Diceraikan Di Malam Pertama

Diceraikan Di Malam Pertama
Manja


__ADS_3

Cincin kawin dengan permata di tengahnya terlihat manis pada jemari Anha. Hanya dengan menatap ulang saja sudah berhasil  pipinya merona.


Iya, benar! Sekarang Anha sudah menjadi Nyonya Wijaya—alias Istri sah dari Hamkan Wijaya.


Mereka berdua sudah melakukan ijab kabul namun hanya dihadiri oleh kedua belah keluarga mempelai saja. Sedangkan rencananya resepisi mereka akan diselenggarakan beda hari yaitu minggu depan.


Meskipun pernikahan mereka terbilang buru-buru, tapi niat baik sebaiknya tidak perlu ditunda-tunda lagi, bukan? Kata Jeng Asih keburu diambil orang lagi.


Eh, tapi jangan salah. Jeng Asih—yang sekarang sudah berganti statusnya menjadi mama mertua Anha—menolak dengan keras apabila resepsi mereka diselenggarakan dengan sederhana saja. Acara Ijab kabul boleh sederhana, tapi resepsinya harus mewah, dong.


“Ah, Jeng Asih ini. Resepsinya nanti nggak usah dibuat mewah. Lagi pula anak saya ini sebelumnya juga udah pernah nikah,” kata mama ketika makan malam bersama setelah acara Ijab kabul selesai. Mama berusaha menolak halus permintaan calon besannya yang hendak menyelenggarakan pesta pernikahan tiga hari tiga malam. Ya, Tuhan. Dasar orang kaya.


Anha mengangguk setuju dengan pernyataan mamanya itu. Menikah hanyalah pesta menjadi raja dan ratu satu hari. Kehidupan pernikahan yang sebenarnya justru setelah hari H selesai. Buat apa pula buang-buang uang hanya untuk menyelenggarakan pernikahan yang mewah. Lebih baik uangnya disimpan saja.


“Nggak boleh! Pokoknya kita sewa gedung yang paling bagus. Makanannya harus yang paling enak. Terus undang banyak tamu. Anak ganteng Mama ini mau nikah, mana boleh biasa-biasa aja,” ucap Jeng Asih menggebu-gebu.


Anha meringis mendengarnya. Terserahlah. Anha lebih memilih untuk menurut saja.


Jeng Asih tampak terdiam sejenak. Seolah sedang menghitung-hitung berapa banyak biaya yang hendak dikeluarkannya nanti untuk acara resepsi.


Biasanya, adat di sini biaya pernikahan ditanggung oleh pihak wanita. Sedangkan pihak laki-laki yang memberi seserahan. Di tempat lain juga ada yang biaya pernikahan ditanggung bersama. Itu keputusan pribadi masing-masing dari kedua belah pihak.


Tapi kali ini Hamkan ingin menanggung semua biaya pernikahan mereka. Hal itu malahan membuat Anha tidak enak hati karena Anha merasa dirinya ini, kan, seorang janda. Tidak dirayakan pun sebenarnya tidak apa. Tapi Hamkan memperlakukannya dengan sangat gantle. Anha sangat bersyukur dicintai sebegitu banyaknya oleh Hamkan.


“Apa enaknya kita nyewa dangdutan aja, ya, Jeng?” usul Jeng Asih kepada sahabatnya itu membuat dua keluarga yang sedang makan malam bersama menganga tidak percaya atas usulan tersebut.


“Mama...” protes Hamkan seketika membuat semua orang tergelak tawa.


Anha selalu tersenyum jika mengingat percakapan ketika makan malam bersama waktu itu. Ia bersyukur dikaruniai mertua baik hati seperti Tante Asih. Apalagi Tante Asih sangat sayang sekali kepadanya. Tidak seperti Tante Erin dulu, huh!


***


Anha melangkah masuk ke dalam lift untuk menuju lantai tempat Hamkan bekerja. Hari ini dia diam-diam berkunjung ke kantor Hamka—ralat, berkunjung ke kantor Mas Suami tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


Sesampainya di sana. Kedatangan Anha sudah disambut sengit oleh Donna. Lihatlah, bahkan baju yang dikenakan Donna tidak ada bedanya dengan terakhir kali ketika Anha bertemu dengannya. Sangat ketat dan memerlihatkan lekuk tubuh.


