Diceraikan Di Malam Pertama

Diceraikan Di Malam Pertama
Pencuri Kecil


__ADS_3

Dengan perlahan Anha menaruh Kalila yang sudah disusuinya ke dalam box bayi.


Hamkan yang baru saja datang dari ruang keluarga pun langsung menciumi pipi tembam putri kecilnya yang sedang terlelap membuat Anha cemberut dan menarik-narik dengan manja baju suaminya itu.


“Nanti Kalila bangun, loh, Mas,” kata Anha sambil merengek kesal. Susah sekali tahu menidurkan anak kecil! Butuh waktu satu jam lebih bagi Anha untuk menidurkan Kalila.


“Mas!” Anha masih menarik-narik baju Hamkan yang jahil dari belakang.


“Apa, sih. Uminya minta dicium juga, ya?” kata Hamkan menggoda Anha yang masih cemberut.


Tiba-tiba Hamkan membalik tubuh istrinya dan memeluk Anha dari belakang. Jantung Anha semakin terasa berdetak tak karuan ketika Hamkan menyandarkan kepalanya pada pundaknya.


“Aku kangen sama kamu,” bisik Hamkan dengan lembut di telinganya. Entah itu kode Hamkan sedang pengin atau apa tapi Anha sedang tidak mau menanggapi.


Anha hanya tersenyum saja tanpa berucap sepatah kata pun. Dengan gerakan tak terduga tiba-tiba Anha berbalik badan dan mengecup pipi suaminya hingga meninggalkan bercak lipstick di pipinya.


Anha tertawa dan berlari keluar ke ruang keluarga. Hamkan menyentuh pipinya yang terdapat bekas ciuman Anha, jantungnya terasa berdetak tak karuan padahal, kan, dia dengan Anha sudah sering berciuman. Tapi kenapa masih terasa berbunga-bunga seperti ini?


Sesampainya di ruang keluarga Anha menghentikan langkahnya dan berjalan pelan untuk mencari di mana keberadaan dua putra kecilnya yang menggemaskan lantaran tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.


Ke mana perginya Aim dan Ais? Apa jangan-jangan mereka berdua sedang tidur siang, ya? Anha menengok sejenak ke kamar si kembar namun mereka tidak ada di sana.


Sayup-sayup Anha mendengar kedua putranya sedang berbisik-bisik, dan suara tersebut terdengar dari arah dapur.


Anha mengeryit sambil mencoba mengintip apa yang sedang mereka lakukan. Mulut Anha terbuka ketika mendapati Aim dan Ais diam-diam memakan es krim cokelat yang disimpannya di dalam kulkas dengan lahap sekali. Sampai belepotan di mana-mana.


“Buruan, nanti ketahuan Umi,” kata Ais sambil memasukkan sendok es krim ke dalam mulutnya.


Anha menyipitkan mata mengamati kedua putranya yang benar-benar nakal tapi sangat menggemaskan itu. Antara gemas dan ingin marah rasanya.


Anha berdehem membuat kedua anaknya kaget bukan main. Kenapa Uminya tiba-tiba ada di sini?


Dengan cepat mereka menutup pintu kulkas sampai bendentum cukup keras dan berbalik badan menyembunyikan cup es krim di belakang tubuh mereka.


Oo... Mereka ketahuan!


“Ais, Aim. Siapa yang ngizinin kalian makan es krim? Kan, Umi udah bilang dilarang makan es krim kecuali hari Jumat sama Minggu,” kata Anha dengan galaknya sambil bersedekap dada membuat si kembar ketakutan.


“Siapa yang ngambil es krimnya?” ulang Anha sambil menyipitkan mata mengintrogasi Aim dan Ais.


Anha memang tegas kalau sudah masalah seperti ini. Mereka berdua hanya boleh makan es krim ketika hari Jumat dan Sabtu saja. Selain hari itu tidak boleh. Tidak ada tawar menawar lagi.


