
Pagi ini Hamkan membawa keluarga kecilnya untuk pergi jalan-jalan keluar sebentar. Hitung-hitung refreshing keluarga dari penatnya pekerjaan yang tak ada habisnya.
Hamkan memang sangat sibuk akhir-akhir ini, apalagi setelah menikah dengan Anha dan memiliki tiga anak yang lucu-lucu entah mengapa rasanya dia banyak sekali mendapatkan proyek property yang harus dikerjakan.
Mungkin ini semua rezekinya si kecil dan doa istri solehah yang berada di sampingnya ini.
“Nanti aku tinggal kamu bentar, ya, sama anak-anak. Soalnya aku mau meeting sama klienku di dekat sini,” kata Hamkan kepada istrinya yang saat ini sedang mamangku si kecil Kalila.
Sesekali tangan Hamkan yang terasa gemas itu bergerak menyentuh pipi tembam putri kecilnya.
Anha mengangguk sambil menghibur Kalila yang tertawa di pangkuannya. Kalila menjulurkan tangan mungilnya untuk menggapai wajah Uminya.
Sedangkan kedua kakak Kalila duduk di belakang bersama pembantu mereka dengan tenang sambil menonton video Nusa di tablet-nya.
***
Sampailah mereka di jantung kota Semarang. Hamkan memarkirkan sejenak mobilnya di parkiran masjid Baiturrahman Semarang.
Memang rencananya hari Jumat ini Hamkan akan bertemu dengan kliennya, sedangkan Anha akan mengajak anak-anak bermain di lapangan simpang lima semarang sambil menunggu Hamkan menyelesaikan pekerjaannya.
Dan yang terakhir, mungkin mereka akan jalan-jalan ke Mall menemani buah hatinya untuk bermain.
Tempat ini cukup cocok sekali untuk bersantai dengan keluarga. Nanti Hamkan juga bisa shalat jumat bersama si kecil Ais dan Aim di masjid.
Anha tersenyum sambil mendorong stroller bayi bersama dengan Hamkan. Udara di sini masih cukup enak untuk dihirup lantaran mereka pergi ketika masih pagi.
Kalau sudah agak siangan mungkin suasana di sini berganti sangat panas bukan main.
Sejauh mata Anha memandang, tampak banyak juga beberapa keluarga dan anak muda yang sedang duduk-duduk santai sambil ber-selfie ria di kawasan lapangan simpang lima ini padahal, kan, ini belum termasuk hari weekend.
“Kamu nggak buruan ke tempatnya temenmu?” tanya Anha kepada Hamkan yang berdiri di sampingnya sambil membantu mendorong stroller Kalila.
Alih-alih menjawab pertanyaan Anha, Hamkan malahan tiba-tiba mencium pelipis istrinya membuat Anha tersipu malu. Pipinya menampilkan semburat merah. Apalagi pembantunya yang ikut dengan mereka juga menyaksikan apa yang barusan dilakukan oleh Hamkan.
Anha mencibut pelan pinggang suaminya untuk memberi kode ‘jangan kayak itu, malu’ membuat Hamkan terkekeh geli.
“Meeting-ku nanti, kok. Kisaran jam sepuluh sampai shalat Jumatan,” jawab Hamkan sambil menatap jam di tangan kirinya yang saat ini masih menunjukkan pukul sembilan pagi.
“Umi… nanti kita ke Mall, ya, beyiin mainan buat Ais,” kata Ais merayu Uminya sambil menarik-narik gamis Anha.
“Iya. Bener itu Umi. Nanti ajak kita ke timjon juga, ya, Umi.”
Anha menahan senyumnya ketika melihat kedua anaknya yang menggemaskan itu sedang berusaha merayunya.
Memang lapangan simpang lima dekat sekali dengan Mall Ciputra yang berada di seberang sana, tinggal jalan kaki saja sudah sampai.
“Oke, nanti kita ke timezone, ya, Sayang. Tapi Ais sama Aim harus janji sama Umi kalau kalian jangan nakal dan mainnya jangan jauh-jauh, ya, karena Umi juga bawa Dek Kalila.”
