Diceraikan Di Malam Pertama

Diceraikan Di Malam Pertama
Diacuhkan


__ADS_3

Karena malu bukan kepalang akhirnya Anha lebih memilih untuk pergi ke toilet yang berada di luar ruangan saja.


Selama Anha ke toilet, Hamkan terus saja memikirkan kesalahannya tadi. Dia menyesal bicara tanpa berpikir panjang terlebih dahulu seperti itu.


Dan benar saja. Ketika Anha sudah kembali dari kamar mandi, semuanya teras berubah.


Anha kini lebih pendiam dari sebelumnya. Kini dia diam saja dan bersikap sedingin dulu seperti ketika mereka bertemu ke dua kali di rumah Anha. Pasti ini semua karena ucapannya tadi. Kalau begitu, Hamkan tidak akan pernah menanyakan hal tersebut kepada Anha lagi.


“Makanannya belum habis,” kata Anha sambil menatap kotak bekal berisi bento yang isinya menyisakan setengah kotak bekal.” Tidak mungkin juga Anha menyuapi kembali Hamkan. Tapi saat ini dia hendak pulang.


“Ditutup lagi aja kotak bekalnya. Nanti sisanya aku makan di rumah.”


"Eh?"


Setelah menutup dan memasukkan kotak bekalnya ke dalam tote bag. Anha mencangklong tasnya. Hamkan paham betul gerak gerik tersebut menandakan Anha sudah tidak betah berada di sini lagi.


“Kamu mau pulang?” tanya Hamkan dengan saksama.


"Iya."


“Aku anterin kamu , ya,” kata Hamkan sambil mengenakan kembali jasnya yang semula ia sampirkan pada kursi kerjanya. Anha menganggukkan kepala. Tak ada salahnya diantar pulang oleh Hamkan. Lumayan menghemat pengeluaran daripada dia harus pulang naik ojek online. Apalagi mengingat gaji Anha sebagai guru les tidak terlalu banyak. Dia harus irit.


Anha dan Hamkan keluar bersamaan dari ruangan. Di sana terlihat Donna berdiri dari posisi duduknya dan menyambut Hamkan.

__ADS_1


“Bapak hendak pulang?” tanya Donna—sekretaris Hamkan—dengan suara yang dibuat-buat selembut mungkin membuat Anha hendak muntah saja.


Anha masih menatapnya dengan sebal. Cara berpakaiannya itu, lho... menjengkelkan sekali. Sekilas Anha melirik ke arah Hamkan.


Ternyata mata Hamkan tidak jelalatan apalagi sampai menatap belahan sekretarisnya. Malahan Hamkan terlihat mengabaikan Donna dan hubungan mereka seperti tidak lebih dari atasan bawahan saja.


Anha merasa sedikit senang. Goodboys.


“Iya. Saya mau pulang cepat. Emangnya kenapa? Apa ada jadwal penting bertemu klien?” tanya Hamkan sambil melihat jam di tangan kirinya yang sudah menunjukkan jam pulang kerja.


Donna melihat ulang jadwal Hamkan pada catatannya dan memang hari ini tidak ada pertemuan penting sama sekali.


“Um... Ng-nggak ada, Pak.”


“Oh,” kata Hamkan tanpa melihat Donna sama sekali. Entah mengapa, hal itu membuat hati Anha sedikit senang.


“Tapi, Pak!” kata Donna agak kencang menghentikan langkah mereka berdua.


“Ya?”


Tetapi setelah itu Donna hanya diam saja dan menggigit bibirnya karena tak tahu harus berkata apa untuk menghentikan Hamkan pulang dengan wanita antah berantah di sampingnya itu.


Hehe, Donna saja yang tidak tahu jika wanita yang baru ditemuinya kurang dari dua puluh empat jam itu bahkan sudah mendapatkan restu dari Jeng Asih alias mamanya Hamkan. Kalau sampai Donna tahu, bisa kejang-kejang dia.

__ADS_1


Hamkan mengeryit. “Ada apa, Donna?”


‘Apa, kau mau pulang juga bersama kami, hah?!’ kata gadis batin Anha sambil mendelik sebal. Ternyata kobaran api permusuhan antara Anha dan sekretaris Hamkan tersebut belum mereda juga.


Dengan tangan yang terkepal erat dan pandangan tertunduk ke bawah. Sekretaris Hamkan itu menggelengkan kepalanya sambil mengatakan....


“Nggak pa-pa, Pak. Biasanya Bapak pulang telat dan lembur terlebih dahulu di kantor.”


Karena memang begitulah kebiasaan Hamkan yang gila kerja. Hamkan bahkan selalu pulang terlambat karena harus lembur, tenggelam dalam tumpukan dokumen-dokumen di atas meja kerjanya.


Lalu di saat bersamaan Donna pun akan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengambil lembur juga. Mencari muka, berpura-pura menyibukkan diri agar Hamkan melihatnya dan menganggapnya sebagai karyawan teladan.


Tapi sialnya seumur hidup Donna ia tidak pernah sama sekali diantar pulang oleh atasannya itu. Sedangkan kini lihatlah, tiba-tiba ada wanita tidak jelas datang ke perusahaan ini dan dia diantar pulang oleh Pak Hamkan. Memangnya siapa yang tidak kesal coba.


Anha menatap wanita itu tak kalah sebal. Apa urusannya coba jika bossnya ini mau pulang cepat atau terlambat? Memangnya dia atasannya? Atau istrinya begitu?


Menyebalkan! Gerak gerik Donna itu sangat ketara sekali dan tidak wajar seperti sekretaris pada umumnya.


Jika ingin mendapatkan suami kaya raya pemilik perusahaan dengan menjadikan posisi sekretaris sebagai batu loncatan untuk menggoda Hamkan maka enyahlah! Lihat saja, besok pasti jika ada kesempatan Anha akan menendang wanita tersebut dari perusahaan ini.


“Iya. Kebetulan hari ini saya pengin pulang cepat. Saya duluan, ya. Kalau ada hal penting hubungi aja.”


Hamkan menghiraukan sekretarisnya itu dan beralih menatap Anha. Mereka berdua berjalan beriringan bersama.

__ADS_1


“Mua pulang ke rumah kamu atau ke rumah mama?” tanya Hamkan sambil tersenyum kepada Anha. Donna megembuskan naps kesal. Benar-benar kesal sekali melihatnya. Padahal Pak Hamkan sudah diincarnya sejak dulu.


***


__ADS_2