
Lula masih menegang di depan jendela kamarnya usai mendengar penuturan sang pemuda yang tak pernah ia sangka. Tirai yang terbuka sedikit memberi celah hingga membuat Lula bisa melihat datangnya sebuah mobil hitam yang selalu dipakai sang Ayah untuk pergi kekantor.
"Bayu, Ayah sudah pulang. Nanti kita bicara lagi ya. Kita bisa bertemu ditempat biasanya." pungkas sang gadis kemudian mematikan sambungan telfonnya. Mengambil nafas dalam-dalam kemudian menghembusnya dengan pelan. Dadanya masih di gemuruhi oleh ombak besar yang baru saja menghantam secara dadakan.
"Apa yang bakalan Ayah lakuin ke aku kalau tahu aku hamil?" ucapnya dengan pelan. Mata bulat sang gadis masih memantau datangnya Handoko bersama Luna yang kini sudah memasuki rumah mereka.
Gadis itu benar-benar tengah dilanda kebingungan yang tiada tara. Antara takut dan senang. Takut akan pengakuannya pada Handoko hingga membuat dirinya dan Bayu dalam masalah besar. Juga senang karena Bayu sudah memikirkan hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Bertanggung jawab tanpa berpikir terlalu lama bukankah hal yang baik? Apalagi, perut gadis itu sudah terlihat berisi.
"Lula!" Sebuah teriakan kencang menggema disudut-sudut kamar sang gadis. Membuat sang pemilik kamar tersadar dari lamunannya. Bahkan, gadis itu terlihat sedikit berjingkat karena kaget.
"Ada apa?" tanya Lula menatap sang kembaran yang berdiri diambang pintu kamarnya. Tengah melipat kedua tangannya didepan dada.
"Kenapa Lo semakin gemuk? Ayah bilang, Lo hamil. Apa iya?" Lula terhentak kebelakang beberapa langkah, ponsel ditangannya hampir saja terjatuh jika tidak segera ia tangkap.
Matanya yang sudah bulat, semakin membulat ketika mendengar penuturan Luna dengan ekspresi yang sangat santai. "Ayah? Hamil?'' gagu sang gadis menatap tak berkedip pada saudaranya.
*Ayah cuma nebak aja. Soalnya Lo sering muntah kalau pagi. Kata Ayah, dulu waktu Ibu hamil sama kayak Lo gini."
Semakin bergetar sudah tubuh sintal yang mulai berisi tersebut. Nafasnya semakin cepat memburu. Meski Luna sudah mengatakan jika Handoko hanya menebaknya, namun tetap saja itu membuat Lula merasa bagai disambar petir disiang bolong. Jika sebelum ia mengaku bersama Bayu, dan Handoko sudah lebih dulu mengetahuinya, maka bencana besar akan ia hadapi seorang diri.
"Lo kenapa diam aja? Beberapa minggu lagi ujian, Lo masih mau naik kelas kan?" ucap Luna kembali menyadarkan Lula dari lamunannya.
"Besok Gue sekolah kok."
Luna mengangguk, kemudian beranjak meninggalkan Lula di kamarnya. Tak lupa, gadis itu kembali menutup pintu kamar saudaranya agar sang pemilik kamar tidak marah-marah kepadanya.
__ADS_1
Usai kepergian Luna, gadis didalam kamar tersebut menghempaskan tubuhnya diatas ranjang king size-nya. Matanya terus menyorot langit-langit kamar dengan perasaan yang galau, gundah, dan banyak macam rasanya.
"Besok Gue harus sekolah biar Ayah nggak curiga sama Gue." gumam sang gadis dengan yakin.
Kemudian, gadis itu mengutak-atik ponselnya, mencari sebuah artikel yang bisa membantunya dalam waktu yang singkat.
"Cara menghilangkan mual ibu hamil di pagi hari."
Setelah mengetik dan muncul berbagai artikel di ponselnya, Lula menghela nafas jengkel. Ia lempar ponselnya begitu saja kemudian terisak pelan. "Gue harus gimana." gumamnya dengan pelan. Artikel-artikel yang ia baca sama sekali tidak membantunya mengatasi apa yang membuat tenaganya bagai dikuras habis setiap pagi.
"Gue baru 16 Tahun, kenapa Gue udah hamil.'' keluhnya dengan sejuta penyesalan yang merajai hatinya. Namun, bukankah penyesalan tidak akan merubah apapun? Ia akan tetap menjadi seorang Ibu kecil dengan usianya yang baru menginjak 16 Tahun.
