Diceraikan Di Malam Pertama

Diceraikan Di Malam Pertama
Bertamu


__ADS_3

Tanpa terasa badai itu sudah berhasil Anha lewati kurang lebih sebulan ini. Kini kondisi Anha sudah mulai membaik. Dia sudah tidak menangisi kepergian Hasan lagi.


Tetapi, Anha tidak dapat menampik jika terkadang ia masih menangis ketika hendak tidur saat teringat kembali dengan Hasan.


Kadang bulir bening itu menetes sendiri tanpa permisi.


Tapi bagaimanapun juga, seterpuruk apapun keadaannya, hidup masih terus berlanjut, bukan?


Meskipun sudah belajar untuk melupakan dan mengiklaskan. Anha masih menutup rapat-rapat hatinya untuk orang lain. Dia masih trauma dan saat ini... dia hanya ingin sendiri dulu.


***


Suara ketukan dari pintu depan terdengar, membuat Anha dan Mamanya menoleh ke arah pintu utama tersebut secara bersamaan.


"Bukain, gih, An, sana," kata mama sambil masih menikmati sinetron ikan terbang kesukaannya di televisi dimana dua wanita sedang berebut satu suami.


Apalagi soundtrack kondang kumenangis itu terkadang membuat Anha merasa sebal sendiri dan menggerutu tidak jelas dari dalam kamarnya sendiri.


Anha menggelengkan kepalanya, mamanya ini memang pecinta sinetron garis keras.


Anha yang baru saja mendaratkan bokongnya di sofa dan hendak membicarakan suatu hal yang penting dengan mamanya pun urung karena ketukan pintu tersebut.

__ADS_1


"Males, ah, Ma," kata Anha dengan wajah ditekuk-tekuk.


Mama melotot galak. "Buruan dibukain sana. Cepet."


Akhirnya Anha mengalah dan berjalan gontai ke arah pintu utama untuk membukakan pintu tersebut daripada ia menjadi anak durhaka.


"Eh, Tante," kata Anha ketika ia sudah membukakan pintu dan mendapati Tante Asih dan Hamkan yang berdiri di luar sana untuk bertamu.


"Si-silakan masuk, Tante.”


Anha mempersilakan keduanya untuk masuk.


Mama tersenyum bahagia sekali melihat kedatangan sahabatnya itu. Sinetronnya bahkan sudah tidak digubrisnya sama sekali.


Mereka saling berpelukan antar satu sama lain, dan tentunya bercipika-cipiki seperti sahabat yang sudah lama sekali tidak bertemu.


"Tumben, Jeng, main. Kangen banget, lho, saya."


"Iya, Jeng. Sama. Saya juga kangen banget."


Jeng Asih sengaja duduk di sebelah Anha, sedangkan Hamkan sendiri duduk di kursi dan berhadap-hadapan dengan Anha.

__ADS_1


Anha hanya diam saja karena tidak tau harus berubuat apa. Ketika Hamkan menatap lurus ke depan, dia melihat Anha dalam diam. Anha saat ini terlihat begitu cantik—ralat, wanita itu memang dari dulu sangat cantik. Tapi kini dia terlihat berbeda, kali ini tidak ada raut bahagia di wajah cantiknya itu. Dan sejujurnya, Hamkan sedikit merindukan senyuman Anha yang dulu pernah dilihatnya di rumah sakit ketika Anha menemani mamanya yang sedang dirawat di rumah sakit.


Hamkan mengembuskan napas. Sejenak mengingat kembali kejadian ketika Anha dipermalukan di depan umum waktu itu, maka sangat wajar jika itu semua membuat Anha kini tak bisa tersenyum lagi.


Insiden itu disimpan Hamkan rapat-rapat. Dia tidak menceritakan kepada siapapun—termasuk ke mamanya sekalipun.


"Kamu gimana kabarnya, Nak?" kata Jeng Asih sambil mengusap lengan Anha. Senyum Jeng Asih selalu merekah ketika melihat anak dari sahabatnya tersebut.


"Kabar Anha baik, Tante. Tante sendiri gimana kabarnya?" tanya Anha mencoba ramah kepada Jeng Asih.


Lihatlah, bahkan dilihat sekilas saja sudah ketara jika senyuman Anha barusan itu dipaksakan sekali agar membentuk lengkungan bulan sabit pada bibir merahnya.


"Tante baik. Tante kangen banget sama kamu. Akhirnya Tante tadi maksain Hamkan juga buat nganter Tante ke sini. Oh, iya. Ini buat kamu."


Jeng Asih bergerak memberikan bingkisan berupa tote bag berwarna cokelat kepada Anha. Isinya adalah tas mahal yang waktu itu dibelikan oleh Hamkan namun belum sempat ia berikan kepada Anha.


Hamkan hanya tersenyum melihat keduanya. Mama terlihat sangat sayang sekali dengan Anha padahal Anha bukan darah dagingnya. Entah apalah yang mendasarinya.


Bahkan mama sampai merecoki dirinya yang sedang berkutat dengan laptop hanya demi bertemu dengan Anha.


***

__ADS_1


__ADS_2