
Anha duduk di tepian ranjang, pantulan dirinya terlihat di dalam cermin rias. Ia terlihat begitu anggun dengan balutan kebaya berwarna putih gading pada tubuhnya ramping.
MUA yang tadi hendak merias Anha meminta izin sebentar hendak pergi kamar mandi. Jadi tinggalah Anha sendiri di sini bersama rasa gugup yang menyergab.
Hari ini adalah hari di mana acara resepsi mereka dilangsungkan.
Tapi anehnya kenapa daritadi Anha merasa tegang? Padahal, kan, dulu dia sudah pernah melewati hal semacam ini ketika menikah dengan Ikram, bukan?
Bahkan saking gugupnya sampai-sampai saat ini tissue yang berada di kepalan tangannya lecek karena direemasi. Setelah itu Anha mengusap kembali peluh yang berada di keningnya menggunakan tissue yang baru.
Seseorang datang mengetuk pintu membuat lamunan Anha membuyar.
Awalnya Anha kira yang datang adalah tukang MUA yang tadi izin ke kamar mandi. Tapi ternyata bukan, yang datang melainkan adalah ibu mertua Anha--Jeng Asih.
“Mama boleh masuk?” tanya Jeng Asih dengan senyum mengembang di wajah. Anha ikut tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Menantu Mama hari ini cantik banget,” puji Jeng Asih sambil menangkup wajah Anha yang bersemu merah padahal belum mengenakan blush on sama sekali.
“Ah, Tante berlebihan. Anha biasa aja, kok, Tante," ucap Anha merasa malu karena dipuji-puji terus oleh Jeng Asih.
Anha saja saat ini belum dirias sama sekali dan hanya mengenakan ciput yang menutupi kepala. Memangnya cantik dari mana coba?
Dahi Jeng Asih mengeryit tidak senang mendengar hal itu.
“Kok, kamu masih manggil Tante, sih,” protes Jeng Asih sambil memanyunkan bibirnya, cemberut.
Anha mengaruk kepalanya yang terasa tidak gatal sama sekali. Dia lupa jika setelah menikah dengan Hamkan Tante Asih selalu menyuruhnya untuk memanggil dengan sebutan mama. Memang membiasakan hal baru agak sedikit sulit, sih, untuk Anha.
“Eh, i-iya, Mama. Maaf,” Anha merasa kikuk ketika mengucapkan panggilan yang masih terasa asing di lidah itu.
Jeng Asih mencium pipi kanan dan kiri menantunya kemudian memeluknya dengan erat.
"Semoga kamu sama Hamkan jadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah, ya, Sayang."
Anha benar-benar bahagia. Memiliki mama mertua yang baik adalah semua anugrah wanita di muka bumi ini.
Setelah puas memeluk menantunya, Jeng Asih berpamitan untuk keluar menyalami tamu undangan yang jumlahnya sangat banyak itu.
Resepsi pernikahan Anha memang terbilang cukup megah dan mengundang banyak tamu undangan yang sebagian besar tidak Anha kenal seperti kolega Hamkan di tempat kerja.
Sedangkan dari pihak Anha hanya mengundang beberapa orang saja seperti kerabat beserta sahabat dekat Anha.
Pintu itu terketuk untuk ke dua kalinya. Anha pikir yang datang kali ini adalah Hamkan atau pun tukang MUA yang sejak tadi meninggalkannya sendirian di sini. Namun dugaannya salah lagi.
“Sayang, Mama boleh masuk?” suara sangat familiar itu menyapa indra pendengaran Anha membuat Anha menengok ke arah sumber suara dan tersenyum. Kali ini mamanya yang datang.
Mama ikut duduk di samping Anha dan menggenggam jemarinya erat-erat.
Ia menatap teduh wajah cantik putri semata wayangnya yang sekarang sudah menikah. Tangan dengan kulit yang sudah tidak sekencang dulu itu perlahan terulur mengusap kepala anaknya yang masih dihiasi ciput.
Ya, memang rencananya Anha mengenakan hijab di hari pernikahannya ini. Tentu saja itu semua tanpa sepengetahuan Hamkan karena Anha dengan Jeng Asih sengaja merahasiakannya dari Hamkan sebagai kejutan pernikahan.
