
Saling diam-diaman itu tidak enak rasanya. Sudah dua hari lamanya Anha saling diam diaman dengan mama seperti ini. Keduanya saling tidak mau membuka suara terlebih dahulu selama dua hari itu. Entah mentang-mentang ada pribahasa dosa mendiamkan seseorang selama tiga hari lamanya atau bagaimana sampai Anha dan mamanya saling keras kepala seperti itu.
Di rumah pun Anha sendiri hanya sesekali berpapasan dengan mamanya.
Sejujurnya Anha merasa tidak nyaman dengan perlakuan mamanya yang sedang mendiamkannya seperti itu. Mungkin mama sengaja melakukan pemboikotan ini supaya Anha mau menikah dengan Hamkan. Jika menikah segampang kawin, jelas saja Anha mau.
Tapi Anha sudah menutup hati. Lebih baik tidak menikah daripada gagal menikah lagi yang malahan akan menjadi bahan cibiran orang lain dan mama sendiri nantinya yang akan ikut menanggung malu.
Anha mengendikkan bahunya, berusaha bersikap bodo amat. Dia ingin melihat seberapa lama mamanya akan mendiamkannya seperti ini.
Dengan santai seolah tanpa beban sama sekali Anha melipir menuju ruang makan untuk mengisi perutnya yang terasa keroncongan. Tidak mungkin juga Anha terus-terusan meninggikan egonya dan terus menerus mengurung dirinya sendiri di dalam kamar lalu baru akan keluar setelah mama tidak ada. Bisa mati kelaparan dia.
Nampak mama sedang duduk di sova sambil membolak-balik majalah yang sedang di bacanya. Anha pura-pura seolah tidak melihatnya. Pun sama, mama juga berpura-pura tidak melihat sekelebat bayangan Anha yang memasuki ruang makan padahal mama sendiri diam-diam melirik sekilas Anha
Sebenarnya mama pun tidak suka saling bediam-diaman seperti ini. Dua duanya saja saling gengsi.
Sebenarnya.... dua hari ini Mama sudah refleksi diri. Dia tahu, dia ini terlalu memaksakankan kehendak kepada Anha untuk sesegera mungkin menikah dengan Hamkan. Apalagi kemarin dia sampai hilang kendali seperti itu. Tapi masa iya dia harus meminta maaf kepada Anha? beginilah orang tua, karena merasa umurnya lebih tua daripada anaknya terkadang kalau salah sampai gengsi minta maaf.
Mama mengendikkan bahu. Sudahlah, pasti nantinya mereka akan baikan lagi seperti biasa-biasanya.
***
Di ruang makan...
Anha berusaha makan dengan cepat karena setelah ini Anha akan langsung kabur kembali ke kamarnya supaya nanti dia tidak bertemu dengan mama.
Namun sial. Nasib sepertinya tidak mendukung rencana terselubung itu. Ditengah-tengah kegiatan makan, terdegar suara bel pintu rumah berbunyi, menandakan ada tamu yang berkunjung.
“Assalamualaikum,” salam seseorang dari luar. Anha menggigit paha ayam gorengnya dan menatap mata ke atas. Sepertinya dia familiar betul dengan suara itu.
“Eh Jeng Asih. Gimana, Jeng, kabarnya?” sayup-sayup suara itu terdengar dari ruang makan ini. Ah, Tante Asih rupanya.
Tapi sebenarnya Anha merasa agak heran. Kenapa juga Tante Asih akhir-akhir ini sering sekali bertamu ke mari? Perasaan belum genap satu minggu lamanya namun Tante Asih sudah bertamu kembali. Anha lebih memilih untuk mengabaikkan dua ibu-ibu heboh itu dan meneruskan makan siangnya.
Setelah selesai makan, Anha berjalan untuk mencuci piring kotornya. Ketika mencuci piring tanpa di sengaja Anha bersinggungan dengan mama yang saat ini sibuk mengambilkan jamuan untuk Jeng Asih.
Kini suasana di dapur ini benar-benar akward sekali. Tidak ada yang berani membuka suara terlebih dahulu. Suasananya sama seperti ketika Hamkan meraih pinggangnya ketika di pasar malam kala itu. Anha benar-benar malu jika mengingatnya lagi.
“Nanti salami dulu Tante Asih,” kata mama sekilas setelah mengambil cemilan dari dalam lemari. Hanya itu saja percakapan antara mereka berdua setelah saling diam-diaman selama dua hari lamanya.
“Anha apa kabar?” sapa Jeng Asih ramah seperti biasanya ketika melihat Anha keluar dari ruang makan.
“Baik Tante,” jawab Anha sambil menyalami. "Tante sendiri gimana kabarnya?"