Kedua anak kembarnya itu mengangguk patuh dan mengatakan ‘ok’ dengan bersamaan.
Mengemong tiga anak sekaligus bukanlah perkara yang mudah. Sebenarnya melelahkan, namun Anha tidak mengeluh sama sekali karena menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang sangat membahagiakan.
Baru juga si kembar mengatakan ‘ok’ namun lihatlah sekarang mereka sudah berlari cepat sekali entah ke mana membuat kepala Anha terasa mau pecah saja.
Kalau sudah begini tinggallah Yu Ning—pembantu rumah tangga mereka mengejar dua monster nakal itu.
“Ais, Aim… larinya jangan jauh-jauh, Nak. Ya, Allah, gusti anakku!” teriak Anha dari kejauhan sambil melihat kedua anaknya berlari-larian hendak mendekati anak orang lain yang saat ini sedang bermain bola, sedangkan Yu Ning berhasil mengejar mereka meskipun kuwalahan.
Hamkan terkekeh melihat kenakalan kedua anaknya. Mereka mirip sekali seperti Abatinya ketika masih kecil dulu.
Hamkan mencubit pipi tembam Uminya Uwais dan Ibrahim yang cemberut kesal.
“Biarinlah mereka main. Nggak bakal kenapa-napa, kok. Kamu tenang saja.”
Anha menatap tajam ke suaminya. Tapi bagaimana jika mereka jatuh, bagaimana jika mereka hilang.
Ah, hanya seorang ibulah yang selalu overprotectif kepada anaknya seperti ini. Bapaknya memang tahu apa selain tahu tutorial membuatnya saja.
Dengan wajah yang masih cemberut Anha mengambil Kalila dari strollernya dan menggendongnya untuk berjemur di matahari pagi.
“Kakak kamu itu, ya. Nakalnya bukan main,” kata Anha kepada putri kecilnya. Dia sedang malas berbicara dengan suaminya yang saat ini menguluum semnyuman itu.
Seolah mengerti sedang diajak bicara. Kalila tersenyum sambil menggeliat dari gendongan Anha. Hamkan menciumi jari kecil putrinya yang bergerak-gerak untuk menggapai.
“Makannya Dek Kalila cepet gede, ya. Biar bisa main kejar-kejaran sama Kak Ais dan Kak Aim,” kata Hamkan.
"Nggak boleh, Kalila nggak boleh main kejar-kejaran. Bolehnya main masak-masakan bareng Umi dan shoping manja sama Umi," kata Anha sambil mencium pipi tembam putri cantiknya.
Hamkan hanya menggeleng-gelengkan kepala. Terserahlah. Keluarga kecilnya ini benar-benar terasa sempurna.
***
Ketika Anha sedang bersantai sambil menepuk-nepuk dengan pelan bokong Kalila yangs sedang digendongnya. Seseorang memperhatikan mereka dari kejauhan. Ia mengerjabkan kedua matanya untuk memastikan apakah yang saat ini sedang dilihatnya benar-benar Anha atau bukan.
“Ikram. Ikram. Tunggu... Coba tepiin mobilnya sebentar.”
Mama Erin menepuk pundak anaknya yang sedang menyetir. Meminta supaya Ikram menepikan mobilnya sejenak.
Ikram berdecak. Kenapa juga Mamanya tiba-tiba meminta dirinya untuk menepikan mobilnya. Mana bisa berhenti di bundaran simpang lima! Yang ada ditabrak pengendara lain dari belakang.
Akhirnya Ikram menepikan mobilnya di sisi kiri jalan—bukan pada jalan utama.
“Ada apa, sih, Ma?” tanya Ikram namun mamanya itu tidak menjawab.
Dengan tergopoh-gopoh mamanya membuka pintu mobil tanpa memedulikan putranya, ia seperti tergesa-gesa.
Baru kali ini Ikram melihat mamanya bertingkah seaneh itu.
Tante Erin melambai tangan untuk menyebrang jalanan yang padat pengendara.
