DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 16


__ADS_3

Luna duduk termangu disebuah kursi taman yang terletak di ujung halaman sekolah . Sekolah yang besar dengan tinggi gedung mencapai lantai 5 dengan golongannya masing-masing. Sekolah yang hanya anak-anak dari kalangan atas saja yang mampu memasukinya. Tentu, dengan kepintaran yang semakin mendulang untuk dapat memasuki SMA terfavorit dikota tersebut.


Hembusan nafas jengah nya terdengar begitu sayu di setiap telinga siswa-siswi yang melintas, sesekali ia tendang kerikil yang berada didekatnya.


Mata bulat Luna terpaku untuk sesaat, menatap sebuah coklat yang sangat ia sukai terpampang dihadapannya.


Ketika ia mendongak, menatap siapa gerangan seseorang yang dengan baik memberikannya coklat terfavorit. ''Bayu?'' hentaknya tak percaya. Seketika itu, dengungan suara Bara beberapa saat yang lalu kembali terngiang, dimana saat pemuda itu sama sekali tak bertemu dengan saudara kembarnya.


'Apa jangan-jangan, yang dimaksud Lula semalam itu Bayu? Dia naksir sama Gue?' batinnya tak percaya, Masih menatap coklat dihadapan, dan pemuda tampan yang sudah duduk disebelahnya.


''Lo suka coklat kan? Jangan sedih lagi ya,'' ucap Bayu menatap sendu pada Luna. Gadis itu melihat, ada banyak perubahan sang pemuda untuk detik ini, dari tatapan matanya, juga cara bicaranya. Ia sudah mengenal Bayu, sudah semakin faham bagaimana perangai sang pemuda tampan. Namun kali ini, ia merasa berbeda.


''Lo tahu darimana Gue suka coklat?''


''Lula.''


Sekali lagi, Luna dibuat tertegun dengan ucapan Bayu yang memang benar seperti apa yang ia pikirkan. Senyum kecut hadir diujung bibir sang gadis cantik yang selalu tak mendapatkan keadilan dari orangtuanya tersebut. ''Lo nggak perlu repot-repot beliin Gue coklat segala.'' Ucap Luna menatap lirih kearah sang pemuda.


Gelak tawa terdengar dari bibir Bayu yang terlihat kemerahan, ''Gue seneng kalau Lo juga seneng. Bahagia Lo itu ya bahagia Gue juga,'' Balas pemuda itu menatap lembut kepada Luna. Senyumnya sama sekali tak pernah luntur sejak kehadirannya disebelah sang gadis.


''Lo bawa Lula sampai malam demi tau apapun tentang Gue?''


''Iya Luna, buat apalagi? Gue tertarik sama Lo,''


Luna menghentakkan kepalanya kebelakang, keningnya mengernyit dengan senyum gamang terlukis dibibirnya. ''Maksud Lo tertarik?''


''Gue mau dekat sama Lo, mau kenal lebih jauh sama Lo. Bolehkan?''


''Tapi, Gue mau fokus sekolah dulu Kak.''

__ADS_1


''Gue kan nggak bilang kita harus jadian saat ini juga. Gue cuma mau dekat aja kok sama Lo, kita jalani semuanya bersama-sama. Secara perlahan, Gue yakin Lo bakalan buka hati buat Gue.''


Luna terdiam sembari mengulum bibirnya, sesekali ia tatap coklat digenggaman kemudian beralih menatap Bayu disebelahnya. Sorot mata pemuda itu begitu hangat dimata Luna, senyumnya pun terasa bersahabat dengan sang gadis. Meski begitu, pikiran sang gadis tersebut rupanya justru melanglang buana kepada seorang pemuda tampan yang lebih dulu meminta ijin kepadanya untuk menjadi seorang sahabat.


Pemuda yang kini tengah menatap kedekatan Luna bersama Bayu dari kejauhan. Sorot matanya begitu tajam ketika melihat raut wajah Bayu yang terlihat serius dan lekat menatap Luna. ''Gue benar-benar nggak percaya Bayu bisa senekat ini.'' Gumamnya menatap tak percaya pada sang sahabat yang sudah sejak beberapa tahun silam membersamainya. Tatapan tajam yang semula muncul dimata Bara, kini luntur tergantikan dengan tatapan sendu yang membuat pandangannya berkabut.


***


''Kayaknya Lo lagi dekat ya sama Bayu?'' Celetuk Lula saat saudara kembarnya melintasi dirinya. Kedua gadis itu sudah kembali kerumahnya setelah menghabiskan separuh waktunya di sekolah ternama. Luna menatap tajam kepada Lula, ''Lo tuh kenapa sih selalu ikut campur apapun urusan Gue? Dan kenapa Lo kasih tahu apapun yang Gue suka ke Bayu? Lo kenapa sih Lula?'' Kesal Luna tak mengerti dengan apa yang terjadi kepada saudara kembarnya tersebut.