“Anha kecil Mama sekarang udah gede, ya. Udah mau ninggalin Mama lagi,” kata Mama dengan mata berkaca sambil mengusap pipi anaknya. Orang tua mana yang tak sedih sekaligus haru ketika anak mereka menikah.
Baiklah. Sekarang Anha mulai membenci moment haru seperti ini karena tentunya dia akan kesusahan untuk membendung air matanya agar tidak tumpah.
Sekarang Anha tau, mungkin saja tadi tukang MUA itu sengaja disuruh keluar dulu oleh Tante Asih sebelum Anha dirias agar supaya makeupnya tidak luntur ketika moment sedih seperti ini.
“Anha... Mamamu ini minta maaf, ya, Nak, karena dulu Mama belum bener dalam ngedidik kamu. Maaf Mama belum bisa jadi Mama yang baik buat kamu.”
Anha menggelengkan kepala dan mulai menangis.
“Nggak, Ma. Mama nggak boleh ngomong kayak gitu. Anha nggak suka.”
Tanpa terasa air mata Anha juga ikutan tumpah, menetes bebas pada pipi putihnya.
Kesalahannya di masa lalu Anha bukan seratus persen kesalahan mamanya. Anha tahu dulu mamanya terlalu sayang kepadanya sampai tidak ada waktu karena terus saja bekerja demi menghidupinya dan menyekolahkannya.
"Jangan nangis, Sayang," kata Mama sambil menangis haru dan mengusap air mata Anha.
"Ingat, Mamamu ini akan selalu berdoa yang terbaik buat kamu, Nak. Nanti kamu tolong sesekali main ke rumah, ya, kalau lagi senggang. Biar rasa kangen Mama terobati."
"Mama...."
Tumpah sudah air mata Anha. Untung saja saat ini dia belum dirias. Anha memeluk mamanya dengan erat dan menangis sesenggukan di pelukannya. Pelukan kasih sayang yang seharusnya sering-sering Anha lakukan sejak dulu kepada mamanya namun baru terealisasikan sekarang.
Jeng Asih saja yang diam-diam mengintip dari pintu ikutan terharu melihatnya. Pasti besok jika anak bungsunya Lita menikah, dia akan seharu itu.
***
Cukup lama juga Anha dirias oleh MUA professional itu. Mama masih menemaninya dan menggenggam tangan kiri Anha hanya tersenyum melihat anaknya yang cantik itu.
Pasti saat ini Hamkan yang menunggu Anha di pelaminan merasa jenuh tidak sabar untuk menunggu istrinya keluar.
Dan benar saja. Saat ini Hamkan merasa harap-harap cemas duduk di kursi pelaminan ini.
Kenapa Anha tidak keluar-keluar? Jantungnya seolah terasa hendak meledak karena saking gugupnya.
Setelah lama menanti dengan gusar. Anha pun tampak keluar dengan digandeng oleh Mama mertua Hamkan.
Pipi Hamkan memerah melihat Anha yang sebegitu cantiknya dengan mengenakan hijab, padahal ketika ijab kabul kemarin Anha tidak mengenakan hijab sama sekali. Kini kecantkkan Anha terlihat double-double.
Ia memang sengaja mengenakan hijab karena ingin kecantikannya saat ini hanya dinikmati suami sahnya saja.
Wajah cantik Anha benar-benar teduh, tampak seperti bidadari surga. Tamu undangan yang berada di sana juga ikut terkesima dengan kecantikan Anha yang memabukkan.
Hamkan tersenyum kepada Istrinya yang malu-malu tapi semakin mendekat. Jantung Hamkan benar-benar berdetak cepat untuknya.
__ADS_1
Dilihati seperti itu membuat pipi Anha memerah.
"Kedip Ham," kata Jeng Asih membuyarkan susana. Beberapa orang di sana pun juga ikut tertawa.
Hamkan mencium kening istri sahnya membuat beberapa tamu undangan ikutan meleleh melihat kemesraan si pengantin baru itu.
Tanpa disadari seseorang mengamati mereka dari kejauhan, Anha dan Hamkan tidak menyadari keberadaannya di sini karena lelaki itu ikut berbaur dengan tamu undangan yang lainnya.
