
Sejenak Anha menatap ke arah luar kaca mobil. Mengamati suasana di luar di mana banyak sekali anak kecil yang tertawa dan bermain di sana. Benar-benar ramai sekali.
Di luar area pasar malam Anha juga melihat banyak sekali penjual jajanan yang berjejer rapi menjajakan makanan yang terlihat sangat enak.
Anha tersenyum. Sepertinya ini tidak buruk! Malahan terlihat sangat seru.
Anha melepas seat bealt-nya, kemudian membuka pintu mobil Hamkan.
“Hamkan! Kok, bengong? Ayo buruan turun,” kata Anha membuyarkan lamunan Hamkan.
“Eh? Kamu seriu—”
Belum sempat Hamkan menyelesaikan ucapannya namun Anha sudah turun dari mobil sambil menampilkan ekspresi berbinar.
Hamkan menghela napas, syukurlah dia suka.
Mereka berdua berjalan beriringan. Sebenarnya ada wahana bianglala di pasar malam ini, dan Anha ingin sekali menaikinya.
Konon, mitosnya jika seseorang naik bianglala dan mengucapkan keinginannya ketika posisi bianglala berada di bagian paling atas, maka keinginan orang tersebut akan terkabul. Tapi itu hanya mitos, sih.
__ADS_1
Tapi Anha sadar diri. Bianglala itu sangat kecil khusus untuk dinaiki anak kecil, tak sebesar bianglala yang berada di dufan.
Hamkan yang mengetahui isi pikiran Anha hanya terkekeh geli. Melihat bianglala mini saja Anha sampai terlihat seperti anak kecil yang liurnya mau menetes karena saking inginnya.
Hamkan mengusap pucuk kepala Anha dengan gemas. Itu semua seolah refleks dari alam bawah sadar.
“Dasar masa kecil kurang bahagia,” ledek Hamkan kepadanya. Anha hanya memanyunkan bibirnya karena tidak keturutan.
Besok kalau ada waktu Hamkan akan mengajak Anha untuk naik ke bianglala sungguhan.
“Apa kamu mau mandi bola aja di sana,” kata Hamkan sambil menujuk wahana mandi bola. Di mana banyak anak-anak yang saling berlari dan bermain bola-bola plastik kecil berwarna kuning.
“Nggak bakal tenggelem, kok, kalau kamu mau mandi bola. Nggak basah lagi. Kalau seumpamanya kamu tenggelem, nanti aku bantuin,” ledek Hamkan sambil terkekeh geli.
Dasar orang ini! Luarannya saja sok-sokan dingin. Tapi ternyata punya sisi tengil juga.
Anha cemberut dan menyilangkan tangan di depan dada. Tapi malahan membuat Hamkan semakin gemas saja terhadapnya.
“Mau cotton candy?” kata Hamkan mencoba menghibur Anha yang mulai merajuk. Anha menatap ke arah tukang penjual jajanan yang menjual cotton candy lucu yang dibungkus plastik mengembung seperti guling kecil saja.
__ADS_1
“Mau!” tanpa pikir panjang Anha langsung mengatakan hal tersebut membuat Hamkan terkekeh. Anha ternyata memiliki sisi imut juga.
Hari ini mereka saling mengerti beberapa sifat satu dengan yang lainnya. Hubungan mereka terasa semakin akrab. Membuat Anha semakin ragu. Apakah dia benar-benar bisa memangkas rasa yang terus tumbuh dan tak bisa terkendali ini?
Hamkan membelikan cotton candy berwarna pink untuk Anha, senada dengan warna pakaian yang wanita itu kenakan. Dan satunya lagi berwarna biru muda untuk dirinya sendiri.
“Duduk di sana bentar, yuk. Masih jam setengah sembilan, kok. Habis ngabisin cotton candy ini nanti kita pulang,” ucap Hamkan panjang lebar sambil menatap jam tangan di pergelangan tangannya.
Anha mengangguk sambil sudah mencomot cotton candy-nya karena sudah tak sabaran.
“Awas!” Hamkan menarik pinggang Anha karena dia hampir tertabrak anak-anak yang sedang berkejar-kejaran di belakangnya.
Kini posisi Anha sendiri dirangkul oleh Hamkan pada pinggangnnya, jarak antar tubuhnya dengan tubuh Hamkan benar-benar sangat dekat membuat Anha hilang kesadarannya hanya mampu mengerjab sejenak.
Mata bertemu dengan mata. Hamkan menelan ludahnya melihat Anha dari jarak sedekat ini. Pipi Anha terasa menghangat.
Setelah kesadaran Anha pulih. Dia mendorong tubuh Hamkan. Mereka memalingkan wajah antar satu dengan yang lainnya dan merasa malu-malu dengan jantung yang berdetak tak karuan.
.
__ADS_1
.
.