DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 39


__ADS_3

Menatap datangnya seorang gadis yang sejak beberapa hari lalu ingin ia temui dan menanyakan langsung bagaimana kabar sang gadis, kini hatinya sungguh berdebar kencang. Niat hati hanya ingin memberitahu jika sebentar lagi ia akan pergi, namun hatinya sungguh tak tega ketika melihat senyum tulus kini terbit di bibir sang gadis.


"Hai, sudah lama?" sapa Luna dengan suara seraknya. Tubuh sintalnya kemudian duduk disebelah sang pemuda yang terus menatapnya tak berkedip.


"Belum. Kamu apa kabar?" Luna mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Bara yang sedikit berbeda. Biasanya, ia hanya mendengar Lo Gue dari bibir sang pemuda. Namun kini, semua itu sudah berganti menjadi Aku dan Kamu.


Hati sang gadis berdebar hebat ketika mendengarnya hingga ia sedikit terbatuk sebelum berucap. "Baik, aku udah sembuh kok. Besok udah masuk sekolah. Kan mau ujian."


"Kalau udah ujian, kita nggak bakal ketemu lagi ya?" ucap Bara dengan senyum kecilnya. Membuat Luna menatapnya dengan gamang. "Kenapa emang?"


Pemuda itu justru terkekeh kecil. "Kalau ujian, kan aku sibuk Lun. Aku Ketua Osis. Pasti bakal lebih sibuk. Biasanya sih gitu, ngambil pelajaran dari tahun-tahun sebelumnya."


"Oh iya Lun, aku juga kesini sekalian mau pamit sama kamu dan Om Handoko." lanjut Bara menatap lekat pada gadis pujaannya. Tidak ada pilihan lain selain meninggalkan cinta yang sudah jelas tidak akan terbalaskan sama sekali.


"Beneran mau ke Amerika?"


"Iya, selesai ujian, aku bakalan langsung kesana."


"Kenapa cepat banget?" pungkas sang gadis merasa kehilangan. Ingin menangis dan menjerit dengan kencang, namun ia bingung. Alasan apa yang membuatnya menangis sedemikian gila hingga berteriak kencang? Bukankah seorang sahabat masih bisa melakukan komunikasi lewat apapun itu?


"Lebih cepat lebih baik." ucap Bara mengelus pelan puncak kepala sang gadis yang masih membisu disebelahnya.


"Jaga diri baik-baik Lun. Nanti kalau udah lulus sekolah, nyusul ya ke Amerika." lanjut sang pemuda dengan tawanya yang berderai. Menandakan bahwa ia hanya bergurau. Namun jika bisa ia meminta, bisakah gurauannya tersebut menjadi kenyataan?


"Gue pamit ya Lun." kembali, sang pemuda berucap sembari berdiri hendak berpamitan dengan sang pemilik rumah. Melihat sang gadis hanya mengangguk sembari terdiam, memandang nanar ke arahnya, Bara kemudian mengelus kembali puncak kepala sang gadis.

__ADS_1


"Luna, selalu ingat aoa yang aku ucapkan ya. Aku akan selalu mencintai kamu."


Gadis cantik tersebut semakin terdiam dengan dada kembang kempis. Melihat tubuh gagah dihadapan yang mulai beranjak pergi menuju sebuah mobil mewah yang terparkir didepan rumahnya. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca ketika sosok Bara sudah tidak ada lagi di pandangan matanya.


Bukan karena gadis itu tidak perduli pada kepergian Bara. Ia hanya tidak tahu bagaimana harus berucap untuk melepas kepergian sang pemuda jauh ke Luar Negeri.


Cinta yang selalu tulus dari Bara selalu membuat hatinya luluh lantah. Hingga membuatnya tergagu, tak bisa berkata apapun selain menatap kepergian seorang pemuda yang ia anggap sebagai sahabat dengan tatapan terluka.


***


Hari yang dinanti oleh Lula kini terjadi. Hari dimana Ujian Nasional tingkat akhir akan diselenggarakan dalam beberapa hari ke depan.


Hari ini adalah hari pertamanya melakukan praktek Ujian Sekolah yang akan menentukan hasil akhir kemana ia akan melangkah. Akan kah naik ke kelas selanjutnya, ataukah ia harus tinggal kelas dan mengulang semuanya dari awal?


