DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 7


__ADS_3

Bel masuk kelas sudah berbunyi dimasing-masing kelas, semua siswa dan siswi pun berbondong-bondong untuk kembali memasuki kelas mereka. Jam istirahat sudah berlalu, mengisi perut yang kosong juga sudah selesai. Saatnya untuk kembali fokus pada pelajaran.


Lula mengedarkan pandangannya dikantin untuk yang terakhir kalinya. Mendengus kesal karena tak mendapati Luna dimanapun. Berfikir, mungkin saja saat jam pelajaran pertama pagi tadi Luna terlambat karena menaiki bis hingga tak di ijinkan untuk memasuki kelas. Namun kenyataan, sampai siang berlalu ia tak kunjung menemukan sang saudara kembar. Ia pun beranjak meninggalkan kantin kemudian berjalan menuju kelasnya sembari bergumam, ''Luna kemana ya? Jam pelajaran pertama nggak masuk, apa dia bolos? Apa dia dibawa kabur sama bis?''


Kemudian, manik mata bulatnya yang hitam legam seperti rambutnya tersebut menangkap siluet sang kakak kelas yang hendak memasuki ruang osis, segera ia berlari dan menghadang jalan beberapa pemuda tersebut. Salah satu dari mereka mengenalnya, ''Lula? Ngapain?'' tanya Bayu seraya mengelus dada karena kehadiran Lula yang dengan tiba-tiba membuatnya kaget.


''Kak, Kak Bara mana? Dia ketua osis kan? Kok nggak ikut kak Bayu?''


''Bara nggak masuk,''


''Kenapa?''


''Nggak tahu, Guru yang tahu. Gue tahunya cuma dia nggak masuk hari ini.''


Lula terdiam sejenak sembari menundukkan bola matanya, berpikir apakah tidak hadirnya Bara di Sekolah ini ada hubungannya dengan Luna yang juga tidak masuk sekolah.


''Hei!'' sentak Bayu melambaikan tangannya dihadapan Lula. Membuat gadis itu terkesiap, lalu terkekeh pelan.


''Maaf kak ngelamun.''


''Mikir apa emangnya?''


''Nggak mikir apa-apa kok kak. Aku pergi dulu ya,'' baru saja Lula berpamitan ingin beranjak, sebuah cekalan tangan kokoh mendarat dilengannya.


Dengan cepat ia menoleh pada Bayu karena dicekal sedemikian lembut olehnya. ''Ada apa kak?'' sedikit takut menatap sang kakak kelas yang menatapnya dengan lekat.


''Pulang sekolah sibuk nggak?''


''Enggak kok kak,''


''Jalan-jalan mau?''


Lula terdiam sejenak untuk berpikir, kemudian ia lepaskan cekalan tangan kokoh Bayu dilengannya sembari berucap dengan senyuman, ''Kalau malam aja gimana kak? Kalau siang aku nggak bisa soalnnya Ibu sama Ayah dirumah.''


Kini giliran Bayu yang terdiam untuk sesaat, ia pandang gadis cantik dihadapan dengan senyum simpul dan mata mengerling manja, ''Baiklah. Aku minta nomor ponselmu ya.''


Bayu mengulurkan ponselnya kepada Lula yang langsung disambut baik oleh gadis tersebut.


Setelah memberikan nomornya kepada Bayu, gadis itu kembali berpamitan sembari melambaikan tangannya. Berjalan cepat menuju kelas sembari tersenyum senang, ''Kalau tidak bisa dapatin Bara, maka Bayu pun jadi.''


''Luna, lihat aja Lo, sebentar lagi akan habis sama Ayah karena berani bolos sekolah.''


***

__ADS_1


Luna menatap Bara yang kini duduk disebelahnya, senyum pemuda itu begitu manis dan teduh. Membuat hati Luna menghangat ketika melihat senyum tersebut. Maka, ketika Bara berbalik menatapnya, ia pun salah tingkah sendiri hingga membuatnya terbatuk. Hatinya begitu berdebar dengan hebat ketika sorot mata mereka bertemu dalam satu garis lurus yang sama.


''Lo suka ya sama Gue?'' celetuk Bara dengan asal, sedang Luna langsung menggeleng cepat sembari mendelik. Membuat Bara tertawa dengan renyah.


