
“Assalamualaikum,” ucap Hamkan sesampainya di dalam rumah. Hari ini sangat penat. Tubuhnya benar-benar terasa letih sekali.
Jeng Asih yang mendengar putranya telah pulang pun lagsung pulang membalas salam tersebut dengan wajah senang sekali.
“Wa’alaikumsallam. Anak Mama sudah pulang?”
Hamkan menghampiri mamanya dan mencium punggung tangannya.
“Sini-sini duduk dulu. Kamu pasti capek banget seharian kerja,” kata Jeng Asih sambil menepuk-nepuk sofa tempatnya duduk. Hamkan pun mendaratkan bokongnya di sebelah tempat duduk mama.
Tapi yang membuat aneh adalah satu hal. Mamanya masih saja betah senyum-senyum tidak jelas seperti itu. Bukan hanya itu saja, kini mama memberikan minuman untuknya seolah ini semua sudah dipersiapkan sebelumnya.
“Nih, diminum dulu,” kata Jeng Asih memberikan teh kepada putranya.
Kejanggalan kedua. Mama sekarang beralih memijit lengan Hamkan dengan wajah berbinar.
“Ada apa, Ma?” tanya Hamkan namun mamanya masih saja tersenyum-senyum sendiri.
“Gapapa.”
Hamkan meringis mendengarnya.
__ADS_1
Tentu saja Jeng Asih senang sekali. Hari ini Anha datang ke kantor Hamkan untuk membawakan putranya bekal. Pasti tadi mereka makan bersapa. Suap-suapan, atau bahkan sudah berciuma—
Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat Jeng Asih tersipu malu. Andai saja Hamkan bisa membaca pikiran, pasti dia akan heran jika mamanya sampai sudah berkhayal seperti itu.
“Tumben Mama aneh kayak gini? Kelihatannya Mama lagi seneng banget,” kata Hamkan sambil menaikkan sebelah alisnya. Tak tahan akan rasa penasarannya yang semakin membuncak.
“Mama mau liburan, ya? Atau jatah bulanan Mama udah habis?” tanya Hamkan lagi. Karena memang biasanya mama akan bersikap baik hati sekali jika menginginkan kedua hal tersebut.
Saat ini Hamkan hanya memiliki mamanya seorang. Papanya sudah tiada sejak ia masih kuliah. Itulah alasannya kenapa Hamkan sangat menyayangi mamanya. Meskipun mama tergolong wanita yang rempong dan banyak drama seperti mama-mama lain di luar sana.
Tetapi apa pun yang mamanya mau maka Hamkan akan mewujudkan.
“Nggak, kok. Uang bulanan Mama masih banyak.”
Mamanya mengangguk. Jeng Asih masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Apa lebih baik Hamkan dan Anha dipaksa menikah saja, ya? Paling juga Hamkan mau. Memangnya siapa yang tidak mau menikah dengan wanita cantik seperti Anha.
“Eh, iya, Hamkan. Gimana tadi makan siangnya sama sama Anha. Seru nggak?” tanya mama dengan saksama. Wajahnya penuh tanda tanya.
Hamkan mengeryit mendengar ucapan dari mamanya tersebut. Dari mana mama bisa tahu Anha datang ke kantor dan mambawakannya makan siang.
Mata Hamkan menyipit penuh selidik. Jangan-jangan....
__ADS_1
“Darimana Mama tahu kalau Anha ke kantor?”
Jeng Asih menutup mulutnya. Aduh keceplosan!
“Ahahahaha. Ma-mama... mama di whatsapp mamanya Anha dan dikasih tahu kalau tadi Anha ke kantormu dan kalian makan siang bareng,” ucap Jeng Asih sambil terbata.
Hamkan menggelengkan kepala. Ada-ada saja emak-emak zaman sekarang.
“Gimana? Tadi seru nggak?” tanya Jeng Asih begitu penasaran.
“Biasa aja, kok, Ma.”
“Kok, biasa aja, sih, Ham!” Jeng Asih tersungut-sungut sampai Hamkan kaget mendengarnya.
Jeng Asih tidak terima akan hal itu. Mana bisa moment mereka makan siang bersama sangat biasa-biasa saja bagi Hamkan.
“Ya, biasa aja, Ma—” ucapan Hamkan terhenti ketika mengingat kembali kejadian tadi siang di mana Anha menyuapinya. Tanpa terasa sama sekali pipi Hamkan memerah.
“Sebenernya.... nggak biasa-biasa aja, sih, Ma.”
Jeng Asih tersenyum mendengarnya. Wajah putranya ini terlihat sekali kalau menyukai Anha.
__ADS_1
“Jangan-jangan kamu udah suka, ya, sama Anha. Hayo ngaku sama Mama,” kata Jeng Asih sambil menaik turunkan alisnya menggoda Hamkan yang wajahnya merah sekali.
***