
Akhirnya setelah melewati hari yang panjang resepsi mereka selesai juga. Badan Anha terasa letih sekali karena menyalami sebegitu banyaknya tamu undangan. Kakinya terasa pegal.
Hamkan lebih memilih untuk membawa Anha pulang ke rumah daripada menginap di hotel tempatnya melangsungkan resepsi diadakan.
Lebih enak pulang ke rumah sendiri daripada menghabiskan waktu malam pertama mereka di hotel. Menurut Hamkan di hotel minim privacy dan Hamkan juga terlalu lelah, ia tidak suka hiruk pikuk seperti itu.
Anha sebagai istri menurut saja apa yang diingkan suaminya. Lagi pula hal ini sudah dirundingkan terlebih dahulu sebelumnya, Mama dan Mamanya Anha juga setuju akan hal itu.
Hamkan mengulurkan tangannya untuk digapai Anha ketika mobil mereka sudah sampai di kediaman Hamkan. Anha merasa tersipu diperlakukan bak ratu seperti itu.
Hamkan menggendong Anha ala bridal style membuat ke dua Mama mama tukang drama itu bersemu melihat dua kemesraan anak muda itu. Ah, jadi teringat masa muda rasanya.
Sedangkan Lita—adik Hamkan memutar bola matanya. Hendak muntah melihat kakaknya yang jadi budak cinta. Dasar lebay!
Sesampainya di dalam kamar Hamkan menurunkan Anha dengan perlahan di tepian ranjang.
Ingin rasanya Hamkan segera menyerang Anha yang sedang malu-malu kucing itu. Tapi Hamkan menahannya sejenak. Dia harus mandi terlebih dahulu.
“Kamu atau aku duluan yang mandi?” tanya Anha sambil agak mendongan untuk menatap Hamkan yang berdiri di depannya.
“Gimana kalau barengan aja?” kata Hamkan sambil tersenyum miring menggoda. Uh, suaminya ini bertambah mesum saja ketika sudah menikah. Walaupun mereka berdua sudah sah tapi tetap saja Anha masih merasa malu.
Dengan muka cemberut dan pipi yang mengembung sebal. Anha memilih untuk mandi terlebih dahulu dan mengabaikan Hamkan yang terkekeh di belakangnya.
Ketika Hamkan sudah mengambil handuk untuk menyusul Anha yang sedang mandi. Sayangnya knop pintu itu dikunci dari dalam.
Haha, mungkin Anha belum siap dan masih malu. Baiklah tak apa. Daripada lama menunggu Anha membersihkan dirinya, lebih baik Hamkan mandi di kamar lainnya.
***
Jam di dinding sudah menujukkan pukul setengah sebelas malam. Anha sudah selesai mandi dan wangi, tapi malahan Hamkan tidak ada di sini.
Di mana dia berada? Huh, padahal Anha sudah mengenakan lingerie seksi di dalam balutan piyama yang sedang dikenakannya.
Suara pintu terbuka membuat Anha menoleh. Baru saja sedang dibicarakan. Sekarang sudah datang. Panjang umur sekali.
Hamkan hadir dengan mengenakan baju casual sambil mengusap rambutnya menggunakan handuk kecil.
“Dari mana?” tanya Anha sekenanya.
“Mandi di kamar lain. Kamu, sih, nggak mau bukain pintu.”
Anha memilih diam saja sambil bersandar di headboard ranjang daripada meladeni ucapan suaminya yang pasti akan melebar ke mana-mana sambil menggodanya lebih lanjut.
Hamkan tersenyum dan bergerak mendekat ke arah istrinya yang tersipu malu. Diraihnya rambut Anha dan Hamkan menghirup dalam-dalam bau dari shampoo yang tadi Anha pakai. Harum sekali.
“Kamu capek nggak? Mau malam ini atau besok aja? Kalau kamu capek, kita undur besok juga gapapa, kok.”
Sial! Kenapa Hamkan menanyakan hal tersebut kepadanya? Kenapa tidak langsung serang saja? Tidak-tidak, bukannya Anha napsuan.
Maksudnya... jika Anha ditanyai mengenai hal itu, dia jadi bingung hendak menjawab apa.
