
Happy birthday to you….
Happy birthday to you….
Happy birthday, Happy birthday, Happy birthday to you….
Lantunan lagu selamat ulang tahun terdengar menggema dari pengeras suara menghiasi seisi ruangan. Sungguh ramai ingar-bingar di sini. Tampak kue ulang tahun bermotif frozen dengan patung lilin Elsa dan Anna yang sedang berdiri mengapit lilin utama yang berbentuk angka 01 di tengahnya.
Lagu ulang tahun yang menggema.
Balon warna warni juga bertebaran di mana-mana.
Hari ini adalah hari perayaan ulang tahun Kalila yang baru menginjak satu tahun.
Di pesta ulang tahun Kalila ini, semua orang boleh datang. Banyak sekali tamu undangan lain seperti kolega Hamkan yang juga hadir untuk memeriahkan acara dan memberikan kado kepada Kalila.
Oke, mungkin ini terhitung lebay karena baru umur satu tahun saja sudah dirayakan mewah seperti ini.
Sebenarnya, sih, Anha juga tidak mau jika ulang tahun Kalila yang pertama dirayakan ala ulang tahun anak sosialita seperti ini.
Tapi kalau mertuanya sendiri, alias Mama Asih yang memaksa—bahkan merancang dan membiayai pesta ulang tahun cucunya ini. Anha bisa apa selain pasrah menurut saja?
Anha menggendong Kalila yang saat ini sedang mengenakan kostum Elsa Frozen, sedangkan Hamkan merangkul istri dan anaknya dari belakang sambil sesekali menciumi pipi tembam Kalila karena tampak menggemaskan.
“Kayaknya pestanya kemewahan, deh, Mas. Apalagi Kalila, kan, baru satu tahun,” protes Anha setengah berbisik kepada suaminya, takut apabila orang lain sampai mendengar terutama Mama mertuanya.
Hamkan terkekeh. “Nggak pa-pa, lah. Sesekali nyenengin anak sama nyenengin Mama juga, kan, nggak ada salahnya.”
Anha mengangguk kaku. Ah, ya, sudahlah.
“Tuh, lihat Mama sampai seheboh itu.”
Hamkan menunjuk mamanya menggunakan dagu yang saat ini sedang memfoto si kembar yang sedang mengenakan kostum beruang cokelat lucu.
“Nini Nini Aim mau foto sama om badut,” teriak Aim bersama sekumpulan anak lainnya yang sedang mengerubungi badut yang disewa di pesta ulang tahun Kalila.
Anha yang melihatnya dari kejauhan pun tanpa terasa juga ikutan tersenyum.
“Ti….” Kalila merentangkan tangannya meminta digendong Abatinya.
“Uh... Kesayangannya Abati minta digendong, ya?”
Hamkan beralih menggendong Kalila sambil menciumi pipi anaknya yang tertawa senang.
“Selamat ulang tahun, ya, Sayang,” ucap Bu Priscillia sambil memegang tangan mungil Kalila. Bu Priscillia adalah istri dari kolega Hamkan.
“Ini buat kamu dari Aunty.”
Bu Priscilla menyerahkan kado dengan pita merah cukup besar kepada Kalila.
“Makasih Aunty cantik,” kata Anha mewakili Kalila berbicara karena putri kecilnya masih belum bisa berbicara dengan lancar. Hanya beberapa kosa kata yang masih Kalila kuasai.
“Pesta ultahnya Kalila mewah, ya. Padahal baru umur satu tahun, loh. Apalagi besok kalau Kalila udah sweet seventeen coba. Pasti Papinya bakalan ngerayain lebih mewah daripada ini. Duh irinya saya, Bu,” kata Bu Priscillia kepada Anha membuat tersipu.
“Ah, nggak kok Bu. Ini karena Neneknya aja yang heboh jadi pakai dirayain segala.”
Bagaimana semua tamu undangan tidak merasa iri dan ingin berada di posisi Anha saat ini. Istri dari Pak Hamkan itu seolah sangat dimanja suaminya sekali. Ia mengenakan baju gamis yang terbaik dan tentu saja mahal. Pesta ini juga terbilang mewah sampai mengundang badut segala. Tamu yang diundangnya pun juga banyak. Siapapun boleh ikut. Itu semua sudah memperlihatkan dengan jelas seberapa cintanya Hamkan kepada anak dan Istrinya.
“Aunty pergi dulu, ya, Sayang.”
