
Bella tersenyum tipis melihat Anha. Dirangkulnya lengan Hasan yang berada di sebelahnya itu sambil berkata manja kepada Hasan. Padahal sebenarnya tadi Bella hanya menumpang mobil Hasan untuk berangkat bersama. Tapi kesempatan ini tidak bisa Bella lewatkan begitu saja, bukan?
“Hasan, kok, malahan bengong, sih. Yuk, masuk, San.”
Ada rasa nyeri di hatinya. Seperti tersayat belati kecil tak kasat mata. Anha memutuskan pandangan mereka berdua dan menatap kardus yang sedang dijinjingnya saja agar tidak ketahuan jika matanya saat ini mulai berkaca.
Anha teringat kembali kata-kata yang pernah diucapkan oleh Hasan waktu itu kepadanya.
“Aku nggak bisa, An, sama kamu. Aku pikir kamu wanita baik-baik sampai aku mau ngejar-ngejar kamu.”
“Aku nggak bisa bayangin, An, gimana anak-anakku nanti kalau punya ibu kayak kamu.”
Rasanya sakit sekali mengingat rentetan perkataan itu.
Dua kali rasa sakitnya melihat Hasan tidak menolak digandengan oleh Bella seperti itu. Oh, mungkin saja saat ini mereka memiliki hubungan, memangnya siapa yang tahu?
Wanita baik-baik untuk lelaki baik. Pun sebaliknya, lelaki baik untuk wanita-wanita yang baik.
Mungkin saja… Anha bukan wanita baik untuk Hasan.
Anha mencoba merelakan saja. Kakinya melangkah lagi ke depan tapi pandangannya masih tertuju ke kardus yang sedang dibawanya itu.
Akhirnya dia dengan Hasan hanya berjalan berlawanan arah tanpa menatap satu sama lain. Seperti orang asing. Seperti tidak ada yang terjadi di antara mereka berdua.
***
Anha berjalan menelusuri pinggiran jalan. Saat ini dia belum ingin memesan ojek online. Anha memutuskan untuk mampir sejenak ke kafe yang letaknya tak jauh dari kantornya ini.
“Americano, satu,” kata Anha kepada pelayan kafe tersebut.
Setelah mendapatkan pesanannya Anha memilih duduk di kursi lantai dua yang menghadap ke arah jedela. Menatapi kendaran yang berlalu lalang dari atas sini.
__ADS_1
Tangannya tergerak mengeluarkan ponsel dan tissue dari dalam tasnya.
Anha mengusap matanya yang basah menggunakan tissue. Sudalah, tidak baik terus menerus larut dalam kesedihan ini.
Ibu jarinya iseng menggulir layar ponselnya. Omong-omong dia kangen Sean. Bagaimana, ya, kabar anak itu saat ini?
Maklum, akhir-akhir ini Anha jarang sekali berkirim pesan atau berteleponan dengan Sean karena terakhir kali ketika menelepon Sean bocah itu mengatakan jika dirinya sedang sibuk ujian. Anha juga tidak ingin mengganggunya.
Tapi mengiriminya pesan tidak apa, bukan? Siapa tahu dia saat ini sedang memiliki waktu luang.
Anha: Sean. Kamu lagi apa?
Anha mengetik pada layar ponselnya. Tidak membutuhkan waktu lama bocah itu sudah membalasnya.
Si Tengil: Cie, tumben tante nge-WA aku duluan. Kangen, ya, sama aku?
Jika biasanya Anha akan kesal ataupun tertawa membaca pesan jahil dari Sean tersebut. Kali ini Anha hanya terdiam—meskipun cukup merasa terhibur sedikit.
Sean menyengir di seberang sana. Pipinya memerah. Berbunga bunga sekali hatinya.
Ah, tumben sekali tante seksinya merindukannya. Walaupun tengil-tengil begini, Sean memang ngangenin.
Si Tengil: Kangen aja apa kangen banget? balas Sean sambil cengar cengir sendiri.
Takut apabila tante kesayangannya itu sebal dan tidak mau megiriminya pesan lagi. Akhirnya Sean memutuskan untuk meneleponnya.
“Hai, cantik,” kata Sean ketika teleponnya diangkat oleh Anha.
Anha masih terdiam, meskipun cukup merasa senang dan terhibur dengan adanya Sean.
“Kamu apa kabar, Sean?” kata Anha sambil mengapit ponselnya menggunakan bahunya sambil menyeruput kopi.
__ADS_1
“Baik, kok, Tante. Tante sendiri gimana kabarnya?”
“Tante baik. Kamu nggak main ke sini?”
Terdengar embusan napas berat dari seberang sana.
“Lagi ujian, Tante. Nggak bisa pulang ke sana. Padahal aku kangen banget sama Tante. Apalagi kalau tante Anha lagi manyunin bibir waktu cemberut…”
Suara bocah itu terputus sejenak. Lalu melanjutkan kembali ucapannya itu.
“Rasanya pengen nyium. Ahahaha.”
Bocah ini benar-benar. Tidak ada tobat-tobatnya sama sekali. Tetapi kali ini lelucon renyahnya bisa membuatnya tersenyum—sedikit.
“Oh, iya. Gimana pernikahan Tante? Sorry, ya, Sean nggak bisa ngehadiri. Tapi tenang, nanti amplopya berupa transferan dollar, Tanteku.”
Sean tertawa ketika mengucapkan lelucon tersebut. Namun Anha tidak.
Sean memang tahu tanggal pernikahannya dengan Hasan. Tapi Sean tidak tahu jika pernikahan itu telah batal. Mungkin yang Sean tahu saat ini dia dan Hasan sudah menikah.
Anha memegang dadanya yang masih terasa sesak. Kenapa ketika Anha mencoba untuk melupakan, tetapi selalu terasa sulit.
“Halo. Masih nyambung, nggak? Kok, diem aja, sih, Tan?” kata Sean karena tidak ada balasan sama sekali dari Anha.
Anha tersadar akan suara Sean tersebut.
“Eh, gimana? Tadi kamu ngomong apa, Sean?”
Sean mengeryit. Kenapa Tantenya aneh seperti ini. Tidak nyambung sekali ketika diajak ngobrol. Dan tidak seceria biasanya juga. Intuisi Sean memang tajam. Rasa peka anak ini memang tinggi sekali.
“Tante nggak kenapa-napa, kan?”
__ADS_1
***