DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 28


__ADS_3

Semua yang dilakukan dua insan didekat lorong menuju kelas sang gadis dilantai teratas, telah disaksikan oleh mata elang yang tajam milik Bara Pamuniaga. Semua yang terjadi antara Luna dan Bara telah meluluh lantahkan angannya bersama sang gadis, memporak porandakan hatinya untuk melangkah lebih jauh lagi.


Semua yang Luna ucapkan telah didengar oleh Bara. Bagaimana saat gadis itu berharap hanya ada Bayu seorang di kehidupannya mendatang. Hanya menginginkan satu sosok yang menjadi cinta pertamanya dalam hidup.


Kembali memijakkan kakinya diatas rooftop teratas, Bara menemukan Leo yang hanya terduduk seorang diri disana. Menatap jauh ke depan, entah apa yang pemuda itu bayangkan hingga kedatangan sang sahabat sama sekali tak menarik perhatiannya.


"Ngapain Lo ngelamun?" Tanya Bara sembari mendudukkan bokongnya diatas kursi yang selalu menjadi tempat favoritnya.


Melihat Leo yang hanya diam saja, membuat Bara menghela nafas sejenak. Kemudian mengambil nafas panjang lalu... "LEO!" Bentaknya tepat ditelinga sang pemuda.


Membuat Leo berjingkat kaget, menatapnya dengan mata membulat sempurna. "Lo gila ya? Mau buat Gue mati? Hah!" Bentaknya dengan kesal. Sedang Bara sudah kembali pada mode awal dimana moodnya yang selalu tidak membaik akibat kedekatan Luna dan Bayu.


"Gue nggak tahu kenapa Gue bisa secinta ini sama Luna. Apa karena ini karma dari Tuhan karena selama ini Gue selalu mempermainkan cewek-cewek cuma karena taruhan." Keluh Bara dengan helaan nafas panjang.


"Lo kemana aja Ra? Kayaknya, lama banget Lo nggak ke rooftop ini. Nggak nongkrong bareng lagi kayak dulu. Kalaupun nggak sama Bayu, seenggaknya sama Gue." Ucap Leo tak menggubris keluhan sang sahabat lama.


"Gue nggak tahu. Rasanya kayak asing aja Gue ngumpul kayak dulu. Apalagi ngerokok kayak biasanya. Gue rasa, Gue rasa, Gue udah benar-benar lepas dari rokok."


"Semenjak kenal Luna?"


Bara terkekeh mendengar pertanyaan Leo yang terkesan pernyataan.


"Gue rasa begitu."


"Tapi Gue kalah dari Bayu. Luna udah terlanjut jatuh cinta sama tuh monyet. Dan Gue rasa, Bayu juga suka sama Luna." Lanjut Bara menatap pada Leo yang kini justru malah terkekeh-kekeh mendengar ucapannya. Pemuda disamping Bara itu tertawa terbahak-bahak pada akhirnya sembari memegang perutnya yang dirasa sangat kram.


"Lo kenapa?" Tanya Bara tak mengerti. Apakah ada yang lucu dari ucapannya?


"Lo? Kalah dari Bayu?" Tanya Leo sembari terus terbahak-bahak.


"Sejak kapan Lo kalah dari Bayu? Sejak kapan Lo jadi pengalah kayak gini?" Hentak Leo membuat Bara berfikir.

__ADS_1


"Mungkin sejak Gue kenal sama Luna. Sejak kita kenal sama Luna lebih tepatnya. Gue ngalah buat Bayu, asal Luna bahagia. Yang Gue pikir sekarang itu kebahagiaan Luna. Bukan kebahagiaan Gue."


Leo berhenti tertawa kemudian menepuk pundak Bara tanpa berkata-kata, membuat Bara melepaskan tangan Leo dengan kesal.


"Tadi pagi, bokap Gue bilang kalau setelah kelulusan nanti, Gue sama bokap Gue pindah ke Amerika. Gue bakal kuliah disana." Ucap Bara menerawang jauh ke depan. Kembali terngiang ucapan Handoko yang terus menyuruhnya menjauhi Luna, bahkan hingga membuat sang Ayah dipindah tugaskan di Luar Negeri.


Leo termangu sesaat, ucapan Bara belum sepenuhnya masuk kedalam otaknya hingga akhirnya ia menatap sang sahabat dengan tajam. "Lo mau pindah? Ke Amerika?"


"Leo, Lo tau kalau Bokap Gue ada dibawah naungan Bokap-nya Luna. Om Handoko adalah Ayah yang tegas. Dia selalu menjaga anak-anaknya termasuk Luna."


"Terus?"