“Pak Hamkan ada? Saya mau ketemu,” kata Anha kepada sekretaris Hamkan itu.


“Nggak bisa! Bapak sedang ada tamu,” jawab Donna dengan ketus membuat Anha mengeratkan giginya geram.


Hei! Berani sekali wanita ini. Bahkan Donna sangat ketus sekali kepadanya. Memangnya dia tidak tahu jika saat ini Anha sudah menikah dengan bossnya!


“Saya mau masuk ke dalem. Bilangin ke Pak Hamkan kalau Bu Anha mau ketemu,” ulang Anha masih mencoba bersabar. Tidak dosa jika Anha tiba-tiba menerobos masuk ke dalam karena sekretaris Hamkan ini tidak memiliki itikad baik menyampaikan kedatangannya kepada Hamkan. Meskipun Anha bisa menelepon Hamkan dengan HPnya sendiri. Tapi Anha tidak mau! Dia ingin melihat sampai sejauh mana Donna berani bertindak.


Donna cuek dan bermain dengan ponselnya sendiri.


“Kamu denger nggak, sih? Saya udah ngomong sopan, loh, sama kamu.”


“Orang asing nggak boleh masuk.”


O-orang asing? Rahang Anha mengeras.


Wanita ini!


Dengan kesal Anha cuek  melenggang masuk menerobos ke dalam ketika Donna lengah. Donna yang semula duduk otomatis langsung berdiri dan mengejar Anha dari belakang, namun Anha sudah keburu masuk ke dalam dengan wajah ditekuk-tekuk.


Hamkan terkejut melihat kedatangan Anha yang tiba-tiba. Untung saja di ruangannya saat ini ada tamu yang tidak terlalu penting yaitu Dion—sahabat sekaligus GM di kantor cabang lain.


“Maaf, Pak. Saya sudah nyuruh Bu Anha buat nunggu di luar tapi dia tetap nerobos masuk ke dalam padahal Bapak lagi ada tamu.”


Anha langsung merangkul tangan Hamkan meminta pembelaan dari suaminya.


“Sayang. Jadi aku nggak boleh gitu dateng ke kantor kamu? Aku udah bilang ke sekretarismu buat ngasih tahu kalau aku di sini tapi dia nggak sopan banget dan bilang kalau ORANG ASING NGGAK BOLEH MASUK! Jadi jangan salahin aku kalau tiba-tiba nerobos ke sini,” kata Anha sambil menampilkan puppy eyes andalannya. Hehehe, memang siapa yang tidak akan tega jika Anha sudah menampilkan ekspresi seperti ini.


Anha melirik sekilas ke arah Donna dengan mata memincing seolah mengatakan.  Lihatlah! Lihat dengan mata kepalamu sendiri.


Hamkan yang mengetahui gelagat Anha itu hanya tersenyum sambil mengusap rambut istrinya dengan kasih sayang sambil mengatakan kepada sekretarisnya....


“Lain kali kalau Bu Anha ke sini kamu wajib hubungi saya. Kalau saya ada rapat kamu kirim pesan teks aja ke saya,” ucap Hamkan tanpa memalingkan wajah dari Anha yang sedang ngambek. Anha tersenyum jahat ke Donna.


Makan itu sialan! Anha ini pro player, masih mau dilawan, hah?


Dion yang menyaksikan itu semua hanya mampu menahan senyum.Tidak percaya jika sahabatnya itu bisa jatuh cinta juga. Dia kira Hamkan homo karena pacaran terus dengan laptopnya.


“Tapi, Pak. Tadi Bu Anh—”


Belum sempat Donna menyelesaikan ucapannya, Anha sudah keburu menyemprotnya.


“Pergi nggak!”


Hamkan berdehem melihat konfrontasi panas itu. Dia tidak ingin istrinya merasa kesal di pagi hari.


“Tolong keluar,” perintah Hamkan dengan nada dingin membuat Anha tersenyum jahat sambil menjulurkan lidahnya mengejek Donna yang wajahnya sudah memerah karena emosi.


"Baik, Pak."


Setelah itu Donna keluar dari ruangan.


