Diceraikan Di Malam Pertama

Diceraikan Di Malam Pertama
Hubungan Berakhir


__ADS_3

Sudah dua hari ini Anha mengurung dirinya sendiri di dalam kamarnya. Meskipun pintu kamarnya ia tidak kunci sama sekali tetap saja hawa sunyi selalu ditemui ketika daun pintu itu terbuka.


Anha tidak pergi ke tempat kerja karena dia sudah resmi keluar dari pekerjaannya karena itulah yang dulu diputuskan jika dia menikah maka dia akan menjadi ibu rumah tangga dan resign dari pekerjaanya.


Mengorbankan pekerjaannya yang sudah enak demi seorang lelaki yang kelak akan menjadi calon suaminya namun ternyata pernikahan mereka berdua batal. Otomatis dia kehilangan dua hal sekaligus dalam satu waktu.


Anha semakin erat memeluk gulingnya dan ia masih betah tiduran di ranjangnya.


Bahkan dua hari ini Hasan tidak mendatanginya sama sekali. Padahal Anha berharap jika Hasan akan datang jika kepalanya sudah dingin. Anha berharap Hasan mengatakan kepadanya; tidak apa, ayo kita jalani ini semua bersama.


Namun mungkin harapannya itu terlalu muluk-muluk. Anha menenggelamkan kembali wajahnya pada gulingnya. Menahan supaya Mama yang mungkin berada di ruang keluarga tidak mendengar isakannya yang tertahan.


Wanita macam dirinya ini mana mungkin pantas diperlakukan seperti ini. Anha semakin tidak percaya diri dengan dirinya sendiri. Menganggap dirinya buruk dan tidak pantas untuk siapapun.


Terdengar suara dari ponsel Anha yang berbunyi, tangan Anha tergerak meraba dataran putih dari ranjangnya untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di ujung ranjang tersebut.


Terlihat satu notifikasi masuk dari whatsapp pada layar ponselnya. Tertulis nama ‘sayang’ dengan emoticon hati merah di sana. Nama kontak yang dulu pernah diberikannya untuk Hasan.


Kini, setelah dua hari. Akhirnya Hasan pun mengiriminya pesan.


Sebenarnya Anha tidak mau membacanya pesan tersebut. Takut. Hatinya belum siap. Tapi rasa penasarannya amat banyak. Akhirnya ibu jari Anha menggulir kunci ponselnya dan membuka pesan whatsapp dari Hasan.

__ADS_1


Bibir Anha gemetar, bulir beningnya menetes jatuh ke bawah.


Pesan dari Hasan tidak banyak. Hanya dua baris kalimat saja. Namun amat menyesakkan di dada.


Di sana Hasan menuliskan;


Maaf, ya, An. Aku nggak bisa nerusin hubungan kita lagi.


Semoga kita bahagia dengan hidup kita masing-masing.


Bagaimana Anha tidak semakin terisak membaca dua kalimat tersebut? Bahkan Hasan tidak memiliki itikad baik sama sekali untuk menjelaskannya secara langsung. Hubungan mereka dan kelangsungan pernikahannya diputuskan dari pesan teks seperti itu.


Padahal pernikahan mereka tinggal sedikit lagi. Padahal semuanya sudah siap. Undangan pun sudah tersebar luas.


Anha menggelengkan kepala. Dia tidak mau pernikahan ini batal. Apa kata orang nanti? Bagaimana dengan udangan yang sudah tersebar itu? Kenapa Hasan memutuskannya secara sepihak.


Jari Anha ragu untuk menyentuh gambar telepon pada layar ponselnya.


Apakah kali ini dia harus memohon-mohon kepada Hasan dan merendahkan dirinya sendiri? Mungkin saja dengan seperti itu Hasan mau memikirkan dirinya lagi.


Anha pun akhirnya menghubungi Hasan. Hendak memohon maaf dan jangan sampai ini semua berakhir.

__ADS_1


Butuh waktu beberapa detik sampai panggilannya tersambung kepada Hasan. Ketika nada sambung itu berhenti, barulah Anha berbicara.


“Ha-halo.”


Namun tidak ada jawaban dari Hasan sama sekali. Anha menatap ulang layar ponselnya, siapa tahu panggilannya tidak tersambung. Tetapi angka pada panggilan telepon tersebut terus bergerak bertambah, itu artinya panggilannya tersambung dengan Hasan. Namun Hasan tidak mengatakan apa pun.


“Halo…,” ulang Anha kembali.


“Hasan. Aku… aku nggak mau kita putus,” kata Anha dengan nada getir. Hasan hanya terdiam di seberang sana. Sedang bersandar pada dinginnya tembok kamar tidurnya.


Dia juga tak kalah kacaunya seperti Anha.


Tangan kanan Hasan yang bebas tidak memegang ponsel menutup matanya sendiri yang terasa memanas. Lelaki ketika menangis memang menutup mata mereka, sedangkan wanita biasanya menutup mulut mereka menahan isakan.


“Hasan… jawab aku. Aku nggak mau kita pisah. Maafin ak—” nada bicara Anha hilang dipenghujungnya. Tercekat di tenggorokan karena terisak.


Hasan menatap layar ponselnya. Kemudian memutuskan panggilan itu sepihak. Mungkin itulah terakhir kalinya ia mendengar suara dari wanita yang dulu amat dicintainya itu. Tapi sialnya suara itu begitu pilu.


Hasan tetap pada pendiriannya. Meskipun dia munafik masih banyak rasa cinta dihatinya yang ia kesampingkan karena egonya sendiri yang begitu besar.


Dan, hubungan mereka berakhir.

__ADS_1


***


__ADS_2