
Baru saja beberapa jam merasa pulas tertidur, seorang pemuda tampan yang menjadi rebutan duo kembar itu sudah dikagetkan dengan deringan suara ponselnya yang begitu nyaring memekakkan telinga.
Dengan mata yang merem melek, serta pandangan yang buram, Bayu berusaha meraih ponselnya yang berada tak jauh dari posisinya tertidur saat ini.
Meski mata memicing dengan pandangan yang buram, Bayu nekat membaca nama yang tertera dilayar ponselnya. Melihat nama sang gadis yang sering ia gerayangi bagian tubuhnya hingga di titik terdalamnya, Bayu dengan malas menekan dial hijau kemudian mendekatkan ponselnya ditelinga, masih dengan memejamkan matanya yang seperti lengket terkena lem.
"Ada apa Lula?" Tanyanya dengan suara serak, khas orang yang baru saja bangun tidur.
Namun, tak ada jawaban sama sekali. Membuatnya melihat kembali pada layar ponselnya. Mengira bahwa panggilan tersebut terputus, namun kenyataan panggilan tetap ada tanpa terputus sama sekali.
"Lula, kenapa?" Tanya sang pemuda sekali lagi. Hingga tak lama, terdengarlah suara isak tangis Lula yang membuat Bayu langsung terduduk hingga matanya terbuka sempurna.
"Lula, Lo kenapa?"
"Ba-Bayu...Bayu...Gue..Gue hamil." Ucap sang gadis dengan terbata-bata, isak tangisnya semakin jelas terdengar.
Sedang pemuda itu, bagai disambar petir di siang bolong ketika mendengar pernyataan sang gadis. Nafasnya seperti terhenti dan tercekat di tenggorokan. Sama seperti Lula yang kini tengah bersandar di dinding kamar mandi.
Pemuda itu, hanya bisa membuka mulutnya dengan mata yang melotot tanpa berkedip. Pandangnya langsung kosong dengan tiba-tiba. Tak ada jawaban apapun dari sang pemuda hingga membuat gadis kecil yang tengah terisak itu kembali bersuara.
"Gue udah beli 5 test pack, dan semuanya menunjukkan garis dua Bay. Gue udah lihat mengenai tanda-tanda orang hamil di video streaming semalam." Suara Lula terdengar masih parau. Membuat Bayu kembali tersadar dari dunia lamunannya.
Melihat kearah jam dinding yang berada di kamarnya, kemudian berucap. "Lula, Lo siap-siap. Kita ketemuan di taman biasa Gue beliin Lo es krim ya. Gue mau ajak Lo ke Bidan. Gue periksa langsung. Sekarang!" Ucap Bayu tanpa menunggu persetujuan sang gadis.
Pemuda itu langsung mematikan sambungan telephone-nya kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk membilas tubuhnya sesaat.
***
Luna termangu di depan sebuah televisi di ruang tamu rumahnya. Matanya lekat menatap layar televisi yang menayangkan beberapa acara komedi tersebut. Namun tatapan matanya sangat kosong.
__ADS_1
Memikirkan ucapan demi ucapan Bara yang baru kemarin ia ketahui jika sang pemuda menyimpan perasaan cinta padanya.
Merasa berbeda ketika Bayu yang mengucap, maka hatinya akan bergetar dengan ritme yang masih bisa ia kendalikan.
Namun saat ia mendengar itu dari Bara, mengapa ia sampai lemas dan terduduk? Sedahsyat itukah peranan Bara dalam hidupnya? Atau hanya karena ia takut kehilangan seseorang yang selalu ia sebut sebagai "sahabat?"
Kepala sang gadis menoleh ketika mendapati sebuah suara yang datang menuruni anak tangga dengan cepat. Keningnya mengkerut heran. "Mau kemana Lo? Kayaknya buru-buru banget?" Tanya Luna menatap lekat pada sang kembaran.
"Lo habis nangis?" Tanyanya sekali lagi, dan ini justru membuat Lula langsung melotot melihatnya.
"Nggak usah kepo Lo! Gue mau pergi, nanti kalau Ayah tanya bilang aja keluar sama Catherine." Pungkas Lula kemudian melangkah pergi menuju parkiran mobilnya.
Luna hanya bisa melihat kepergian sang saudara, tanpa bisa mencegahnya. Tahu kalau sang saudara itu memiliki sifat yang sama keras kepala dengannya.
Atensi sang gadis kembali teralihkan ketika mendengar suara ponselnya yang berdering di atas meja di hadapan. Matanya melebar ketika membaca nama Bara sudah tertera dilayar ponselnya.