“Sorry, ya. Kita bahas proyeknya nanti,” kata Hamkan kepada Dion karena merasa tidak enak percakapan mereka harus terganggu. Mungkin Hamkan akan menasihati Anha kalau lain kali dia tidak boleh menerobos masuk seperti ini jika tamunya bukan Dion. Dion mengangguk dan mengibaskan tangannya. Tidak apa, santai.


“Kenalin dia ini sahabat aku, An. Dion namanya. Dan, Yon, ini istri gue, Anha,” kata Hamkan memperkenalkan keduanya bergantian.


“Anha.” Anha menjabat tangan sahabat Hamkan.


Dion membuka mulutnya tidak percaya. Istri? Tetapi cincin emas di jari manis masing-masing sudah menjelaskan semuanya.


“Cantik, ya. Si Hamkan ini diem-diem bisa ngedapetin bini cantik juga.” Nyinir Dion merasa tidak adil. Hamkan hanya tersenyum miring mendengarnya.


“Ya, dong. Udah cantik, baik juga. Gue ini beruntung ngedapetin dia.”


Pipi Anha menghangat mendengar Hamkan memuji dirinya di depan sahabatnya sendiri. Memang wanita mana yang tidak merasa bahagia ketika dirinya dibanggakan di depan teman-teman kekasihnya?


Gue ini beruntung ngedapetin dia...

__ADS_1


Di saat Hasan malu memiliki kekasih seperti Anha. Hamkan malahan bangga sekali memiliki Anha di sisinya. Padahal Anhalah yang sebenarnya merasa beruntung mendapatkan suami seperti Hamkan.


Cinta itu sebuah penerimaan.


“Oh iya. Tumben kamu ke sini. Ada apa?” tanya Hamkan kemudian. Namun tiba-tiba Anha melepaskan pelukannya dari lengan Hamkan.


“Jadi kamu ngusir ISTRI kamu gitu dari kantormu? Kamu nggak suka aku main ke sini?”


*Hah! *Hamkan mengeryit.


“Bu-bukan gitu maksud aku.”


“Terus aku heran, deh, sama kamu. Kok, kamu diem aja, sih, lihat sekretarismu pakai baju seksi-seksi kayak gitu? Kok, nggak kamu tegur sama sekali? Emangnya perusahaanmu nggak punya SOP, ya?”


Hamkan mengernyit, semakin tidak mengerti dengan arah perkataan Anha yang panjang dan cepat itu. Dion menahan tawanya melihat drama keluarga di depan matanya.


“Udah ah. Sebel aku sama kamu.”


“Loh, An. Tunggu.”


Anha masih marah tidak jelas sambil berjalan keluar dari ruangan Hamkan sambil mengentak-entakkan kakinya menimbulkan gema suara di ruangan.


"Kamu mau ke mana?"


“Mau ke kamar mandi!” tapi kata-kata Anha itu membuat Hamkan mengembuskan napas lega. Ia kira Anha akan keluar dan baku hantam dengan Donna. Meskipun itu tidak mungkin juga, sih.


Setelah kepergian Anha, tawa Dion menggelegar. Sepertinya nanti ada suami-suami takut istri.


“Nggak usah ketawa lo,” kata Hamkan sambil menekuk wajah.


“Nikah nggak bilang-bilang.”


“Baru ijab, kok. Resepsinya besok Minggu. Dateng, ya,” kata Hamkan kepada sahabatnya.


Namun setelah itu wajah Hamkan kembali tertekuk lagi akibat memikirkan Anha yang sedang moodswing seperti itu.


Anha kenapa, ya? Kenapa tiba-tiba datang terus marah-marah seperti itu? Apa jangan-jangan dia sedang menstruasi jadi suasana hati Anha berubah-ubah, ya? Hamkan menghela napas lemas. Yah, jangan menstruasi dulu, dong. Mereka, kan, belum malam pertama karena memang Anha meminta mereka malam pertama ketika habis resepsi saja.


“Dia kenapa, ya?” gumam Hamkan pelan tetapi masih bisa tertangkap oleh telinga Dion.


“Nggak peka, lu. Dia itu lagi cemburu. Dasar.”


Hamkan mengeryit mendengarnya.


“Hah, cemburu?”


“Ya, sama Donna, lah.”