“Malem ini juga nggak papa. Aku nggak capek, kok, Mas,” kata Anha sambil menunduk malu dan memainkan jemarinya sambil meremaasi kecil kain piyama.
Hamkan mengusap pipi Anha menghantarkan kehangatan pada pori-pori wanita itu.
“Manggil apa tadi? Coba ulangi lagi aku mau denger,” ucap Hamkan sambil menguluum senyum.
“Mas....”
“Apa ulangi?” kata Hamkan menggoda Anha lagi. Suaranya imut sekali ketika memanggilnya dengan sebutan seperti tadi.
__ADS_1
“Mas,” ulang Anha lagi atas permintaan Hamkan.
Ya, ampun! Anha malu sekali. Ingin rasanya dia berguling-guling di kasur seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta namun bayangan tersebut hanya ditahannya.
“Udah, ah. Kamu jahil banget, deh,” kata Anha sambil menutup wajahnya dengan menggunakan kedua telapak tangannya membuat Hamkan tertawa.
“Alah, bukannya kemarin waktu di kantor kamu bilang kamu pengin? Sampai goda-godain aku kayak gitu. Kok, sekarang malahan malu.”
Hamkan berusaha membuka tangan Anha yang menutupi wajahnya. Ketika sudah berhasil terbuka, dia mengecupi bibir merah Anha yang merekah.
Awalnya Anha kaget diperlakukan seperti itu. Namun lama kelamaan ia jadi terbiasa dan ikut terbuai mengimbangi ciuman panas Hamkan.
Hamkan menggigit bibir bawah Anha yang tebal sensual dan mengisapnya pelan.
Anha mengerang kecil membuat Hamkan semakin merasa terbakar gairah.
Malam ini Anha akan memberikan segalanya untuk Hamkan—suaminya. Melayaninya dengan sebaik-baiknya sebagai seorang istri.
Hamkan melepaskan ciuman panas mereka, ia tersenyum tipis melihat bibir Anha nampak basah karena ulahnya.
Tangan Hamkan bergerak menarik pelan tali piyama yang dikenakan Anha sehingga piyaman itu kini terbuka dan memperlihatkan tubuh putih nan seksi milik Anha yang dibalut dengan lingerie seksi yang menerawang.
Benar benar menerawang seperti pola brukat. Hanya saja bagian penutup dadanya tersamar karena motif aksen bunga. Anha malu. Tante Asihlah yang memilihkannya untuknya.
Hamkan kesusahan menelan ludah. Sial! istrinya itu sangat seksi.
Punggung tangan Hamkan bergerak pelan membelai tubuh Anha dari leher turun ke bawah melewati dadanya dan berakhir sampai ke perut.
Anha menggigit bibirnya agar tidak mendesah karena punggung tangan Hamkan tadi bergesekan dengan bagian....
“Catton candy,” komentar Hamkan membuat Anha bersemu. Dia memang sedang mengenakan lingerie berwarna soft pink.
Awalnya Anha ingin mengenakan lingerie berwarna merah marun, tapi tidak jadi karena Anha benci sekali dengan lingerie berwarna merah—hal itu mengingatkannya dengan malam pertamanya dengan si Ikram sialan itu.
Hamkan sudah kehausan dan menahan semua ini bertahun-tahun untuk istri sahnya kelak.
“Akh Hamkan!” teriak Anha ketika tanpa terduga Hamkan merobek lingerie pink itu yang menghiasi tubuh indah Anha itu.
Hamkan mencengkeram tangan Anha ke atas. Ada sensasi tersendiri ketika Anha diperlakukan kasar ketika bercinta seperti ini.
“Hamkan, pelan-pelan,” kata Anha ditengah bercinta sambil menggigit kecil pundak suaminya.
Mendengar hal itu Hamkan menurunkan ritmenya dan menatap kedua bola mata Anha dalam-dalam. Menyatukan keningnya dengan kening Anha.
"Aku cinta kamu," ucap Hamkan dengan parau dan mata sayunya yang tampak indah berkabut.
"A-aku juga cinta sama kam--" Anha tersentak ketika tiba-tiba Hamkan merubah ritmenya menjadi kasar. Hamkan tersenyum miring melihat wajah Anha memerah terbakar gairah.
Anha benci lelaki ini! Dia menaikkan ritme sesuka hati. Kadang sangat lambat seolah membuatnya memohon untuk lebih cepat lagi.
