Diceraikan Di Malam Pertama

Diceraikan Di Malam Pertama
Apa Aku Cemburu?


__ADS_3

“Anha, Ma?” tanya Anha sambil menunjuk dirinya sendiri serta bibir yang terbuka tidak percaya akan ini semua.


Untuk apa Anha melakukan hal tersebut?


“Iya, dong. Kita, kan, harus balas budi.”


Mama tersenyum bahagia sekali, sampai matanya mengerut, dan tentunya... mencurigakan.


“Dah, buruan sana berangkat. Mobilnya udah nunggu di luar,” kata mama sambil memberikan bekal tersebut kepada Anha.


“Hah?!” mulut Anha menganga.


Mobil? Mobil siapa? Apa karena anaknya tidak bisa naik motor sampai-sampai mama membelikan mobil untuknya.


Anha sudah mengenakan baju casual yang rapi, jadi dia berpikir untuk tidak perlu mengganti pakaiannya dan lebih baik langsung berangkat saja, bukan? Toh, dia tidak punya perasaan apapun terhadap Hamkan. Jadi untuk apa berias?


Sesampainya di depan pintu rumah. Mata Anha membulat penuh. Ia tercengang. Mama tidak bercanda. Memang ada mobil hitam mengilat di depan pagarnya. Astaga!


Anha perlahan-lahan mendekat ke mobil tersebut.


“Siang, Mbak Anha,” sapa supir tersebut kepada Anha.


Eh, bukannya ini supir pribadi Hamkan, ya? Yang waktu itu mengantarkannya pulang dari rumah sakit.

__ADS_1


“Silakan, Mbak. Saya antar,” kata supir tersebut setelah membukakan pintu mobil untuk Anha. Mata Anha menyipit, rasanya aneh sekali, dia mencium bau-bau mencurigakan.


Mama yang diam-diam mengintip dengan cara menyibak sedikit korden di balik pintu jendela menepuk dahinya sendiri.


Padahal dia sudah bersekongkol dengan Jeng Asih untuk hal ini. Tapi calon besannya itu ngotot agar Anha diantar supir pribadinya saja. Jeng Asih khawatir jika Anha kenapa-napa.


Astaga, Jeng Asih ini memperlakukan Anha seperti anak ayam saja dalam menyayangi Anha. Wajar sekali jika saat ini anaknya curiga.


“Kok, Bapak bisa nganterin saya?” tanya Anha penuh selidik kepada Pak Spir tersebut. Matanya memincing penuh tanda tanya.


“Em-em... anu... Mbak. Ta-tadi kebetulan saya nganterin Nyonya besar shoping. Terus Nyonya lagi WA sama Mamanya Mbak Anha. Abis itu setelah nganterin Nyonya Besar ke rumah. Nyonya nyuruh saya jemput Mbak Anha. Hehe.”


Supir tersebut mencoba mencari alasan semasuk akal mungkin. Kemudian menengok Anha dari spion tengah. Semoga saja Mbak Anha tidak curiga.


Supir tersebut mengembuskan napas lega. Syukurlah Mbak Anha tidak curiga.


***


Tanpa terasa kini mereka sudah sampai di kantor Hamkan. Anha agak tercengang, ternyata kantor pusat milik Hamkan besar juga.


Sekarang dia hanya mampu menggenggam erat tali tote bag ini. Nyalinya tiba-tiba menciut. Pasti di dalam sana banyak karyawan yang mengenakan setelan kemeja kerja dan cantik-cantik. Tahu begini tadi dia dandan dulu saja ketika di rumah.


“Silakan, Mbak,” kata supir tersebut. Tapi sialnya supir Hamkan itu tidak bisa menemaninya sampai ke ruangan Hamkan karena ada suatu hal katanya.

__ADS_1


Setelah bertanya dengan beberapa orang. Anha akhirnya naik ke lantai sepuluh tempat di mana Hamkan berada.


“Permisi. Saya mau bertemu dengan Pak Hamkan,” kata Anha kepada seorang wanita yang sedang duduk di kursinya. Mungkin sekretaris pribadi Hamkan.


“Baik. Dengan ibu siapa dan ada keperluan apa?”


“Anha. Bilang aja Anha mau ketemu.”


Sekretaris Hamkan mengangguk. Anha menatap perempuan itu sejenak. Memindai penampilan sekretaris Hamkan tersebut. Dua kancing bagian atas tidak dikancingkan dengan benar sampai terlihat belahannya. Heh! Memangnya kantor ini tidak memiliki SOP pakaian kerja, ya? Sekretaris Pak Hans di tempat kerjanya dulu saja tidak seperti itu, kok.


“Silakan. Saya akan antar Ibu ke ruangannya,” kata Sekretaris tersebut dengan ramah. Anha mengekorinya dari belakang.


Tangannya mengepal geram. Lihatlah! Bukannya rok spannya itu terlalu pendek. Man Always be Man. Laki-laki tetaplah laki-laki! Dasar Hamkan berengsek!


Anha menggerutu dalam hati. Mulai berpikir yang tidak-tidak.


Pasti matanya segar melihat pemandangan seperti itu setiap hari. Pantas saja gila kerja. Tenyata ada penyemangatnya.


Anha menggigit bibir bagian bawahnya. Eh, tunggu dulu. Kenapa dia bisa kesal tidak jelas kepada Hamkan yang memiliki sekretaris seksi seperti itu? Itu, kan, bukan urusannya.


Anha menelan ludah.


‘Apa jangan-jangan... a-aku cemburu?’ kata gadis batin Anha dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2