Hamkan terdiam mendengar ucapan temannya itu. Benarkah Anha cemburu dengan Donna? Memang, sih, sejak awal Anha terlihat sangat tidak suka dengan Donna. Entahlah. Hamkan selalu buntu jika menghadapi Anha.


“Kenapa dia cemburu sama Donna?”


Orang Anha lebih unggul di mata Hamkan dalam hal apa pun.


“Tadi dia bilang, kan, baju Donna keketeten. Mulai alasan itu dia ngerasa jengkel.” Dion menatap ke atas. Pandangannya menerawang untuk berpikir sejenak.


Hamkan menghela napas. Dia tidak pernah yang namanya memerhatikan tubuh wanita lain. Pandangannya sudah kenyang dijejali dengan grafik perusahaan. Toh, kalau dipikir-pikir lagi lebih seksian Anha kemana-mana.


“Tapi sebenernya gue juga heran, sih. Masak lo selama ini nggak pernah merhatiin Donna? Gue kira dulu lo ngebiarin Donna kayak gitu biar bisa jadi pelancar kalau lo ketemu sama klien di luar kantor,” kata Dion sambil cengengesan mesum.


Hamkan menggelengkan kepala, pekerjaan pemilik perusahaan tidak sesepele itu sampai memperhatikan bokong-bokong seksi sekretarisnya. Hamkan kembali di kursi kerja sambil membuka laptop.


“Gue jadiin dia sekretaris karena pekerjaannya bener.”


Dion mengangguk acuh. “Oke gue pergi dulu. Lebih baik lo ganti aja si Donna daripada nanti malam nggak dijatah."


Sahabatnya itu cekikian sebelum berlalu keluar dari ruangan Hamkan membuat wajah sahabatnya memerah.


***


Anha kesal! Benar-benar kesal. Donna selalu berhasil membuatnya naik darah. Ketika Anha sampai di depan ruangan Hamkan. Dia mengabaikan kehadiran Donna yang duduk di kursinya dengan wajah angkuhnya itu.


“Hai,” kata Hamkan ketika Anha masuk ke dalam ruangannya. Namun buru-buru Anha mengembungkan mulutnya dan menampilkan mimik wajah kesal seperti anak kecil yang sedang ngambek saja. Hamkan terkekeh, imutnya wajah istrinya itu.


Hamkan berjalan mendekati Anha dan mengecup pipi istrinya membuat amarah Anha seketika menguap.


“Pergi sana. Aku masih sebel sama kamu,” kata Anha merajuk sambil mendorong tubuh Hamkan. Hamkan mengacak pucuk rambut Anha membuatnya semakin cemberut.


Tapi yang membuat Anha marah adalah Hamkan tiba-tiba melewatinya dan malahan berjalan keluar ke meja tempat Donna.


Hei! Aku istrimu! Awas saja nanti malam tidak aku jatah! Teriak Anha menggebu-gebu dalam hati. Entah mengapa setelah menikah Anha menjadi sangat manja sekali.


“Donna,” panggil Hamkan dengan suara baritonya. Anha hanya bersandar pada pintu ruangan Hamkan sambil menekuk wajah dan bersedekap dada.


“Ya, Pak.”


LIHATLAH! BAHKAN SUARA DONNA DIIMUT-IMUTKAN! Berasap sudah kepala Anha mendengarnya.


“Mulai hari ini kamu saya pindahkan ke devisi lain.”


Anha dan Donna terkejut dalam waktu bersamaan. Astaga!


“Loh, Pak. Kenapa saya di pindah? Emangnya saya salah apa?” kata Donna tidak terima dengan keputusan Hamkan yang sepihak itu. Jelas saja Donna tidak terima. Sangat susah mempertahankan posisinya sebagai sekretaris di kantor ini. Apalagi menjadi sekretaris pemilik perusahaan adalah impiannya sejak dulu untuk mendapatkan suami kaya raya. Kalau bukan Hamkan, ya, setidaknya mendapatkan koleganya.


...Lebih baik lo ganti aja si Donna daripada nanti malam nggak dijatah...


“Itu keputusan mutlak saya. Tolong beresi barang-barang kamu.”


