
Jam dinding terus berputar, pertanda bahwa waktu tidak pernah berhenti. Hari terus berganti, hingga tak terduga kini Ujian Nasional yang begitu meributkan anak-anak Sekolah sudah usai. Banyak sekali perjalanan mulai dari awal Ujian hingga berakhir siang ini. Semua nampak bersorak senang dan bernafas lega ketika Ujian dinyatakan telah selesai. Hanya tinggal menunggu hasil kerja keras mereka keluar.
Saat semua orang sudah terdengar nafas kelegaannya, justru tidak dengan duo kembar yang sama sekali tidak pernah akur tersebut. Salah satunya kini tengah berada disebuah tanah lapang yang luas dengan begitu banyaknya gundukan di sisi kanan dan kirinya.
"Bu, Luna kangen." ucap sang gadis dengan helaan nafas yang panjang. Begitu panjangnya hari yang sudah ia lalui tanpa kehadiran sang Ibu di sisinya. Satu-satunya sosok penguat disaat keadilan tidak pernah berpihak padanya sejak kecil.
"Bu, anakmu ini kayaknya sudah besar." kekeh Luna merasa geli sendiri dengan kalimat yang ia lontarkan. Memegang nisan bertuliskan nama sang Ibunda, mengusapnya perlahan dengan senyum gamangnya.
"Bu, aku sudah merasakan yang namanya jatuh cinta. Tapi, Luna bingung Bu. Sahabat Luna bilang, kalau ini bukan cinta. Ini hanya rasa takut sesaat yang membuat hati Luna berdebar." cerita sang gadis dengan pusara tersebut.
"Bu, katakan pada Luna. Jatuh cinta itu seperti apa Bu?" tanyanya dengan kekehan kecil diujung kalimatnya. Meski tahu tak akan pernah ia dengar jawaban apapun dari pusara tersebut.
Hembusan angin terus terasa ditubuh sang gadis. Sore hari memang menyenanykan untuk mencari udara sejuk seperti ini. Namun tentu harus dengan suasana hati yang sejuk pula. Dan gadis ini, sama sekali tidak merasakan kesejukan itu. Hatinya merasa kosong, sejak ia mengetahui jika sahabat laki-lakinya akan pergi dari Kota tersebut.
"Bu, kenapa secepat ini Ibu pergi? Ibu tidak melihat lombaku kemarin? Aku menang Bu, aku menang!" isak kecil mulai terdengar ditelinga siapa saja peziarah yang mulai berdatangan.
"Bu, aku sama Lula udah selesai ujian. Doain kita lulus dengan nilai terbaik ya Bu. Naik tingkat jadi kelas 2, hehe." celotehnya dengan riang. Ia usap air mata yang sempat turun membasahi pipinya.
Tanpa disadari oleh sang gadis, seorang pemuda tampan dengan topi yang sengaja dibalik menghadap belakang itu datang menghampiri. Duduk melipat kedua lututnya kemudian menepuk pelan pundak sang gadis yang sama sekali tidak mengetahui kehadirannya.
"Luna?"
***
"Bara!" teriak Firman dari ruang keluarga, memanggil anak semata wayangnya yang entah berada dimana. Tak lama setelah ia memanggil nama tersebut, terdengarlah derap langkah kaki mendekati pria paruh baya tersebut.
"Ada apa Pa?" tanya sang pemuda sembari terus melangkah mendekati sang Ayah. Setelahnya, Bara ikut memperhatikan sebuah figura dengan foto seorang pria didalamnya tengah dipegang erat oleh Firman.
__ADS_1
"Kamu sudah berkunjung kerumah Kakekmu?" tanya Firman menatap anak semata wayangnya yang kini tengah menggelengkan kepalanya.
"Besok, kita sudah akan berangkat ke Amerika. Kamu kesana sebentar ya."
"Hari ini?"
"Iya dong Bara. Mau kapan?"
Bara terkekeh ringan. "Baiklah."
Meraih kunci mobil diatas meja, Bara kemudian melangkah menuju parkiran mobilnya. Memanasinya barang sebentar, kemudian menggeber mobil mewah tersebut menuju luasnya jalanan yang dipadati oleh beberapa mobil dan motor berbagai bentuk.
Butuh waktu 30 Menit untuk sampai dititik lokasi yang sudah sangat lama tidak pernah dikunjungi oleh pemuda tampan itu. Terhitung sejak ia memasuki masa SMA dan hingar bingar yang ia tempa bersama 2 sahabatnya itu, hingga kini ia mulai berubah sejak ia memasuki kelas 3 SMA dan bertemu dengan seorang gadis yang mampu memporak porandakan hatinya.
"Hai Kek, apa kabar?" sapa sang pemuda sembari melipat kedua lututnya kemudian meletakkan lututnya diatas tanah berwarna coklat tersebut. Memegang sebuah nisan yang terbuat dari bahan batu marmer termahal.
"Tadi Papa suruh Bara kesini Kek. Kita semua mau pergi, ke Amerika. Jauh ya?" ceritanya kepada nisan tersebut. Terus menatap nisan, tak memperhatikan sekitarnya.