Hamkan seolah menumpahkan semua geloranya yang sejak dulu ditahan untuk pasangan halalnya.
Sejujurnya Anha sudah pernah bercinta dengan banyak lelaki, tapi tetap saja Hamkan yang memabukkan.
Tiba-tiba Hamkan membalik tubuhnya dan menghentaknya dengan kasar lagi. Kemudian tiba-tiba berubah menjadi pelan.
“Aku benci kamu,” kata Anha sambil mendesah tersiksa.
Hamkan tersenyum sambil mengisap pundak Anha yang terbuka. Meninggalkan cupangan di sana.
Malam ini Anha kelelahan melayani suaminya yang panas itu. Mereka berdua baru benar benar tidur hampir menjelang subuh tiba.
__ADS_1
***
Anha mengerjab, matanya menyipit ketika menyesuaikan dengan cahaya sinar matahari masuk di antara celah-celah jendela kamar mengenai wajahnya.
Apakah ini sudah pagi? Tangan Anha bergerak meraba ke samping untuk mencari suaminya yang tidur di sebelahnya.
Namun kantuk Anha seketika hilang ketika ternyata Hamkan tidak ada di sana!
Mata bulat cokelat itu langsung terbuka dan air mukanya berubah menjadi pias.
Kemana perginya Hamkan?
Anha menggigit bibir bawahnya kuat-kuat seolah merasa kehilangan.
Apa jangan-jangan Hamkan pergi meninggalkannya karena kecewa seperti yang dulu dilakukan oleh Ikram kepadanya? Tidak mungkin. Tidak.
Bibir Anha bergetar, matanya terasa panas. Apa jangan-jangan Hamkan jijik kepadanya setelah malam pertama kemarin?
Anha meraih piyamanya dan mengenakannya. Ia kemudian bangkit bangun dan kakinya menapak dinginnya lantai
“Aduh,” kata Anha sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit.
Sial! Kemarin malam Hamkan benar-benar panas.
Hanya dengan mengingatnya ulang saja sudah berhasil membuat pipi Anha menghangat.
Anha menggelengkan kepala, mengusir pikiran mesumnya sendiri. Yang terpenting sekarang adalah menemukan di mana Hamkan.
“Hamkan!” panggil Anha sambil berjalan ke arah kamar mandi. Namun ternyata isinya kosong. Di mana Hamkan?
Anha mulai menangis. Anha kira Hamkan mau menerima dirinya dengan sepenuh hati.
“Hamkan!” panggil Anha untuk kesekian kalinya, namun tak ada jawaban.
Anha kalut, dia keluar dari kamar sambil menangis dan memanggil nama Hamkan lagi dan lagi.
“Hamkan!” ulangnya untuk ke sekian kali.
Hamkan yang ternyata dari tadi sedang membantu mamanya masak di dapur sambil mengenakan apron itu pun menengok ke arah belakang dan mendapati istrinya yang memanggilnya sambil menangis terisak.
Hamkan mengeryit. Anha kenapa? Apa dia mimpi buruk?
"Kenapa, An?"
Seketika Anha memeluknya dan menangis di pelukan Hamkan—lupa jika ada orang lain juga di sini dan di ruang makan.
“Hamkan. Aku pikir kamu ninggalin aku."
Anha menangis terisak di dekapan Hamkan suaminya. Hamkan tersenyum sambil mengusap kepala Anha penuh cinta.
“Aku nggak bakalan ninggalin kamu, kok, Sayang.”
“Cie-cie pengantin baru pamer kemesraan,” ledek Jeng Asih sambil terkikik geli.
Setelah sadar Anha melepaskan pelukan dari Hamkan dengan wajah yang memerah karena malu.
“Pengantin baru bangunnya kesiangan banget sampe jam sembilan. Kayaknya semalem kecapekan, Jeng,” tambah mamanya semakin mengejek Anha. Merah sudah wajah Anha.
“Mama jangan ngejek, ih. Anha malu tau!” teriak Anha membuat semua orang di sana tertawa.
TAMAT
__ADS_1
Serius tamat, kok. Mungkin tinggal 2 bab lagi bonus chaptersnya yang soal baby twin sama ******* hahahaha.