DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 36


__ADS_3

Pulang sekolah adalah hal yang sangat digemari oleh kebanyakan anak sekolah. Merasakan udara bebas lalu menghirupnya dengan sekuat tenaga. Melepaskan beban-beban pelajaran yang terlalu melampaui batas para siswa atau siswi.


Luna kembali memacu langkah kakinya menuju sebuah kelas yang berada dilantai dasar terbawah. Ingin menemui seorang lelaki yang sejak beberapa hari lalu tidak terlihat batang hidungnya.


"Kak Bayu!" pekiknya ketika melihat satu pemuda yang membuatnya melangkah menuju kelas sang senior.


Langkah kakinya terus berayun hingga berhenti dihadapan wakil ketua osis tersebut.


"Kak, ada masalah ya? Kenapa nggak bisa dihubungi?" tanya Luna menatap penuh senyum kepada lelaki pujaannya. Mengingat, betapa banyaknya pesan yang ia kirimkan kepada sang pemuda namun selalu berakhir dengan tanda centang 1.


"Gue sibuk Lun." pungkas Bayu dengan senyum kecil di bibirnya. "Lula kemana? Kok nggak kelihatan akhir-akhir ini?" lanjut sang pemuda.


"Sakit Kak, katanya nggak enak badan. Tiap pagi selalu muntah-muntah, terus nggak ada tenaga." jelas sang gadis dengan polosnya. Membuat Bayu terdiam untuk sesaat. Pemuda itu terlihat seperti sedang berpikir keras.


"Gue duluan ya!" ucap sang pemuda kemudian berlari kecil meninggalkan Luna begitu saja. Yang ditinggal tentu saja merasa sedih. Bercampur dengan rasa kecewa karena tak ada keromantisan seperti kemarin-kemarin yang ia temukan dari sang pemuda.


"Lo ngapain disini?" tanya Bara dari kejauhan, namun seiring berjalannya waktu langkah pemuda itu semakin mendekati sang gadis.


"Habis nemuin kak Bayu. Tapi, dia kayaknya sibuk banget sampai pergi gith aja."


"Mungkin memang sibuk."


Luna mengangguk dengan mata yang masih memandang nanar kepergian Bayu. "Gue pulang dulu ya Lun. Lo dijemput?" pungkas Bara membuat sang gadis menoleh.


"Lo kenapa kayak menghindar dari Gue?" ucap sang gadis langsung pada inti permasalahan yang ia rasakan.


"Enggak kok. Gue cuma nggak mau terlalu dekat kayak kemarin-kemarin, nanti malah buat hubungan Lo sama Bayu renggang. Nanti Lo sedih." gurau Bara mencubit hidung bangir sang gadis.


"Sekarang pun, Gue rasa Bayu juga menghindar dari Gue." keluh Luna dengan pandangan menunduk. Menghela nafas sejenak untuk menghilangkan sesak didalam dada.


"Perasaan Lo aja kali Lun. Jangan diambil pusing. Mending pulang. Yuk!" tak menunggu sang gadis menjawab, pemuda tampan itu segera menggamit jemari sang gadis kemudian menuntunnya menuju gerbang utama sekolah.


Melihat Bara yang ikut keluar gerbang bersamanya, Luna mengernyitkan keningnya dengan bingung. "Lo nggak naik sepeda ya Ra?"

__ADS_1


Bara menggeleng. "Enggak. Sepeda Gue udah dijual sama Papa. Kan nggak bisa dibawa ke Amerika. Kalau di tinggal disini nanti cuma rusak nggak kepakai." jelas sang pemuda dengan sorot mata yang menyinari jalanan dihadapan.


"Lo dijemput siapa?"


"Supir Papa. Tapi belum datang."


Luna mengangguk saja tak mau bertanya apapun lagi. Tautan jemarinya dengan sang pemuda masih berlangsung, seakan enggan untuk melepaskan apapun yang ada pada pemuda disebelahnya tersebut.


Namun, mau tidak mau ia harus melepaskan jemari tersebut ketika sebuah mobil berwarna hitam mengkilap yang sangat dikenali sang gadis berhenti dihadapannya. "Ayah?" gumam Luna menatap seseorang yang keluar dari mobil tersebut.


"Luna, ayo pulang."


"Kok Ayah yang jemput Luna?"


"Tadi Ayah sekalian beli obat buat Lula. Ayo, pulang." Handoko meraih lengan sang anak kemudian membawa Luna memasuki mobil yang kerap ia gunakan pergi ke kantor.