Bu Priscillia melambaikan tangan kepada keluarga kecil itu sebelum berlalu, Anha ikutan melambaikan tangan Kalila kepadanya, memberikan gerakan tangan da-dah.
“Maa Sya Allah. Cucu Nini cantik sekali,” kata Nini Asih yang datang setelah puas memfoto kakak Kalila.
Kini gentian Nini Asih heboh memfoto Anha-Hamkan-dan Kalila sebagai kenang-kenangan dan menyuruh keluarga kecil itu mencoba banyak pose sebelum dibidik dengan kamera di tangan.
Anha membetulkan bandana Kalila yang saat ini miring.
“Seharusnyan nggak perlu dirayain tahu, Ma.”
“Halah uang itu bisa dicari. Lagi pula ini, kan, buat cucu kesayangan Nini yang paling cantik sedunia.”
Nini Asih menciumi pipi Kalila yang tertawa kegelian. “Nyinyi.”
“Dua kakanya ke mana, Ma?” tanya Anha celingak-celinguk menatap ke sekeliling ruangan. Dua anaknya itu benar-benar aktif sekali. Lengah seidkit mereka sudah lari ke mana-mana, huh.
“Itu. Sama badut dan anak-anak lainnya.”
“Udah, biarin aja mereka main,” kata Hamkan mencoba menenangkan Anha.
***
__ADS_1
Ketika sudah sampai di puncak acara. MC mulai berjalan ke tengah ruangan.
“Oke, anak-anak. Mari kita nyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Dek Kalila,” kata MC acara. Suara tepuk tangan menggema ketika lagu selamat ulang tahun dilantunkan para tamu hadirin.
Kalila yang memang masih kecil hanya tersenyum senang, ia diapit kedua kakaknya yang keren.
“Selamat ulang tahun Dek Kayiya.” Ais dan Aim gantian mencium pipi Dek Kalila.
Tangan Anha melingkar di pinggang suaminya.
Rasanya kebahagiaan ini terlalu banyak Tuhan berikan kepadanya. Dan tentunya, Anha sangat berterimakasih akan hal itu. Setelah jalan terjal yang Anha lewati, akhirnya kebahagiaan menghampirinya juga.
“Tiup lilinya, tiup lilinya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga… sekarang juga...”
Mungkin karena Kalila masih terlalu kecil, Kalila belum mengerti meniup lilin sehingga yang meniup lilin di atas kue ulang tahun adalah kedua kakaknya mereka sedangkan Kalila sendiri hanya memanyunkan bibirnya dengan lucu.
“Yeyyy!” tepuk tangan menggema setelah lilin itu mati tertiup. Anha yang berada di belakang Kalila pun menekuk menggerakan tangan Kalila bertepuk tangan.
“Yey.”
“Selamat ulang tahun, ya, Kalila sayang. Semoga panjang umur, sehat selalu. Dan semoga Kalila jadi anak yang pinter, solehah, dan berbakti sama Umi Abati. Doa Umi yang terbaik buat kamu, Nak.”
Anha menciumi pipi Kalila dan memeluknya erat. Rasanya dia ingin mengangis. menangis akrena senang bercampur haru.
Pasti sebentar lagi Kalila akan ulang tahun yang kedua, ketiga, dan pasti tanpa terasa Kalila akan cepat besar.
Anha benar-benar tidak rela. Pasti kalau anak-anaknya besar, maka mereka akan susah jika diciumi lagi karena malu sudah besar.
Jauh dari kerumunan lautan manusia. Hasan—yang ternyata dari tadi sudah datang dan ikut berbaur dengan yang lainnya daritadi tapi tetap saja tidak berani mendekati Anha.
Terasa ada luka yang menganga di dalam hati. Luka yang belum sembuh padahal Anha sudah sembuh dari dulu.
Keluarga Anha yang sekarang terlihat sangat bahagia sekali. Tampak Hamkan sangat menyayangi Anha beserta anak-anaknya membuat Hasan merasa sedih.
Andai dulu ia tidak telat. Andai dulu dia menurunkan egonya yang berkobar. Entahlah... hati tidak dapat berbohong. Hasan masih mencintai Anha.
Lucunya ketika Anha sudah bahagia, namun dia sendiri belum merasakan kebahagiaan itu.
Apakah ini karma? Hasan sudah menginjak usia tiga puluh lima pun belum juga menikah lantaran sosok Anha belum juga tergantikan.
