Diceraikan Di Malam Pertama

Diceraikan Di Malam Pertama
Dipermalukan di Depan Umum


__ADS_3

Kini semua mata di tempat makan tersebut menatap mereka bertiga karena kebisingan yang dibuatnya itu.


Beberapa orang mulai berbisik mengenai apa yang sebenarnya terjadi.


Angga mengusap wajah kemudian mengusap juga bajunya yang basah tersebut. Celananya juga ikutan basah apalagi mereka belum gajian.


Sial, bahkan rasanya siaraman air jus itu terasa dingin sekali.


Tetapi Angga malahan tertawa keras.


“Nggak usah sok suci, deh, lo, An. Gue yakin, kok, kalian pasti udah sering gituan, kan?”


Kini Hasan juga malahan ikut geram mendengarnya. Dia tidak bisa menahannya lagi. Sedewasa apapun seorang pria pasti akan sangat marah jika ada yang mengatakan hal kurang ajar kepada pasangannya.


Hasan bergerak cepat menghampiri Angga dan mencengkeram kerah lehernya dengan kuat.


Orang ini memang harus diberi pelajaran!


Hasan menarik kerah baju Angga dan memukul rahang kanannya dengan keras.


Suasana mulai gaduh, beberapa orang yang melihat berteriak karena Hasan melayangkan pukulan dua kali di rahang Angga.


“Berengsek!” teriak Hasan sambil melayangkan pukulan yang ketiganya pada Angga.


Angga mencoba melindungi wajahnya dengan lengan kanannya.


“Hasan, udah Hasan,” kata Anha sambil memegang baju bagian belakang milik Hasan mencoba menyuruhnya untuk berhenti.


Angga bisa mati jika dipukuli terus seperti itu.


Beberapa orang dan security mencoba untuk membantu melerai kedua orang yang membuat keributan itu.


Napas Hasan masih berembus cepat dan keluar masuk pada indra penciumannya dengan tidak teratur. Nampak Angga yang kelimpungan dengan mulut yang sudah berdarah. Tapi ia cukup bersyukur karena jika tidak ada orang yang memegangi Hasan saat ini bisa-bisa nyawanya melayang sudah.


Hamkan mengeryit melihat kekacauan itu, apalagi tampak Anha juga di sana. Sebenarnya adanya Hamkan disini saat ini karena ia hendak masuk ke dalam ketika mengetahui Anha sedang duduk dengan Hasan dan makan di sini.


Ia tidak sengaja berdiri di sini dan menyaksikan ini semua secara langsung. Semua ini hanyalah kebetulan semata, dia awalnya hanya  bermaksud hendak memberikan tote bag yang berisi tas mahal atas titah mamanya. Namun kini dia hanya mematung dari kejauhan ikut menyaksikan itu semua seperti pengunjung lainnya.

__ADS_1


“Kalau sampai besok lagi lo berani ngatain Anha kayak gitu. Gue nggak bakalan segan lagi buat ngehajar lo lebih dari ini! Camkan itu!” kata Hasan masih penuh emosi, dia hendak menghajar Angga lagi tetapi tubuhnya ditahan dan dipegangi security agar tidak maju ke depan.


Angga yang wajahnya sudah babak belur dan mulutnya mengeluarkan darah tersebut seolah tidak memiliki rasa jera sama sekali, malahan kini ia tertawa dan mengusap darahnya dari sudut bibirnya dan meludahkan liurnya yang memerah karena sudah tercampur oleh darah segar miliknya.


“Kenapa? Lo nggak terima, hah, sama omongan gue tadi? Apa yang gue omongin semua itu jujur, kok. Kenapa lo nggak nanyain langsung aja ke calon istri lo itu?”


Angga menutup mulutnya karena terbatuk-batu, ketika ia membuka tangannya dan menatap telapak tangannya kini liurnya terlihat bercampur darah.


“Haha. Lo nggak tahu aja kalau calon istri kesayangan lo itu udah pernah gue prawanin waktu dulu. Dasar jaalang”


Semua orang terdiam. Termasuk Hamkan yang kini menjadi saksi bisu kejadian ini dengan mata kepalanya sendiri.


Bagai disambar petir di siang bolong Hasan mendengar hal tersebut. Jelas saja Hasan terkejut.


A-apa?


Hasan menatap ke arah Anha. Wanita itu menangis dan menunduk ke bawah sambil mereemas celananya dan gemetar ketakutan.