Sedang Bara hanya tersenyum sembari menunduk ketika Handoko dengan tegas membawa gadis pujaannya untuk berlalu dari hadapannya.


**


"Teman aja Yah. Nggak lebih."


"Kalau sampai kamu bohong, awas ya! Ayah nggak akan segan-segan buang kamu."


Luna mengangguk dengan helaan nafas. Mendengar penuturan Handoko yang tanpa belas kasih sungguh membuat hatinya berdenyut hebat. Terasa sangat sakit.


"Ayah curiga sama Lula." cetus Handoko membuat Luna menoleh padanya. Namun pria paruh baya itu masih terus melihat ke depan, fokus menyetir.


"Curiga kenapa Yah?" tanya Luna sembari mengambil sebuah botol minum dari tas sekolahnya. Seperti tak berminat membahas apapun itu yang berhubungan dengan saudara kembarnya. Maka, ia pun langsung menenggak air minum yang sudah ia ambil dari dalam tasnya.


"Apa mungkin Lula hamil?"


Luna menyemburkan air minumnya yang berada didalam mulutnya. Gadis itu sampai terbatuk-batuk karena tersedak air yang ia minum. Matanya mendelik dengan raut wajah memerah.

__ADS_1


Sedang Handoko justru menepuk-nepuk punggung sang gadis agar segera mereda batuknya. "Kamu kenapa malah batuk-batuk begitu?"


"Ayah ngaco ya? Mana ada cewek 16 Tahun bisa hamil?" pekik Luna tak menghiraukan pertanyaan sang Ayah.


"Ya jelas ada dong Luna!" ucap Handoko menepuk pelan jidatnya sendiri. "Ini yang Ayah takutkan saat anak-anak Ayah mengenal seorang lelaki. Kalian masih polos! Bisa dibodohi! Seorang gadis akan mengalami yang namanya menstruasi, dan saat gadis sudah mengalami menstruasi, itu artinya dia sudah dalam masa subur. Saat dia melakukan hubungan badan dengan lawan jenis, maka besar kemungkinan gadis itu akan hamil. Akan mengandung. Karena dia sudah menstruasi. Mau dia berumur 10 Tahun sekalipun!" jelas Handoko dengan menggebu-gebu. Kedua tangannya sampai menghentak-hentak kemudi setir saking jengkelnya dengan kepolosan sang gadis. Untung saja saat ini mereka tengah berhenti disebuah traffic light.


Luna menganggukkan kepalanya berulang kali. Masih mencerna semua ucapan-ucapan sang Ayah.


Mobil hitam tersebut kembali melaju setelah lampu hijau terlihat. "Kenapa Ayah bisa bilang kalau Lula hamil? Memangnya ada tanda-tandanya?"


"Ada. Dulu, waktu Ibu kalian hamil juga seperti ini."


"Seperti ini?" ucap sang gadis dengan hati-hati. Sebenarnya ia takut bertanya lebih banyak, namun ia sangat penasaran kali ini. Dan juga, Handoko pun menjelaskannya sangat berbelit-belit.


"Seperti yang Lula alami saat ini Luna! Muntah di pagi hari hingga tidak ada tenaga. Dan juga, tidak ada nasi yang masuk kedalam perutnya. Semua yang dialami Lula saat ini sama persis dengan apa yang dialami Ibu mu dulu!" ucap Handoko lebih jelas lagi. Dan gadis itu hanya kembali mengangguk-anggukan kepalanya.


"Bawa ke Dokter saja Yah!" usul Luna dengan yakin.


"Lula tidak mau."


"Mungkin karena dugaan Ayah benar?"


***


Meraih ponselnya yang berdering diatas bantal, Lula kemudian menekan dial hijau untuk menerima sebuah panggilan. "Hallo."


"Lula, kamu dimana? Kamu sakit?" ucap seorang pemuda diseberang sana. Membuat Lula tersenyum senang karena diperhatikan oleh Ayah dari jabang bayi yang ia kandung.


"Iya Bay, nggak ada tenaga sama sekali. Setiap pagi selalu muntah." cerita Lula dengan suara yang lemas tak bertenaga.


"Lula, Gue sudah ada keputusan buat hubungan kita dan bayi yang kamu kandung saat ini." ucapan Bayu membuat Lula menahan napas sejenak. Hatinya langsung berdebar kencang hingga membuatnya terbatuk.


"A....apa?" gagu sang gadis.

__ADS_1


"Gue bakal kerumah Lo. Bilang sama Ayah Lo kalau Gue udah bikin Lo hamil."


BERSAMBUNG...


__ADS_2