DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 12


__ADS_3

''Sumpah tak ada lagi kesempatanku untuk bisa bersamamu...''


''Kini ku tahu bagaimana cara ku untuk dapat terus denganmu...''


''Bawalah pergi cintaku, ajak kemanapun kau mau...''


''Jadikan temanmu, temanmu paling kau cinta...''


''Disini ku pun begitu, terus cintaimu dihidupku...''


''Didalam hatiku, sampai waktu yang pertemukan kita nanti...''


Tepuk tangan riuh menggema keras di Aula Indoor tempat anak-anak yang mempunyai bakat seni menyalurkan hobinya. Yaitu bernyanyi. Luna adalah sosok gadis yang kini mendapatkan tepuk tangan riuh tersebut. Suaranya yang indah, halus, dan empuk tersebut mampu membius semua siswa dan siswi yang berada di aula tersebut.


Termasuk Bara, sang kakak kelas yang ikut andil didalamnya.


''Lo keren.'' ucap Bara tanpa suara dari kejauhan, ia acungkan dua jempolnya kearah Luna yang tersenyum begitu manis.


Bayu datang dengan senyum manisnya menghampiri Luna diatas panggung aula, ''Lo keren. Kalau Lo bisa kembangin potensi Lo terus dibidang musik ini, Lo bisa ikut kompetisi yang mewakili sekolah kita beberapa bulan kedepan.''


Luna berbinar indah mendengar kompetisi yang akan diselenggarakan beberapa bulan kedepan, apalagi mewakili sekolah tercinta tentunya akan menjadi kebanggaan tersendiri baginya jika berhasil membawa pulang satu piala emas untuk ia hadiahkan kepada sang Ayah, juga Almarhumah Ibunya.


''Iya Kak, Gue bakal terus berusaha kembangin potensi Gue dibidang musik. Dan Gue bakalan ikut lomba itu.'' jawab Luna dengan yakin, senyum manis menghias indah diwajah bulatnya.


''Lebih bagus lagi, kalau Lo bisa bermain alat musik selain gitar.''


''Tapi Gue cuma bisa main gitar,'' ucap Luna dengan lesu.


''Gue bakal ajarin Lo bermain musik yang Lo nggak bisa.''


''Beneran Kak?''


''Tentu sa-''


''Gue aja yang ajarin Luna!'' sela Bara yang kini sudah hadir diantara Bayu dan Luna.


''Lo kan ketua osis, nggak baik kalau ninggalin tugas yang banyak.'' ucap Bayu menatap tajam pada Bara. Yang ditatap justru menatap kembali dengan kilatan kebencian. Ya, pemuda itu sudah membenci sahabatnya sendiri. Entah kapan ia menatap Bayu dengan hangat untuk yang terakhi kalinya, rasanya sudah lupa.


''Gue ketua osis, dan Lo wakil ketua osis. Harusnya, dimana ada Gue, disitu juga harus ada Lo.''


''Oh ya? Kita lihat aja nanti.'' Bayu beranjak meninggalkan Bara dan Luna yang masih terdiam diatas panggung. Semua siswa dan siswi di aula tersebut kini sudah berbondong-bondong pulang karena esktra seni adalah jam terakhir dimata pelajaran mereka.


''Lo kenapa kayak nggak suka gitu sama dia?' tanya Luna membuyarkan lamunan Bara tentang Bayu.

__ADS_1


''Nggak apa,''


Bahkan hingga saat ini, Luna pun masih enggan memanggil Bara dan dua sahabatnya dengan sebutan 'Kak'. Entahlah, hanya saja ia tak nyaman jika harus memanggil kakak kelasnya tersebut dengan embel-embel 'Kak,''


''Lo pulang sama siapa Lun?'' kedua muda-mudi tersebut beranjak meninggalkan aula dengan menenteng tas mereka untuk menuju gerbang utama.


''Naik bis, Lula udah pulang duluan kayaknya. Dia kan nggak suka ekstra apa-apa di sekolah sejak dulu.''


'',Mana bisa dapat prestasi kalau gitu.''


''Nggak peduli Gue,''


Bara terkekeh kecil mendengar penuturan gadis cantik disampingnya tersebut, ''Gue antar pulang ya.''


''Eh, nggak usah.'' Gadis itu langsung menghentikan langkahnya dan mengibaskan tangannya dihadapan Bara.


''Nggak apa- Gue mau tahu rumah Lo dimana.''


''Nggak usah, Gue ngerepotin Lo.''


''Kalau ngerepotin nggak Gue tawarin kok,''


Luna hanya tersenyum canggung sembari mengangguk kecil, sedang Bara langsung mengepal tangan dengan bersorak senang. Ia kemudian meminta Luna untuk menunggunya di gerbang utama selagi ia mengambil sepeda motornya.


***


''Luna, masuk kerumah sekarang!'' hentaknya membuat Luna dan Bara sedikit berjingkat. Tanpa mau membantah, Luna langsung pergi memasuki rumahnya, meninggalkan Handoko dan Bara seorang diri.


''Jauhi anak saya.'' ucap Handoko dengan tegas. Bara yang masih duduk diatas motornya langsung terperanjat mendengar penuturan ayah dari sahabat barunya tersebut.


''Kenapa Om?''


''Saya tidak mau anak saya bergaul hingga lupa daratan jika bersama kamu.''