Lagi lagi hati Luna berdesir mendengar tawa tersebut, pemuda yang tampan bahkan nyaris sempruna itu begitu mengagumkan. Cara bicaranya membuat Luna luluh seketika. Ia yang tadinya sama sekali tak ingin mengenal seorang ketua osis seperti Bara, kini malah dengan santainya berbicara panjang lebar kepadanya.


''Jadi, kenapa Lo bolos?'' tanya Bara kembali pada topik utama. Ingin mengetahui lebih banyak sekali mengenai gadis disampingnya tersebut. Luna menghembuskan nafasnya sejenak, ia alihkan pandangnya dari sorot mata Bara kearah pantai lepas dihadapan sana. Senyumnya mengembang dengan kecil dan dirasa sangat kecut. Tak ada kemanisan didalam senyum tersebut.


''Gue disuruh naik bis ke Sekolah,'' Bara mendelik mendengarnya, berpikir sesaat, ''Bukannya Lo kaya? Maksud Gue, bokap sama nyokap Lo? Kemarin naik Limousine kan?''


''Iya, Lula ngadu sama Ayah.''


''Ngadu apa?''


''Kemarin Lula bilang kalau Gue pacaran sama Lo,''


''Apa?'' Bara menganga tak percaya, menatap Luna tanpa berkedip membuat gadis itu terkekeh karena Bara terus membuka mulutnya.


''Kenapa Lula bilang gitu? Padahal kita nggak ada apa-apa.''


''Sejak kecil, Lula selalu benci sama Gue. Dia terus ngadu ini itu sama Ayah. Padahal itu semua cuma fitnahnya dia doang. Dan kemarin Lula minta dibelikan mobil sama Ayah. Karena Ayah nggak mau, jadi Gue disuruh naik bis aja sama Ayah. Sebagai hukuman juga mungkin karena Lula bilang sama Ayah kalau Gue pacaran.''


''Kenapa Lula benci sama Lo?''


'Gue jahat banget jadiin dia taruhan. Kalau dia jatuh cinta sama Gue dan tahu kalau Gue cuma jadiin dia taruhan, dia pasti sakit banget.' batin sang pemuda merasa iba, menatap dengan tatapan yang membuat Luna terenyuh seketika. Lembutnya tatapan sang pemuda membuatnya merasa terkunci oleh tatapan yang sama sekali tak ia duga akan memporakporandakan hatinya seperti ini.


''Lo kenapa ngelamun kak?'' tegur Luna menepuk pelan pundak Bara.


''Nggak kok, Gue cuma mikir, pasti setelah ini Lula ngadu lagi ya sama Ayah Lo karena Lo bolos?''


''Udah pasti sih.'' ucap Luna yakin, kemudian gadis itu terkekeh dengan ringan. Ia hapus air mata yang sempat turun dipipi mulusnya tanpa ia sadari. Hatinya terlalu sakit ketika mengingat bagaimana mudahnya sang Ayah meminta ini dan itu padanya tanpa memikirkan perasaanya.


''Lo jangan nangis ya.'' pinta Bara mengusap pipi sang gadis,


''Gue nggak tahu kenapa Ayah selalu belain Lula sampai nggak pernah mikirin perasaan Gue. Padahal, Gue sama Lula kan sama ya Kak?'' keluh Luna meminta dukungan pada sang pemuda. Bara mengangguk sembari tersenyum manis pada Luna, ia arahkan tubuhnya menghadap sang gadis kemudian mengusap kepala gadis dihadapan itu dengan lembut dan pelan.


''Sekarang, Lo nggak sendiri. Ada Gue. Kalau Lo butuh bantuan, telpon Gue aja. Gue siap jemput Lo kok.'' ucap Bara dengan lembut, tangannya masih setia mengelus puncak kepala sang gadis.


'Bara baik banget, kenapa Gue kemarin acuh banget sama nih orang,' batin Luna menatap Bara dengan lekat. Sentuhan tangan Bara dikepalanya kembali membuat gadis berponi itu tersenyum hangat. Sehangat hatinya ketika mendapat perlakuan manis dari seseorang yang tak ingin ia kenal sebelumnya.


''Nggak usah lihatin Gue kayak gitu. Gue tau Gue ganteng.'' ucap Bara tersenyum menggoda. Membuat Luna langsung mengalihkan pandangannya dengan malas.


''Lo nggak mau pulang?'' tanya Bara melirik arlojinya yang berwarna hitam.