Sudah beberapa hari terakhir, Lula selalu menghabiskan waktunya seorang diri. Tidak lagi bersama duo antek-anteknya karena takut ditebak yang tidak-tidak akibat badan yang semakin menggendut.


"Kenapa Lo bisa menyimpulkan, kalau Lo suka sama Bayu?" ucap seseorang tak jauh dibelakangnya. Di kantin yang tidak terlalu ramai, Lula masih bisa mendengarkan suara Laras dan Luna berbincang ringan. Posisi duduknya yang membelakangi dua gadis cantik tersebut dimanfaatkan Lula untuk terus menguping apapun yang saudaranya itu bicarakan bersama sang sahabat.


"Gue nggak tahu Ras. Gue bingung!"


"Apa sih yang Lo rasain waktu sama Bayu?"


"Berdebar tau. Hati Gue tuh kayak mau lompat waktu Bayu cium bibir Gue."


Lula terhentak untuk sesaat mendengar pernyataan Luna. Dadanya langsung kembang kempis menahan amarah tertahan, tangannya mengepal dengan kencang.

__ADS_1


"Tapi, yang Gue lihat setiap Lo dekat sama Bayu tuh tidak menunjukkan kalau Lo suka sama dia Lun." pungkas Laras masih terus membicarakan pemuda yang sudah menghamili gadis cantik dibelakangnya.


"Mungkin benar kata Bara, kalau Lo itu cuma takut karena ciuman itu diambil secara dadakan. Dan itu adalah pertama kalinya Lo dicium sama cowok. Hati lo berdebar karena takut, bukan karena jatuh cinta." lanjut sang sahabat memberi petuah. Sedang Luna masih terdiam memandang bingung kearah Laras.


"Gue tahu Lo sebenarnya cinta sama Bara. Bisa dilihat dari gerak-gerik Lo yang kelihatan beda tiap dekat sama Bara. Sorot mata Lo tuh nggak bisa bohong Lun!" hentak Laras sekali lagi membuat Luna menundukkan wajahnya. Menyembunyikan wajah manis tersebut diantara lipatan tangannya diatas meja.


"Gue nggak tahu Ras, Gue bingung." pungkas sang gadis menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Ikuti apa kata hati Lo aja Luna. Jangan dipaksa. Ikuti aja." saran Laras dengan mengelus puncak kepala Luna. Membuat gadis itu mendongak menatap sang sahabat.


"Jangan usap kepala Gue. Itu kebiasaan Bara." ucapnya dengan lirih, membuat Laras terkekeh pelan. Gadis itu yakin, jika Luna sebenarnya mencintai Bara. Hanya saja, gadis itu selalu menyangkal dengan berdalih jika Bara hanyalah sebagai seorang sahabat.


"Coba deh, bibir Lo dicium sama Bara. Apa sama rasanya kayak Bayu? Berdebar?" ucap Laras sembari menggoda Luna, alisnya naik turun seiring senyum jailnya yang terbit.


Sedang yang digoda justru mati-matian menahan salah tingkah hingga kembali menyembunyikan kepalanya diatas meja. Ingatannya kembali berputar ketika Bara menciumnya diatas rooftop gedung sekolah beberapa minggu yang lalu. Wajah gadis tersebut sungguh memerah.


Perasaan yang ia rasakan sungguh berbeda ketika bersama Bara. Ada hasrat ingin mengulang lagi ciuman intim mereka kala itu, namun ia sangat malu untuk mengutarakannya pada Laras. Tentang ciuman itu, Luna sama sekali tidak menceritakannya pada sang sahabat.


Lula yang bosan mendengar perbincangan antara Laras dan Luna pun berakhir dengan menghentakkan kakinya kemudian pergi dari meja yang ia tempati. Tanpa mau melihat kearah saudara kembarnya berada.


Sedang Luna yang sedari tadi mencoba menyembunyikan salah tingkahnya justru malah dikagetkan dengan sebuah suara hentakan kaki yang berasal dari belakangnya membuat atensinya teralihkan.


Matanya membulat secara sempurna ketika melihat saudara kembarnya beranjak dari meja yang berada tepat dibelakangnya. "Apa Lula dengar kita bicara?" tanyanya pada sang sahabat dengan nafas tertahan.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2