"Om Handoko pasti mau bikin Gue jauh dari Luna. Beliau tahu kalau Gue tertarik sama Luna. Yang Gue nggak bisa bayangin itu kalau Om Handoko tahu gimana keadaan Lula sekarang." Pungkas Bara dengan terkekeh kecil diujung kalimat.


"Emangnya Lula kenapa?"


"Bayu udah ngerusak Lula."


Leo membulatkan matanya dengan mulut yang juga terbuka lebar. "Lo tahu darimana?" Tanyanya dengan polos. Sedang Bara yang tersenyum kecil menanggapi pertanyaan sang sahabat.


Mendapati bibir mungil sang gadis sudah dikecup sedemikian intim oleh Bayu saja membuat darahnya mendidih. Bagaimana kalau Bayu terus berbuat lebih?


Untuk sesaat, kedua pemuda tampan tersebut terdiam tanpa suara apapun. Terus memandang jauh ke depan, berangan dengan pikiran masing-masing.


"Sebentar lagi lomba. Sebentar lagi kelulusan. Lo yakin mau ninggalin Kota ini Ra?" Ucap Leo dengan lirih. Masih tanpa menatap sahabatnya disamping.


"Gue nggak tahu. Gue bingung."


"Apa yang buat Lo bingung?"


"Disatu sisi, Gue mau mengejar cinta Gue dan cita-cita Gue. Tapi, disatu sisi cinta yang mau Gue kejar udah nggak mau dikejar. Dia lebih milih orang lain, dan cuma jadiin Gue sahabatnya."

__ADS_1


"Gue mau ikut sama Lo. Kita sahabatan udah lama Ra, Gue nggak mau nyari sahabat baru." Ucap Leo, kali ini ia memandang sendu kepada sahabatnya.


"Lo nggak nangis karena ninggalin Laras?" Kekeh Bara menatap pada Leo.


"Laras cewek aneh, susah banget buat didekati. Biasanya cewek bakalan klepek-klepek sama Gue, ini malah marah-marah terus." Keluh Leo mengingat betapa sulitnya menaklukan hati sahabat Luna tersebut.


"Lo harus berjuang. Laras masih sendiri, masih ada kesempatan. Lo nggak boleh ninggalin dia, Gue lihat Lo banyak berubah sejak kenal sama Laras."


Leo mengangguk sembari tersenyum, saling merangkul pundak masing-masing untuk menguatkan satu sama lain. Hal yang sudah beberapa bulan terakhir ini tidak pernah mereka berdua lakukan adalah seperti ini, deep talk.


***


Usai sudah pelajaran hari ini di Sekolah SMA Labschool terfavorit di Kota besar tersebut. Lula berjalan menghampiri Luna yang masih bercengkrama dengan Laras.


"Lo mau langsung pulang atau latihan? Gue mau langsung pulang." Ucapnya dengan raut wajah yang datar.


"Lo kok pucat sih? Lo sakit?" Ucap Luna tak menjawab pertanyaan saudara kembarnya. Mencoba memegang dahi sang gadis namun langsung ditepis begitu kasarnya oleh Lula.


"Gue bilang Gue mau langsung pulang. Lo latihan apa enggak? Kalau enggak ayo kita pulang, nggak usah banyak becandaan sama temen Lo. Gue mau cepat istirahat. Cape." Ucapnya penuh berondongan. Gadis itu langsung beranjak meninggalkan kelas begitu saja, bahkan tak menggubris panggilan kedua sahabatnya yang masih terpaku didalam kelas melihat kepergiannya.


"Kesambet apaan tuh anak?" Ucap Laras dengan kesal.


"Gue balik duluan ya Ras." Ucap Luna dengan tersenyum sembari melambaikan tangannya. Laras pun demikian, menganggukkan kepalanya sembari tersenyum kemudian melambaikan tangannya membalas Luna.


Baru saja keluar dari kelas, Luna sudah dikagetkan dengan kedatangan Bayu yang langsung merangkul pundaknya.


"Hai, mau pulang bareng?" Tanya Bayu dengan lembutnya.


"Enggak Kak, Lula udah minta pulang bareng. Kayaknya dia lagi sakit, mau cepat-cepat pulang. Lagian kalau ketahuan Ayah nanti aku dimarahin." Geleng Luna sembari melepaskan rangkulan Bayu.


"Aku duluan ya Kak." Pamitnya kemudian berjalan menuju Limousine yang langsung berlalu meninggalkan gerbang utama.

__ADS_1


"Gimana caranya Gue bisa dapatin Luna tanpa nyakitin Lula?" Gumam Bayu menatap kepergian Limousine yang membawa tubuh sang gadis pujaan.


BERSAMBUNG...


__ADS_2