Melihat ke kanan dan ke kiri, kemudian menekan dial hijau untuk menerima panggilan Bara. Sudah memastikan jika sang Ayah tidak ada dan itu artinya ia tidak akan kena marah oleh Ayahnya.
"Besok udah memasuki acara lomba, Lo udah persiapkan semuanya?" Tanya Bara dari kejauhan sana.
"Sudah kok. Gue udah pesan baju juga, nanti siang akan diantar."
"Syukur deh." Ucap Bara kemudian terdiam, hanya hembusan nafas satu sama lain yang terdengar di jaringan komunikasi tersebut.
"Ra? Lo masih disana?" Tanya Luna memastikan. Merasa jengah karena tak ada bahasan apapun dengan sang pemuda.
"Iya, Gue masih disini. Gue mau tanya sesuatu sama Lo, boleh?"
"Iya, silahkan tanya."
__ADS_1
"Apa Lo beneran cinta sama Bayu Lun? Apa semua yang Gue bilang kemarin tetap tidak merubah perasaan Lo?"
Luna terdiam, menahan napas sesaat kemudian membuangnya dengan kasar. "Bara, Gue mohon. Jangan dibahas lagi. Gue nggak mau ngerusak persahabatan kita."
"Gue nggak minta lebih Lun, Gue cuma minta kepastian hati Lo. Gue tahu Lo itu nggak cinta sama Bayu." Yakin Bara diseberang sana. Membuat Luna menggelengkan kepalanya sembari menggigit buku-buku jari-jemarinya.
"Bara, Lo dengar Gue. Gue cinta sama Bayu. Gue ngerasa nyaman sama Bayu. Jadi Gue mohon, hargai apa yang Gue rasain dan apa yang jadi keputusan Gue." Pungkas Luna dengan tegas. Namun sesaat kemudian ia menghela nafasnya untuk membuang semua rasa tega kepada Bara.
"Gue tahu. Terimakasih ya udah mau jujur sejujur-jujurnya. Gue hargai apa yang jadi langkah Lo selanjutnya." Ucap Bara dengan senyum kecil di bibirnya.
"Ya udah, selamat siang Luna. Gue mau tidur lagi. Bye." Lanjut Bara kemudian menutup sambungan secara sepihak.
"Maafin Gue Bara." Gumam sang gadis menatap sedih pada layar ponselnya. Hatinya ikut teriris membayangkan betapa sakitnya hati Bara mendengat penuturannya beberapa saat yang lalu. Tidak menyangka juga jika ia dicintai begitu hebat oleh sang ketua osis.
***
Memasuki sebuah ruangan bernuansa putih terang, dengan seorang wanita paruh baya yang tersenyum ramah menyambut dua tamu yang kini duduk dihadapannya. Lula dan Bayu kini sudah berada di klinik bersalin yang lumayan jauh dari tempat tinggal mereka.
Bayu sengaja mengajak Lula untuk bertemu disebuah taman, kemudian mengajak gadis itu seorang diri tanpa melibatkan sang sopir pribadi yang bisa saja mengadu pada Handoko.
"Selamat siang, Nak. Apa kalian mau cek kehamilan?" Tanya sang wanita paruh baya memastikan. Dilihat dari postur tubuh dan wajah mereka yang masih terlihat sangat muda, wanita itu tidak yakin jika kedua pasangan dihadapannya tersebut sudah menikah.
Bayu dan Lula saling pandang, kemudian mengangguk dengan yakin. "Baiklah. Ayo, ikut dengan Ibu." Ucapnya menatap Lula, masih dengan senyum yang ramah.
"Berbaringlah disini ya. Ibu akan periksa perut kamu." Ucap sang wanita yang langsung dituruti oleh Lula. Gadis itu hanya membisu, tak berani bersuara apapun. Masih dengan hati yang berdebar kencang hingga sesekali terbatuk saking tidak bisanya menahan debaran didalam dadanya.
Setelah mengelus perut Lula, kemudian memberikan sebuah gel diperut sang gadis, hingga akhirnya menempelkan sebuah alat dan memutar-mutar diatas perut sang gadis sembari menjelaskan sesuatu yang sama sekali tidak diketahui oleh Lula. Gadis itu hanya masih terus terdiam sembari menatap langit-langit ruangan.
Kemudian, wanita paruh baya itu membawa Lula kembali menuju tempat Bayu menunggu. Duduk berdua dengan saling menguatkan diri satu sama lain. Melihat senyum ramah wanita dihadapan bagaikan melihat senyum malaikat kematian.
__ADS_1
"Selamat ya, istri Anda sudah hamil. Usia kehamilannya baru menginjak 8 minggu ini. Rentan sekali akan resiko keguguran.."
BERSAMBUNG...