Diceraikan Di Malam Pertama

Diceraikan Di Malam Pertama
Jiwa Persaingan


__ADS_3

Bahkan lihatlah. Sekretarisnya itu saat ini sedang berdiri mematung sambil curi-curi pandang kepada Hamkan.


Anha ini sepak terjangnya sudah lama dalam hal menggoda lelaki. Semua lelaki yang diincarnya selalu menjadi kekasihnya. Jadi dia tahu bagaimana gerak-gerik seorang wanita yang saat ini sedang mencari perhatian dari seorang laki-laki seperti si sekretaris yang entah siapa namanya itu.


Wanita ini sepertinya hendak mengajaknya bertengkar, ya?


Sebenarnya Anha ingin menyindir cara berpakaian sekrekatris Hamkan itu yang terlihat begitu seksi. Tapi Anha mengurungkan niatannya tersebut. Dia takut apabila Hamkan malahan berpikiran macam-macam ketika mendengarnya. Lagian Anha tidak memiliki hak akan hal itu.


Tapi sumpah, melihat wanita itu berpakaian saja tidak nyaman. Kemeja kerja dengan dua kancing yang tidak ditutup sama sekali agar memperlihatkan belahannya. Rok span ketat berwarna hitam yang tingginya di atas lutut dengan stocking warna kulit menghiasi kaki jenjangnya.


‘Punyaku lebih besar dan aku tidak pamer seperti itu, ya!’ kata gadis batin Anha mengajak perang. Karenga kesal sendiri Anha hanya mampu membuang muka dan bersedekap dada.


Hamkan melirik sekilas ke arah Anha yang menatap sengit ke arah sekretaris pribadinya itu. Kemudian Hamkan berganti melirik sekretarisnya yang saat ini masih berdiri dan tersenyum kepadanya.


Kini wajah Anha masam. Kelihatan sekali Anha tidak menyukai Donna dari caranya melihat. Hamkan yang mengetahui hal tersebut hanya menahan tawa geli dalam hati. Kenapa juga Anha terlihat sangat kesal seperti itu.

__ADS_1


Apa jangan-jangan Anha....


Anha masih membuang muka, malas melihat wanita-sok-seksi itu. Kini ia memilih untuk mengeluarkan kotak bekal yang diberikan mamanya tadi dari dalam tote bagnya yang berwarna hitam.


“Hamkan. Mama nyuruh aku ke sini buat nganterin bekal buat kamu. Kamu udah makan siang belum?” tanya Anha sambil menampilkan senyuman memesona sebaik mungkin.


Pipi Hamkan memerah melihat senyum dan perhatian dari Anha itu.


“Yuk, makan BARENG SAMA AKU,” kata Anha sambil memberikan penekanan di bagian belakang ucapannya tersebut. Menyindir halus sekretaris Hamkan yang tak tahu malu.


“Oh, oke.”


Haha. Lihatlah, sekarang sekretaris Hamkan itu menampilkan wajah masam. Anha bahagia sekali dan merasa menang. Senyum miring terukir di bibirnya. Wanita ini tidak tahu, ya, tentang bagaimana caranya menyenangkan hati seorang pria? Tentu saja cara menyenangkan pria adalah dari perut dan dari bawah perutnya. Body seksi hanyalah trik ke sekian.


“Kalau tidak ada yang bisa saya bantu lagi. Saya keluar dulu, Pak,” kata sekretaris tersebut sambil memainkan jemarinya yang bertautan dengan wajah kesal.

__ADS_1


‘Ya, ya. Sana pergilah. Memangnya kau akan makan siang bersama Hamkan, hah? Menyuapinya begitu?’ kata gadis batin Anha sambil mengibaskan tangannya mengusir sekretaris Hamkan tersebut.


“Oh iya. Tolong buatkan dua kopi untuk saya dan tamu saya, ya.”


Belum sempat sekretaris Hamkan itu menjawab. Anha sudah menyela terlebih dahulu.


“Aku nggak suka kopi!”


‘Huh! Pergi saja tidak usah buatkan kopi. Penganggu!’ tambah gadis batin Anha berbicara. Kenapa juga hari ini jiwa persaingan Anha sangat tinggi. Hamkan menahan geli melihatnya. Kemudian Hamkan berdehem sambil mengatakan....


“Nggak jadi, deh. Kamu silakan keluar saja. Nanti kalau ada hal penting akan saya panggil lagi,” kata Hamkan tanpa menatapnya sama sekali dan meletakkan jasnya ke sandaran kursi kerjanya.


Anha tersenyum senang mendengarnya. Sebelum sekretaris itu keluar dari sini, sekretaris itu dan dirinya sempat bersitatap sejenak seperti dua singa betina yang hendak perang saja.


***

__ADS_1


__ADS_2