DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 29


__ADS_3

Terus berjalan kesana kemari selama beberapa jam lamanya, Lula akhirnya memutuskan untuk mengambil ponselnya dan mengirim sebuah pesan kepada satu-satunya lelaki yang pernah menyentuh tubuhnya.


Lula [Kak, bulan ini Gue belum haid.]


Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya pesan yang Lula kirimkan terbalaskan.


Bayu [Gue nggak tahu masalah haid begitu. Nggak paham. Coba aja periksa ke Dokter. Barangkali cara diet Lo yang salah.]


Lula [Gue nggak pernah pake acara diet.]


Bayu [Ya sudah, besok kita omongin di Sekolah.]


Menghembuskan nafasnya dengan kesal, Lula kemudian melempar ponselnya begitu saja keatas ranjang besar yang biasa ia tiduri. Tubuhnya pun ikut ambruk karena lunglai seperti tak memiliki tenaga.


"Apa Gue hamil?" Gumamnya dengan perasaan yang tak tenang.


"Tapi, Gue baru 16 Tahun. Baru 3 kali juga ngelakuin kayak gitu sama Bayu. Masa bisa hamil ya?" Masih dengan kepolosan yang sama, ia terus bergumam sembari menatap langit-langit kamar dengan resah.


Tiba-tiba, Lula beranjak meninggalkan kamarnya menuju lantai bawah untuk menemui sang Ayah yang masih terduduk manis didepan televisi besar.


"Ayah, aku mau dengar cerita Ibu pas hamil aku sama Luna dong." Ucap Lula dengan tiba-tiba. Ia langsung duduk disebelah sang Ayah sembari menatapnya.


"Kenapa tiba-tiba kamu minta diceritain?" Heran Handoko menatap Lula yang hanya mengangguk saja.


"Ada apa Lula?"


"Lula kangen aja sama Ibu. Tadi, Lula nonton drama di YouTube. Ada adegan perempuan hamil kembar juga, jadi mau dengar cerita Ayah tentang Ibu yang hamil kembar." Ucap Lula dengan tersenyum kecil.


"Baiklah, dulu Ibumu itu benar-benar nggak ada tenaga waktu hamil. Maklum, bawa dua bayi sekaligus. Dari usia kehamilan yang dini sampai usianya 7 bulan, baru bisa makan nasi."


"7 Bulan baru bisa makan nasi?" Ulang Lula sedikit tak percaya bahwa ada manusia yang tidak memakan nasi selama itu bahkan dalam keadaan mengandung bayi.


"Iya, sebelum usia kandungannya 7 bulan itu, Ibumu selalu muntah kalau diberi sarapan nasi. Jadi dia makan seadanya aja, semua makanan yang bisa masuk ke mulut dimakan kecuali nasi."


"Kasihan banget Ibu." Lula mengangguk sembari menatap marmer mewah yang ia pijak. Menyamakan cerita tentang Ibunya yang terjadi saat mengandung, dengan yang terjadi saat ini kepadanya. Sungguh jauh berbeda.

__ADS_1


'Fix sih Gue nggak hamil.' Batin Lula menjerit senang.


"Ya sudah Yah, Lula istirahat dulu ya. Akhir-akhir ini cape banget." Ucap Lula kemudian beranjak setelah Handoko menganggukkan kepalanya.


***


Seorang pemuda yang selalu menjadi incaran para wanita dimana pun ia berpijak tersebut kini tengah berjalan dengan tergesa-gesa menuju sebuah kantin yang selalu penuh dengan para siswa siswi ketika jam pelajaran berakhir.


Mata elangnya terus memantau kesana kemari, mencari keberadaan satu sosok gadis yang selalu membuat harinya tidak tenang.


"Luna!" Pekik sang pemuda hingga seluruh mata menyapu pandang kearahnya. Kemudian, beralih pandang kepada gadis yang dipanggil dengan tatapan yang sangat tidak mengenakan. Tentu tak mengenakan hanya bagi Luna seorang.


Bara langsung berlari menghampiri sang gadis yang terpaku menatapnya. Terpaku karena dengan lantang, seorang ketua osis terpopuler seperti Bara berani menyebut namanya dihadapan seluruh fans-fans fanatiknya di Sekolah.


"Luna, Gue mau bicara sama Lo." Ucap Bara ketika baru sampai dihadapan sang gadis.


"Ya sudah, bicaralah." Jawab Luna dengan sorot kepolosan. Dimeja tersebut sudah ada Bayu, Laras, dan juga Leo yang membersamai Luna.


