Diceraikan Di Malam Pertama

Diceraikan Di Malam Pertama
Malu


__ADS_3

“Anha. Calon suami idamanmu itu yang kayak gimana?” tanya Hamkan sambil menopang dagunya menggunakan tangan kanannya.


Tangan Anha yang semula terulur untuk menyuapi Hamkan lagi pun terhenti ketika mendengar hal tersebut.


Tubuh Anha terasa kaku. Bahkan kini air mukanya berubah sedih dan bibirnya sedikit gemetar. Anha pun menarik tangannya kembali, meletakkan sendok itu di dalam kotak bekal, tidak jadi menyuapi Hamkan.


Anha menundukkan kepalanya, kenapa juga Hamkan menanyakan hal tersebut kepadanya? Anha itu sudah pacaran berkali-kali. Dia tahu dengan betul. Biasanya jika seseorang bertanya tentangmu mengenai ‘tipe pacar atau tipe ideal calon istri/suami idamanmu’ maka artinya orang tersebut sebenarnya ingin mengenalmu lebih jauh lagi. Dia sedang mengorek banyak informasi agar mereka bisa memantaskan diri supaya dapat menjadi suami idaman sesuai yang kamu sebutkan tadi.


Kini Anha hanya meremas celana jeans-nya perhalan. Memilih untuk tidak menjawab pertanyaan dari Hamkan tadi.


Apa jangan-jangan Hamkan menyukainya, ya?


Namun seketika buru-buru Anha menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Mengusir pikiran tersebut dari benaknya jauh-jauh. Terlalu lancang apabila Anha sampai berani berpikiran seperti itu. Harusnya dia tahu diri dan tidak berpikiran berlebihan macam itu. Memangnya, dia ini pantas begitu untuk Hamkan?


Anha takut. Rasa traumanya seolah datang kembali merengkuh kepercayaan dirinya sampai hilang. Hingga Anha hanya mampu menggigit bibir bawahnya saja.


Paling-paling nanti dia akan ditinggalkan lagi. Seperti yang sudah-sudah. Lebih baik saat ini Anha menjaga jarak saja dengan Hamkan dan tidak terlalu mudah untuk buka hati. Bukannya awal hubunganya dengan Ikram dan Hasan adalah karena dia juga terlalu mudah buka hati untuk orang lain bukan?

__ADS_1


“Anha... Kamu nggak kenapa-napa, kan?” tanya Hamkan yang khawatir melihat Anha ketakutan seperti itu. Bahkan kini air mukanya sudah berubah tida seceria tadi.


Hamkan menggaruk kepalanya sendiri yang terasa tidak gatal. Apa dia salah bicara, ya? Padahal Hamkan bertanya seperti itu hanya ingin mereka berdua tambah akrab saja. Tidak ada niatan lebih. Sialannya sepertinya Hamkan malahan mengacaukan suasana.


Lagi pula Anha cantik. Pasti banyak lelaki yang lebih dari dirinya yang juga menyukai Anha. Hamkan juga tidak berani berharap terlalu lebih kepada Anha.


“Anha...,” ucap Hamkan kembali karena Anha hanya diam saja tak menimpali.


Anha hanya menggelengkan kepala sambil mengatakan, “Aku nggak pa-pa, kok.”


“Serius?”


Anha mengerjabkan matanya. Menatap tangannya yang kini mereemas di atas pangkuannya.


Rasa ini harus dipangkas sebelum tumbuh lebih banyak lagi. Agar tidak menyebabkan luka yang esok mungkin akan terasa pedih.


“Be-bentar, ya. Aku mau pergi ke toilet dulu. Mau buang air kecil,” kata Anha berbohong sambil berdiri dari kursinya. Dia ingin ke kamar mandi bukan untuk buang air kecil melainkan untuk meredam rasa canggung yang menyelimuti atmosfer di ruangan Hamkan ini.

__ADS_1


Namun ketika Anha hendak menuju pintu keluar Hamkan memanggilnya hingga langkahnya kini terhenti.


“Anha. Kamu mau ke mana?” yang dipanggi pun kini menengok ke arah belakang.


“Mau ke kamar mandi,” kata Anha dengan polosnya.


“Kamar mandinya ada di situ,” kata Hamkan sambil menunjuk sudut ruangan menggunakan jari kelingking. Anha mengikuti arah jarinya tersebut.


Anha menggerutu dalam hati. Sialan! Kenapa juga dia tidak ingat jika pasti ruangan pemilik perusahaan memiliki kamar mandi di dalamnya.


Jadi... tadi Hamkan hendak mencuci tangan bukan di kamar mandi luar, begitu?


Anha berbalik badan kembali menghadap pintu—memunggungi Hamkan yang saat ini sedang mengeryitkan dahi melihat tingkah Anha yang aneh dan berubah-ubah itu.


Anha membenturkan kepalanya pelan ke pintu kaca di depannya. Bodoh sekali dia ini, kenapa juga dia tidak ingat akan hal itu. Bahkan tadi dia rela menahan tangan Hamkan agar tidak pergi dan mau-maunya menyuapi Hamkan dengan tangannya sendiri.


Kini Anha malu sekali. Mau ditaruh di mana mukanya ini? Rasanya Anha ingin menenggelamkan kepalanya di dalam closet saja. Atau opsi ke duanya adalah lebih baik dia menggali lubang di tanah dan mengubur dirinya sendiri dalam-dalam saking malunya.

__ADS_1


Tahu begini lebih baik tadi Hamkan makan menggunakan tangannya sendiri saja!


__ADS_2