Ikram hanya mengamatinya saja dari dalam mobil tanpa ada hasrat untuk mengejar.
Lihatlah apa yang kali ini akan mamanya lakukan. Kalau situasinya sudah kacau, barulah Ikram akan turun.
Dengan perlahan Tante Erin berjalan mendekati pasangan suami istri yang sedang tersenyum bahagia dengan anak yang sedang digendongnya itu.
Tante Erin diam-diam mendekat. Tubuh Tante Erin gemetar. Langkah kakinya seolah berubah menjadi berat, susah sekali untuk digerakkan. Tante Erin mengulurkan tangannya untuk menepuk pundak wanita itu.
“A-Anha…,” ucap Tante Erin dengan perlahan. Takut apabila dia salah orang.
Namun ketika wanita tersebut berbalik badan. Ternyata dia benar-benar Anha membuat Tante Erin hanya mampu menutup mulutnya tidak percaya.
Pantas saja tadi dia merasa tidak mengenalinya karena Anha yang sekarang sudah mengenakan hijab dan terusan baju gamis--tapi tetap terlihat cantik sekali.
__ADS_1
Sama seperti Tante Erin yang terkejut. Anha pun juga demikian. Kenapa Tante Erin bisa berada di sini?
“Anha. Kamu apa kabar?” tanya Tante Erin sambil mengulurkan tangannya untuk menyentuh lengan Anha.
Kini wajah Anha berubah menjadi pucat pasi. Ia hanya mampu mundur satu langkah dari hadapan tante Erin seolah Tante Erin adalah sebuah ancaman.
Kenapa Tante Erin datang lagi ke kehidupannya yang sudah bahagia ini?
Apakah dia hendak mengacaukan kehidupannya lagi seperti apa yang dilakukan anaknya terhadap dirinya?
Apa belum puas dulu dia menyiknya Anha dan putranya juga tak luput selalu merecoki kehidupannya?
Hamkan mengeryit melihat istrinya yang memasang sikap seperti itu.
Kini terlihat Anha memeluk putrinya dengan erat seolah ketakutan dengan wanita paruh baya yang sedang berdiri di depan mereka ini.
Tidak seperti biasanya Anha bersikap seperti itu kepada orang lain.
Kini Ibu-ibu paruh baya di depannya itu--yang Hamkan sendiri belum mengetahui siapa namanya-- hanya mampu memasang wajah sedih atas penolakan halus yang dilakukan Anha.
Hamkan yang merasa tidak enak pun menyentuh lengan istinya dengan lembut.
“Ada apa, Anha?” tanya Hamkan dengan saksama.
Anha hanya menggelengkan kepala dan menatap wajah cantik Kalila.
“Dia mantan Ibu mertua aku, Mas.”
Hamkan terdiam. Kini dia sudah mulai memahami situasi yang saat ini sedang terjadi. Pantas saja Anha bertingkah seperti itu.
Lengang di antara mereka sejenak. Kini Tante Erinlah yang pertama kali memulai mengangkat suara.
“Anha. Tante minta maaf, ya, atas apa yang dulu udah Tante lakuin ke kamu. Tante bener-bener minta maaf.”
Anha mengangkat pandangannya dan mendapati Tante Erin yang saat ini sedang menangis.
Sepertinya dia benar-benar menyesali perbuatannya dan tangisannya itu seperti tidak dibuat-buat.
Hamkan sendiri bingung harus berbuat apa.
“Anha... Kamu mau, kan, maafin Tante ini?”
Anha menatap wajah suminya yang berdiri di sampingnya. Hamkan tersenyum tipis dan menganggukkan kepala.
Tangannya bergerak mengusap pelan lengan istrinya dari belakang. Dia tidak mau istrinya menjadi orang yang pendendam dan tidak mau melupakan masa lalunya.
Anha mengangguk setelah membaca kode dari suaminya itu.
“Anha udah maafin Tante, kok, sejak dulu,” ucap Anha perlahan. Tante Erin mengusap air matanya menggunakan sapu tangannya.
“I-itu anak kamu?” tanya Tante Erin ketika melihat bayi lucu yang sedang digendongan Anha.