“Kabar Tante juga baik. Sini duduk dulu. Tante kangen banget sama kamu.”
Anha meringis. Sebenarnya dia hendak menolak karena dia sudah ingin secepat mungkin kabur ke dalam kamarnya. Namun mama menatapnya dengan pandangan yang seolah memaksa sekali supaya duduk di sebelah Tante Asih. Akhirnya Anha pun hanya menurut saja dan duduk di samping Jeng Asih sambil menampilkan senyum dipaksakan sekali.
“Anha... Sebenernya Tante ke sini mau minta tolong sama kamu. Bisa nggak kamu nolongin Tante?” tanya Jeng Asih dengan saksama membuat Anha mengeryitkan dahi.
“Bisa, kok, Tante. Emangnya Tante mau minta tolong apa?”
Selama Anha bisa membantu. Jelas saja Anha akan berusaha melakukannya.
“Oh, iya. Tadi rencananya Tante mau ke kantornya Hamkan buat nganterin makanan buat dia. Tapi Tante lagi males banget, nih, dan rasanya lagi nggak enak badan.” Anha mengerutkan dahinya ketika mendengar hal tersebut. Maksudnya apa? Lalu apa hubungannya dengan Anha sendiri?
“Kamu bisa, kan, bantuin Tante buat nganterin makanan itu ke Hamkan?” lanjut Jeng Asih sambil memijit pelan pelipisnya seolah ia benar-benar sakit kepala saja.
Anha memprotes dalam hati. Kenapa juga dia harus repot-repot mengantarkan makanan tersebut untuk Hamkan? Hamkan, kan, bisa makan di luar saja atau Tante Asih juga bisa bukan menggunakan jasa go send? Lagi pula Anha sebenarnya keberatan.
“Tapi Tan—” belum sempat Anha menyelesaikan ucapannya. Mamanya sudah menyela terlebih dahulu. “Bisa, kok. Anha kebetulan berangkat ngajarnya jam dua, kok, Jeng. Jadi dia bisa mampir dulu ke kantornya Hamkan.”
__ADS_1
Anha menatap tidak suka ke arah mamanya ketika mama mengatakan keputusan sepihak tersebut. Bahkan sekarang Anha seolah olah tidak memiliki kesempatan untuk menolak. Apa-apa rasanya serba dikontrol oleh mamanya seperti ini. Sepertinya mamanya benar-benar sangat tangguh untuk mencoba mendekatkannya dengan Hamkan.
“Yaudah. Sana kamu mandi terus siap-siap dulu, Anha. Terus nanti anterin makanannya ke Hamkan sebentar. Kan, tempat kerjamu juga satu arah,” tambah mama lagi sambil tersenyum sampai sudut matanya menyipit.
Anha membuang muka, bahkan mama seolah lupa jika mereka berdua sedang perang dingin. Anha benar-benar ingin menolak. Tapi ketika menatap Tante Asih yang sedang tersenyum hangat membuat nyalinya menciut. Bagaimanapun juga Tante Asih sudah sangat baik kepadanya.
Dengan langkah gontai Anha melangkah ke dalam kamarnya untuk bersiap dengan hati yang terpaksa. Tanpa sepatah kata pun. Jeng Asih tidak menyadari raut Anha yang masam tetapi mama menyadarinya.
Mama sebenarnya tidak tega memaksa Anha seperti itu. Tapi ini semua demi kebaikan putrinya. Begitulah pikirnya.
***
“Silakan, Mbak,” kata supir Jeng Asih dengan ramah sambil membukakan pintu mobil untuk Anha. Walaupun Anha seolah dimanja sampai diantarkan supir pribadi Hamkan seperti ini. Namun hatinya tidak merasa bahagia sekali.
Kapan mama menyadari kalau segala hal yang dipaksakan kelak tidak akan baik? Padahal Mama sudah tahu secara lengkap kisah dirinya yang masih trauma sejak kegagalannya menikah dengan Hasan. Tapi mama terus saja seperti ini.
Ketika Anha masuk ke dalam mobil mewah milik keluarga Hamkan. Sepanjang perjalanan menuju kantor Hamkan Anha berpikir keras dalam diam.
Ia sadar betul. Tindakan mamanya dan tindakan Tante Asih yang menyuruhnya untuk mengantar makanan ke kantor Hamkan bukalah sebuah ketidak sengajaan. Bahkan ini semua terjadi sejak dua hari setelah malam mingguan itu. Pasti ini semua dilakukan mamanya untuk mendekatkannya dengan Hamkan. Hanya saja Anha telat mengerti.
