Diceraikan Di Malam Pertama

Diceraikan Di Malam Pertama
Semanis Catton Candy (3)


__ADS_3

“Ma-maaf. Tadi ada—”


“Nggak papa, kok. Makasih,” kata Anha memutus ucapan Hamkan barusan.


Untuk menghilangkan rasa canggung. Hamkan akhirnya mengajak Anha untuk duduk di kursi yang berada di luar pasar malam untuk menikmati cotton candy mereka sebelum pulang ke rumah.


Anha menyuwir sedikit demi sedikit cotton candy dan memasukkannya ke dalam mulut. Ini manis! Sangat enak sekali!


“Jadi, Pak Owner ngajakin cewek main ke pasar malam gitu? Bukan ke resort mewah atau pun ke luar negeri sambil naik pesawat pribadi gitu kayak di novel-novel romantis?” kata Anha sambil menyikut pelan lengan Hamkan.


Hamkan memerah mendengar hal tersebut, dan ia hanya mampu berdehem untuk menetralkan jantungnya yang berdetak tak karuan, rasanya susah sekali untuk diatur.


Bisa-bisa kalau seperti ini terus maka Anha akan mendengar degub jantungnya lagi.


“Kebanyakan baca novel kamu, tuh,” jawab Hamkan sekadarnya membuat Anha tertawa geli. Hamkan menatapnya sekilas, tawa renyah wanita ini sebenarnya lebih manis, mengalahkan manisnya cotton candy yang sedang berada di mulutnya saat ini.


“Anha....”


“Ya. Apa?”


Anha menatap Hamkan yang memanggilnya di samping.


“Anha. Kamu cantik kalau lagi senyum. Lain kali lebih sering senyum dan jangan sedih-sedih lagi, ya,” kata Hamkan sambil tersenyum kepada Anha.


Anha terdiam mendengar hal tersebut. Pipinya benar-benar memanas. Jantungnya seolah mau meledak saja. Tapi hanya rona merah di pipi yang terlihat.

__ADS_1


Anha menganggukkan kepala dan menunduk karena malu.


‘Jangan sedih-sedih mulu, ya.’


Mereka sampai di rumah pukul sembilan kurang sepuluh menit.


***


Hari berikutnya, di rumah Anha....


Kemarin, ketika Anha pergi malam mingguan dengan Hamkan.


Ketika hanya ada mereka saja di rumah. Jeng Asih pun akhirnya menyampaikan niatannya supaya hubungan kedua anak tersebut lebih baik melangkah ke jenjang yang lebih jauh lagi saja, atau kata lainnya adalah ke jenjang pelaminan.


Jelas saja Jeng Marni senang bukan main mendengarnya.


“Nanti, ya, Jeng saya bantu buat ngomong ke Anha. Soalnya saya sendiri belum tahu apakah Anha sudah suka apa belum sama Nak Hamkan.”


Jeng Asih menganggukkan kepala dan menunggu kabar baik dari pihak calon besannya itu.


***


Ketika mengingat kembali kejadian semalam. Senyum mama Anha semakin mengembang saja.


Mama menatap Anha yang saat ini sedang sibuk membolak balik halaman demi halaman buku paket tebal di ruang keluarga.

__ADS_1


Anha duduk di karpet lantai dan  merangkum materi untuk mengajar senin besok.


Mama menggelengkan kepala ketika melihat televisi di ruang tamu masih menyala tetapi Anha tidak menontonnya sama sekali.


Mama ikut duduk di sova dan mematikan televisi tersebut.


“Hemat listrik Anha!” kata mama dengan saksama.


“Iya, Ma,” jawab Anha dan tangannya masih sibuk memegang pena untuk meringkas isi buku paket tebal tersebut pada buku tulis.


Mama tersenyum, kemudian berucap....


“Anha. Gimana kalau kamu nikah sama Hamkan? Kamu mau nggak?”


Namun ucapan yang keluar dari mulut mamanya membuat Anha menghentikan gerakan menulisnya.


“Ma-maksud Mama apa?” tanya Anha sambil mengalihkan pandangannya yang semula menatap pada buku paket tebalnya kini berganti menatap wajah mamanya.


“Iya. Gimana kalau kamu nikah sama Hamkan. Kamu mau, kan?” ulang mama dengan jelas sejelas-jelasnya.


Anha terdiam. Tangannya menggemnggam erat pena tersebut.


“Maaf, Ma. Anha nggak bisa.”


***

__ADS_1


__ADS_2