Diceraikan Di Malam Pertama

Diceraikan Di Malam Pertama
Tidak Diharapkan


__ADS_3

Tanpa terasa sudah tiga minggu lamanya Hamkan tidak bertemu dengan Anha. Ia sedang mencoba mengambil jarak di antara mereka berdua. Bukannya Hamkan sudah menyerah untuk mendapatkan hati Anha. Hanya saja Hamkan ingin mengambil jeda sampai amarah wanita itu mereda.


Hamkan rasa, baik dirinya dan orang tua Anha terlalu buru-buru dalam hubungan ini. Hamkan mengambil napas dalam dalam dan mengembuskannya perlahan melalui mulutnya.


Mamanya pun juga sudah tidak sering lagi datang ke rumah Anha. Frekuensinya mulai diturunkan. Dulu yang awalnya mama mendatangi rumah Anha bisa sampai semiggu dua kali sekarang menjadi seminggu sekali. Mama juga memberitahu Jeng Marni agar tidak usah terburu-buru menekan Anha dalam pernikahan.


Cinta memang tidak dapat dipaksakan. Cinta datang kepada orang yang tepat dan di waktu yang tepat pula. Dan tentunya tidak dapat dipercepat.


Tangan Hamkan bergerak mengambil ponselnya yang berada di kantung celananya. Sebenarnya Hamkan ingin sekali menjadikan foto Anha yang diambilnya secara diam diam sebagai wallpaper ponselnya. Tapi itu terlalu tidak sopan karena Hamkan belum mempunyai hak dalam melakukan hal tersebut.


Ibu jarinya bergerak menekuri layar ponsel dan membuka menu galery. Senyum Hamkan terukir ketika ia menatap foto Anha yang sedang tersenyum kepada anak kecil di depannya. Kenapa para mantan kekasih Anha sangat jahat kepadanya? Wanita seperti ini disia-siakan. Hamkan bersumpah. Jika nantinya Anha sudah menjadi miliknya, maka Hamkan akan memperlakukan Anha dengan baik. Mencintainya sepenuh hati.


“Anha. Kamu boleh ngacuhin aku. Kamu boleh benci aku. Tapi tolong izinin aku buat merjuangin kamu,” gumam Hamkan pelan sambil masih menatap foto itu.


“Aku bakalan berjuang semampu aku. Dan aku bakalan menjauh ketika kamu benar-benar pengin aku pergi.”


***


Hari ini weekend. Pasti Anha sedang berada di rumah. Sudah tiga minggu lamanya bukan dia tidak bertemu dengannya? Apa tak apa jika sekarang Hamkan memberanikan diri untuk berkunjung ke sana?


“Buruan, dong, Hamkan. Keburu diambil orang lagi, loh, nanti,” kata Mama dari belakang menyemangati. Mama adalah suporter tetap dalam hubungan pendekatannya dengan Anha.


“Tapi, Ma...” Hamkan hendak memprotes. Namun mamanya sudah mendelik galak duluan.


“Udah sana buruan berangkat. Nggak usah tapi-tapian. Mama aja yang udah kangen sama Anha terpaksa nggak ketemu dia berminggu-minggu demi kamu,” gerutu mama sambil memanyunkan bibirnya.


“Tapi, Ma. Masalahnya nanti Hamkan bilang apa kalau udah sampai di rumah Anha? Masak nggak ada keperluan tiba-tiba main ke rumah orang. Kan, aneh banget, Ma,” kata Hamkan dengan saksama.


Eh, iya juga, ya. Mamanya baru kepikiran tentang hal itu. Kalau dirinya ke rumah sahabatnya, kan, ada alasan bergosip ria dengan Jeng Marni. Tetapi kalau Hamkan yang berkunjung apa, dong, alasannya?


“Udah-udah. Sana tetep berangkat aja. Emang main ke rumah pacar harus ada alasannya. Bilang aja kangen.”


Mama menutup mulutnya dan terkikik geli.


“Belum jadi pacar kali, Ma.”


“Ya, kan, siapa tahu diijabah, Ham.”


Hamkan lebih memilih bersiap untuk pergi kerumah Anha daripada mendengarkan ucapan provokatif mamanya yang mulai ngelantur saja. Bahkan saat ini mamanya sudah memikirkan tempat untuk preweeding mereka nanti. Ya Tuhan.


“Berangkat dulu, ya, Ma,” kata Hamkan sambil mencium punggung tangan mamanya.


