
“Assalamualaikum,” ucap Anha setelah sampai di rumah. Anha membungkukan tubunya untuk melepas sepatu.
Mama yang baru saja menyeduh teh melati menjawab salam dari Anha.
“Waalaikumsallam. Udah pulang?”
Mama menatap Anha sekilas. Helaan napas terdengar. Terkadang mama bertanya dalam hati apakah putrinya itu tidak merasa kecapekan sama sekali dalam bekerja? Mengingat jarak tempuh dari rumah ke tempat pekerjaannya cukup jauh. Mana harus naik transportasi umum lagi. Bagaimanapun juga mama tetap mengkhawatirkan Anha.
“Kamu nggak capek, An?” tanya mama dengan saksama. Anha menggelengkan kepala—bahkan masih bisa tersenyum semringah sekali.
“Nggak, dong, Ma. Masak kayak gitu, doang, capek. Seru tahu!”
Mama ikut tersenyum mendengarnya. Anha selalu memiliki banyak cerita ketika pulang ke rumah. Ada cerita tentang muridnya yang bertengkar ketika Anha sedang mengajar, lah. Wajah-wajah imut anak kecil di tempat lesnya yang menggemaskan, lah. Jadi wajar jika Anha tidak merasa kelelahan sama sekali karena hatinya senang.
“Kamu nggak mau beli motor? Kan, lebih efisien gitu. Mama, tuh, khawatir, loh, kalau kamu pulang malem-malem naik BRT kayak gitu.”
Anha mencium pipi mamanya yang sedang duduk di sofa dari belakang. Anha senang atas perhatian yang diberikan oleh mamanya tersebut, bermanja-manja dengan mamanya sejenak memang mengasyikan.
“Nggak mau, ah, Ma. Lagian Anha nggak bisa naik motor jadi buat apa buang-buang duit buat beli motor.”
Mamanya meringis mendengarnya. Ternyata secantik apa pun seseorang tetap memiliki kekurangan, ya.
__ADS_1
“Makanya itu kalau nggak bisa harusnya belajar.”
Anha melepaskan pelukan dari mamanya karena merasa sebal jika mama sudah mengomelinya seperti itu.
“Nggak, ah, Ma. Males.”
“Males aja yang digede-gedein,” nyinyir mama sambil menggelengkan kepala.
“Takut ketilang,” balas Anha mencari alasan yang lainnya.
“Mana ada. Asal nggak ngelanggar aturan aja juga nggak ketilang kali.”
Wanita itu makhluk serba benar. Tapi kalau dua wanita saling berdebat, entah siapa yang akan menenangkannya.
Mama melotot mendengarnya. Ada-ada saja, sih, alasan anak ini. Beginilah mereka, kadang berdebat tentang hal tidak mutu.
“Udah-udah. Sana kamu mandi terus makan. Tuh, mama udah masakin kesukaanmu.”
Senyuman terukir di bibir Anha. Sepertinya, anaknya itu sudah move on dari Hasan. Mama mengembuskan napas kesal. Yang menyebabkan mama jengkel Hasan tidak pernah mendatangi rumah ini sekalipun. Bisa-bisanya orang Hasan seperti itu.
“Oh, iya, An. Mama mau ngomong sama kamu.”
__ADS_1
“Ya? Mau ngomong apa, Ma?”
“Um....”
Sebenarnya mama ingin menyinggung sedikit mengenai Hamkan di pandangan Anha itu seperti apa. Tapi ia urungkan. Bagaimanapun Anha belum move on seratus persen. Salah bicara nanti malahan merusak suasana.
“Nggak jadi,” kata mama acuh sambil menatap ke arah depan. Dahi Anha mengernyit melihat ketidak jelasan mamanya ini.
“Gimana, sih, Ma. Gajelas banget.”
Setelah itu Anha berlalu memasuki ke kamarnya. Mama masih menikmati sisa-sisa teh dalam cangkirnya yang bercorak bambu cina. Meneguknya seperti ratu kerajaan saja.
Biar saja kedua anak manusia itu dekat dengan sendirinya. Tidak perlu terburu-buru. Kalau memang berjodoh pasti tidak akan ke mana.
***
“Anha, hari ini kam libur, kan?” tanya mama sambil tersenyum semringah sekali. Anha mengeryit sambil menganggukkan kepala. Memang kebetulan hari ini Anha sedang mengambil libur dan sudah ada yang membackup jadwalnya.
“Iya. Emangnya kenapa, Ma?”
“Nah, kebetulan sekali. Bawain makanan buatan Mama ke kantornya Hamkan, ya. Nak Hamkan sama mamanya baik sama kita. Dia juga, kan, waktu itu udah nganterin kamu pulang dan bawain bolu buat kamu. Makanya kita harus membalas kebaikannya itu,” kata mama panjang lebar sambil memasukkan bekal yang telah dibuatnya ke dalam tote bag.
__ADS_1
Hah! Yang benar saja!