Entah karena efek mereka kembar atau bagaimana. Masalahnya jika salah satu dari mereka sakit, maka yang satunya lagi juga ikutan sakit. Kalau sudah begitu Anhalah yang benar-benar dibuat pusing bukan kepalang mengurusi dua anak yang sakit secara bersamaan. Apalagi Kalika masih kecil. Meskipun Anha dibantu oleh ART-nya namun tetap saja dia masih kuwalahan.


Bahkan terakhir kali Aim dan Ais jatuh sakit, sampai-sampai mamanya ikut datang membantu.

__ADS_1


Kedua putranya itu saling senggol satu sama lain. Mulutnya penuh dengan bekas es krim dan tadi Anha juga sempat melihat tangan mereka terdapat bekas es krim cokelat.


“Jadi nggak ada yang mau ngaku, nih?”


“Ais yang nyuruh Umi,” tiba-tiba Aim mengucapkan hal tersebut sambil menunjuk kakaknya yang berdiri di sebelahnya dengan mulut menganga tidak percaya jika adiknya melakukan hal itu.


“Nggak Umi. Aim yang ngambil duyuan. Ais cuma ikut-ikutan, kok, Umi." Ais menggelengkan kepala dengan kuat.


Anha menahan sekuat tenaga supaya tidak tertawa terbahak di depan anaknya. Hingga akhirnya Anha berdehem untuk menetralkan ekspresinya yang hendak tertawa tadi.


“Oh, jadi beneran nggak ada yang mau ngaku, nih?”


Ais dan Aim masih saling senggol-senggolan dan menyalahkan satu sama lain.


“Kamu, sih,” ucap Ais dengan sayup-sayup, namun masih dapat tertangkap oleh telinga Anha. “Kamu tahu!” balas Aim tak kalah sengitnya.


“Aim… Ais.” Anha memperingati mereka berdua dengan galak dan melotot.


“Bukan Aim, kok, Umi. Bukan. Tadi Es kyimnya jatuh sendiri, kok, Umi!” ucap Aim dengan wajah tegangnya.


Anha tertawa lepas mendengar hal tersebut sampai sudut matanya berair. Aduh, gagal sudah dia berakting menjadi Ibu yang galak.


Mana mungkin juga es krimnya bisa jatuh. Orang mulut Aim dan Ais saja dipenuhi dengan bekas es krim cokelat itu. Anha menutup mulutnya menahan tawa. Mungkin maksud si kecil yang menggemaskan ini adalah es krimnya jatuh ke mulut mereka. Aduh, ada-ada saja, deh.


Aim menyengir kuda. “Umi udah nggak malah lagi, kan, sama kita?”


“Tau, Ah. Umi ngambek. Umi nggak suka sama anak yang nggak jujur sama Umi. Biarin aja anak Umi cuma Dek Kalila, doang,” kata Anha sambil mengibaskan rambutnya dan berlalu berbalik badan meninggalkan kedua monster kecilnya yang saat ini berteriak memanggil namanya dan mengejar dirinya dari belakang.


Anha terkikik geli melihat kelucuan Ais dan Aim.


“Umi… Umi… jangan gitu, dong. Aim sama Kak Ais minta maaf Umi,” kata Aim dengan wajah sedih. Seolah menganggap apa yang diucapkan Uminya tadi adalah betulan.


“Ada apa, sih. Kok, rebut-ribut?” tanya Hamkan yang baru datang dari kamar tidur.


Terlihat Anha yang sedang duduk di sofa ruang keluarga dengan cemberut sedangkan kedua putranya mewek hampir menangis.


“Abati-Abati. Umi udah nggak sayang lagi sama Ais dan Aim,” cuap Ais dengan wajah memelas.


“Oh, ya?” Hamkan mengeryitkan dahinya mendengar hal tersebut.


“Iya Abati. Kata Umi... anak Umi cuma Dek Kayiya, doang. Aim sedih Abati.”


Hamkan menatap ke arah Anha yang saat ini membuang muka. Dia tahu istrinya itu tidak betulan mengatakan hal tersebut. Lihatlah, kalau Ais dan Aim kena omel pasti mereka berdua meminta pembelaan dari Abatinya.


