
***
Sejujurnya Hamkan bukanlah tipe lelaki yang suka berlama-lama dalam menjalin hubungan dengan seorang wanita seperti contohnya berpacaran terlebih dahulu sebelum menikah.
Hamkan ingin segera menikah saja. Lagi pula usianya sendiri saat ini memang sudah matang untuk menikah.
Teman-temannya sudah banyak yang menyusul terlebih dahulu. Tetapi Hamkan sadar betul, pernikahan bukanlah sebuah kompetisi lari di mana yang tercepatlah yang menang. Bukan! Menikah tidak sesederhana itu.
Sebenarnya banyak wanita yang mendekati Hamkan. Entah secara sembunyi-sembunyi atau pun secara blak-blakan. Namun Hamkan sendiri pura-pura mengabaikan mereka padahal mereka sudah memberi sinyal yang amat ketara.
Bukannya Hamkan tipe lelaki yang pemilih. Hamkan tidak pernah menuntut untuk mendapatkan kekasih yang sempurna ataupun yang selevel dengan dirinya.
Mungkin benar kata pepatah itu. Semakin cerdas seseorang maka mereka akan semakin sulit mendapatkan pasangan. Karena mereka cederung menseleksi dengan jeli untuk mendapatkan yang terbaik.
“Kayaknya aku udah mulai gila,” kata Hamkan sambil mengusap rambutnya ke belakang ketika bercermin di walk in closet miliknya.
Bagaimana dia tidak gila. Senyuman wanita ketika mengusap dengan lembut kepala anak kecil yang dihiasi hijab itu benar-benar senyum yang amat tulus.
Bahkan terbesit satu pertanyaan di dalam benak Hamkan. Anha saja sebegitu sayangnya dengan anak kecil. Bagaimana jika dia memiliki anak sendiri nantinya? Pasti Anha akan sangat menyayangi anaknya. Pasti nanti akan diciumi pipi tembam yang menggemaskan itu.
‘Aku nggak bisa ngebayangin, An, gimana nanti anak-anakku dibesarin sama ibu yang kayak kamu.’
Omong kosong! Anha pasti bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak anak mereka sekalipun masa lalunya dulu buruk!
Entah mengapa Hamkan mengepalkan tangannya kuat-kuat ketika mengingat ucapan calon suami Anha waktu itu.
Hamkan menghela napas. Sudahlah. Dia terlalu banyak berpikir keras akhir akhir ini.
__ADS_1
Karena Hamkan belum merasa ngantuk. Akhirnya Hamkan berjalan menuruni anak tangga untuk menghampiri mamanya yang sedang asyik menonton sinetron di ruang keluarga.
“Malem, Ma,” sapa Hamkan sambil mendaratkan bokongnya di sofa yang empuk itu.
“Hmm,” ucap mama sekilas sambil masih menatap layar televisi.
Hamkan menggaruk ujung hidungnya. Ragu-ragu untuk mengucapkan keinginannya.
Kali ini, Hamkan sudah mantap!
“Mah, gimana kalau Hamkan ngelamar seseorang? Apa Mama setuju?” begitulah awal pembicaraan mereka di ruang keluarga malam itu.
Mata mamanya langsung membulat penuh ketika mendengarnya.
“Hah! Maksudnya?!” tanya mama terheran heran sambil melotot dan masih memegangi remote televisi. Mulut nyasedikit terbuka ketika mendengar penuturan anaknya.
Pasalnya si Hamkan ini tidak pernah pacar-pacaran atau merayu wanita di luar sana. Lalu tiba-tiba, tidak ada hujan, tidak ada petir. Anak ini mengucapkan hendak menikahi seseorang.
“Siapa yang mau kamu nikahi? Sebelum nikah, kamu itu harus tahu baik-baik bibit, bebet, sama bobotnya, loh, Hamkan!” ucap mama dengan tersungut sungut sambil mengeryitkan dahinya.
Salah makan apa anaknya itu sampai tiba-tiba meminta menikah. Apakah tadi siang Anha memberikan makanan yang aneh-aneh kepada putranya?
“Tapi Mama udah tahu dia dengan baik, kok, Ma. Pasti Mama juga tahu kalau bibit bebet bobot dari dia itu bagus.”
Jeng Asih ingin sekali menjitak anaknya ini menggunakan remote televisi. Dia mulai geram.
“Jangan bilang, ya, kamu mau nikahi Prilly! Nggak bakalan setuju Mama kalau kamu nikah sama cewek itu. Nggak! Mama nggak bakal ngeretui!” ucap Jeng Asih dengan bersungguh-sungguh dengan mata melotot sambil menunjuk Hamkan dengan menggunakan remote TV.
__ADS_1
Lita—adik Hamkan yang sedang belajar di ruang membaca pun menengokkan kepalanya di daun pintu karena mendengar mamanya berteriak-teriak seperti itu.
“Mama jangan teriak-teriak, dong. Lita lagi belajar ngehafalin materi tahu buat ujian besok,” protes Lita sambil cemberut karena konsentrasinya buyar. Ruang membaca memang bersebelahan dengan ruang keluarga. Jadi suara mamanya tadi memang terdengar amat nyaring.
Hamkan yang mendengar hal tersebut menahan tawa geli.
“Eh, iya, Sayang. Maafin Mama, ya. Sana-sana kamu lanjutin belajarmu lagi.”
Setelah itu Lita melanjutkan kembali membaca buku paketnya yang tebal.
Kembali lagi ke Hamkan dan mamanya yang masih berkonfrontasi di ruang keluarga. Suasana semakin memanas antar ibu dan anak itu.
“Pokoknya Mama nggak setuju kamu mau nikah sama Prilly ganjen itu!” kata Jeng Asih namun kali ini dengan suara lebih rendah daripada sebelumnya.
“Tapi, Ma—”
Belum sempat Hamkan menjelaskan kalau bukanlah Prilly yang hendak dinikahinya tapi mamanya sudah memotong ucapannya tersebut.
“Nggak ada tapi-tapian!”
Hamkan mengembuskan napas lelah. Memangnya siapa yang hendak menikah dengan Prilly. Sepertinya mamanya ini sangat sensitif terhadap Prilly.
Ketika mamanya sudah terlihat tenang. Akhirnya Hamkan mengutarakan keinginannya dengan baik-baik.
“Ma. Sebenernya Hamkan mau nikah sama...”
Hamkan menjeda sejenak ucapannya membuat mamanya mengeryitkan dahinya.
__ADS_1
“Sama Anha, Ma.”
***