“Iya hati-hati, ya. Semangat PDKT-nya. Buruan bawain menantu buat mama.”


Hamkan mengangguk dan berlalu meninggalkan rumah dengan menaiki mobil pribadinya. Jalanan tidak terlalu ramai. Masih pukul setengah empat sore ketika Hamkan dalam perjalanan ke rumah Anha.

__ADS_1


Sampailah Hamkan di rumah Anha. Rumah Anha tidak terlalu besar—maksudnya tidak sebesar rumah mewah Hamkan. Tapi udara dan nuansanya asri sekali. Yang pertama kali tertangkap mata Hamkan ketika memasuki gerbang Anha yang terbuka adalah pohon mangga rindang yang tengah berbuah di halaman rumah Anha sehingga menjadikan teras Anha terasa segar.


Hamkan menekan pintu rumah Anha dua kali.


“Iya. Bentar,” teriak Anha dari dalam rumah. Tanpa menunggu lama sosok yang dicari pun terlihat. Hamkan tersenyum sambil mengucapkan salam. Anha dengan wajah datar menjawab salam Hamkan sekenanya. Sepertinya Anha masih tidak suka dengan Hamkan, hal itu terliat dari mimik wajahnya yang tidak bersahabat ketika melihat Hamkan.


“Kamu kenapa ke sini?” kata Anha tanpa berbasa-basi sambil menatap ke sembarang arah. Malas bersitatap dengan Hamkan. Hamkan hanya mampu menghela napas. Itu bukanlah sambutan yang baik ketika menerima tamu.


“Um... nggak, kok. Aku cuma mau main aja. Emangnya nggak boleh, ya?”


“Mending kamu pulang aja. Mama lagi nggak ada di rumah. Jadi percuma.”


Anha masih berkelit, lebih baik sebisa mungkin Anha menghindar dari Hamkan.


“Aku nggak lagi nyari Tante.”


“Terus?” jawab Anha ketus. Dia benar-benar berbeda dengan Anha yang ramah, Anha dengan senyum menghangatkan seperti yang ada di gallery ponselnya.


“Aku... aku nyari kamu.”


“Nggak bisa, aku sibuk. Kalau nggak ada yang penting aku mau masuk lagi ke dalem. Mau tidur.”


Anha mengacuhkan Hamkan. Hamkan mengeryit. Tidak mungkin Anha tidur di jam empat sore seperti ini. Hamkan tahu itu hanyalah alasan Anha saja.


Bahkan kini Anha mengusirnya terang-terangan padahal Hamkan saja belum melangkahkan kakinya sama sekali memasuki ruang tamu.


Kebetulan di teras rumah Anha ada dua kursi berwarna putih dengan meja kayu rotan di tengahnya.


Hamkan hanya ingin mengobrol hangat dengan Anha. Namun sepertinya Anha tidak mau. Mungkin jika Hamkan berdiam diri di teras maka Anha mau menemaninya untuk mengobrol.


Anha berlalu menutup pintu rumahnya kembali, padahal Hamkan masih beridiri di sana. Hamkan mengalah. Biarkan Anha melunak melihat pengorbanannya ini. Hamkan duduk di kursi teras. Menatap pohon mangga yang berbuah namun masih hijau. Sejenak ia mencoba melupakan sikap acuh Anha terhadapnya. Mungkin mangga itu enak kalau dibuat rujak.


Diam-diam Anha menyibak sedikit korden di jendela pada ruang tamu untuk mengintip apakah Hamkan masih ada di sana atau tidak, namun ternyata Hamkan memang masih berada di sana.


Kenapa Hamkan seperti ini? Seharusnya Hamkan pergi saja dan membenci dirinya karena tadi dia telah memperlakukannya dengan semena-mena. Kenapa laki-laki ini masih bertahan menungguinya?


Anha memegang dadanya yang kini terasa agak ngilu. Ia tersenyum getir. Palingan Hamkan saat ini berjuang karena Hamkan belum tahu keburukan dan kelamnya masa lalunya. Lihat saja, pasti ketika Hamkan tahu. Hamkan akan menjauh dan membencinya seperti Hasan dan Ikram.


Anha memilih untuk mengabaikan Hamkan yang masih duduk di kursi teras. Toh, nanti Hamkan juga pergi sendiri.


