tuh suka sama Lo, dari kelas 1 Leo! Tapi kenapa Lo selalu tolak Gue dan milih jadian sama cewek lain? Apa kurangnya Gue sih?''


''Terserah Gue!'' pungkas Leo menatap tajam pada Clara, ia kemudian meninggalkan gadis itu dengan perasaan dongkol.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2