"Berdua." Ucap Bara dengan tegas, tanpa menatap kepada orang-orang yang berada dimeja Luna.


Rooftop. Tempat favorit ketiga manusia tampan yang kini sedang berselisih paham karena satu gadis yang masih polos seperti Luna.


"Lo ngajak Gue kesini mau apa Bara? Gue belum makan sama sekali." Keluh Luna dengan bibir yang dimajukan hingga membuat pipinya semakin terlihat gembul.


"Lo beneran suka sama Bayu?" Tanya Bara langsung pada inti tujuan mengapa ia membawa Luna ketempat ini. Tanpa mendudukkan bokongnya lebih dulu, tanpa menatap sang gadis disebelahnya. Bara langsung berbicara tanpa tedeng aling-aling.


Sedang yang ditanya hanya menghela nafas panjang, menundukkan pandangnya dengan bimbang.


"Gue nggak tahu Ra. Gue bingung." Kali ini, Bara menatap kepada Luna dengan kedua tangan yang ia masukkan disaku seragam sekolahnya.


"Bingung kenapa?"


"Yang Gue rasain itu deg-degan banget waktu dekat sama Bayu, tapi itu terjadi setelah Bayu... Setelah Bayu..."


"Cium Lo diruang musik?" Tembak Bara terus mencecar tanpa tedeng aling-aling. Begitulah sang pemuda jika sudah terlampau emosi dengan hatinya sendiri.

__ADS_1


"Lo tahu?"


"Bayu yang kasih tahu Gue. Lo diam aja waktu Bayu cium Lo." Ucap Bara kembali mengalihkan pandangnya dari sang gadis yang terus menatapnya tanpa henti.


"Gue kaget waktu itu. Bayu bahkan bilang kalau dia cinta sama Gue. Makanya Gue nggak bisa berkata apa-apa."


"Gue juga ngerasain deg-degan waktu itu, bahkan keesokan harinya gitu kalau Gue ketemu Bayu tuh rasanya lemas Ra. Nggak ada tenaga. Gue rasa, itu jatuh cinta kan?"


Bara terkekeh ringan mendengar ucapan polos Luna. "Lo bukan jatuh cinta Lun. Lo itu takut. Takut karena ini adalah pertama kalinya Lo disentuh sama laki-laki. Hati Lo tuh takut, bukan jatuh cinta. Lo salah mengartikan perasaan Lo sendiri."


Luna menahan napas. Otaknya berpikir dengan cepat hingga dirasa nafasnya terhenti detik itu juga. Jika benar apa yang dikatakan Bara saat ini adalah karena ia sudah salah mengartikan perasaannya sendiri, berarti ia sudah salah langkah.


"Jatuh cinta yang sebenarnya itu, saat Lo selalu ingin dekat sama dia. Bukan malah menghindar dengan berdalih malu." Cecar Bara.


"Jatuh cinta itu saat merubah seseorang Lun. Merubah seseorang yang tadinya brengsek menjadi lebih baik lagi. Menjadi yang terbaik untuk memposisikan dirinya sebanding dengan orang yang dia cintai."


"Cinta yang sebenarnya itu menjaga, bukan merusak."


Luna masih terdiam mendengarkan semua ocehan Bara. Menatap terus menerus pada manik mata elang milik sang pemuda yang membuatnya merasa aman.


"Sama seperti Gue yang jatuh cinta sama Lo." Ucap Bara kemudian memegang kedua tangan Luna. Membuat Luna sedikit terhentak kaget mendengar penuturan Bara yang baru ia dengar saat ini.


"Gue merasa jauh lebih baik semenjak kenal sama Lo. Leo pun mengakui itu. Itu karena Gue terlalu fokus sama Lo, karena Gue mau bikin Lo bahagia sampai akhirnya Gue nggak sadar kalau ternyata Gue udah lama ninggalin hingar bingar yang selalu melekat ditubuh Gue jauh sebelum Gue kenal sama Lo."


"Gue selalu berusaha buat jagain Lo, buat bantuin Lo apapun yang Lo butuh. Tapi...Gue kalah."


"Maksud Lo?" Luna membuka suara untuk sesaat.


"Gue yang menjaga, tapi Bayu yang membawa. Gue coba jagain Lo karena Gue percaya Lo gadis baik-baik. Tapi ternyata, Bayu menghancurkan semuanya. Dia cium Lo dengan sesuka hati dia, menghancurkan niat hati Gue untuk menjaga Lo dari sentuhan laki-laki manapun."


Luna tergagu, tak bisa berkata apapun selain menghembuskan nafasnya dengan tegang.


"Luna, Gue cinta sama Lo."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2