Anha duduk di kursi ruang keluarga dan menyalakan televisi. Sudah dua puluh menitan Anha menonton televisi namun sialannya pikirannya masih tidak bisa berfokus dengan apa yang saat ini masih ditontonnya.


Anha menggigit bibir bawahnya dan menatap ke arah jendela rumah yang dihiasi dengan korden bermotif bunga mawar pink. Kasihan juga Hamkan.


Ketika Anha mengintip kembali dari balik korden jendela. Mata Anha membulat ketika menatap Hamkan yang masih duduk di sana sambil bermain ponselnya. Namun buru buru Anha mentup kordennya ketika Hamkan memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.

__ADS_1


Setelah dirasa cukup aman. Anha mengintip kembali. Tampak Hamkan berdiri dari posisi duduknya. Apa sekarang akhirnya Hamkan hendak pergi?


Oh, tentu saja Hamkan hendak pergi. Dia merasa tak diharapkan. Jadi percuma menunggu Anha keluar dan menemaninya hanya untuk sekadar duduk dan mengobrol ringan.


Anha merasa sangat bersalah menatap punggung tegap Hamkan yang berjalan gontai keluar dari halaman rumah.


Hamkan. Maafin, aku.


“Eh, ada Nak Hamkan,” kata Mama yang baru pulang dari supermarket dan kebetulan melihat Hamkan keluar dari pelataran rumahnya. Hamkan tersenyum kepada Tante Marni.


“Tante nggak tahu, lho, kalau kamu main ke sini,” kata Mama dengan ramah seperti biasanya.


“Iya, Tante. Hamkan cuma mampir tadi dan ngobrol bareng Anha sebentar,” jawab Hamkan berbohong sambil mengusap leher belakangnya dengan perlahan. Hamkan hanya tidak ingin Anha terkena masalah karenanya.


Tapi dahi mama mengernyit ketika melihat pintu rumahnya yang berwarna cokelat masih tertutup. Tidak mungkin juga pintu rumahnya tertutup jika Hamkan benar-benar sudah bertamu. Jeng Marni tidak pernah menutup pintu rumahnya apalagi setelah menerima tamu.


“Loh. Tadi kamu serius udah ketemu Anha? Tante kira anak itu nggaka ada di rumah makanya pintunya masih ketutup.”


“U-udah, kok, Tante. Oh, iya. Hamkan izin pulang dulu, ya, Tante,” kata Hamkan sambil menyalami Tante Marni yang masih berada di atas motor matic-nya.


“Iya. Hati-hati, ya, Nak Hamkan. Jangan lupa juga salamin buat Mama kamu.”


Hamkan mengangguk dan  berlalu meninggalkan rumah Anha.


Mama memarkirkan motornya di plataran rumah dan membuka pintu. Dia mendapati Anha yang saat ini menggonta ganti chanel televisi.


“Tadi Hamkan ke sini, An?” tanya mama sambil menaruh tas belanjaannya di atas meja.


“Iya,” jawab Anha sekenanya.


“Ngapain aja dia di sini?” tanya mama lagi sambil menaikkan sebelah alisnya penuh selidik. Namun Anha tidak menjawabnya karena tidak tertarik.


“Tadi kamu suguhi minuman apa? Kok, Mama nggak ngelihat gelas kosong kalian?” karena jika Hamkan benar-benar bertamu dan mengobrol dengan Anha pastilah ada bekasnya. Mama curiga dengan Anha. Apa jangan-jangan...


Anha memutar bola matanya ke atas dengan terang-terangan. Mana ada gelas kosong! Orang tadi Hamkan menunggu di kursi teras rumah.


“Anha! Kok, kamu diem aja? Terus kenapa pintu rumah kita masih ketutup waktu Mama pulang? Apa jangan-jangan kamu nggak bukain pintu buat Hamkan, ya?”


Kuping Anha terasa sakit mendengar mamanya yang menaikkan nada bicaranya itu. Anha memilih untuk mengabaikan mama dan beranjak memasuki kamarnya.


“Anha. Kamu itu nggak boleh bersikap kayak gitu? Kok, kamu nggak ngehargai orang banget, sih, An? Kamu boleh nggak suka sama Hamkan. Tapi seenggaknya kamu itu harus memanusiakan manusia, Anha!!!” teriak mama dari luar kamar Anha.


Anha hanya terdiam. Menatap pantulan dirinya di depan cermin dengan mata yang memanas.


Dia ini... tidak pantas untuk siapa pun.

__ADS_1


***


__ADS_2