Dia tidak percaya jika Anha sudah memiliki anak dan bahagia bersama suaminya yang sekarang, padahal Ikram saja sampai sekarang belum dikaruniai anak sama sekali dari pernikahannya dengan Dewi karena Dewi sendiri mandul.
Apalagi sekarang usia Dewi semakin bertambah saja.
“Anha... Boleh nggak Tante gendong anak kamu? Tante pengin banget ngerasain gimana rasanya gendong anak kecil. Tante mohon,” kata Tante Erin sambil mengulurkan tangannya seolah ingin menggendong Kalila.
Apalagi Anha ingat betul dulu Tante Erin sangat tidak suka dengan bayi perempuan.
Tante Erin hanya mengingkan bayi laki-laki saja karena dulu ketika Anha masih menikah dengan Ikram, Anha dipaksa untuk hamil anak laki-laki supaya kelak anaknya bisa meneruskan perusahaannya Ikram.
Bagaimana jika nanti Tante Erin akan menjatuhkan Kalila jika Anha memberikan Kalila kepadanya?
Lihatlah, bahkan sekarang Anha sudah separanoid itu kepada Tante Erin. Anha menatap ke arah suaminya lagi. Seolah meminta jawaban.
“Nggak papa, kok,” kata Hamkan berusaha menyakinkan istrinya. Akhirnya dengan berat hati Anha mau memberikan Kalila untuk digendong oleh Tante Erin meskipun hatinya sangat waswas.
Apabila Tante Erin sampai berbuat macam-macam kepada bayinya maka seumur hidupnya Anha tidak akan memaafkan Tante Erin sama sekali.
Air mata Tante Erin menitik lagi, jatuh ke pipi. Tante Erin mengusap air matanya. Ternyata beginilah rasanya menggendong anak kecil yang dari dulu sangat ingin ia rasakan.
Tante Erin duduk di kursi dan mengamati wajah mungil Kalila yang sedang tersenyum kepadanya.
Sedangkan Anha yang masih berdiri dengan Hamkan kini masih merasa waswas sampai tanpa sadar Anha meremaas pelan lengan suaminya.
“Anak kamu cantik banget, ya, Anha. Mirip banget sama kamu,” kata Tante Erin sambil menyentuh hidung mungil si kecil Kalila.
Eh, benarkah tadi baru saja Tante Erin memuji Kalila—dan memuji dirinya juga? Apakah Anha tidak salah dengar? Seumur hidup tidak pernah Anha mendengar pujian dari Tante Erin karena yang selama ini dia dengar hanyalah makian yang keluar dengan lancar dari mulut Tante Erin untuknya.
“Boleh nggak Tante cium anak kamu? Dari dulu Tante pengin banget punya cucu, Anha. Tapi Dewi sampai sekarang nggak bisa hamil-hamil juga.”
Tante Erin meminta persetujuan terlebih dahulu kepada Anha. Karena Tante Erin tahu, terkadang ada orang tua yang tidak suka jika anak-anak mereka dicubit pipinya ataupun dicium oleh orang asing ketika sedang berada di tempat umum.
Dengan perlahan Anha menganggukkan kepalanya. Tante Erin nampak mencium pipi tembam Kalila sambil menangis.
“Aneh, ya. Dewi nggak bisa hamil sama sekali. Sedangkan Ikram sampai sekarang nggak tega nyeraiin dia. Tapi lucunya malahan kamu sekarang udah punya anak padahal dulu Tante pernah ngatain kamu man—” ucapan Tante Erin tehenti ketika tiba-tiba ada dua anak kecil yang berlari ke arah mereka.
Anha tersenyum dan mengulurkan tangannya sehingga kedua jagoannya itu berlari dengan ngos-ngosan memeluk Uminya dengan sayang.
“Aduh Ais capek,” kata Ais sambil tertawa. Anak-anak memang tidak ada capeknya jika bermain.
Anha terkekeh melihat pembantunya yang mengejar dari belakang sampai ikut ngos-ngosan karena ulah si kembar ini.
