
Pagi ini, Bara sudah terlihat sangat rapi dan wangi dengan setelan seragam kebanggaan. Kembali menatap diri dipantulan cermin, ia tersenyum sangat lebar.
"Pasti Om Handoko udah kasih ijin buat Gue dekat sama Luna." Ucapnya penuh percaya diri.
Kemudian, ia berjalan menuruni anak tangga dengan bersiul riang. Tatapnya beradu dengan sorot mata sang Ayah yang baru saja mengantongi ponselnya dengan helaan nafas panjang.
"Papa kenapa? Ada masalah?" Tanya Bara menghampiri sang Ayah yang kini terduduk disebuah kursi panjang.
"Bara, Papa mau bilang sesuatu sama kamu. Mungkin, kamu akan menolak. Tapi, sungguh ini tidak bisa." Ucap Firman dengan menatap sendu kepada Bara. Sedang sang pemuda hanya diam menanti ucapan pria paruh baya tersebut.
"Usai kamu lulus Sekolah nanti, kita harus pindah ke luar negeri sayang. Kamu lanjutkan kuliah di Amerika ya Nak?" Ucapan Firman bagaikan bencana besar bagi Bara seorang. Membayangkan hari-harinya tanpa Luna pasti akan sangat kesepian. Akan kosong. Akan kembali suram seperti saat ia belum bertemu sang gadis pujaan.
"Kenapa kita pindah Pa?"
"Kamu tahu atasan Papa kan Nak? Pak Handoko namanya. Beliau membuka cabang perusahaan di luar negeri. Dan Pak Handoko mempercayakan Papa sebagai pemegang perusahaan itu di Amerika."
Bara mengangguk kecil sembari tersenyum gamang. "Ya sudah, Bara berangkat dulu ya Pa." Mengucap sembari mencium punggung tangan Firman, kemudian beranjak menuju motornya dengan helaan nafas jengah.
Mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi menuju sebuah rumah yang ia harap, pemilik rumah tersebut belum meninggalkan kediamannya untuk bekerja.
"Om Handoko!" Teriak Bara ketika sudah sampai dikediaman seseorang yang ia tuju. Melihat pria paruh baya yang ingin ia temui hampir saja memasuki mobil untuk meluncur ke kantornya, ia berteriak agar bisa menghentikan langkah Handoko.
"Bara?"
"Ngapain kamu kesini? Luna sudah berangkat. Mau apa?" Ucap Handoko dengan masih berdiri diambang pintu mobilnya. Menanti kedatangan Bara yang berjalan kearahnya.
__ADS_1
"Om, kenapa pindah Papa Firman ke Amerika?"
"Oh jadi kamu kesini mau protes?"
"Om, aku berterimakasih Om sudah mau memberikan jabatan yang tinggi kepada Papa Firman. Tapi kenapa harus di Amerika Om?"
"Kenapa? Kenapa sepertinya kamu tidak suka pindah dari Kota ini? Kamu akan kuliah ditempat yang besar Bara."
"Om, Bara sudah terlanjur besar di Kota ini. Sulit bagi Bara untuk meninggalkan semuanya."
"Bara, Ayah kamu sudah berkecukupan. Kalau kamu tinggal di Kota ini, kamu tidak akan kesulitan mencari makan. Ayahmu pasti akan transfer uang banyak ke kamu. Tidak ikut Ayahmu juga tidak masalah. Saya hanya membutuhkan Firman bekerja dikantor cabang saya."
Bara menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan aksi protesnya yang sama sekali tidak dimengerti oleh Handoko. "Om, saya merasa dunia saya berbeda sejak mengenal dan berteman dengan Luna. Kalau saya pindah ke Amerika, saya pasti akan kehilangan. Kalau saya tinggal disini seorang diri, Papa Firman pasti tidak kasih ijin."
Handoko terkekeh sinis mendengarnya. "Sudah saya bilang, kamu tidak boleh dekat-dekat dengan putri saya. Kalian bisa berteman lagi kalau kalian sudah sama-sama mapan. Jangan membuat saya marah dan melakukan hal yang tidak-tidak kepada Firman." Ucap Handoko dengan tegas.
"Sial! Kenapa Gue harus jatuh cinta sama Luna? Kenapa Gue harus ketemu sama cewek yang kastanya lebih tinggi daripada Gue!" Keluhnya dengan kesal. Ia layangkan tinju ke udara dengan emosi yang menggebu-gebu.
