
Hamkan tertawa. Wajah marah Anha itu sangat imut sekali.
“Suapin lagi, dong, An. Tanganku kotor.”
“Nggak!” kata Anha berbalik badan sebentar kemudian kembali lagi keposisinya semula yaitu memunggungi Hamkan. Hamkan tertawa dan akhirnya makan menggunakan tangannya sendiri. Sepertinya mereka berdua benar-benar sudah baikan.
Anha teringat kembali tujuannya yang membawanya ke sini. Yaitu selain minta maaf kepada Hamkan. Anha juga ingin mengatakan semuanya kepada lelaki itu.
"Hamkan. Makasih, ya, waktu itu udah nyelametin aku." Hamkan hanya menjawabnya dengan gumaman karena masih mengunyah mangga yang manis ini.
“Hamkan. Maafin aku, ya. Sebenernya aku nggak pernah benci, kok, sama kamu,” kata Anha dengan nada yang berubah lirih. Ternyata berbicara sambil memunggungi Hamkan seperti ini membuatnya lebih nyaman untuk berucap. Anha tidak merasa terlalu takut dengan posisi seperti ini.
Anha teringat ucapan mamanya lagi ketika mereka di rumah sakit.
‘... ya, nggak papa. Bukannya kamu pengin supaya Hamkan ngejauhin kamu? Dengan kamu cerita itu semua ke dia, pasti dia bakalan ngejauhin kamu kalau dia emang nggak bisa nerima kamu apa adanya. Tapi kabar baiknya mungkin dia bisa nerima kamu...'
Hamkan memelankan gerakan mengunyahnya.
“A-aku nggak pernah benci sama kamu. Waktu itu aku cuma pengin kamu ngejauhin aku aja sehingga aku kayak gitu.”
Air mata Anha menitik lagi. Dia tidak menyangka jika hari ini dia akan berkata jujur. Semacam pengakuan dosa-dosa mungkin.
“Kenapa pengin ngejauhin aku? Apa karena kamu nggak suka sama aku?” kata Hamkan pelan. Tak masalah Anha berbicara sambil memunggunginya. Tapi dia penasaran sekali kenapa Anha sepertinya sangat menghindarinya seperti itu.
Anha menggelengkan kepalanya. “Bukanya aku nggak suka sama kamu. Aku cuma... aku cuma takut kalau nanti aku bakalan suka sama kamu. Aku...”
Hamkan tersenyum. Itu berarti Anha diam-diam juga menyukainya. Cintanya ternyata berbalas.
Anha sudah tidak kuat lagi membendung air matanya. “Aku ini nggak pantes buat kamu, Hamkan. Aku nggak sebaik yang kamu kira. Dulu aku mikirnya lebih baik kamu benci aku dan ngejauhin aku aja.”
__ADS_1
“Menurutku kamu baik, kok,” kata Hamkan dengan tenang sambil mengambil potongan mangga dari mangkuk dipangkuannya yang kini hanya tinggal beberapa potong saja.
Anha menarik napas dalam dalam untuk mengumpulkan segala keberanian untuk berbicara yang dulu tidak pernah mampu ia lakukan kepada Ikram ataupun Hasan. Yaitu pengakuan.
“Aku dulu waktu muda pernah pergaulan bebas,” kata Anha sambil memejamkan mata dan menangis. Sudahlah. Jika Hamkan pergi dan membencinya setelah ini. Maka pergilah.
Ada sedikit senyuman di bibir Hamkan. Sebenarnya Hamkan sudah tahu akan itu. Tapi dia tidak menyangka jika Anha berani mengakuinya. Meskipun jika hari ini Anha tidak mengatakannya, Hamkan tetap mau menerimanya dengan tulus. Dia tetap ingin menikahi Anha.
Anha menangis terisak. Rasanya sakit sekali. Apalagi Hamkan tidak menjawab sepatah kata pun. Di pikirannya, Anha menebak mungkin Hamkan kaget lalu kemudian jijik kepadanya seperti Ikram waktu dulu.
Tapi setidaknya sekarang hatinya terasa lega. Lega sekali karena sudah berani jujur.
