
Hamkan menatap tajam tamu yang tak diundang itu sambil menggenggam erat tangan Anha yang berada di pangkuannya. Hamkan tahu jika diam-diam wanitanya merasa gemetar ketakutan. Mungkin Anha takut apabila dia ditinggalkan lagi seperti apa yang dulu Hasan lakukan kepadanya.
Lagi pula kalau dipikir-pikir lagi, kenapa mantan suami Anha itu bisa berada di sini? Bukannya restoran ini private dan harus melakukan reservasi terlebih dahulu sebelum makan di sini.
Ah, sekarang Hamkan paham betul jika mantan suami Anha itu benar-benar gigih. Jadi tidak heran jika dulu dia sampai menyuruh Angga datang dari Bali hanya untuk menghancurkan rencana pernikahan Anha. Ya, Hamkan sudah tahu semuanya karena Anha sudah menceritakan kepadanya.
“Hai, boleh ikutan duduk?” kata Ikram langsung mendaratkan bokong di salah satu kursi di depan tempat Hamkan duduk tanpa meminta persetujuan dari yang diajaknya bicara. Anha menatapnya tidak suka. Lelaki ini memang tidak punya malu!
“Hamkan. Aku pengin pulang,” kata Anha dengan lirih sambil hendak berdiri dari pangkuan Hamkan namun Hamkan menahannya. Baiklah, Anha memang berniat hendak menghindar karena dia takut jika Ikram mengacau lagi.
“Oh, namanya Hamkan,” kata Ikram sambil tersenyum penuh arti. Mata-mata bayarannya yang bernama Frans itu memang dapat diandalkan. Informasinya selalu akurat. Tidak sia-sia Ikram membayarnya dengan harga tinggi.
Ikram menatap wanita cantik itu. ‘Sayang. Apa pun caranya kau harus menjadi milikku lagi,’ kata Ikram dalam hati.
“Dia siapa, An? Kamu kenal?” tanya Hamkan dengan saksama. Anha tidak menjawab sama sekali, padahal sebenarnya Hamkan sudah tahu jika dia adalah mantan suami Anha dulu.
Hamkan meminum latte-nya dengan perlahan lalu setelah selesai Hamkan menaruhkan kembali di atas meja .
Biar saja mantan suami Anha itu mengira Hamkan tidak mengenalnya. Itu malahan lebih baik. Padahal sebenarnya Hamkan tahu segala hal tentang Ikram. Selain karena Anha sudah bercerita kepadanya, Hamkan sendiri juga diam-diam sudah mencari tahu mengenai Ikram sebelum ijab kabul dulu.
“Nggak nyangka, ya, An, aku ketemu lagi sama kamu di sini,” kata Ikram sambil tersenyum kepada Anha seolah ingin memperlihatkan kepada Hamkan jika mereka ini sebenarnya pernah memiliki hubungan.
“Maaf. Ada urusan apa, ya, Anda ke sini?” tanya Hamkan to the point. Anha merasa takut. Tangannya terasa dingin. Kini nada suara Hamkan sekarang terdengar dingin sekali. Apakah lelaki yang saat ini masih memangkunya benar-benar masih sosok Hamkan yang biasanya hangat dan tidak mengintimidasi?
Namun tiba-tiba Anha merasa Hamkan mengusap punggung tangannya secara perlahan. Tautan tangan mereka yag berada di bawah meja semakin mengerat. Anha mengerjab. Apakah itu artinya Hamkan berada di pihaknya?
“Nggak papa. Saya denger kalian berdua mau menikah. Jadi saya sengaja ke sini buat ngucapin selamat.”
“Oh. Terima kasih,” jawab Hamkan singkat. Anha semakin geram mendengarnya. Omong kosong! Anha tidak percaya dengan hal tersebut. Pasti Ikram kali ini hendak mengacaukan pernikahaannya lagi.
“Rencananya nikahan kalian kapan?”
“Minggu. Silakan datang jika senggang.”
Anha menatap Hamkan tidak percaya. Kenapa Hamkan malahan mengundang Ikram ke acara pernikahan mereka, sih! Anha tidak habis pikir dengan apa yang saat ini Hamkan pikirkan.
Ikram berdehem. Bagaimanapun caranya hari ini dia harus membatalkan pernikahan Anha dengan lelaki itu.
“Kamu serius mau nikah sama Anha?”
Hamkan tersenyum tipis. Akhirnya sekarang terlihat sudah apa tujuan sebenarnya dari kedatangan mantan suami Anha ke sini. Ternyata dia masih begitu terobsesi.
“Iya. Emangnya kenapa?”
Anha menggigit bibirnya kuat-kuat. Tubuhnya gemetar ketakutan. Bagaimana jika setelah ini dia akan ditinggalkan lagi.