__ADS_1


''Jam berapa emangnya?''


''Jam 12, Lo mau makan siang dulu nggak?  Gue traktir deh.''


''Enggak deh, makasih.'' ucap Luna menolak dengan senyuman agar Bara tidak kesal padanya. Ia kembali alihkan pandangannya kemudian menghembus nafas kasar. Memikirkan, apa yang akan Ayahnya minta setelah ia tidak mengikuti pelajaran Sekolah hari ini.


***


Luna kembali menuju rumahnya ketika hari sudah menjelang sore, ia sengaja menghabiskan waktunya di pantai bersama Bara. Hanya karena ia tahu, pulang pada jam pulang sekolah sama saja dengan pulang di jam se-sore ini. Ia pasti akan tetap dihukum.


''Luna!'' Sebuah suara menghentak telinga sang gadis yang berhenti berjalan tepat didepan pintu ruang keluarga. Ia menoleh kekanan dan kekiri, kemudian mendapati pintu ruang keluarga terbuka lebar dan nampaklah sosok kedua orangtuanya bersama dengan Lula. Gadis cantik yang berwajah sama seperti dirinya itu tersenyum menang dan menjulurkan lidah kearahnya. Jika Lula sudah berbuat demikian, pasti akan ada draa entah yang kesekian kalinya akan terjadi.


Dengan perlahan, Luna berjalan memasuki ruangan tersebut. Berdiri dihadapan Ayah dan Ibunya.


''Duduklah Nak.'' ucap Amara memandang lembut pada Luna. Merasa yakin, jika bolosnya sang anak pada jam pelajaran hari ini ada hubungannya dengan keputusan sang Ayah yang memintanya untuk berangkat menaiki Bis.


''Jangan dikasih hati Amara!'' bentak Handoko tak suka pada kelembutan Amara pada anak gadisnya. Membuat Luna yang ingin mendudukkan tubuhnya kembali berdiri lagi sembari menunduk tanpa suara.


''Mas, tahan emosimu.'' sela Amara ikut berdiri disebelah Handoko. Sedang sang suami tak menggubrisnya, malah menatap Luna dengan tajam seperti ingin memakannya hidup-hidup.


''Luna, darimana kamu? Kenapa jam segini baru pulang?'' tanya Handoko dengan dada yang kembang kempis. Ia letakkan kedua tangannya dipinggang kanan dan kirinya.


''Dari pantai.''


''Sama Bara? Iyakan?'' tebak Handoko tepat sasaran, membuat Luna langsung menatap Lula dan Handoko secara bergantian. Luna menghela nafas jengah, ''Apalagi yang Lula aduin ke Ayah?''


''Kamu tidak sekolah? Demi berkencan dengan pemuda yang baru kamu kenal?''


''Aku bolos bukan demi Bara!'' hentak Luna mencoba menjelaskan, namun sesaat ia sadar. Apapun yang coba ingin ia jelaskan, tidak pernah akan merubah keadaan dimana dirinya akan selalu dianggap salah.


''Bohong tuh. Nyatanya tadi Bara nggak masuk juga, pasti lagi jalan sama Lo kan.'' celetuk Lula dengan santainya.


''Lo kalau nggak tahu apa-apa, mending diem. Mulut Lo tuh kelewat nyampah!'' cecar Luna tak suka pada saudaranya sendiri. Semakin ia mengalah, semakin besar kepala saja gadis yang baginya sangat menyebalkan itu.


''Luna! Kamu itu salah karena sudah bolos!''


''Tapi aku bolos bukan karena Bara Ayah!''


''Lalu karena apa? Ayah bekerja untuk menyekolahkan kamu! Untuk membuatmu bahagia agar kelak kamu bisa menjadi orang terpandang seperti Ayah! Kenapa kamu kecewakan Ayah Luna?''


Luna menatap Handoko dengan tajam, merasa muak dengan apa yang Handoko ucapkan beberapa saat yang lalu.


''Aku nggak pernah bahagia dengan apa yang menjadi keputusan Ayah!' bentak Luna dengan keras, hingga nyaris berteriak. Kemudian ia pergi meninggalkan ruangan dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. Sekali lagi, bukan kepulangan inilah yang selalu ia inginkan. Sekali lagi, selalu meminta untuk kepulangan sebagaimana mestinya rumah itu berfungsi.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2