Diceraikan Di Malam Pertama

Diceraikan Di Malam Pertama
Diacuhkan lagi


__ADS_3

Entahlah. Ini hari keberapa pun Hamkan tidak ingat lagi. Meskipun waktu itu Anha sudah mengusirnya secara terang-terangan namun Hamkan masih ingin berusaha lebih keras lagi untuk melunakkan hati Anha.


Hari ini Hamkan akan menjemput Anha dari tempat kerjanya. Sekalian mengajak Anha untuk pergi makan malam bersama. Hamkan sudah berdandan rapi dengan atasan berwarna navy dan celana jeans panjang. Tampan sekali!


Ia menjalankan mobilnya ke tempat les lesan Anha. Jam di pergelangan tangannya masih menunjukkan pukul lima sore. Ini artinya Anha sedang istirahat mengajar.


Benar saja, ketika mobil Hamkan sampai di sana. Nampak Anha sedang membeli jajanan di pinggir jalan dengan beberapa anak kecil lainnya. Hamkan terkekeh. Bu guru satu ini unik sekali. Dia tidak tahu jika Anha ternyata juga suka jajanan seperti itu.


Hamkan menepikan mobilnya di sebelah Anha berdiri. Awalnya Anha mengeryit kenapa ada mobil hitam yang menepi di dekat dirinya. Namun air muka Anha berubah masam ketika kaca pintu mobil itu turun dan memperlihatkan Hamkan yang tersenyum sambil menyapanya.


“Hai, An.”


Anha tidak menggubris dan menikmati cimolnya. Senyum Hamkan perlahan memudar. Tidak apa, dia sudah terbiasa diacuhkan seperti ini.

__ADS_1


“Oh, iya, An. Nanti kamu pulang jam berapa? Aku jemput, ya, nanti.”


Anha masih tidak menjawabnya. Terdengar suara seperti bel yang tertangkap indra pendengaran Hamkan dan Anha. Hamkan berpikir sejenak. Mungkin itu adalah bel jam istirahat selesai. Berarti masih sekitar satu jaman lagi Anha mengajar.


Kamu boleh nggak suka sama Hamkan. Tapi seenggaknya kamu harus memanusiakan manusia, Anha! Anha mengembuskan napas kesal. Sialan. Perkataan mamanya yang kemarin teringat kembali.


“Nggak usah repot-repot. Aku pulangnya naik BRT. Makasih,” ucap Anha dengan ketus sambil kembali lagi ke tempat mengajarnya.


Hamkan menghela napas lelah. Kenapa Anha bisa sekeras itu kepadanya. Hanya sekadar mengobrol saja sepertinya malas sekali.


***


Anha berjalan pelan keluar dari gedung ini. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, biasanya Anha sampai di rumah pukul setengah delapan malam. Itulah alasannya Anha malas jika kebagian shift malam seperti ini. Lebih enak shift siang sebenarnya. Hanya dari jam dua sampai empat sore.

__ADS_1


Anha berjalan ke halte bis yang berwarna merah untuk menunggu BRT kloter terakhir lewat. Biasanya kalau dia ketinggalan BRT maka Anha naik dua kali bus kuning, kalau naik grab berat di ongkosnya karena rumah Anha dengan tempat mengajarnya jauh.


Senyum Anha mengembang ketika melihat bus BRT berwarna merah itu datang. Anha masuk ke dalam bersama beberapa orang lainnya. Bus kali ini ramai sampai berdesak-desakan sampai Anha tidak kebagian tempat duduk dan terpaksa harus berdiri berdesakan dengan penumpang lainnya. Mungkin karena bus ini kloter terakhir. Begitulah pikirnya.


Tangan kanan Anha memegang pegangan kuning yang menggantung di atas. Dia menatap punggung penumpang lain yang berada di depannya. Punggung lelaki ini oke juga, tegap dan dihiasi dengan jaket denim. Potongannya rapi. Tapi tunggu dulu, kenapa sepertinya Anha sangat familiar, ya, dengan potongan lelaki ini. Seperti...


Rasa itu semakin menyeruak. Tidak mungkin, kan, kalau...


Tangan Anha terulur untuk menepuk pundak lelaki ini. Nanti dia bisa berpura-pura bertanya pemberhentian transit BRT kepada lelaki di depannya itu biar tidak dikira sok kenal sok dekat.


“Permisi,” kata Anha sambil menepuk pundak lelaki itu. Lelaki itu menoleh setengah sambil tersenyum miring membuat bola mata Anha membulat dan mulutnya terbuka setengah.


Ternyata dugaannya tidak salah! Lelaki itu adalah...

__ADS_1


***


Bentar, ya, guys. Sengaja kupotong babnya biar kelen kepo. Hiya hiya.


__ADS_2