“Eum... maaf sebelumnya. Tapi aku saranin, sih, mending kamu pikirin ulang lagi aja sebelum kamu bener-bener mutusin nikah sama Anha.” Ikram semakin berani. Dia tidak peduli, apapun akan dilakukannya demi mendapatkan Anha kembali kepelukannya.
__ADS_1
“Kenapa gitu?” Baiklah. Kali ini Hamkan akan meladeni apa kemauan dari mantan suami Anha itu. Hamkan ingin melihat sampai sejauh mana dia bertindak.
Anha sudah pasrah. Dia hanya mampu membuang muka ke arah lain. Menatap apa saja selain menatap wajah Ikram yang menyebalkan. Kalaupun setelah ini Hamkan hendak meninggalkan ataupun menceraikannya, maka silakan. Anha tidak akan melarang sama sekali.
“Haha. Kamu tanyain aja langsung ke Anhanya sendiri. Tanyain ke dia kalau dia itu kayak apa waktu dulu sebelum kenal sama kamu.”
tangan kanan Anha yang bebas mereemas erat-erat kain celana jeansnya.
“Maksudnya? Emangnya Anha kenapa waktu dulu?” kata Hamkan sambil berakting mengeryitkan dahi, pura-pura tidak tahu.
“Aku kasih tahu sama kamu. Sebenernya Anha dulu itu cewek yang suka hobi gonta ganti temen tidur. Semua pacarnya mungkin udah ngerasain tubuh dia. Sekarang kamu masih yakin mau nikahin cewek yang kayak gitu?”
Kata-kata itu meluncur halus dari mulut Ikram seolah tidak ada beban sama sekali. Ikram tersenyum, semkain dia menjelek jelekkan Anha maka Hamkan pasti akan semakin jijik kepada Anha.
Sekarang hanya tinggal menunggu hasilnya saja, yaitu pasti calon suami Anha itu akan marah dan meninggalkan Anha dengan segera. Lalu ketika Anha sudah frustrasi dengan hidupnya maka Ikram akan datang menjadi sosok pahlawan hingga akhirnya mendapatkan hati Anha kembali.
Hamkan mengeratkan giginya. Dia tidak percaya sama sekali jika mantan suami Anha itu sampai membeberkan aib mantan istrinya seperti itu. Tapi Hamkan bisa menguasai emosinya sendiri agar tidak meluap.
“Oh.”
Ikram menangkat sebelah alisnya mendengar jawaban dari Hamkan. Apa, hanya OH saja? Tidak-tidak. Itu bukan respons yang Ikram harapkan. Ikram berharap calon suami Anha itu marah besar.
Hamkan tersenyum, malahan membuat dahi Ikram semakin mengerut tidak paham.
“Nggak papa, kok.Saya nggak peduli. Yang terpenting istri Saya sudah nggak kayak gitu lagi sekarang. Dan saya bakalan bimbing dia ke jalan yang lebih baik lagi,” kata Hamkan sambil mengangkat tangannya yang dari tadi tertaut dengan tangan Anha dan Hamkan pun mengecup pelan punggung tangan Anha di depan mata Ikram.
Mata Ikram terbelalak ketika melihat cincin kawin berwarna emas di jari manis Hamkan. A-apa itu artinya mereka berdua sudah menikah? Kapan tepatnya? Kenapa Frans tidak mengetahui informasi tersebut? Sial! Ikram kehabisan kata-kata. Dia kalah cepat.
Sebenarnya Itulah alasan lain Hamkan yang memilih untuk menyelenggarakan ijab kobul secara tertutup dan hanya dihadiri keluarga dekat dari kedua belak pihak mempelai saja. Agar kedepannya tidak banyak yang tahu dan mengacau. Seperti Ikram contohnya. Agar semesta tahu jika sebenarnya Hamkan sangat mencintai Anha dan mengikatnya dalam sebuah hubungan suci pernikahan.
Ikram berdiri dari posisi duduknya dengan napas berembus cepat. Hamkan hanya menatapnya santai dengan wajah yang masih menampilkan ekspresi dingin yang sejak tadi dipertahankannya. Bagaimanapun juga sekarang Anha adalah istri sahnya. Tidak ada seorang pun yang boleh mengacaukan kehidupan rumah tangga mereka.
“Saya permisi,” ucap Ikram singkat.
“Tunggu. Saya nggak habis pikir ada seorang laki-laki yang sampai tega membongkar aib mantan istrinya sendiri. Padahal Anha aja nggak pernah yang namanya ngumbar aib kamu ke orang lain,” kata-kata Hamkan itu berhasil menghentikan langkah Ikram. Ia merasa malu sekali.
“Ah, dan satu lagi. Kayaknya kalau nggak salah akhir-akhir ini profit Y.E-Optic merosot jauh, ya. Mungkin Anda terlalu fokus mencari tahu segala hal mengenai istri Saya sampai perusahaan Anda sendiri terbengkalai seperti itu,” sindir Hamkan secara sarkastik.
