Diceraikan Di Malam Pertama

Diceraikan Di Malam Pertama
Manisnya Mangga


__ADS_3

***


Hamkan akhirnya membuka pintunya karena tidak tega melihat Anha yang menangis terisak seperti itu.


“Masuk,” kata Hamkan dengan dingin. Anha mengekorinya dari belakang untuk duduk di ruang tamu. Kini Anha dan Hamkan duduk berdampingan.


“Udah jangan nangis lagi,” kata Hamkan sambil mengusap air mata Anha dengan punggung tangannya.


“Hamkan...Maafin aku.”


Namun bukannya berhenti menangis malahan sekarang Anha semakin terisak saja. Hamkan menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal. Lelaki memang mati kutu jika melihat seorang wanita menangis di hadapannya. Apalagi wanita yang sangat dicintainya.


“I-iya. Jangan nangis lagi, ya.”


Anha menatap wajah Hamkan yang terlihat cemas. Mama benar, Hamkan bukanlah lelaki yang pendendam. Dia penyabar sekali. Bahkan mungkin bisa saja dia sudah memaafkan dirinya ini sebelum dia meminta maaf. Jika Anha menjadi Hamkan, pastilah Anha tidak akan pernah memaafkannya.


Hamkan mengambilkan minuman setelah Anha terlihat sudah tenang. Anha mengusap ingusnya menggunakan tissue yang tadi diberikan oleh Hamkan.


“Tumben kamu ke sini,” kata Hamkan sambil memberikan kopi kepada Anha. Anha mengangguk dan mengucapkan terimakasih.


“Aku mau minta maaf sama kamu,” kata Anha sambil belum berani menatap wajah Hamkan lagi.


Hamkan menangkat sebelah alisnya.


“Maaf, doang, nih?”


Eh? Anha bingung hendak menjawab apa.


“Sama bawain kamu mangga,” kata Anha dengan polos sambil memberikan kantung keresek berwarna hitam berisi mangga yang sudah matang kepada Hamkan.

__ADS_1


Sungguh, sebenarnya Hamkan ingin tertawa terbahak tapi hanya ditahannya. Wajah polos itu benar-benar lucu sekali. Hamkan tersenyum, andai saja Anha sehangat ini waktu itu. Kenapa mereka harus melalui pertengkaran terlebih dulu? Tapi tak apalah. Setidaknya sekarang mereka berdua sudah baikan.


“Aku bakalan maafin kamu dengan satu syarat.”


“Apa?” kata Anha sambil menatap wajah tampan Hamkan. Rahang itu dihiasi jambang tipis yang membuat Hamkan semakin tampan saja. Dia seperti ke arab-araban.


“Mulai sekarang kamu pulang dan berangkat kerja biar aku yang anter jemput kamu. Kalau aku lagi nggak bisa nganter, biar supirku yang anterin kamu.”


Hamkan menghela napas, lebih baik seperti itu daripada Anha mengalami pelecehan lagi. Hamkan tidak akan terima.


“Tapi...” Anha hendak menolak karena merasa hal itu sangat merepotkan Hamkan.


“Nggak ada tapi-tapian.”


Akhirnya Anha mengangguk pasrah. Hamkan tersenyum. Lucunya melihat Anha sepenurut ini. Ingin rasanya Hamkan mengusap rambut Anha. Namun ditahannya dalam hati.


“Itu mangganya buat kamu sama Tante. Dari Mama hasil panen kemarin.”


“Sama makasih karena waktu itu udah nyelametin aku. Maaf aku malahan kasar sama kamu,” kata Anha sambil menunduk malu. Hamkan menatapnya. Namun tiba-tiba reaksi Hamkan berubah dan ia berjalan ke ruang belakang membuat Anha mengernyitkan dahi.


Um... apa dia salah bicara lagi, ya?


Tiba-tiba Hamkan kembali lagi dengan mangkuk plastik tupperware dan pisau di tangannya.


Hah?


“Kupasin. Suapin.”


Mulut Anha menganga mendengarnya.

__ADS_1


“Kalau kamu nggak mau, aku juga nggak mau maafin kamu,” kata Hamkan santai sambil bersandar pada sandaran sova di ruang tamu ini. Dia menikmati sekali wajah Anha yang berubah menjadi cemberut sebal.


Laki-laki ini juga bisa kekanakan juga kalau sudah kenal dekat! Tapi Anha mengalah. Dia mau mengupaskan mangga itu dengan bibir yang cemberut namun tidak sanggup menolak permintaan manja Hamkan. Hamkan terkekeh dalam hati. Mengerjai Anha tidak ada salahnya.


Anha dengan telaten memotong mangga yang dikupasnya membentuk dadu kecil ke dalam mangkuk itu.


“Nggak ada sendoknya,” kata Anha setelah mengupas dua mangga arumanis untuk Hamkan. Mungkin sendoknya tertinggal di dapur ketika Hamkan mengambilnya tadi.


“Pakai tangan,” perintah Hamkan sambil tersenyum jahil.


Hah! Yang benar saja!


Uh. Anha sebal bukan main. Sebal sebal sangat sebal! Ingin rasanya dia menyuapi Hamkan mangga dengan ujung pisau ini tapi menolak pun Anha tidak bisa.


Pipi Anha bersemu. Menyuapi Haman menggunakan tangan? Memalukan.


Tangan Anha mengambil potongan mangga itu dan menyuapi si bayi besar ini. Hamkan menikmati mangga dari suapan Anha dengan wajah berbunga. Manis sekali. Semanis wajah Anha yang saat ini sedang malu-malu kucing.


Sejenak pikiran Hamkan melayang. Ingin rasanya Hamkan menikahinya. Tua bersama. Tersenyum dan bersedih bersama. Hamkan mengembuskan napas pelan. Andai saja dia bisa.


Anha menyuapi kembali Hamkan dengan wajah cemberut. Tapi itu terlihat lucu di mata Hamkan membuat Hamkan merasa gemas.


Ketika entah suapan yang keberapa. Hamkan menahan tangan Anha sehingga jari Anha terkena bibirnya. Hamkan mengatupkan mulutnya, ia menikmati mangga dan mengisap pelan jari tangan Anha yang berada di mulutnya. Lima detik lamanya Anha kehilangan kesadarannya dan pipinya benar-benar memerah malu.


“Mesum!”


Buru-buru ditariknya tangan itu sambil memukul dada bidang Hamkan membuat lelaki itu tertawa terbahak.


“Nih, makan sendiri!” kata Anha menyodorkan mangkuk berisi potongan mangga itu kepada Hamkan yang masih tertawa. Anha merajuk, bersedekap dada sambil berbalik badan memunggungi Hamkan.

__ADS_1


Hamkan menyebalkan!


__ADS_2