***
"Leo!" pekikan seorang gadis cantik tersebut benar-benar mengalihkan atensi semua siswa ataupun siswi yang tengah berada di kantin untuk menikmati makan siang mereka.
"Leo, plis! Jangan panggil Gue sayang! Lo tuh bikin Gue tertekan sama kelakuannya Clara tau gak!" ucap Laras menggebu-gebu. Harinya terasa dihantui dengan berbagai cacian dan makian dari kakak kelasnya yang sangat angkuh tersebut.
"Abaikan aja." pinta Leo menatap serius pada sang gadis dihadapan. "Gue mau berterimakasih sama Lo karena udah mau lihat Gue lomba waktu itu." senyum terus terukir dibibir manis sang kapten basket. Mengingat, betapa hebohnya gadis dihadapannya ini ketika ia berhasil memenangkan lomba dengan pencapaian yang luar biasa hebatnya.
"Daripada dirumah nggak ada kerjaan." ketus Laras tanpa mau menatap pemuda tersebut.
Leo terkekeh kemudian berucap. "Gue tahu kok."
"Tahu apa?" Tahu tempe?" tatap gadis itu memicingkan matanya.
__ADS_1
"Tahu kalau Lo sua juga sama Gue kan?" kerling Leo menatap menggoda pada gadis pujaannya.
Namun, belum juga Laras menjawab, sebuah gebrakan meja terdengar memekakkan telinga semua yang berada ditempat tersebut. Tak terkecuali Laras dan Leo. Bahkan, satu buah tempe goreng yang hendak dimakan oleh sang gadis terpaksa jatuh karena terlempar akibat lonjakan Laras yang terlalu kencang saking kagetnya.
"Dasar cewek murahan! Beraninya Lo rebut cowok Gue!" hardik seorang perempuan dengan membawa sebuah besi panjang yang digunakan untuknya menggebrak meja beberapa saat yang lalu.
"Lo sinting ya?" tanya Laras dengan wajah yang terlihat begitu santai. Tak ada urat yang menegang ditubuh sang gadis. Baginya, menghadapi nenek lampir versi dirinya ini hanya membutuhkan kata-kata santai yang sedikit membuat emosi.
"Lo yang sinting! Gue kan udah bilang, jangan dekati cowok Gue!" gebrakan meja kembali terdengar begitu nyaring ketika Clara menyabetkan besi panjang tersebut.
Sedang pemuda yang kini menjadi penyebab amukan Clara di kantin tersebut justru malah tersenyum tertahan menatap Laras dihadapan. Kedua tangannya terlipat didepan dada bidangnya. Memberi kontak mata kepada Laras agar segera menghadapi amukan sang ketua cheerleader sekolah tersebut.
"Sejak kapan Leo jadi cowok Lo?"
"Sejak dulu!"
Laras mendesis pelan. "Ya sudah, ambil. Bawa kemanapun Lo mau!" telunjuk lentik Laras menekan dada sang gadis yang dadanya sudah kembang kempis menahan amarah.
"Gue bilang ya sama Lo. Jangan berani-beraninya Lo ganggu Gue lagi, apalagi hanya untuk memperebutkan cowok yang jelas-jelas nggak pernah ngelirik Lo!"
"Dan! Jan:gan pernah Lo bilang Gue cewek murahan, kalau cowok yang Lo anggap pacar aja ngejar-ngejar Gue!"
"Satu lagi! Lo bukan level Gue!" usai mengatakan berbagai penyataan tersebut, Laras langsung pergi begitu saja meninggalkan Leo dan Clara dikantin tersebut.
"Lo dengar kata pacar Gue tadi kan? Jangan ganggu hubungan Gue sama siapapun itu!" ucap Leo dengan tegas. Kemudian, pemuda itu ikut pergi mengikuti jejak langkah gadis yang ia puja sejak datangnya gadis tersebut kedalam hidupnya.
__ADS_1
"Sialan!" maki Clara pada siapapun yang menyorakinya dan mencemoohnya dengan berbagai ucapan kasar. Banyak yang sudah tahu bagaimana sikap dan sifat seorang ketua cheerleader tersebut. Sifat yang selalu ingin memiliki, entah yang ingin dimiliki itu mau atau tidak. Ia tetap akan selalu menjadi garda terdepan dalam mengaku.
BERSAMBUNG...