
Di dalam mobil, ketika mengantarkan Anha pulang....
Kini keduanya masih sama-sama saling diam. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Anha.
Hamkan melirik sejenak wanita yang duduk di kursi sebelahnya itu. Nampak saat ini Anha sedang menatap ke arah luar jendela dalam diam. Menatap gedung-gedung yang menjulang tinggi di luar sana.
Untuk mengurangi kecanggungan antara mereka. Hamkan menyalakan audio. Tapi sialanya yang keluar adalah lagu Bentuk Cinta yang dibawakan oleh band ECLAT Story. Hamkan meringis. Sial, lagu seceria itu benar-benar berbadning terbalik dengan suramnya suasana di mobil ini. Dengan kesal Hamakn mematikan audio tersebut.
“Kamu marah, ya, sama aku?” tanya Hamkan sambil masih fokus menyetir mobil. Satu blok lagi maka mereka akan sampai.
“Nggak, kok. Aku cuma nggak enak badan aja.”
Setelah itu, Anha mengucapkan terima kasih karena sudah diantar pulang. Mereka pun berisah. Hamkan hanya menatap punggung wanita tersebut dari kejauhan dan Anha semakin lama semakin menjauh, hilang di balik pintu rumah yang dibukanya.
***
“Udah pulang, An? Gimana tadi siang sama Hamkan?” tanya Mama dengan penuh semangat. Namun Anha tidak menjawabnya sama sekali. Mamanya mengernyit melihat Anha yang menampilkan wajah lesu. Melihat hal tersebut mama menebak-nebak dalam hati sepertinya rencana membawakan bekal untuk Hamkan tidak berjalan dengan lancar.
Melihat Anha yang sepertinya sedang tidak bersemangat membuat mamanya pun mengurungkan niatannya untuk mengitrogasi Anha.
Anha memasuki kamarnya. Menjatuhkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang empuk.
Ah, nyamannya.
__ADS_1
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Menampilkan satu notifikasi masuk di sana. Anha menggulir lockscreen pada ponsel pintarnya dan membaca isi dari pesan tersebut dengan saksama.
Awalnya Anha berpikir jika pesan tersebut mungkin adalah pesan dari Hamkan. Namun ternyata ia salah. Itu adalah pesan dari temannya, Lidya.
Lidya: An. Janlan, yuk. Biar kamu nggak stress, ketik Lidya pada pesan whatsappnya.
Jari-jari lentik Anha bergerak untuk membalasnya
Anha: Nggak, Ah. Lagi males aku, Lid. Maaf, ya. Kapan-kapan aja waktu aku free. InsyaAllah.
Lidya: Yah... oke, deh, kalau gitu.
Anha menguncir rambutnya dengan asal menggunakan karet gelang yang berada di atas nakas karena merasa gerah seharian rambutnya ia gerai terus. Sekalian habis ini dia akan mandi sore.
Ternyata Lidya mengiriminya pesan lagi.
Anha meringis ketika membaca pesan tersebut. Jangan-jangan lelaki yang hendak Lidya kenalkan kepadanya itu adalah om-om hidung belang langganannnya Lidya lagi. Anha menggelengkan kepala, bergidik ngeri sendiri. Karena pada kenyataannya dulu Lidya pernah mengenalkannya dengan om-om yang hampir saja memperkosanya.
Anha: Nggak, deh, Lid. Makasih.
Lidya: Loh kenapa nggak mau, An? Dia itu pejabat, loh, An. Pejabat, kan, tunjangannya banyak. Bisa hidup enak kamu.
Anha masih menggelengkan kepalanya. Mengetik ulang tetap pada pendiriannya jika tidak mau.
__ADS_1
Lidya dari seberang sana membalas pesan tersebut dengan jengkel. Anha ini mentang-mentang cantik jadi sombong sekali sok-sokan tidak mau. Kalau dia jadi Anha, jelas Lidya mau-mau saja. Sayangnya om tersebut tidak mau dengan janda dengan anak dua seperti Lidya ini.
Lidya: Terus maumu itu cowok yang kayak gimana, sih, An? Barang bagus aja nggak mau. Terlalu pemilih kamu, tuh. Bisa-bisa kamu nggak laku-laku, loh, dan jadi perawan tua!
Anha hanya terdiam membacanya. Tidak berhasrat sama sekali untuk membalas pesan dari Lidya tersebut.
Entah mengapa Anha teringat kata-kata itu lagi.
‘Anha... suami idamanmu itu kayak apa?’
‘Terus maumu itu cowok yang kayak gimana, sih, An?’
Anha menghela napas. Lelaki yang dia inginkan? Entahlah, Anha bingung hendak menjawab apa.
Bukanya terlalu pemilih seperti yang Lidya ucapkan tadi. Tapi sebenarnya saat ini Anha masih takut untuk membuka hati.
Tangan Anha tergerak menyentuh dadanya sendiri yang terasa ngilu. Saat ini Anha tidak berharap berlebihan karena Anha tahu diri kalau dia saja buruk seperti ini.
Bahkan mungkin ialah yang sebenarnya tidak pantas untuk siapa pun.
Anha menekuk kakinya yang semula terjutai menapaki lantai. Ia menopang dagunya sendiri di atas lututnya.
Anha tidak muluk-muluk, dia hanya berharap kelak akan mendapatkan calon suami yang baik. Yang bisa menerimanya apa adanya, meskipun itu semua terdengar sangat mustahil.
__ADS_1
Calon suami yang semoga saja bisa mengajarinya menjadi wanita yang lebih baik lagi. Tampan dan kaya di mata Anha hanyalah bonus semata.
***