Lelaki itu tak lain adalah Hasan.
Hasan memang diundang ke acara pernikahan Anha dengan Hamakan mengingat Hasan termasuk salah satu kolega Hamkan.
Ketika dulu Hamkan menanyai Anha apakah dia harus mengundang mantan tunangannya tersebut ke acara resepsi mereka atau tidak usah.
Anha mengatakan tak apa. Silakan undang saja. Anha sudah berdamai dengan masa lalunya.
Mau yang datang Ikram, Hasan, Mama Erin, atau Angga pun Anha tidaklah peduli.
Hasan diam-diam menatap Anha dari kejauha. Anha nampak begitu cantik, cantik sekali. Tidak pernah Hasan melihat Anha tersenyum sebahagia itu kecuali di hari pernikahannya ini.
Ada pepatah yang mengatakan jika seorang wanita terliahat bertambah cantik ketika sudah menikah. Maka itu artinya dia bahagia dengan hubungannya.
Mungkin kutipan itu ada benarnya. Sepertinya Anha sangat bahagia sekali dengan pernikahannya. Rona di pipinya seolah menjawabnya sudah, mengalahkan blush on yang tergurat pink muda yang mengiasi pipi putih miliknya.
Sedangkan Hamkan yang duduk di samping Anha terlihat sangat bahagia dan bangga sekali telah memiliki Anha seutuhnya sebagai istri. Ia bangga telah menjadi suami sah wanita itu.
Hamkan benar-benar berbeda. ia tidak seperti Hasan yang pengecut. Hasan malu kepada dirinya sendiri. Ia berandai...
Apakah jika dulu dia tidak melepaskan Anha dan sedikit saja menurunkan rasa egonya maka mereka berdua hari itu akan menikah dan mungkin sekarang sudah menjadi suami istri?
Apakah jika waktu bisa diputar kembali, apakah menurutmu bersanding di sebelah Anha itu adalah dirinya.
Hasan menyesal. Sangat menyesali semuanya. Dia masih sangat mencintai Anha namun sekarang tidak bisa karena sudah dimiliki oleh orang lain.
Seharusnya Hasan datang ke rumah Anha ketika mereka dulu gagal menikah.
Seharusnya Hasan mengatakan jika dirinya tidak menghubungi Anha lagi karena kedua orang tuanya yang melarang.
Seharusnya Hasan mengatakan kepada Anha ketika Anha memergokinya berangkat bersama Bella ke kantor bukan karena Hasan sengaja melainkan Bella meminta tumpangan.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, saat ini Hasan hanya mampu diam membisu seperti orang bodoh.
Bahkan kalau diingat-ingat lagi ingin rasanya Hasan menarik perkataannya yang pernah ia lontarkan kepada Anha yaitu Anha tidak akan mampu menjadi Ibu yang baik untuk anak-anaknya karena dia memiliki masa lalu yang buruk.
Bahkan lihatlah di depan sana, tampak Anha yang sekarang mengenakan hijab.
Hasan salah, pastilah Anha kelak bisa mendidik anak mereka dengan baik. Seharusnya dia tidak perlu menghakimi Anha seperti itu.
Hasan meletakkan kembali minumannya yang telah ia tegak sampai habis di atas meja.
Dadanya seolah sesak. Ia ingin meminta maaf kepada Anha pun rasanya tidak bisa karena Hasan tidak berani.
***
Sekarang Anha dan Hamkan berdiri dan menyalami tamunya satu per satu. Tamu mereka banyak sekali, tapi acara resepsi mereka tidak sampai tiga hari tiga malam, kok.
“Istri kamu cantik banget, ya, Hamkan,” kata seorang wanita sambil tersenyum ceria kepada Hamkan.
Hamkan membalas dengan ramah dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Anha mengernyit, wanita itu sangat cantik, cantik sekali malahan.
Setelah berfoto bersama dengan kedua mempelai, wanita itu berpamitan dan menatap mata Hamkan terus menerus membuat Anha merasa tidak nyaman. Insting wanitanya terusik.
“Dia siapa?” tanya Anha penuh selidik kepada Hamkan.