Nada suara Hamkan terdengar dingin. Anha tidak pernah melihat sisi Hamkan yang seperti ini. Sebenarnya Hamkan tidak begitu jahat. Donna tidak dipecat, melainkan hanya pindah devisi lain. Atau lebih baik Donna ditaruh di perusahaan cabang lain dengan Dion saja, ya? Hm... Hamkan akan memikirkannya nanti.


Dirangkulnya pinggang ramping Anha ketika Hamkan hendak masuk ke ruangan. Diperlakukan seperti itu membuat Anha tersipu.


“Dan satu lagi, tolong kenakan pakaian yang lebih sopan. Kalau kamu masih mau terus bekerja di sini,” tambah Hamkan membuat Donna hendak menangis. Impiannya menikah dengan Hamkan dan mendapatkan suami kaya raya pun pupus.

__ADS_1


Ketika pintu ruangan Hamkan sudah tertutup. Anha tersenyum senang sekali. Jadi... Hamkan melakukan hal itu semata-mata untuk dirinya? Uh, sweet sekali suaminya ini.


Hamkan duduk kembali di kursi kerjanya. Sekarang masalah kedua adalah mencari sekretaris pengganti Donna untuk segera mem-backup pekerjaannya. Lebih baik kali ini Hamkan memilih sekretaris lelaki saja. Atau kalau tidak, ya, mencari sekretaris yang sudah menikah saja supaya Anha tidak cemburuan.


Anha dengan nakal duduk di pangkuan Hamkan. Awalnya Hamkan kaget ketika Anha melakukan hal tersebut karena Anha duduk dipangkuannya dengan cara menghadap ke arahnya. Kalau begini... bagaimana bisa Hamkan fokus ke pekerjaannya?


Anha tersenyum nakal, menggoda suaminya dengan cara menggerakkan pinggulnya membuat Hamkan gusar.


“Jangan nakal,” kata Hamkan yang mulai terasa terbakar sambil mencoba menahan pinggul Anha yang bergerak sensual memancing gairahnya. Bisa-bisa gejolaknya terbangun. Apalagi  posisi ini benar-benar intim sekali.


“Abisnya kamu ngurusin pekerjaan mulu. Akunya dianggurin.” Anha kesal karena merasa dicuekin. Ia menggesekkan pipinya pada pipi Hamkan yang ditumbuhi beberapa jambang tipis menimbulkan rasa geli. Hamkan masih berusaha fokus pada buku di tangan kanannya untuk mencari nomor telepon pengganti Donna.


“Lagi apa, sih,” kata Anha sambil tersenyum menggoda. Ia merasa milik Hamkan bereaksi di bawah sana. Hamkan bisa gila jika istrinya terus-terusan membuat gerakan seperti itu. Bagaimana jika Hamkan lepas kendali dan meniduri Anha di sini. Meskipun itu sah-sah saja, sih.


“Lagi nyari nomor sekretaris yang baru.”


“Um... gimana kalau aku kerja di sini aja dan jadi sekretaris kamu? Kayaknya seru, deh,” kata Anha sambil menggerakkan jari telunjuknya di dada Hamkan membentuk pola abstrak yang membangkitkan gairah.


Hamkan menangkap tangan nakal istrinya.


“Nggau usah. Kamu kerjanya di ranjangku aja.”


Seketika wajah Anha memerah mendengar hal itu. Dia yang awalnya menggoda Hamkan tapi dia sendiri yang tersipu malu.


“Turun, An,” kata Hamkan sambil memegang pinggang ramping Anha. Namun Anha hanya tersenyum dan menggeleng. Anha mencondongkan tubuhnya ke depan dan berbisik di telinga Hamkan.


“Aku pengin.”


“Ja-jangan di sini. Katamu nanti aja kalau habis resepsi.”


Jangan sampai Hamkan benar-benar memperkosa isrtrinya di sini karena tidak tahan digoda terus oleh Anha.


“Tapi aku pengin.”


Anha tersenyum dan jemarinya berhasil melepaskan kancing atas kemeja Hamkan. Melihat ekspresi nafsu dari Hamkan benar-benar menyenangkan sekali.


“Di hotel aja.”


Anha tertawa mendengarnya.


“Nggak mau. Maunya di sini aja!”


“Nanti ada yang masuk.”


“Mana ada. Ini, kan, ruangan pribadimu.”