"Kek, apa Kakek dulu juga memperjuangkan cinta Kakek? Apa dulu Papa Firman mengejar-ngejar Mama? Bara terlalu malu untuk bertanya pada anakmu itu Kek." terus berceloteh dengan tawa yang terus terdengar pula.
"Kek--" hendak berucap, namun netra elangnya menangkap satu sosok gadis yang tak jauh berada didepannya. Sama bersimpuhnya dengan sang pemuda disebelah pusara dengan lantai marmer yang sama pula dengan pusara yang kini ia pegang.
"Kek, Bara pergi dulu ya. Baik-baik disini. Bara nggak akan lupa buat berkunjung kerumah Kakek." sesaat, sebelum pemuda itu pergi, kedua tangannya menangkup dengan dihadapkan keatas. Berdoa untuk ketenangan sang Kakek. Kemudian mencium pusara tersebut, lalu pemuda itu beranjak meninggalkan makam sang Kakek menuju tempat seseorang yang ia yakini adalah gadis yang sudah berhasil memenuhi hatinya saat ini. Penuh, hingga tidak tersisa untuk orang lain lagi.
Melipat kembali kedua lututnya, berjongkok disebelah sang gadis yang tidak mengetahui 'kehadirannya. Tangan kekar sang pemuda kemudian menepuk pelan pundak gadis cantik tersebut.
"Luna?"
__ADS_1
Menoleh, gadis itu sedikit tersentak kaget dengan kehadiran sang pemuda. "Bara? Sejak kapan Lo disini?"
"Tadi, sekalian ziarah ke makam Kakek sebelum ke Amerika."
Luna kembali terdiam setiap kali Bara membahas kepergiannya ke Negeri tetangga tersebut. Hatinya terus berdenyut hingga membuatnya enggan untuk membuka suara.
"Lo selalu ingat apa kata Gue kan?" tanya Bara menatap lekat pada gadis cantik tersebut. Hal yang selalu ia sukai adalah menatap netra mata bulat tersebut. Juga bibir ranum yang pernah ia kecup sekali itu.
"Bara, kenapa Lo selalu bilang sama Gue kalau Lo akan selalu cinta sama Gue? Kehidupan Lo selanjutnya akan lebih baik setelah ke Amerika. Justru karena Gue, Lo sama keluarga Lo sampai harus ninggalin tempat ini. Ninggalin Kakek Lo disini." ucap Luna dengan panjangnya. Menatap kembalinpada netra elang yang sejak awal menghangatkan hatinya.
"Bara, Gue selalu nyaman sama Lo. Gue selalu bahagia tiap dekat sama Lo. Gue selalu bisa merasa aman dan hangat setiap kali bertatap mata sama Lo. Tapi Gue nggak tahu ini perasaan apa, apa karena selama ini Gue nggak pernah dapat perlakuan sebaik ini dari siapapun sampai Gue ngerasa begitu bahagia setiap Lo ada bersama sama Gue." lanjut Luna dengan nafas terengah. Mengakui perasaannya kepada sang pemuda adalah hal yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya. Yang gadis itu tahu, ia hanya tidak ingin Bara pergi bersamanya.
"Teruslah percaya dengan cinta sejati. Sejauh manapun dia pergi, dia pasti akan kembali lagi." pungkas Bara dengan tersenyum begitu manis. Namun justru, ucapannya itu malah membuat sang gadis merasa kebingungan.
"Maksud Lo apa?"
"Suatu saat nanti, Lo akan tahu. Gue pergi dulu ya Luna, Gue pamit. Besok, Gue udah berangkat ke Amerika. Jaga diri Lo baik-baik."
Bara kembali mengulas senyumnya sembari mengelus puncak kepala sang gadis. Kemudian, pemuda itu melangkah pergi meninggalkan Luna ditengah-tengah makam yang sangat luas tersebut.
Sedang Bara, pemuda itu terus memulas senyum usai mendengar pengakuan sang gadis pujaan. Yakin sekali jika gadis itu juga sudah menaruh hati padanya. Hanya saja, gadis itu sama sekali tidak menyadarinya.
Dan juga, pemuda itu hanya mampu membiarkannya. Tidak akan ada perubahan apapun seandainya ia mengatakan yang sebenarnya. Justru, pemuda itu sengaja memberi jeda waktu untuk sang gadis agar menyadari hatinya. Menyadari perasaannya. Juga memaafkan segala kesalahannya.
Ingin sekali mendekap erat sang gadis kemudian berkata jika gadis itu sudah menaruh hati padanya meski sang gadis terus menyangkal. Namun, bukankah apa yang ia rasakan kepada Luna tidak akan bisa terbalaskan jika sudah Handoko yang mencegah?
Biarlah, ia hanya menjaga dua keluarga agar tidak saling salah paham dan berakhir dengan menderitanya sang Ayah.
__ADS_1
Bukankah cinta sejati itu ada?
BERSAMBUNG...