“Pasti kalian nakal, ya, sama Umi sampai Umi ngambek kayak gitu?” ucap Hamkan dengan lembut dan penuh kasih sayang. Hal itu membuat hati Anha meleleh. Memang siapa yang tidak jatuh cinta kepada lelaki yang suka dengan anak kecil.

__ADS_1


Benar kata orang. Dulu Hamak sangat menyayangi mamanya. Dan hal itu menurun ke anak-anak mereka. Lelaki yang menyayangi Ibunya pasti kelak juga akan menyayangi keluarganya.


Aim yang menangis betulan pun mengusap air matanya dan menganggukkan kepala.


“Iya. Kita makan es kyim di kulkas. Abis soalnya enak banget Abati. Aim nggak tahan.”


Hamkan tertawa dan mengacak rambut kedua jagoannya itu. Pantas saja mulut dan tangan mereka belepotan es krim seperti itu.


“Yaudah-yaudah jangan nangis lagi. Anak cowok nggak boleh nangis. Kalian buruan cuci tangan sama cuci mulut, gih. Abis itu kalian minta maaf ke Umi dan cium pipi Umi kalian. Pasti nanti Umi bakalan nggak ngambek lagi.”


Anha memanyunkan bibirnya. Suminya itu benar-benar memanjakan sekali Aim dan Ais, huh.


“Nanti kapan-kapan Abati janji ajak kalian buat jajan es krim di luar. Ini rahasia kita, ya. Umi jangan sampai tahu,” kata Hamkan kepada kedua anaknya yang tadi menangis kini gantian menyengir senang sekali.


Huh! Jangan bilang kepada Umi tapi Hamkan mengatakan hal itu keras sekali seolah yang dibicarakan sedang tidak ada di sini? Keterlaluan!


“Yeay! Kita sayang Abati. Hore!”


Keduanya bersorak senang sekali. Setelah itu Aim dan Ais buru-buru berlari untuk mencuci tangan dan mulut di kamar mandi seperti yang disuruh oleh Abati.


“Kamu itu, loh, Mas manjain mereka banget, deh. Kalau mereka yang sakit gimana? Blablabla.”


Hamkan terkekeh dan tidak terlalu menggubris ucapan istrinya yang sedang mengomel itu. Memang sejak menikah dengannya Anha semakin galak saja. Entah ketika bersama anak-anak atau pun ketika bersamanya di ranjang.


Dengan gemas sekali Hamkan mencium  pipi Anha supaya tidak mengomel lagi. Dan ternyata hal itu berhasil juga untuk menghentikan Anha.


Ketika Anha membuka mulutnya hendak protes kepada Hamkan yang tiba-tiba menciumnya, anak-anak kini sudah berlari dan memeluknya.


“Umi… maafin Aim, ya. Tadi yang nyambil es kyimnya Aim, kok. Bukan Kak Ais.”


Ais menggelengkan kepala. “Nggak, kok, Umi. Tadi Ais yang ambil duyuan bukan Aim.”


Anha tersenyum melihatnya. Lihatlah. Tadi saja mereka saling senggol-senggolan dan melemparkan kesalahan. Sekarang mereka saling membela satu sama lain.


Dengan gemas Anha menciumi pipi Ais dan Aim bergantian. Habis sudah pipi tembam mereka diciumi Anha. Aim tertawa kegelian.


“Lain kali jangan gitu lagi, ya, Nak,” ucap Anha sambil mengusap rambut mereka.


“Umi udah nggak malah lagi, kan, cama kita?” tanya Ais sambil memeluk Uminya.


"Nggak, kok, Sayang."


Mereka tertawa bersama. Hamkan ikut tersenyum juga dan memangku salah satu dari keduanya.


Anha tersenyum. Keluarga kecil mereka benar-benar sempurna. Dia memiliki tiga anak yang lucu. Suami yang sangat mencintainya dan sayang dengan keluarga.

__ADS_1


Terimakasih Tuhan atas ini semua.


-Anha


__ADS_2