Banyak wanita yang mencoba mendekatinya, tapi entah mengapa terasa ada saja kekurangan mereka.
"Kalau Lo milih-milih pasangan yang sempura. Sampai kapan pun, mah, Lo nggak bakalan nikah, San."
“Aku nggak bisa ngebayangin, An, gimana kamu bisa ngedidik anak-anak kita nanti kalau kamunya aja kayak gitu.”
Hasan merasa bersalah. Dia kacau. Lihatlah, Anha bisa mendidik anak-anaknya dengan baik. Omongannya yang dulu benar-benar salah. Bagaimana bisa dulu dia khilaf dan mengatai Anha seperti itu.
Maka, Hari ini dia datang, dengan keberanian yang sudah lama ia kumpulkan, hanya sekadar untuk meminta maaf kepada Anha. Setidaknya… untuk pertama kalinya… Hasan ingin belajar untuk tidak jadi pengecut lagi.
Hasan berjalan mendekat. Awalnya kehadirannya belum diketahui Anha. Namun ketika dia mengucapkan selamat ulang tahun kepada Anha dan Hamkan. Barulah Anha terdiam seperti orang yang syok.
Ke-kenapa Hasan bisa ada di sini?
Hasan sekilas melirik Tante Marni yang berdiri di sebelah mertua Anha. Wajah Tante Marni sendiri juga tidak bersahabat. Hasan menghela napas. Memang wajah orang tua mana coba yang bersahabat jika anaknya ditinggal tanpa kabar ketika hendak hari H menikah.
"Selamat ulang tahun buat anak kamu, ya, Anha," ucap Hasan sambil mengulurkan kado kepada Anha yang sedang menggendong putrinya.
Beberapa detik lamanya tangan Hasan menggantung di udara dan kado itu tidak diambil oleh Anha. Merasa tidak enak, Hamkan pun mengambil uluran kado dari mantan calon suami Anha itu.
"Thanks," ucap Hamkan mewakili. Entah kenapa istrinya terlihat tidak suka atas kedatangan Hasan di sini.
Hasan menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal.
"Um... An... bisa nggak kita ngobrol sebentar? Ada hal penting yang pengin aku bicarain sama kamu."
Anha awalnya tidak mau. Memangnya apa yang hendak dibicarakan? Semuanya telah usai. Selesai. Anha tidak butuh penjelasan yang terlambat itu. Hidupnya yang sekarang juga sudah bahagia. Anha masih sakit hati dikatai dan ditinggalkan seperti itu oleh Hasan.
Anha menatap Hasan dengan pandangan tidak suka. Kenapa juga, sih, selalu saja ketika dia sudah bahagia. Ada saja mantan-mantannya yang mengacau!
"Ngomong aja di sini," ucap Anha sekenanya.
"Nggak bisa. Kita ke sana dulu aja bentar."
"Ya, kalau gitu nggak usah ngomong aja. Aku subuk."
Hasan terdiam, kalah telak. Suasana di sini seolah berubah muram. Hanya Anha sekeluarga yang dapat merasakan perubahan drastis mood-nya.
Tiba-tiba Anha merasakan lengannya diusap lembut oleh Hamkan membuat Anha menengok ke sampingnya.
"Nggak pa-pa. Biar Kalila aku yang jagain."
__ADS_1
Hamkan mengambil Kalila dari gendongan Anha membuat Anha merasa kehilangan.
"Sana omongin dulu."
Anha menatap suaminya seolah hendak protes. Tapi dengan berat hati akhirnya Anha mau berjalan menepi beberapa meter dari keluarganya hanya untuk meladeni orang yang dulu meninggalkannya tanpa kabar di depannya ini.
"Kamu apa kabar, An?"
Anha tidak menjawab. Toh, tanpa perlu dijelaskan pun Hasan bisa melihat jika saat ini dia jauh baik-baik saja dan bahagia. Lagi pula Anha juga tahu jika tidak mungkin Hasan jauh-jauh ke sini hanyak sekadar untuk bertanya kabarnya.
"Kamu mau ngomong apa sama aku? Tolong jangan bertele-tele," ucap Anha sarkastik.
Hasan bingung hendak menjelaskan dari mana.
"Kamu masih marah, ya, An sama aku?" tanya Hasan sambil menggaruk tengkuk belakangnya. Anha menatapnya tidak suka. Baiklah, kalau kalian bilang Anha jahat atau apa terserah. Dia bukan nabi yang bisa memaafkan dan legowo kepada semua orang. Dia manusia biasa yang juga bisa merasakan sakit hati.