Ikram menelan ludah. Sebenarnya sebelum ke sini pun Ikram sudah tahu jika suami Anha itu adalah salah satu pembisnis yang berpengaruh dan posisi perusahaannya lebih tinggi daripada perusahaannya. Tanpa harus diberitahu dua kali pun Ikram sadar betul tentang apa maksud dari ucapan Hamkan. Yaitu sebuah peringatan.
Hamkan tidak seperti Hasan yang bisa ditekan. Ikram kalah telak darinya dan tidak dapat berkutik sama sekali.
“Saya permisi. Maaf mengganggu waktunya.”
“Ikram...” suara lembut dari belakang itu memanggil.
Jangan takut, Anha. Jangan ngehindar lagi dari masalah. Kamu harus hadapi.
__ADS_1
Ikram berbalik badan. Dia menatap wanita yang sampai saat ini masih sangat dicintainya itu.
“Kenapa kamu dulu ngebuang aku waktu aku masih jadi istri kamu? Sedangkan waktu kita udah cerai, kamu malahan ngejar-ngejar aku sampai ngehalalin segala cara buat ngedapetin aku lagi?”
Ikram tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Anha melanjutkan kembali ucapannya...
“Ikram. Aku bukan barang yang seenaknya kamu buang terus kamu pungut lagi ketika kamu pengenin. Walaupun masa laluku buruk, tapi aku pantes buat bahagia dan dicintai. Aku bersyukur saat ini aku punya suami kayak Hamkan dan Hamkan juga bisa nerima aku apa adanya. Tolong jangan ganggu hidupku lagi.”
Ikram menatap Anha dengan getir. Lidahnya terasa kelu sekali.
“Maaf.”
Anha tidak menjawab. Bahkan hanya untuk melihat saja tidak mau. Wanita memang mudah memaafkan. Tapi mereka sulit melupakan. Apalagi Anha hitungannya sudah luka batin.
Ikram pun pergi dengan perasaan yang berkecamuk dalam hati. Sedih karena tidak dapat mendapatkan Anha kembali. Putus asa karena dia tidak akan mampu merecoki kehidupan Anha dengan suaminya lagi. Dan entahlah.
Selepas kepergian Ikram. Hamkan tersenyum dan mengecupi punggung tangan Anha. Meskipun tadi Anha berucap dengan lancar. Tapi sebenarnya Hamkan tahu jika tangan Anha gemetar. Setidaknya, apa yang sejak dulu Anha pendam terluapkan juga.
“Hamkan..."
"Ya?"
"Ka-kalau kamu mau ninggalin aku. Gapapa, kok, Hamkan,” kata Anah dengan lirih sambil menundukkan kepalanya semakin. Mata yang sudah memanas itu pun akhirnya meneteskan air mata yang sedari tadi tertahan di pelupuk matanya.
“Ssttt... kok, nangis? Jangan nangis, Sayang,” kata Hamkan sambil mengusap pelan pipi Anha yang basah akan air mata. “Emangnya siapa yang mau ninggalin kamu, hmm?” lanjutnya lagi.
“Tapi aku tahu diri kalau nggak pantes buat kamu,” kata Anha sambil menangis.
“Anha...” Hamkan menangkup wajah istrinya dengan lembut. “Dengerin aku. Aku nggak mau setelah nikah kamu bahas ini lagi. Aku bakalan sulit, An, kalau ngejalanin rumah tangga tapi kamunya sendiri belum bisa berdamai sama masa lalu kamu. Aku nggak peduli dengan semua masa lalu kamu. Yang terpenting adalah masa depan kamu sama aku. Jadi aku mohon jangan bahas ini lagi, oke?”
Anha mengusap air matanya dan menatap kedua netra cokelat milik Hamkan bergantian. Kenapa bisa Tuhan mengirimkan lelaki sebaik ini kepada dirinya.
“Aku sayang sama kamu,” kata Anha sambil memeluk erat suaminya. Menenggelamkan wajahnya sendiri di dekapan lelaki yang amat dicintainya. Hamkan tersenyum dan mengecup pucuk rambut Anha.
Ikram—yang diam-diam tidak sengaja melihat kemesraan itu semua dari kaca restoran yang transparan hanya mampu merasakan sakit sekali. Rasanya jantungnya disayat belati yang tak kasat mata. Ikram menyesal, sangat menyesal. Bahkan mungkin seumur hidupnya dia akan menyesalinya. Apalagi dirinya tidak bisa jatuh cinta lagi selain dengan Anha. Pernikahannya dengan Dewi terasa hambar. Mungkin itu karma yang harus dia terima.
TAMAT
.
.
.
__ADS_1
Tapi boong hihi. Makasih ya yang udah nungguin update dengan sabar. Aku sayang kalian~
Part Anha resepsi emang aku pisah karena aku nggak rela kita kondangan tapi ada bab Ikram yang nyempil. Serius bab selanjutnya ada tamu yang tak diundang ke resepsi Anha.