Hamkan terlihat bingung ketika Anha melemparkan pertanyaan seperti itu kepaa dirinya. Gerka gerik Hamkan malahan membuat Anha semakin curiga saja.
“Di-dia mantan aku, An.”
Apa? Mantan? Ah, jelas saja tadi gadis itu menatap Hamkan dengan instens.
Anha memalingkan muka, kesal mendengarnya. Kenapa dia tidak tahu jika ternyata Hamkan dulu memiliki seorang mantan kekasih?
“Itu dulu, kok, Sayang. Waktu kuliah.”
“Kok, nggak pernah cerita?”
“Kan, kamu nggak pernah nanya,” jawab Hamkan sambil menggenggam jemari istrinya. Anha cemberut, benar juga, sih, perkataan Hamkan tadi.
“Tapi anehnya kenapa nggak ada mantan kamu yang ke sini, ya, An? Kan, katanya mantan kamu itu banyak.”
Anha menatap ke arah atas. Benar juga, tumben sekali di acara resepsinya ini damai-samai saja. Tapi bukannya malahan bagus? Itu artinya tidak akan ada yang mengganggunya lagi. Padahal sebelumnya Anha kira Ikram akan mengacau lagi, tapi ternyata tidak.
Mana mungkin Ikram berani datang ke acara pernikahan Anha. Dia malu, dia memutuskan untuk tidak datang meskipun dia memiliki kartu undangan.
Di lain sisi tampak seorang anak muda yang sedang ngambek dan hendak menangis melihat kemesraan Anha dengan suaminya.
“Tanteku....”
“Udah nggak usah nangis. Ikhlasin aja,” kata Kokonya sambil tertawa geli melihat Sean mewek seperti itu.
Sean masih merajuk. Seperti inikah sakitnya ditinggal menikah?
Padahal Sean berharap kelak dia menikahi Tante Kesayangannya.
Sama seperti hubungan Rafi Ahmad dengan Yuni Sarah yang dulu pernah langgeng. Sean juga pernah berharap sepeti itu.
Tapi ternyata semesta tidak tidak merestuinya. Kisah cintanya benar-benar bertepuk sebelah tangan karena perbedaan usia.
__ADS_1
“Nanti, deh, Koko cariin Tante yang lain buat kamu.” Sean menatap Kokonya yang masih menahan tawa geli. Selera humor Kokonya ini benar-benar sebelas dua belas dengan dirinya.
“Nggak mau, Ah. Nggak ada yang seseksi Tante Anha.”
Pak Hans hanya menggeleng-gelengkan kepala.
“Udah sana salamin dan ucapin selamat.”
Sebenarnya Sean malas melakukan hal tersebut. Tapi karena di desak melulu oleh Kokonya maka akhirnya Sean mau untuk menyalami Anha dan mengucapkan selamat kedua mempelai itu.
Lagi pula Sean sudah jauh-jauh datang dari Singapura ke sini denhan alasan ada urusan keluarga. Sangat penting.
Sudah sejauh ini masak tidak mau menyalami.
“Tante cantik apa kabar?” kata Sean membuat Anha tertegun. Suara itu!
Anha menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang saat ini ia lihat.
“Sean!” teriak Anha merasa senang sekali melihat kedatangan si bocah tengil itu.
Bukannya Sean masih kuliah di Singapura? Anha benar-benar tidak percaya jika Sean rela datang ke Indonesia untuk menghadiri acara resepsinya. Dia menepati janjinya waktu di telepon dahulu.
“Dia siapa, An?” tanya Hamkan ketika melihat istrinya itu tampak senang bukan akan kedatangan anak muda yang tadi dipanggilnya Sean tersebut.
“Ah, dia ini adik aku, Hamkan.”
Dahi Hamkan mengernyit. “Adik? Bukannya kamu anak tunggal?"
“Adik pungut maksudnya, Haha,” kata Anha sambil terikik geli membuat Sean mengerucutkan bibirnya, merajuk seperti anak kecil saja.
Si bocah tengil itu berjalan mendekat dan menyalami Anha.