''Bayu minta bantuan Gue. Emangnya salah ya kalau Gue bantu orang?'' Ucap Lula memperlihatkan wajah polos tak bersalah.


''Nggak salah kalau itu buat urusan pribadi Lo. Mulai sekarang jangan urusi Gue lagi, apalagi kasih tahu apapun tentang Gue ke orang asing.''


Lula membulatkan matanya ketika dengan tegas Luna berbicara sembari berlalu meninggalkannya. ''Gue tuh bantuin Lo buat dekat sama most wanted di sekolah kita, malah marah-marah. Harusnya Lo berterimakasih sama Gue.'' Gelegar Lula berteriak, membuat Luna yang sudah berdiri diujung tangga teratas menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya untuk menatap saudara kembarnya dibawah sana.


''Gue nggak tertarik buat dekat sama siapapun.'' Pungkas Luna kemudian berlalu memasuki kamarnya.


''Jangan ada yang macam-macam dengan para lelaki sebelum kalian lulus sekolah. Atau Ayah akan keluarkan kalian dari sekolah,'' Tegas Handoko menatap Lula, membuat gadis itu hanya mengangguk saja.


Selepas kepergian Handoko yang memasuki kamarnya, Lula menghela nafas panjang. Menatap dirinya sendiri dengan senyum gamang. ''Gimana kalau Ayah tahu kalau Gue udah dirusak sama Bayu? Apa Ayah bakalan marah sama Gue?''


***


Bara tersenyum kecil ketika melihat gadis yang ia jadikan sahabat beberapa waktu yang lalu mulai turun dari mobil Limousine termewah dikota tersebut. Disamping sang pemuda sudah ada Laras dan Leo yang juga menanti datangnya Luna dengan senyum yang mengembang. Tentu senyum itu hanya ada pada bibir Laras. Tidak dengan Leo.


''Luna!'' Seru Laras dengan tiba-tiba, tangannya bergerak melambai-lambai memperlihatkan dimana dirinya berada. Leo menghela nafas panjang ketika mendengar teriakan sang gadis yang ia incar, gadis yang menurutnya sangat berbeda dari gadis-gadis pada umumnya.


''Hai, kenapa kalian kumpul disini?'' Tanya Luna setelah ia sudah sampai dihadapan sang sahabat.

__ADS_1


''Kita nungguin Lo,'' Ucap Laras terus tersenyum. Luna mengernyitkan keningnya, ''Bara sana Leo?


''Nungguin Lo juga,'' Ucap Bara.


''Gue sih nungguin Laras,'' Celetuk Leo menatap singkat kepada Luna dan Laras.


''Gue nggak mau ditungguin sama Lo,'' Pungkas Laras menatap malas kepada kakak kelasnya tersebut.


Belum sempat Leo menjawab celotehan Laras, Bayu tiba-tiba sudah hadir diantara mereka dengan memegang sebuah coklat yang sama persis seperti yang kemarin ia berikan kepada Luna.


''Nih, buat Lo.''


Luna menatap sebuah coklat yang jelas terhampar dihadapannya. Ia menghela nafas kecil kemudian mengambilnya sembari tersenyum, ''Terimakasih.''


''Minggu depan kompetisi yang Gue bilang waktu itu sudah mulai dibuka pendaftarannya. Lo jadi ikutkan?'' Ucap Bayu tak memperdulikan dua sahabatnya yang terus menatapnya dengan lekat. Juga Laras yang ikut memandangnya dengan malas.


Mata bulat Luna langsung berbinar mendengar penuturan Bayu, ini adalah saat yang ia tunggu-tunggu sejak dulu. ''Iya Kak, Gue jadi ikut. Tapi, Gue belum belajar alat musik lainnya.'' Keluh Luna diakhir kalimatnya. Tatapnya menunduk dengan cepat, mengamati coklat yang ia pegang.


''Tenang aja, kan minggu depan baru pendaftarannya. Masih ada waktu kok,'' Ucap Bayu tersenyum sembari mengusap pundak sang gadis. Membuat Bara semakin memandangnya kesal, ia kemudian menatap Luna dengan sendu.


''Sama Bayu manggilnya Kak. Sama Gue manggilnya nama doang,'' Ucap Bara kemudian berlalu pergi. Membuat Luna menatapnya dengan terkejut.


''Bara marah sama Gue?''


''Nggak usah diambil hati. Mending fokus aja sama pembelajaran Lo dibidang musik,'' Ucap Bayu terus menenangkan sang gadis.


Benar-benar membuat Laras semakin menatapnya malas. Gadis itu menggenggam jemari Luna, kemudian menyeretnya agar menjauh dari pada pemuda yang selalu mengintilnya kemanapun mereka pergi.


Membawa Luna menaiki anak tangga menuju kelasnya, ''Gue nggak suka sama Bayu. Lo jangan dekat-dekat ya sama dia,'' Ucap Laras dengan raut wajah yang tegang.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2