
“Pergi jalan-jalan?” ulang Anha sambil mengerjabkan mata. Anha mengingat sejenak apakah malam ini dia sibuk. Tapi ternyata tidak. Toh, lagian besok dia libur.
Mama dan Jeng Asih gemas sekali melihat mereka berdua.
Apalagi ketika melihat Hamkan yang sudah tua tapi masih saja malu-malu kucing seolah selama ini belum pernah pacaran saja.
Hamkan ini memang minim pengetahuan soal percintaan!
“Oke. Bentar, ya. Aku ganti baju dulu,” kata Anha kemudian berlalu memasuki kamarnya.
Anha memilah-milah sejenak. Entah bajunya yang berada di gantungan lemari ataupun yang ia susun rapi. Tapi rasanya semuanya masih terlihat jelek saja di matanya.
Anha mencoba menarik salah satu dress yang berada di lemarinya. Menaruh di depan badan sebelum dikenakan dan berkaca apakah dress ini pantas untuk dikenakan.
Namun kemudian kepala Anha menggeleng. Memakai dress selutut bukan pilihan yang bagus mengingat dia bisa menggigil karena dinginnya angin malam.
Akhirnya pilihan Anha jatuh pada baju rajut berwarna pink dan bawahan celana jeans.
Lagi pula ini, kan, cuma jalan-jalan malam dengan Hamkan. Tidak ada bedanya dengan jalan-jalan bersama teman yang lainnya. Jadi Anha tidak perlu berdandan berlebihan.
Anha memoleskan lipstik berwarna merah pada bibirnya yang sensual. Sejak pulang dari kantor Hamkan dan memberikan bekal kepadanya.
Sejak hari itulah Anha sudah berjanji kepada dirinya sendiri jika Anha hanya menganggap Hamkan sebagai teman saja. Tidak lebih. Dia tidak mau kecewa untuk kesekian kalinya.
Karena berharap pada manusia adalah patah hati yang paling disengaja.
Maka Anha menanam prinsip untuk biasa-biasa aja. Memangkas perasaan ini sebelum tumbuh semakin banyak.
__ADS_1
Setelan casual, lipstik merah merona, dan rambut yang dikucir kuda.
Anha berkaca untuk kesekian kalinya. Selesai!
Dengan perlahan Anha melangkah ke luar dari kamarnya.
Hamkan dan Anha berpamitan kepada mamanya masing-masing.
Pandangan Hamkan tak luput dari Anha yang terlihat cantik sekali. Tetapi Hamkan hanya bisa memujinya dalam hati.
“Hati-hati, ya. Jangan pulang malem-malem, lho,” kata mama mengingatkan keduanya supaya tidak pulang terlalu larut. Takut apabila menjadi bahan omongan tetangga.
“Iya, Ma. Assalamualaikum.”
Anha menganggukkan kepala. Mereka pun berangkat pukul tujuh malam.
***
“Jangan malem-malem, ya, Hamkan. Nggak enak kalau nanti Mama khawatir di rumah,” tambah Anha lagi, mengingakan.
Hamkan tersenyum dan mengangguk namun tidak menjawab hendak membawa Anha ke mana. Rahasia.
“Emang kamu nggak pernah main ke luar dan pulang sampai larut malam?
Anha menggelengkan kepala.
“Dulu, sih, waktu muda pernah. Tapi sekarang udah tobat.”
__ADS_1
Hamkan tersenyum. Anha benar-benar seperti anak rumahan saja.
Awalnya Anha kira mereka berdua akan pergi ke minimarket untuk membeli sebotol kopi instant atau pun ke kafe dan lainnya. Tapi ternyata dugaan Anha salah ketika mobil Hamkan menepi ke tempat itu.
“Serius?” kata Anha sambil membuka sedikit mulutnya. Kini Hamkan yang merasa salah tingkah.
“I-iya.”
Tempat itu adalah pasar malam!
Bagaimana Anha tidak tertawa. Anha kira Hamkan akan mengajaknya untuk makan malam romantis ala candle light dinner. Atau kalau tidak Hamkan akan pergi berlibur ala orang kaya lainnya. Tapi ternyata....
Anha masih menutup mulutnya karena menahan tawa geli.
“Um... kamu nggak suka, ya? Maaf, ya. Soalnya aku denger ada pasar malam yang buka di deket tempatmu. Makannya aku pengin bawa kamu ke sini. Kalau kamu nggak suka, kita bisa pindah ke tempat lain. Ke mall atau ke mana gitu sesukamu,” kata Hamkan sambil mengusap rambut bagian belakangnya.
Hamkan merutuki dirinya sendiri. Dia ini, benar-benar minim akan percintaan.
‘Hahahaha, makanya kamu, tuh, jangan pacaran terus sama laptopmu,’
Hamkan meringis mengingat ledekan dari mamanya yang selalu ditujukan kepadanya ketika ia sedang sibuk berkutat dengan laptop miliknya.
.
.
.
__ADS_1
tbc
Bentar ada lanjutannya lagi.