Hari ini, kebohongan Anha yang ia tutupi rapat-rapat terbongkar sudah. Bahkan Hasan mengetahuinya bukan dari dirinya sendiri namun dari orang lain yang hendak membuka mulutnya sendiri. Bahkan di depan umum seperti ini.


Anha menggigit bibirnya kuat-kuat. Rasanya seperti dihakimi di tempat umum.


“Gila nggak nyangka banget, ya.”


“Iya. Ya ampun.”


Hasan menatap Anha dengan getir. Menatap penuh kekecewaan wanita yang dua minggu lagi akan menjadi istri sahnya tersebut.


Nggak mungkin, kan, An? Ini semua nggak mungkin, kan?


Anha tidak dapat berkata-kata sama sekali. Dia hanya bisa menunduk dan menangisi ini semua sambil memegang lengan kirinya dengan erat-erat.


Dia merasa malu karena dipermalukan di depan umum oleh Angga seperti ini.


Ia takut dan hanya berani menunduk ke bawah menatap lantai saja lantaran semua mata saat ini sedang menatap ke arahnya seolah menjadi hakim dadakan.


Kenapa Angga sebegitu teganya mempermalukan dirinya di depan umum seperti ini? Kenapa Angga semena-mena menghilang begitu saja, lalu kemudian datang lagi dan mempermalukannya seperti ini.

__ADS_1


Hasan menatap Anha dengan pandangan nanar. Matanya terasa benar-benar panas dan berkaca. Ia kecewa, sangat-sangat kecewa.


Hasan masih tidak percaya dengan ini semua. Rasanya begitu sakit dibohongi seperti ini oleh Anha. Tangannya mengepal erat dan menatap Anha dengan saksama.


"Apa benar yang tadi dikatain orang itu tentang kamu, An?" tanya Hasan kepada Anha dengan nada yang terdengar getir.


Anha tidak menjawabnya sama sekali, dia masih tertunduk dan menangis.


Melihat hal itu Hamkan hanya mampu memejamkan mata dan memijit pelipisnya pelan. Ingin rasanya Hamkan menarik Anha dari kerumunan sana, melindunginnya, lalu mengajaknya untuk pulang ke rumah dan memastikannya aman.


Lagi pula kenapa juga tunangan Anha bisa bersikap bodoh sekali seperti itu. Apa dia tidak punya otak sama sekali? Menanyai aib calon istrinya sendiri seperti itu di depan khalayak banyak orang sama saja mempermalukannya.


Hamkan memejamkan mata dan mengeratkan giginya. Dasar lelaki bodoh! Apa yang dia tanyakan kepada Anha sama saja seperti menelanjangi Anha di depan umum. Calon suami Anha itu benar-benar tidak ada bedanya dengan lelaki yang saat ini sedang tersungkur kesakitan sambil memegangi pipinya yang lebam karena pukulan dan mulutnya yang mengeluarkan darah.


Hamkan melirik ke arah samping. Melihat dua orang wanita muda yang saat ini mengangkat ponselnya dan menyalakan mode rekam sambil berbisik antar satu dengan yang lainnya.


"Tolong jangan direkam. Kasihan orang itu pasti dia bakalan malu banget kalau kalian rekam dan sebar luaskan. Gimana kalau seumpama yang di depan sana kakak kalian atau keluarga kalian? Apa iya kalian masih tega buat ngerekam dan nyebarin hal kayak gitu?" kata Hamkan dengan wajah tenang, namun ucapannya barusah penuh penekanan dan sangat menohok.


Mendengar ucapan dari Hasan tersebut kedua wanita itu saling senggol satu sama lain dan merasa kikuk. Hingga pada akhirnya salah satu di antara dua orang itu yang awalnya hendak merekam kini menurunkan kembali ponselnya setelah ditegur oleh Hamkan.


Lalu….


***


Hai, jangan lupa follow instagramku @Mayangsu_ ya, buat tahu info novelku, jadwal update, visual dari para tokohku juga ada di sana. Terlebih lagi di sana aku lebih sering aktif. Makasih sudah mau mampir.


Follow akun sosmed-ku yang lain:


Waatpad: Mayangsu


Email: Mayangsusilowatims@gmail.com


Instagram: Mayangsu_ (Pakai underscore, ya.)


Semua akun menulisku pakai nama pena: Mayangsu, ya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2