Mata Hamkan semakin nampak sayu. Ia mengusap pipi Anha yang terasa hangat pada telapak tangannya, kemudian Hamkan mengecup bibir merah istri sahnya dengan penuh kehangatan.


“Ah, Hamkan!” tanpa terduga sama sekali Hamkan mengangkat tubuh Anha dan membaringkannya di meja kerja. Tetapi Hamkan menahan kepala Anha dengan telapak tangannya agar kepala Anha tidak terbentur kerasnya meja.


Anha memerah, rasanya diperlakukan kasar dan lembut secara bersamaan seperti itu rasanya benar-benar aneh sekali. Bagaimana malam pertama mereka nanti coba? Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat intinya basah.


“Ha-Hamkan. Jangan... Nanti ada orang.”


Tadi saja Anha membangunkan singa tidur. Tapi sekarang dia sendiri yang mengatakan untuk jangan.


Hamkan tidak peduli dan mengecupi leher jenjang milik Anha. Bau parfum Anha enak, menyeruak indra penciumannya.


Pipi Anha semakin memanas. Serius hubungan intim mereka yang pertama di kantor ini?


Ciuman hamkan merambat ke bahu Anha yang terbuka karena dua kancing kemejanya sudah Hamkan loloskan.


Tapi...


“Bro, dokumen gue ketinggalaaaaaa--SHIITTTT!” kata Dion yang tiba-tiba menyelonong masuk membuat ketiga orang itu sama-sama terkejut. Dion menyengir kuda, tidak menyangka jika pasangan pengantin baru itu sedang mantap-mantap di dalam.


"So-sory. Gue nggak lihat, hehe."


Nampak rahang Hamkan mengeras dan menutup kembali bahu Anha yang terbuka. Tidak ingin jika sahabatnya ikut melihat.


“PERGI!!!” teriak Hamkan dengan napas memburu. Burbu-buru Dion menutup pintu ruangan Hamkan. Bukannya berniat tidak sopan dan mengganggu kedua orang yang sedang berpadu kasih itu. Dion benar-benar lupa kalau sahabatnya sekarang sudah punya istri karena biasanya Hamkan, kan, jomlo.


Napsu Hamkan sudah hilang. Dia mengancingkan kembali kemeja Anha dan membantunya untuk berdiri.


"Nanti aja, deh, habis resepsi," ucap Hamkan dengan lesu karena harus puasa sampai malam itu tiba membuat Anha terkikik geli.


***


Sore ini Hamkan menemani Anha untuk jalan-jalan santai di mall. Sebelum itu mereka mampir dulu ke restoran mewah dan Hamkan sudah melakukan reservasi sebelumnya supaya ia bisa bermesra-mesraan dengan Anha secara private.


“Aku mau yang ini, ini, sama ini,” kata Anha sambil menunjuk buku menu dengan wajah berbinar lapar. Anha duduk di pangkuan Hamkan dan mengabaikan pelayan yang saat ini berdiri sambil menahan senyum melihat kemesraan dua pengantin baru di depannya.


Hamkan memesan menu yang sama dengan apa yang Anha pesan. Sekitar lima menit lamanya mereka ngobrol sambil menunggu pelayan menyajikan makanan.


“Makasih,” kata Anha kepada pelayan.


Hamkan menyuapi Anha. Rasanya Anha diperlakukan bak ratu oleh Hamkan.


Tetapi ditengah keromantisan mereka tiba-tiba ada tamu yang tak diundang mendekat. Anha menatap orang itu dengan pandangan tak senang.


Kenapa orang ini ke sini? Bukanya restoran mewah ini private?


Anha hendak turun dari pangkuan Hamkan namun Hamkan mencegah dan menggenggam tangannya erat.


“Jangan lari lagi. Jangan lari dari masalah kayak Anha yang dulu. Kamu harus hadapi.”


Mata Hamkan masih menatap tajam laki-laki yang semakin mendekat ke arah mereka. Rahang Hamkan mengeras.


Anha sebenarnya takut. Kenapa dia datang kemari?


Lelaki itu tak lain adalah adalah Ikram.


Anha tak habis pikir. Apa dia hendak merusak kembali pernikahannya dengan Hamkan lagi?

__ADS_1


***


Bab selanjutnya resepsi + ada tamu tak diundang yang datang, loh. Tebak siapa?


__ADS_2