Diceraikan Di Malam Pertama

Diceraikan Di Malam Pertama
Jalan, yuk


__ADS_3

Sebenarnya Hamkan mengusulkan kepada mamanya supaya mereka segera melakukan lamaran saja. Tapi mama bilang untuk bersabar dulu. Jangan terlalu tergesa-gesa.


Anha tidak mungkin akan langsung menyetujui lamaran tersebut jika Hamkan melamarnya saat ini. Meskipun Hamkan sendiri sudah siap. Tapi seorang wanita pasti menginginkan pendekatan terlebih dahulu, bukan?


“Terus Hamkan harus gimana, Ma?” tanya Hamkan sambil menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal.


“Tenang-tenang. Serahin aja semuanya sama Mama. Biar Mamamu ini yang atur,” kata Jeng Asih sambil tersenyum penuh makna. Hamkan mengangkat sebelah alisnya, dari ekspresinya sepertinya mama sudah benar-benar merencanakan sesuatu untuk pendekatan dirinya dengan Anha.


 


***


 


Pada akhirnya Hamkan menyetujui ide gila dari mamanya tersebut. Yaitu malam ini Hamkan dan mamanya akan bertamu ke rumah Anha dan nantinya Hamkan akan  mengajak Anha untuk  pergi malam Mingguan bersama.


Malam mingguan... Seperti pasangan muda-mudi kebanyakan. Walaupun agak kekanakan bagi Hamkan. Tapi sepertinya ide tersebut tidak buruk dan patut dicoba.


“Makanya kamu itu jangan pacaran mulu sama laptopmu. Sana pacaran sama manusia juga,” nyinyir Jeng Asih dengan bahagia sekali.


Hamkan hanya mengangguk polos membuat mamanya semakin girang.


Rencana kedua, nanti ketika Anha keluar dengannya maka mama akan berdiskusi dengan mamanya Anha untuk semakin mendekatkan mereka ke jenjang pernikahan.


Hamkan yang minim akan percintaan pun akhirnya memilih untuk menurut saja.


 


“Semoga berhasil, ya, Sayang. Semangat!” kata Jeng Asih memberikan semangat untuk Hamkan sambil terkikik geli.


Ada perasaan gugup ketika mobil mereka hampir sampai di rumah Anha.


Hamkan menelan ludahnya sesaat.

__ADS_1


Semoga hari ini berjalan dengan baik.


***


Jeng Asih dan Hamkan sampai di rumah Anha pada pukul tujuh malam.


Jeng Asih sampai sudah membawakan ‘calon besannya’ itu bingkisan yang dibelinya ketika perjalanan ke sini tadi.


Biasa, pelancar.


“Assalamualaikum,” kata Jeng Asih mengucapkan salam sambil mengetuk pintu rumah tiga kali.


“Wa’alaikumsallam,” jawab mama dari ruang makan ketika mendengar ada tamu di luar.


Mama berjalan gontai untuk membukakan pintu karena Anha masih sibuk mencuci piring kotor.


“Eh, Jeng Asih. Tumben banget Jeng main ke sini. Kok, nggak bilang-bilang dulu, sih.”


Hamkan hanya tersenyum ramah. Entah mengapa mamanya dan mamanya Anha selalu heboh sendiri ketika bertemu. Tradisi cipika cipiki selalu tak pernah terlupakan.


Kali ini mama membawa tamunya untuk duduk di ruang keluarga, bukan di ruang tamu seperti biasanya.


“Makan, ya, Jeng. Saya siapin.”


“Ah, nggak, Jeng. Saya sudah makan dari rumah,” tolak Jeng Asih dengan halus. Mamanya Anha tersenyum.


“Anha, lihat, deh, siapa yang dateng karena kangen sama kamu!” teriak mama dari ruang keluarga seolah-olah ruang makannya jauh saja.


“Iya, Ma. Bentar,” jawab Anha menyelesaikan kegiatan cuci piringnya yang kurang sedikit lagi. Dari suaranya pun Anha sudah bisa menebak kalau Tante Asih dan Hamkan yang bertamu.


Tapi tumben sekali malam-malam seperti ini.


“Ini buat Jeng Marni,” kata Jeng Asih memberikan bingkisan berisi wingko babat yang dibelinya ketika perjalanan ke sini.

__ADS_1


“Ah, Jeng Asih ini. Malahan ngerepotin, Jeng, kok, setiap ke sini selalu bawa bingkisan. Lain kali nggak usah, Jeng.”


“Ah, nggak papa.”


Setelah Anha menyelesaikan mencuci piringnya. Kemudian Anha keluar dengan nampan berisi gelas dan minuman untuk disajikan.


“Silakan Tante,” kata Anha sambil tersenyum manis.


Anha ikut duduk di sofa, bersebelahan dengan Hamkan.


Mereka berbasa basi sejenak. Saling bertanya kabar dan lainnya. Diam-diam kaki Jeng Asih bergerak menyenggol kaki anaknya yang berada di depannya. Mengkode Hamkan supaya Hamkan segera mengutarakan keinginannya mengajak Anha malam mingguan supaya tidak terlalu malam.


Tapi anaknya yang dikode itu hanya mengerjab dengan polosnya karena tidak mengerti tentang kode-kode wanita semacam itu.


“Hamkan,” kata mamanya sambil melirik ke arah Anha.


Hamkan mengeryit tidak paham.


“Buruan!”


Oh! Kini Hamkan baru sadar.


“Em... An, malem ini kamu free nggak?” tanya Hamkan dengan terbata.


Hamkan  kesusahan menelan ludah.


Sial! Begini saja gerogi sekali rasanya.


Anha terdiam, berpikir sejenak... Malam ini dia free, sih. Apalagi besok hari minggu dan libur.


“Free, kok. Emangnya kenapa?”


Jeng Asih dan mamanya Anha yang menyaksikan ke lucuan dua anak muda yang sedang PDKT itu pun menjerit dalam hati sambil bergantian mereemas tangan. Ingin rasanya kedua emak-emak itu menyoraki ‘cie-cie’ dan lainnya namun tidak jadi. Takut malahan rencana akan gagal.

__ADS_1


“Um... An. Mau nggak nemenin aku keluar sebentar? A-aku pengin ngajak kamu jalan-jalan,” kata Hamkan sambil mengusap tengkuk belakangnya namun pandangannya menatap ke arah lain karena malu. Bahkan jantungnya terasa amat berdebar.


***


__ADS_2