***
"Luna, kamu sudah datang? Aku dapat kabar dari Laras kalau kamu nggak dikasih ijin buat ikut lomba ya?" Cecar Bayu dengan cepat. Ia datangi sang gadis yang baru saja keluar dari Limousine, bahkan saking semangatnya ia bertemu dengan Luna dan menanyakan berbagai pertanyaan, pemuda itu sampai tidak sadar jika dipandang penuh ketajaman oleh Lula yang berada disebelah Luna.
"Hai Lula." Ucapnya ketika menyadari tatapan tak biasa dari Lula. Gadis itu terlihat sangat bengis hari ini, sorot matanya penuh dengan ketajaman dan kedinginan. Bayu sampai merasa salah tingkah karena ditatap begitu tajam oleh Lula.
Tanpa menjawab ucapan Bayu, gadis yang terlihat semakin gemuk itu menghentakkan kakinya dengan kesal kemudian beranjak meninggalkan Luna dan Lula begitu saja.
__ADS_1
"Kayaknya, Lula suka sama Lo." Ucap Luna menatap kepergian saudaranya dengan hati yang sakit. Melihat reaksi Lula begitu Bayu selalu mendatanginya membuat hatinya sakit. Satu-satunya kebahagiaan yang Luna rasakan saat ini, justru membuat Lula semakin membencinya.
Bayu menggeleng kecil sembari menggandeng tangan sang gadis untuk memasuki gerbang utama. "Nggak usah dipikir. Jadi, gimana sama Ayah kamu?"
"Ayah sudah berubah pikiran kok Kak. Kemarin, Bara bantuin aku buat ngomong sama Ayah."
"Bara? Kenapa harus Bara? Kamu bisa minta bantuan sama aku Lun."
"Ayah kenal sama keluarga Bara Kak. Jadi aku pikir, bakalan leboh gampang Bara yang yakinin Ayah kalau aku cuma sekedar latihan ikut lomba. Nggak macam-macam."
Bagu mengangguk kecil, merasa kalah dengan Bara karena pemuda itu nyatanya lebih mengenal keluarga Luna lebih dalam. Sudah bisa mendekati Ayah Luna dengan berani. Sedang dirinya? Hanya berani berada dibalik layar.
"Aku juga mau dekat sama Ayahmu Lun. Kalau ada apa-apa, kamu kasih tahu aku ya." Pinta Bayu dengan mengelus puncak kepala sang gadis lembut. Tersenyum tulus kepada Luna adalah keseharian Bayu saat ini. Apalagi mengelus pipi dan juga kepala saudara kembarnya Lula adalah hal yang selalu ingin ia lakukan setiap saat.
Mengangguk kecil, Luna tersenyum begitu malu kearah Bayu. Semua perhatian Bayu kepadanya sungguh membuat hatinya semakin jatuh terlalu dalam. Ia sudah begitu sangat mendambakan Bayu untuk menjadi seseorang yang ingin ia tatap setiap saat. Setiap waktu, dan setiap hari.
"Kak, kamu beneran cinta sama aku kan?" Tanya Luna dengan polosnya, hingga Bayu menghentikan langkah kakinya menuju kelas sang gadis.
"Kenapa Lun? Kamu ragu?"
Menggeleng, Luna kemudian memegang tangan Bayu dengan erat. "Aku cuma takut kehilangan kamu disaat aku udah benar-benar jatuh cinta sama kamu."
Bayu terkekeh ringan mendengarnya, ia kemudian pegang pipi gembul Luna dan mengelusnya dengan lembut. "Aku cinta sama kamu. Udah, jangan berpikiran yang aneh-aneh. Aku janji nggak akan tinggalin kamu. Aku bakalan dekati Ayah kamu supaya kasih ijin buat kita bersama."
Luna menangguk dengan antusias. "Iya Kak! Aku setuju. Aku juga berharap, cinta pertama aku yang akan jadi suami aku nantinya." Ucapnya penuh dengan hati yang berdebar.
__ADS_1
Membayangkan angan yang jauh kedepan bersama seseorang yang ia cintai ternyata menyenangkan. Apalagi jika seseorang ith juga mensupport apa yang selalu kita damba.
BERSAMBUNG...