''Tapi saya tidak melakukan apapun Om,''


''Pokoknya, jauhi anak saya! Atau Ayahmu yang akan menanggung semuanya.'' lepas mengatakan itu semua, Handoko langsung pergi memasuki rumahnya dan menutup pintu dengan keras membuat Bara kembali berjingkat kaget.


Pemuda itu menghembuskan nafasnya dengan jengah, ia tatap rumah Luna sekali lagi kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah sahabatnya dengan rasa yang bercampur aduk. Ia kira, jika sudah saling mengenal bahkan hingga orangtua masing-masing, akan sangat mudah kedepannya. Namun ternyata salah, ia tidak bisa mendapatkan kemudahan tersebut.


***


''Jangan dekat-dekat sama Bara lagi. Ayah tidak suka.'' ucap Handoko menatap tajam kearah Luna yang terduduk dikursi belajarnya. Gadis itu menghela nafas panjang sembari mengangguk. Benar-benar tak mau membantah atau memberi penjelasan ini dan itu. Semua yang ia katakan sudah pasti akan dianggap salah, maka lebih baik diam sembari mengatakan YA. Dan semua akan selesai dengan sendirinya.

__ADS_1


''Dimana Lula? Kenapa kamu malah pulang sama Bara?''


''Nggak tahu. Tadi aku ikut ekstra seni, pulang telat. Aku kira Lula udah pulang duluan.'' jawab Luna tetap tak mau menatap pada Ayahnya yang sudah berkacak pinggang di ambang pintu kamarnya.


Handoko menghembus nafas panjang kemudian menutup pintu kamar Luna, meninggalkan gadis itu tanpa sepatah kata apapun lagi. Bagi Ayah yang keras tersebut, melarang Luna agar tidak terlalu dekat dengan Bara merupakan keputusan yang tidak bisa dibantah.


Ia pun mengakui bahwa Bara anak yang baik, namun tetap saja ia tidak mau jika anaknya terjemurus hingga diluar batasan.


Tak berapa lama setelah kepergian Handoko, ponsel diatas meja milik Luna berdering. Menandakan ada pesan masuk dengan nomor yang belum ia simpan dikontaknya.


''Apapun yang Ayah Lo bilang, Gue tetap bakal jadi sahabat Lo.''


Luna tersenyum manis membaca pesan yang dikirim Bara untuknya. Ia mengangguk setuju sembari menekan emotikon jempol lalu mengirimnya pada Bara. Hanya itu saja jawaban sang gadis, ia tidak mau dianggap terlalu berlebihan. Meski pada kenyataannya, kenyamanan itu sudah hadir dihati sang gadis, Namun tetap, Luna harus memberi jarak antara dirinya dan juga kakak kelasnya tersebut.


''Kenapa Gue nyaman banget ya sama Bara,'' gumamnya menatap foto profil pada whatsapp Bara yang masih terlihat online dan kini berubah menjadi typing tersebut.


''Pap dong cantik,''


Tanpa menunggu lebih lama lagi  ia langsung menekan ikon kamera kemudian tersenyum sangat manis dan mengirimkannya pada Bara. Pemuda diseberang sana langsung ikut tersenyum melihat senyum yang diberikan Luna untuknya.


''Senyum yang manis, teruslah tersenyum seperti ini padaku Lun. Senyummu hanya menjadi milikku.''


***


Sedang Luna dan Bara tengah bertukar pesan, kini saudara kembar Luna tersebut malah tengah bertukar saliva dengan sang kakak kelas yang ia damba. Baru saja siang tadi ia mendapatkan ciuman intim dari Bayu, kini gadis itu terus meringsek mendekati sang pemuda hingga kini ia sudah berada dirumah Bayu.


''Rumah Lo sepi kak,'' tanya Lula mengakhiri ciuman mautnya dengan Bayu.


''Kenapa? Lo masih mau ya? Atau Lo mau mencoba yang lebih?'' Bayu duduk dengan meringsek kearah Lula yang hanya salah tingkah karena ditatap begitu dalam oleh Bayu.


''Apasih Kak, Gue cuma nanya doang kok.'' ucapnya dengan pelan, ia seperti tergagu dan begitu gugup tak berani membalas tatapan Bayu yang membuatnya seperti mabuk kepayang.


''Gue bisa ajarin Lo yang lebih lagi kalau Lo mau.'' bisik Bayu tepat ditelinga sang gadis. Pemuda itu kemudian menjilat pelan telinga sang gadis dengan sensual. Membuat  aliran darah seperti tersengat listrik berkekuatan tinggi.


''Gue takut,'' lirih Lula dengan bahasa tubuh yang lemas. Semua perlakuan Bayu padanya begitu membuatnya jatuh tak memiliki daya untuk menolak lebih jauh.


Maka dengan cepat, pemuda itu meringsek kembali, mengangkat tubuh kecil Lula hingga berada dipangkuannya. Memunggunginya.


Dengan lembut dan penuh perasaan, pemuda itu membelai dua gundukan kecil didepan dada Lula. Membuat sang gadis menahan napas dan sedikit meggeliat.


''Enak?'' bisik Bayu kembali berada ditelinga sang gadis. Lula hanya mengangguk sembari menggigit bibir bawahnya. Jemari tangannya menyentuh jemari Bayu yang masih dengan lincah berada di dua gunung kembarnya.


''Lo mau yang lebih?'' tanya Bayu untuk yang kesekian kalinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2