Diceraikan Di Malam Pertama

Diceraikan Di Malam Pertama
Apa Menjauh Saja, ya?


__ADS_3

Hamkan menggulung lengan kemejanya ketika sampai di rumah. Badannya terasa lelah sekali. Pikirannya pun juga tak kalah lelahnya apalagi jika mengingat tadi siang dia sempat bertengkar kecil dengan Anha.


Um... Bukan bertengkar kecil, sih. Hanya saja... Ah, sudahlah. Hamkan saja tidak dapat mendeskripsikannya.


Mungkin saja tadi Anha sedang datang bulan sehingga sensitif seperti itu, sedangkan Hamkan sendiri sedang berada pada tekanan tinggi karena pekerjaannya yang padat. Tapi sungguh bahkan sudah sampai di rumah pun Hamkan masih kepikiran dengan Anha.


“Assalamualaikum, Ma,” ucap Hamkan sambil mencium punggung tangan mamanya, kemudian Hamkan mendaratkan bokongnya pada kursi di ruang makan. Ikut bergabung dengan Lita dan mama.


“Tumben, kok, pulangnya malem banget, Ham?” tanya mama sambil mengambilkan makanan untuk Hamkan.


“Iya, Ma. Tadi pekerjaan di kantor banyak banget sampai harus di lembur.”


Mama hanya menganggukkan kepala. Sebenarnya terkadang diam-diam mama merasa kasihan dengan Hamkan yang terlalu bekerja keras seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi. Hamkan saat ini harus meneruskan usaha keluarga mereka. Dia memikul beban tanggung jawab yang besar.


Selesai makan malam, Lita beranjak terlebih dahulu untuk kembali ke kamarnya.


Ketika di ruang makan tersebut hanya menyisakan Hamkan dan mamanya. Hamkan menyampaikan sesuatu yang sejak tadi siang mengganggu pikirannya.


“Ma... apa tadi Mama nyuruh Anha nganterin makanan ke kantor Hamkan?” tanya Hamkan agak ragu ketika mengucapkan hal tersebut sambil menyendok makanan di piring.


Kalau kamu tahu ini semua ngerepotin aku, harusnya kamu nyuruh Mama kamu buat nggak usah lagi nyuruh-nyuruh aku ngelakuin hal kayak gini!

__ADS_1


“Oh soal makan siang itu? Iya Mama yang nyuruh, Ham! Gimana makan siang kamu sama Anha? Pasti seru, ya?” kata mama dengan sangat semangat sekali. Hamkan hanya mampu meringis melihatnya. Kalau sudah seperti ini dia bisa apa? Hamkan sendiri merasa tidak tega jika harus merusak suasana hati mamanya yang sedang bahagia ketika nama Anha disebutkan.


“Seru, kok, Ma. Seru banget,” kata Hamkan terpaksa menutupi. Hamkan menjeda sejenak ucapannya.


“Tapi, Ma. Besok lagi jangan nyuruh Anha buat nganterin makanan ke kantor lagi, ya, Ma." Hamkan menelan ludah. Salah apa tidak, ya, dia mengatakan hal seperti ini?


“Loh, emang kenapa? Kok, kayak gitu?” dahi Mama mengernyit ketika mendengar hal tersebut. Hamkan menggaruk ujung hidungnya dan berpikir sejenak, mencoba mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan mamanya.


“Um... nggak kenapa-napa, sih, Ma. Cuma kasihan Anha aja. Nanti malah kita ngerepotin dia,” jawab Hamkan sekenanya. Mama mengangguk-anggukkan kepala mendengarnya.


"Iya, deh, kalau gitu."


Hamkan melanjutkan kembali makan malamnya yang tinggal menyisakan seperempat piring.


Hamkan berpikir sejenak. Apa Hamkan menyerah saja untuk mendapatkan Anha? Anha saja sepertinya tidak ada rasa kepada dirinya. Mungkin mama memiliki solusi.


"Apa Hamkan nggak usah ngedeketin Anha aja, ya, Ma?"


"Kok, gitu?"


"Ya, abisnya Anha kayak nggak suka gitu, Ma, sama Hamkan."

__ADS_1


Mama meletakkan sendok di atas piringnya yang sudah kosong.


"Jadi ceritanya kamu mau nyerah aja, nih? Masak iya menyerah sebelum berperang."


Mama menggelengkan kepala mulai memprovokasi anaknya. Bukannya ingin menyerah. Bahkan Hamkan saja tidak bisa  menjawab perkataan mama barusan. Rasa di dadanya mulai tumbuh semakin besar. Bisakah mereka langsung menikah saja? Kenapa harus serumit ini.


"Mama kasih tahu, ya. Anha itu bukannya nggak suka sama kamu. Tapi mungkin dia masih susah buat buka hati. Kamu tahu sendiri, kan, dia itu pernah gagal nikah. Dulu juga dia pernah cerai sama suaminya. Ngedeketin cewek biasa aja susah. Apalagi ngedeketin Anha yang pernah ngalamin hal pahit kayak gitu."


Ya. Jeng Asih dan Hamkan memang sudah mengetahui jika Anha seorang janda. Juga sudah mengetahui batalnya pernikahan Anha dengan Hasan dari mamanya Anha. Jeng Asih sendiri tidak masalah dengan hal itu. Pun sama, Hamkan bukan tipe lelaki yang terlalu pemilih. Lagi pula, itu masa lalu Anha. Dan ketika menikah nanti, sikap serta kepribadian calon istrinyalah yang lebih penting.


Tetapi meskipun seperti itu Hamkan masih merahasiakan tentang kejadian di Mall waktu itu kepada Mama. Hamkan acuh tak acuh. Lagipula itu aib Anha dan urusan pribadi Anha. Yang terpenting Hamkan sudah tahu dari mata kepalanya sendiri jika Anha sudah tidak seperti itu lagi.


"Kamu itu harus semangat Hamkan buat ngedapetin Anha. Kamu harus berjuang mati-matian. Keburu ditinggal nikah lagi, lho, Ham!" kata mama mewanti-wanti sambil bersedekap dada.


Hamkan hanya terkekeh mendengarnya. Suasana hatinya mulai membaik lagi setelah berbicara dengan mamanya.


"Memangnya Mama pengin banget punya menantu Anha?"


"Ya, jelaslah. Kalau nggak buat apa Mama bantu ngasih saran PDKT buat kamu."


Hamkan tersenyum. Baiklah, besok dia akan berjuang lebih keras lagi.

__ADS_1


***


__ADS_2