Tanpa terasa tiba-tiba seseorang menariknya dari belakang dan memeluknya erat. Anha membuka matanya dan ia benar-benar berada dipelukan Hamkan. Be-benarkah Hamkan memeluknya? Benarkah Hamkan tidak menjauhinya setelah Hamkan mengetahui semuanya? Anha semakin terisak dipelukan lelaki itu.
“Ssstt... jangan nangis lagi, ya. Aku udah tahu semuanya, kok.”
Anha terkejut mendengarnya. Dia mendongakkan kepala dan melihat Hamkan yang sedang tersenyum lembut sambil mengusap air matanya yang jatuh di pipi.
“Sejak kejadian di mall waktu itu.”
Anha menutup mulutnya tidak percaya mendengar hal tersebut. Jadi... selama ini Hamkan tahu masa lalunya? Tapi Hamkan tetap mendekatinya, begitu? Anha berhambur memeluk Hamkan lagi. Ia memeluknya lebih erat dari sebelumnya dan menangis terisak dipelukan Hamkan.
Dipelukan Hamkan. Anha menceritakan semuanya. Menceritakan kenapa dia bisa bercerai dengan Ikram. Menceritakan kenapa dia bisa batal menikah dengan Hasan.
“Nggak pa-pa. Anha.”
Hamkan mendengarkannya dan mengusap rambut hitam legam milik Anha untuk menenangkannya.
“Maaf, ya, waktu itu aku nggak bisa berbuat apa-apa. Aku nggak punya daya karena waktu itu kita belum terlalu mengenal.”
__ADS_1
Anha masih menangis dan membenamkan wajahnya di dada Hamkan. Sekitar tiga puluh menitan Hamkan memeluknya. Dia tidak pernah menyangka wanita secantik ini ternyata sangat rapuh.
Sejak awal Hamkan mengenal Anha. Dia sudah berkomitmen untuk di sisinya dan menerima segala kelebihan dan kekurangannya.
Setelah Anha sudah tenang. Hamkan menggenggam tangan kanan Anha.
“Anha. Maaf, ya, aku belum nyiapin cincin. Maaf kalau ini kurang romantis. Tapi aku pengin nikah dan hidup sama kamu. Aku nggak peduli tentang masa lalu kamu, An. Aku cinta sama kamu,” kata Hamkan sambil menatap kedua netra wanita yang dicintainya itu.
Anha menutup mulutnya tidak percaya. Ia menangis. Be-benarkah Hamkan melamarnya? Ya, Tuhan. Bahkan setelah mengetahui semuanya dia tidak pergi.
Anha menggelengkan kepala. Tidak, tidak bisa seperti ini.
“Aku nggak bisa Hamkan. Aku ini nggak pantes buat kamu,” jawab Anha sambil menangis terisak.
“Nggak Sayang. Dengerin aku. Kamu pantes buat aku. Kamu udah nggak kayak gitu lagi dan kamu bukan Anha yang dulu. Please jangan pernah bilang kayak gitu lagi. Aku nggak suka. Kamu pantes buat bahagia, Anha,” kata Hamkan sambil menangkup wajah Anha.
Hamkan mengecup kening Anha cukup lama. Anha memejamkan mata meresapi cinta yang tulus itu. Air matanya menitik. Beginikah rasanya diterima dan dicintai? Anha memeluk Hamkan kembali. Ia tidak mau melepaskannya.
“Aku mau,” kata Anha dengan lirih dengan wajah yang masih terbenam di pelukan Hamkan. "Aku mau nikah sama kamu."
Senyum Hamkan mengembang. Dia senang sekali.
“Tapi... gimana tentang mama kamu?”
Pasti Tante Asih tidak akan menerima Anha jika mengetahui masa lalu Anha.
Hamkan mengusap pucuk kepala Anha dan mengecupnya pelan.
“Nggak papa, Biar aku yang ngomong ke Mama.”
__ADS_1
***
Cie deg-degan. Bab abis ini terjawab apakah Jeng Asih nerima Anha. Folow IGku dong: Mayangsu_