“Nih, buat Tante,” kata Sean sambil memberikan amplop tebal. Anha sudah tidak sabar lagi dan membuka sedikit amplop itu untuk mengintip isi di dalamnya.
“Gila, dollar, loh,” gumam Anha tidak percaya jika ternyata Sean benar-benar menyumbangnya dengan segepok uang dollar.
Hamkan yang penasaran ikut mengintip dan ternyata benar isinya satu bundle uang dollar.
"Ini serius buat aku?" tanya Anha masih berbinar hijau di mata.
“Iyalah. Sean gitu, loh,” kata bocah tersebut dengan jumawa.
“Makasih, ya, Sean ganteng,” kata Anha dengan berbunga. Hamkan berdehem dan mengusap tengkuk belakangnya.
“A-aku juga bisa ngasih kamu lebih banyak lagi, kok, dari itu.”
Anha meengulum senyum, apakah saat ini Hamkan cemburu dengan bocah ingusan macam Sean? Huh, dasar orang ini.
Sean menatap sejenak lelaki yang saat ini sudah menjadi suami dari Tante kesayangannya itu.
Sepertinya dia orang baik dan tidak berengsek seperti mantan Tante Anha yang mencampakkannya. Baiklah kali ini Sean akan merestui mereka berdua.
Tapi meskipun begitu awas saja kalau sampai lelaki ini berani membuat Tante kesayangannya menangis. Sean tidak akan terima!
“Tenang-tenang, Om juga dapet hadiah, kok, dari aku.”
Hah, benarkah? Anha tidak percaya jika Sean juga memperisapkan hadiah untuk Hamkan. Hamkan tersenyum menanti apa hadiah yang akan Sean berikan kepadanya.
Hal tersebut otomatis membuat mata Anha menyipit. Si Pak Owner ini ternyata suka juga dengan hadiah, dasar.
Sean mengulurkan tangannya dan memberikan sesuatu kepada Hamkan, pipi Hamkan memerah ketika melihat barang pemberian dari bocah tersebut.
“Sean ngasih apa? Lihat, dong,” kata Anha mendekat ke arah Hamkan untuk melihatnya. Namun Hamkan menjauhkan tangannya supaya Anha tidak bisa melihatnya.
Sean tersenyum miring dan terkekeh kepada Hamkan membuat Anha semakin curiga sekaligus penasaran.
Apa sih yang diberikan Sean untuk Hamkan?
Hamkan hanya meringis dan masih menjauhkan tangannya dari jangkauan penglihatan Anha.
Bocah itu benar-benar tengil ternyata.
“Apaan, sih. Lihat, dong. Aku kepo tau!” seru Anha dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu.
“Nggak papa, kok,” kata Hamkan malu.
“Lihat, ih,” paksa Anha sambil membuka paksa tangan Hamkan yang mengatup.
Wajah Anha ikutan memerah setelah mengetahui ternyata hadiah yang diberikan si bocah tengil itu adalah sebuah kond*m! Mana rasa strowberry lagi. Anak ini benar-benar....
“Sean!” teriak Anha merasa kesal atas ketengilan bocah itu. Sean hanya terkekeh senang dan mengedipkan sebelah matanya kepada kedua pasang mempelai itu.
Anha buru-buru memasukkan benda sakral itu ke dalam amplop dollar dari pemberian Sean tadi karena merasa malu.
“Maaf, ya. Dia itu emang tengilnya kebangetan,” kata Anha sambil tersipu. Kepalanya dipenuhi imajinasi tentang benda strowberry. Sialan!
Hamkan tersenyum dan mendekat ke arah istrinya. Kemudian berbisik pelan di telinga Anha.
“Nggak papa, kok. Aku lebih suka nggak pake pengaman. Lebih nikmat kayaknya,” kata Hamkan meggoda membuat wajah Anha merah padam.
“Nakal!” Anha menjauh dari suaminya dan tersipu malu sekali. Hamkan terkekeh senang melihat wajah Anha yang sangat lucu itu.
Ah, rasanya Hamkan ingin segera malam tiba dan menikmati malam spesial itu bersama istrinya Anha.
***
TAMAT!
__ADS_1
Serius udah tamat, ya. Masih ada bonus chapters, kok. Jangan galau beby 😘