
“Apa, sih, Jo,” cerocos Sisil dengan kesal tidak peka dengan kode Jo yang menyuruhnya untuk diam saja.
“Emang apa, sih, An, kurangnya kamu, An? Udah cantik, baik, anggun, langsing, pinter masak. Mang nggak ada otak itu lakik. Dia itu yang nggak pantes buat kamu, An. Kamu itu lho, jadi istri pejabat aja bisa, kok. Kusumpahin mandul itu lakik!”
Sisil tersungut-sungut. Jo menepuk dahinya sendiri. Anak ini benar-benar… tak ada filternya!
Anha masih terdiam, kemudian memeluk Sisil dengan erat. Memberinya pelukan perpisahan dan mengusap punggungnya agar tidak menangisinya lagi.
Namun pelukannya mengendur dan terlepas ketika Anha teringat akan suatu hal. Tangannya bergerak mencari suatu benda yang tadi disimpannya di dalam tas jinjingnya.
“Cari apa?” tanya Sisil ketika melihatnya.
Ketemu!
Sisil mengeryit melihat Anha mengeluarkan kotak beludru berwarna merah dari dalam tasnya.
Lebih baik benda ini biar Sisil yang memberikannya kepada Hasan saja.
“Sil, aku boleh minta tolong nggak sama kamu?” tanya Anha kepada sahabatnya itu. Sisil hanya mengeryitkan dahinya sambil mentakan ‘apa’.
__ADS_1
“Aku minta tolong, ya, Sil,” Anha menjeda sejenak ucapannya itu dan meraih tangan kanan Sisil.
“Tolong kasihin ini ke Hasan, ya, kalau kamu nanti ketemu dia.”
Sisil menarik tangannya dengan kasar dan melipatnya di depan dada. Napasnya berembus cepat. Marah.
“Ih. Nggak sudi, ya. Mending kamu jual sana cincinya buat beli makanan enak biar nggak galau karena batal nikah sama itu lakik!” kata Sisil dengan bersungut-sungut.
“Sil. Please,” mohon Anha kepadanya.
“Nanti gue kasihin ke dia. Tinggal aja di situ,” kata Jo sambil membetulkan kaca matanya.
“Makasih, ya, Jo.”
“Pamit dulu, ya, Sil,” kata Anha kepada Sisil sambil memeluknya lagi dengan erat. Anha juga tak lupa bersalaman dengan Jo juga—tapi tidak berpelukan karena Jo seorang laki-laki.
Ketika Anha sudah berjalan keluar dari ruangan ini sambil menjinjing kardus di depan tubuhnya. Sisil menatap punggung sahabatnya tersebut.
Anha benar-benar berubah, hawa dari dirinya tidak sehidup dulu, kini dia redup, tidak ada lengkungan senyuman sedikitpun dari bibir merah indah miliknya. Sisil yang telmi karena kebanyakan ciki saja dapat merasakan jika batalnya perniakahan Anha sangat memukul psikisnya.
__ADS_1
***
Ketika Anha hendak memasuki lift, tanpa sengaja dia bertemu dengan Pak Hans. Salah satu direktur di perusahaan ini sekaligus koko dari si tengil Sean.
Anha membungkukkan tubuhnya dan menyapa atasannya tersebut.
Mungkin Pak Hans baru saja dari ruang meeting, pikirnya.
Namun tanpa terduga sama sekali Pak Hans malahan ikutan masuk ke dalam lift ini.
Anha dan dua orang karyawan lainnya yang berada di lift ini mengeryit. Kenapa juga Pak Hans masuk ke dalam lift karyawan? Bukannya petinggi di perusahaan ini memiliki lift khusus, ya? Atau jangan-jangan ada tujuan lain Pak Hans sampai masuk ke sini?
“Kamu gimana kabarnya?” tanya Pak Hans yang sudah berumur lebih dari kepala lima itu. Anha menengok ke kanan, ke arah kedua karyawan lainnya. Siapa tahu yang saat ini diajak bicara oleh Pak Hans adalah kedua karyawan yang berada di sebelahnya itu, bukan dirinya.
Ternyata bukan kedua orang itu yang diajak bicara oleh Pak Hans. Mereka berdua cuek-cuek saja.
“Maaf? Bapak bicara sama saya?” tanya Anha memastikan.
“Iya, kamu yang saya maksud.”
__ADS_1
Anha hanya menatap kardus yang dibawanya. Rasanya kikuk sekali.
***