Anha menggigit bibir dalamnya. Ibarat dua kutub magnet. Semakin mamanya mencoba mendekatkannya dengan Hamkan, maka rasanya Anha ingin semakin menajuhi Hamkan saja.
Baiklah, mari lihat saja hasil akhirnya. Anha memang tidak diizinkan menolak Hamkan, Anha juga tidak diizinkan sekali untuk berpendapat.
Tapi Anha memiliki rencana lain. Kalau begitu lebih baik Anha membuat Hamkan membencinya saja. Dengan begitu Hamkan pasti perlahan akan menjauh. Dengan begitu Mamanya tidak akan memiliki kuasa untuk mendekatkannya dengan Hamkan lagi.
Anha mennyandarkan kepalanya pada pinggir mobil dan memejamkan mata karena lelah.
Di sinilah mungkin Hamkan yang harus berusaha memperjuangkan Anha dan menariknya dari jurang trauma yang mendalam.
***
Hamkan meregangkan tubuhnya. Hari ini benar-benar amat penat padahal baru setengah hari berlalu. Banyak sekali kerjaan yang menumpuk di kantor. Meneruskan usaha orang tua memang bukan perkara yang mudah. Tapi Hamkan tetap semangat demi membahagiakan mamanya.
Meskipun letih. Hamkan masih saja memaksakan diri meraih map berwarna merah untuk dibaca. Seolah dia tidak akan makan sebelum pekerjaanya selesai saja.
Terdengar suara telepon di atas meja kerja Hamkan berbunyi. Hamkan mengambilnya dan mengapit gagang telepon tersebut pada pundak dan telinga kanannya sambil masih membaca laporan. Multifungsi.
“Ya?”
“Pak. Ada yang hendak bertemu dengan Bapak?”
“Siapa?”
Terdengar Donna mengembuskan napas sekilas. Entah wanita itu sedang kesal dengan tamunya yang merangsek untuk bertemu dengan Hamkan atau karena Hamkan selalu menjawab perkataan Donna singkat-singkat. Hamkan pun tidak mengerti juga.
“Bu Anha yang hendak bertemu, Pak.”
Mendengar kata Anha saja sudah membuat Hamkan senang. Seolah rasa letihnya menguap. Tumben sekali Anha datang ke mari lagi. Kini Hamkan memegang gagang telepon tersebut dan meletakkan dokumen yang memusingkan itu.
Saatnya istirahat.
“Suruh Bu Anha masuk,” kata Hamkan sekilas kemudian mematikan telepon sepihak. Tidak perlu menunggu lama, sosok itu pun datang dari pintu ruangan setelah mengetuk pintu. Senyum Hamkan mengembang menyambutnya. Anha seolah menjadi penawar di tengah tengah padatnya jadwalnya.
“Silakan duduk, An,” kata Hamkan sambil tersenyum. Namun Anha tidak.
Anha menaruh tasnya di kursi yang dipersilakan oleh Hamkan. Kemudian ia berjalan mendekat dan memberikan bingkisan dari Jeng Asih tadi.
“Ini makanan buat kamu.”
“Makasih, ya,” kata Hamkan senang.
__ADS_1
“Dari Tante Asih, kok,” kata Anha dengan ketus seolah memberi tahu Hamkan secara halus jika makanan itu bukanlah Anha yang membawakannya khusus untuknya. Namun Hamkan masih saja tersenyum senang.
“Tadi Tante Asih ke rumah. Terus Tante Asih minta tolong aku buat bawain itu ke kantormu,” tambahnya lagi.
Hamkan membuka kantung plastik makanan tersebut. Anha berjalan mendekati kaca jendela ruangan Hamkan. Bukan bermaksud lompat bunuh diri dari lantai sepuluh ini karena kebanyakan beban hidup. Dia hanya ingin melihat pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.
Hamkan menyendok suapan pertamanya dan memperhatikan punggung Anha dari tempatnya duduk. Kenapa hari ini rasanya Anha aneh sekali? Seperti ada sesuatu yang berbeda. Tidak seceria ketika di pasar malam minggu itu.
“Sorry, ya, ngerepotin kamu,” kata Hamkan berusaha mengajak Anha bicara.
Anha berbalik badan dan menatap tidak suka ke arah Hamkan membuat Hamkan mengernyitka dahi karena ditatap seperti itu.
“Seharusnya kalau kamu tahu diri karena udah ngerepotin aku. Kamu harusnya nggak bikin aku buang-buang waktu buat dateng ke sini cuma buat ngelakuin hal sepele kayak gini.” Anha menarik napas sejenak dan berjalan menghampiri tempat duduk di dekat meja kerja Hamkan untuk mengambil tasnya yang tadi ia letakkan di sana.
