
“Kamu bawain aku bekal?” tanya Hamkan dengan mata berbinar. Kebetulan sekali saat ini dia sedang merasa kelaparan.
Anha mengangguk dan menggeser kursi tempatnya duduk agar lebih dekat lagi dengan Hamkan. Kini posisi duduk mereka saling berhadap-hadapan dan hanya dibatasi oleh meja kerja milik Hamkan saja.
Dengan semangat Anha membuka kotak bekal tersebut. Ternyata mama memasakkan bento untuk Hamkan.
Anha mengembuskan napas sebal. Mamanya ini benar-benar jahat sekali, seumur hidupnya mama sama sekali tidak pernah memasakkan bekal makanan untuknya, namun kali ini mama memasakkan bento untuk anak orang lain. Jahatnya.
“Bentar, ya. Aku mau cuci tangan dulu. Tanganku kotor abis megang kerjaan,” kata Hamkan sambil beranjak dari tempat duduknya. Namun tanpa terduga sama sekali dengan refleks Anha memegang lengan Hamkan sambil menggelengkan kepala untuk menghentikannya.
Tidak! Tidak boleh! Kalau Hamkan pergi ke luar untuk mencuci tangannya itu artinya sama saja dia akan bertemu si sekretaris penggoda itu. Anha tidak suka! Pokoknya tidak boleh!
“Nggak usah. A-aku takut kalau kamu tinggalin sendirian di sini,” kata Anha sambil terbata. Kedua manik mereka saling tatap. Jantung mereka berdua sama-sama saling berdetak tak karuan.
Setelah Anha sadar dari kebodohannya sendiri. Anha menarik kembali tangannya dan merasa salah tingkah. Ya ampun, alasan macam apa itu. Menggelikan sekali. Kini Anha menatap ke arah lain karena malu.
“Bi-biar aku aja yang suapin kamu,” kata Anha dengan malu-malu saat mengucapkan hal tersebut. Anha tidak rela jika Hamkan harus bertemu sekretarisnya lagi.
__ADS_1
Hamkan tersenyum mendengarnya. Manis juga ternyata anak ini. Hamkan menangguk dan menurut, ia duduk kembali di kursinya.
“Aku kamu suapi sambil ngerjain pekerjaanku, ya? Cuma baca laporan sama tanda tangan, doang, kok.”
Anha menganggukkan kepalanya. Yang penting Hamkan tidak pergi keluar maka tak apa.
“Aaaaak... Buka mulutnya,” ucap Anha sambil tangannya terulur untuk menyuapi Hamkan. Tangan kanan memegang sendok sedangkan tangan kirinya berada di bawah tangan kanannya sendiri, takut apabila makanan tersebut akan terjatuh dan mengotori meja kerja milik Hamkan.
Andai saja saat ini Mama Anha dan Jeng Asih melihatnya. Pasti dua emak-emak tersebut akan kegirangan karena mengetahui ternyata hubungan ke dua anak mereka berkembang begitu pesat.
“Nggak capek, ya, harus ngetanda tangani sebanyak itu?” kata Anha ketika menatap ke tumpukan kertas di sebelah kiri tangan Hamkan. “Nggak pake stampel buat tanda tangan aja gitu?” lanjut Anha lagi sambil mempersiapkan untuk suapan selanjutnya setelah nanti Hamkan menyelesaikan kunyahannya.
“Dokumen penting nggak bisa ditanda tangani pake stampel. Walaupun kayaknya enak juga, sih, kalau bisa.”
Anha mengangguk-anggukkan kepalanya. Acuh tak acuh dengan apa yang saat ini mereka bahas.
Sepertinya Hamkan suka dengan bento buatan mama. Besok Anha akan meminta mama untuk mengajarinya memasak bento seperti ini.
__ADS_1
Hamkan menyanga kepalanya menggunakan tangan kanannya. Mengamati wajah cantik milik Anha dari dekat. Mumpung Anha masih menunduk dan berkutat dengan bekal yang berada di depannya itu jadi Hamkan bisa mengamatinya tanpa ketahuan.
Hamkan tidak pernah menyangka jika Anha memiliki sisi keibuan dan sisi penuh kasih sayang seperti ini. Bento sebenarnya adalah makanan yang biasa-biasa saja. Hamkan bahkan bisa mendapatkan makan siang yang lebih mewah di luar sana sana dari pada ini semua. Tapi yang membuat makan siang kali ini terasa lebih spesial dan bermakna adalah karena ada Anha di sini—dan Anha juga telaten menyuapinya.
“Anha....”
“Hmm?” Anha hanya berdehem sekilas.
“Boleh nggak aku tanya sesuatu sama kamu?”
“Boleh. Mau tanya apa?”
Anha menata daging ayam katsu di atas nasi pada sendoknya.
“Em... An. A-aku mau tanya.”
Hamkan merasa agak ragu untuk mengatakannya kepada Anha atau tidak usah saja. Namun Hamkan akhirnya melanjutkan kembali ucapannya yang sempat terputus tersebut.
__ADS_1
“Anha. Btw, calon suami idamanmu itu yang kayak gimana?”
***