“Makanya jangan lari-lari, Nak,” ucap Anha sambil mengusap kening putranya yang berkeringat.
Aim menengok ke belakang dan menunjuk ke arah Tante Erin sambil berucap....
“Umi Umi… dia ciapah? Kenapa Dek Kayiya sama dia?” kata Aim dengan polosnya.
Anha tersenyum dan menjelaskan. “Itu Nini Erin sayang.”
Kedua putanya itu mengeryit dan saling tatap antar satu dengan lainnya.
“Bukannya Nini Aim cuma Nini Asih dan Nini Malni, doang, ya? Kok, ada Nini Nini yang lain lagi Umi?” tanya Aim dengan polosnya.
Tante Erin hanya mampu tersenyum getir mendengarnya.
Ternyata Anha dikaruniai dua anak kembar laki-laki dan satu anak perempuan yang sangat cantik digendongannya.
Tante Erin memberikan Kalila kembali kepada suami Anha.
Kini Anha bingung bagaimana caranya menjelaskannya kepada dua putranya itu karena mereka masih sangat kecil dan polos.
__ADS_1
“Sayang. Semua nenek yang usianya kayak Nini Asih dan Nini Marni itu juga dipanggilnya Nini. Sekarang apa kalian paham?”
“Oh, gitu, ya, Umi?”
Kedua putranya itu ber ‘oh’ ria sambil menganggukkan kepala bersamaan.
“Iya. Sekarang kalian berdua salim, ya, sama Nini Erin,” ucap Anha sambil tersenyum lembut kepada mereka.
Ais dan Aim mengangguk dan berjalan mendekati Tante Erin untuk mencium punggung tangannya.
Anha benar-benar bisa mendidik anak-anaknya dengan baik.
“Nama aku Iblahim, Nini. Dipanggilnya Aim,” kata Aim dengan sangat lucu dan cadel.
“Kalau aku Uwais, Nini. Dipanggilnya Ais. Nama nini ciapa?”
“Nama Nini, Nini Erin Sayang,” kata Tante Erin mengusap air matanya yang menetes.
“Loh, kok, Nini nangis. Cup cup... jangan nangis, ya, Nini,” ucap Ais sambil menepuk-nepuk punggung tangan Tante Erin.
Tante Erin menciumi kedua pipi kedua anak lucu tersebut bergantian. Dia tidak kuasa untuk menahan tangisannya.
Mungkin ini semua adalah karma untuknya karena dulu dia telah memperlakukan Anha dengan buruk sehingga kini dia tidak dapat memiliki cucu sama sekali.
Bahkan hati kecil Tante Erin berandai….
Apakah jika dulu Ikram tidak bercerai dengan Anha maka mereka akan memiliki Anak seperti Anha sekarang?
Namun sekarang nasi sudah menjadi bubur.
“Nini jangan nangis, ya. Besok Nini main aja ke rumah Aim. Aim punya banyak, mainan, loh, di lumah. Semuanya yang beyiin Abatinya Aim,” kata Aim menyombongkan diri membuat Anha tersenyum gemas.
Tante Erin mengusap air matanya dan ikut tersenyum kepada si manis itu.
Mereka berdua benar-benar kembar dan sulit sekali untuk dibedakan.
Bedanya sepertinya si Ais lebih pendiam dan si Aim memiliki tahi lalat kecil di bawah mata kirinya.
“Iya Nini. Nanti Nini main, ya, ke ke rumah kita. Masakan Umi Ais juga enak banget, loh, Nini,” kata Uwais ikut menimpali.
Mama Erin tersenyum dan menganggukkan kepala. “Iya. Nanti kalau ada waktu Nini main, ya, ke rumah kalian berdua.” Ais dan Aim memeluk Tante Erin. Untuk sesaat, Tante Erin merasakan bagaimana pelukan dari anak kecil yang sudah dari dulu ia impikan.
Hamkan menatap jamnya kembali. Sudah mulai mendekati jam sepuluh pagi. Kurang beberapa menit lagi waktunya untuk bertemu dengan kliennya.