Hamkan semakin tidak paham dengan semua maksud Anha. Wanita memang susah untuk dimengerti.
“Kamu marah, ya, sama aku karena aku ngajak kamu ke pasar malem kemarin malam itu? Kalau kamu nggak suka pasar malem, besok-besok aku bakalan ajak kamu ke tempat yang lebih bagus lagi.”
Anha tidak memedulikannya. Ketika Anha mencangkong tasnya di pundak dan hendak pergi dari sinni. Hamkan pun otomatis langsung berdiri dari tempat duduknya untuk mencegah Anha pergi.
“Anha. Aku ada salah, ya, sama aku? Kenapa kamu marah sama aku?” tanya Hamka sambil menggenggam lengan Anha.
Mata mereka saling tatap. Sejenak, meski belum sempat semenit lamanya, Anha menatap dalam-dalam netra cokelat hangat milik Hamkan. Indah sekali. Mata lelaki itu benar-benar indah. Ada kecemasan yang nampak di sana. Hampir saja membuat Anha terlena akan tujuannya yang hendak membuat Hamkan supaya membencinya.
“Lepasin!” Anha mencoba menepis tangan Hamkan dan itu berhasil.
“Besok-besok lagi please bilang ke Mama kamu buat nggak usah nyuruh aku lagi buat nganterin makanan ke sini! Mama kamu itu bener-bener ngerepotin banget, sih, jadi orang!” teriak Anha ke Hamkan sambil menatapnya sengit.
Mendengar hal tersebut membuat Hamkan mengeratkan rahangnya. Hamkan memegang kedua lengan Anha dan menghimpitnya ke meja kerja Hamkan.
Hamkan paling tidak suka mamanya dibawa bawa seperti itu. Sebenarnya Anha ketakutan melihat reaksi Hamkan barusan sepertinya benar-benar marah atas ucapannya tadi.
Nyali Anha tidak sebesar itu. Kakinya sebenarnya sedikit gemetar ketakutan dan Anha memilih untuk membuang muka.
“Anha. Kalau kamu nggak bisa jadi peredam. Seenggaknya jangan jadi pemicu,” kata Hamkan dengan suara amat dingin pada telinganya. Laki-laki ini benar-benar marah.
Bagaimana ia tidak marah? Seharian ini Hamkan lelah sekali bekerja. Lalu tanpa diundang Anha datang ke mari bagaikan angin segar yang membuatnya bahagia, sesaat. Namun tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba Anha mengajaknya bertengkar seperti ini.
Anha menunduk karena matanya terasa memanas. Dia mendorong tubuh Hamkan yang tadi menghimpit tubuhnya. Anha berlari tanpa memedulikan Hamkan yang memanggil namanya dari belakang, ia pergi begitu saja meninggalkan ruangan ini.
Sebenarnya Anha tidak tega melakukan itu. Tapi inilah cara terbaik untuk mengusir Hamkan secara halus. Karena jika Hamkan membencinya. Maka Hamkan akan menjauh darinya. Anha rasa, itulah keputusan terbaik.
Karena ia merasa tidak pantas untuk Hamkan.
Ketika Anha sudah sampai di depan kantor. Terlihat supir Hamkan memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku ketika mendapati kedatangan Anha.
“Silakan Mbak saya antar pulang,” kata Pak Supir tersebut kepada Anha.
Anha menggelengkan kepala dan menatap ke arah lain sambil mengusap lengan kirinya. Bahkan tadi Anha sudah membuat Hamkan marah, namun Hamkan tetap menyuruh supirnya untuk mengantarkannya pulang. Kenapa lelaki itu selalu membuatnya merasa bersalah. Anha merasa terlalu jahat kepadanya.
“Nggak usah, Pak. Saya naik grab aja.”
“Mbak Anha, tolong biarin saya nganter Mbak,” pinta supir tersebut masih dengan membukakan pintu mobil untuk Anha dan menunggu Anha supaya masuk ke dalam.
Anha tidak enak hati menolaknya apalagi supir Hamkan masih tetap menunggunya, mungkin dia tidak akan pergi sampai Anha mau diantar pulang olehnya.
Akhirnya Anha pun mengalah dan masuk ke dalam mobil Hamkan. Apalagi supir Hamkan itu lebih sepuh darinya.
Di dalam mobil diam-diam Pak Supir menatap Anha dari spion tengah dan melihat Anha sedang mengusap air matanya.
‘Hamkan, jangan baik seperti ini. Aku malahan ngerasa semakin nggak pantes buat kamu.’
__ADS_1
***
Bau bau mulai konflik.