Memangnya siapa yang tidak sakit hati ditinggal ketika hendak menikah dan tanpa kabar? Lalu tiba-tiba orang itu muncul lagi tanpa dosa sama sekali.
"An... Aku minta maaf, ya, sama kamu," ucap Hasan dengan pelan. Anha tidak menjawab sama sekali dan memilih untuk menatap ke arah lain--asal tidak menatap Hasan saja.
Hening sesaat di antara mereka lantaran tempat Anha berpijak saat ini cukup jauh dari hingar bingar pesta di dalam.
Melihat dari ekspresi Anha. Hasan tahu betul jika wanita itu benar-benar kecewa terhadapnya. Hasan menundukkan kepala. Ia merasa bersalah.
"Kenapa dulu kamu ninggalin aku?"
Hasan mengangkat kepalanya setelah mendengar hal tersebut.
"Eh?"
"Seenggaknya kalau kamu pisah sama aku. Kamu bisa, kan, pisah baik-baik kayak dulu kamu minta izin sama Mama buat nikahin ak--" suara itu semakin hilang dibagian akhir. Tercekat di tenggorokan Anha. Anha hanya mampu memeluk lengannya sendiri.
"Maafin aku Anha. Dulu aku pengecut dan ninggalin kamu kayak gitu. Aku nggak punya kuasa karena...."
Hasan menelan ludahnya dengan kesusahan.
"Karena orang tua aku nggak ngerestuin kita dan nyuruh aku buat jangan nemuin kamu lagi."
"Aku juga minta maaf karena dulu ngatain kamu nggak bisa jadi orang tua yang baik buat anak-anak kamu karena masa lalumu yang kayak gitu. Aku tahu aku salah, kamu bisa mendidik anakmu dengan baik, Anha."
Anha terdiam saja. Tidak berucap sepatah kata pun. Hasan juga tidak bisa menebak apa yang saat ini Anha pikirkan.
"Aku bahkan masih cinta An sama kamu meskipun kamu udah nikah. Bahkan sampai saat ini aku masih sendiri dan nyeselin itu seumur hidupku."
Anha tidak meneruskan lagi mendengar omong kosong dari Hasan. Anha melangkah cepat menuju kamarnya.
Mungkin dia bisa memaafkan, tapi rasa sakit dalam hatinya masih belum bisa terlupakan. Biarlah waktu yang menghapuskan rasa sakit hatinya itu.
Tidak diterima, dilabrak di depan umum, ditinggalkan, dihakimi, merasa tidak pantas untuk siapapun. Semua itu sangat sakit meskipun sudah bertahun-tahun lamanya.
Hamkan yang sebenarnya mengamati mereka berdua dari kejauhan pun berjalan mengikuti langkah Anha dari belakang. Ia membuka pintu kamar dan mendapati Anha menangis.
Hamkan tahu. Anha belum sepenuhnya pulih dari trauma masa lalunya. Dia memeluk istrinya yang sedang menangis itu erat-erat.
Mungkin tadi Anha bisa berlagak baik-baik saja di depan Hasan tapi Hamkan tahu, Anha menahan tangisnya yang pecah seperti saat ini.
Anha semakin mengeratkan pelukannya dan menangis di dada suaminya.
"Kamu nggak akan ninggalin aku, kan, Mas?" ucap Anha dengan lirih sambil masih menenggelamkan wajahnya di dada Hamkan.
Hamkan mengusap pelan punggung istrinya dengan penuh kasih.
"Aku janji, kok, nggak bakalan ninggalin kamu. Seburuk apa pun kamu. Aku bakalan terus ada di sampingmu."
Anha bersyukur memiliki suami sebaik Hamkan.
Cinta bukanlah perkara aku mencintaimu, kamu mencintaiku.
Cinta adalah sebuah penerimaan.
Menerima kelebihan dan kekurangan pasangan.
Karena cinta sendiri adalah saling melengkapi.
Kalau kau mencari yang paling sempurna dan tanpa cacat sedikit pun.
Maka sampai kapan pun kau tidak akan menikah.
***
DAH TAMAT. SILAKAN LANGSUNG BACA NOVELNYA SEAN YANG JUDULNYA:DINIKAHI BERONDONG KAYA.
__ADS_1
Ini serius udah tamat karena alurnya udh sampai di sini. Sekarang mari fokus ke Sean! 😍