Bertepatan dengan itu, Tante Erin juga ikutan berpamitan untuk pulang.
“Hati-hati, ya, Nini.” Si kembar melambaikan tangan kepada Tante Erin melepas kepergiannya.
Dari kejauhan Ikram hanya mampu menyaksikan itu semua tanpa berani untuk mendekat karena dia malu atas semua perlakuannya kepada Anha selama ini.
Kini terlihat Anha semakin cantik saja meskipun sudah mengenakan hijab.
Benar kata orang, seorang istri akan terlihat cantik apabila diperlakukan oleh suaminya dengan baik.
Ikram menyesal. Harusnya dia yang di sana dan memeluk Anha seperti yang saat ini dilakukan suami Anha kepadanya.
Ikram mengembuskan napasnya perlahan dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil seolah bebannya banyak sekali.
Usahanya optiknya semakin lama malahan semakin tidak jelas arahnya.
Dia juga ingin memiliki anak tapi Dewi tidak bisa hamil. Mamanya sudah meminta Ikram untuk mencari istri baru saja naum Ikram masih belum tega untuk menceraikan Dewi.
Dewi hanya seperti orang yang tak kasat mata dikeluarganya.
Dia masih mencintai Anha.
Dia menyesal.
Sangat menyesal.
Namun dia tidak dapat berbuat apa-apa selain meratapi penyesalannya.
***
Udah tamat, yes. Kalau ada extra bab lagi setelah ini berarti itu bonus ketika author lagi senggang.
Pembacaku sayang... Aku mau curhat sedikit, nih….
Maaf, ya, akhir-akhir ini aku jarang update. Nggak tahu kenapa suasana hatiku akhir-akhir ini lagi nggak baik banget (ditambah kemarin tepar juga, haha) makanya aku nggak update.
Makasih udah mau nungguin cerita ini walau gajelas kapan updatenya.
Boleh nggak aku curhat sama kalian?
Sebenarnya aku, tuh, udah males banget gitu nulis di mangatoon karena kebijakan di mangatoon sendiri udah nggak jelas banget, haha (aku nggak mau ngejelasin lebih detail karena nggak baik juga, takut ditangkep satpol pp juga hihi. >.<)
Jadi wajar banget, kan, kalau banyak author kesayangan kalian pada pindah lapak atau pun hiatus. Ada juga yang ceritanya tiba-tiba ditamatin nggak jelas.
Aku sadar, aku di sini udah punya banyak pembaca yang sayang sama aku.
Terimakasih, ya, karena udah jadi alasan kenapa aku terus menulis di sini. Terimakasih karena udah mendukung aku sampai sejauh ini. Bahkan pada sabar dan nggak nagih-nagih update, kalian luar biasa T_T #nangissambilelapingus.
Aku nulis kayak gini bukan karena apa, kok. Nggak minta votes juga. Cuma mungkin butuh curhat dikit kali, ya. Jangan dikomen semangat, ya, Thor dll gitu, ya, karena aku baik-baik aja, kok.
Intinya aku nulis author notes sepanjang ini karena aku berterimakasih ke kalian karena kalian menjadi salah satu alasanku buat terus nulis meskipun kadang aku pengin menyerah dan hiatus saja. wkwk.
Harapanku kedepannya semoga kalian tetap setia baca ceritaku, ya, meskipun aku sadar ceritaku masih banyak kurangnya. Terimakasih atas segala hal yang nggak bisa aku tulisakan satu per satu di sini.
Aku janji bakalan terus menulis demi kalian semua. Semoga terus bertumbuh bersamaku.
Salam sayang,
Mayangsu.
"Makasih, ya, Aunty udah baca kisahnya Umi Aim. Jangan lupa juga baca kisahnya om Cean di lapaknya Tante Mayangsu, hehe. Judulnya: Dinikahi Berondong Kaya"
-Dari Aim yang celananya diplorotin si Badlun nakal! 😤
Netizen: Loh, Thor. Aisnya mana, dong?
Kunti: Ya, elah. Tinggal di copy paste aja ngapa.
__ADS_1